Kalian pernah merasa sangat rindu pada seorang teman? Yang biasanya selalu kemana-mana bereng, tiba-tiba harus pisah dan punya dunia masing-masing. Rasanya aneh, sungguh, tapi bukan Titi Leni namanya kalau menyerah begitu saja sama keadaan. Kita emang jadi nggak selengket dulu semenjak aku kerja di BSD, sering ke Cibubur tapi bukan buat ketemuan, aku punya keluarga yang harus aku temani setelah seminggu di kota orang.

Belum lagi beberapa kegiatan blogger yang bikin kita jadi cukup sulit cari waktu buat sekedar main. Bukan malah berantem terus nggak temenan lagi donk, kita justru cari solusi. Kita mengasingkan diri, sejenak lari dari rutinitas yang dengan sadis memisahkan. Malam itu, dengan sembrono kita memutuskan cus ke Bandung tanpa alasan dan tujuan yang pasti. Beli tiket aja dulu, yah gitulah kita mah, gimana nanti aja.

Kita bahkan masih belum ngobrolin mau kemana dan ngapain di Bandung nanti, masih aja dengan gimana nanti. Sampai tibalah hari yang ditunggu, 17 Agustus 2018. Bukan nggak sayang dan nggak cinta nih sama Indonesia, tapi kita beneran cuma punya waktu luang itu aja. Kita sudah pesan penginapan, kabarnya dekat stasiun Bandung, tapi ini hanya untuk 1 malam. Padahal kita di sana bakal stay 3 hari 2 malam.

Ketemulah kita berdua, senja itu di Gambir dengan selamat dan sehat walafiat, walaupun hampir telat. Bukan Titi Leni kalau nggak nyaris kan. Kita berdua mah emang begini, udah tahu telat eh masih sempat beli Dumdum dengan santainya. Ternyata keretanya juga enggak setepat itu, kita sampai di peron, kereta belum lama sampai, kita bergegas masuk, langsung cari nomer bangku di 17C dan D. Keretanya nyaman juga, yah kaya di samping dia gitu deh rasanya, nyaman.

Begitu duduk di bangku kereta, mulai lah kita dengan ambisi-ambisi tak masuk akal, misal pengen edit video konten selama di kereta. Bismillah, kemudian buka laptop, buka kamera, import data, kemudia ngobrol tanpa arah sampai di Purwakarta. Tiba-tiba, ada  sepasang mbak dan mas berpenampilan menarik menghampiri kita. Memberikan 2 box nasi goreng restorasi dengan gratis. Kita berdua heran, iyalah, tumben baik amat, ternyata eh ternyata, begini kata mereka, “Mbak berdua beruntung mendapat nasi goreng gratis karena duduk di bangku nomer 17 di tanggal 17 Agustus 2018”. Oke, fix, kita beruntung sekali hari itu.

Setelah kemudian makan nasi goreng dan kenyang, kita lupa tujuan edit video, kita malah lanjut ghibah tanpa arah. Sesampai ya di Bandung, kita keluar stasiun dengan rasa percaya diri kelewat tinggi, bergaya menghirup dingin udara Bandung malam itu. Kita yang jumawa ini, mulai keder liat google map, maklum kita wanita, sudah ada map pun tetap nggak pinter bacanya. Kita bengong-bengong pintar. Menurut aplikasi, hotel ini harusnya hanya 300 meter dari stasiun, kenapa di gmap jadi lebih dari 1km. Ini sudah malam, kita sudah lelah, akhirnya dengan inisiatip terlalu tinggi kita tanya tukang parkir.

“Pak, mau tanya.” Kita memang ada di belakang dia, dekat sekali, tapi kita dicuekin. Sampai beberapa kali kita panggil, masih nggak digubris, sampai akhirnya saya colek dan dia langsung nengok.  Dan ternyata, beliau tuna rungu, pantas kita panggil sampai teriak-teriak kita diceukin. Aku langsung tunjukkan map kita, intinya aku paham dia minta kita pindah pintu, ini pintu utara, harusnya kita keluar di pintu selatan.

Setelah drama salah pintu, menyusuri pasar tutup malam-malam, ketemu bapak-bapak baik yang kita curigai, sampailah kita di penginapan yang dimaksud. Alhamdulillah banget, kita sampai dengan selamat, hotelnya bagus terhyata donk, senang. Kayanya nggak bisa dibilang hotel juga ya, mengingat nggak ada AC, dan kasur yang biasa aja, lebih mirip kos-kosan, tapi homey kok. Kita langsung berpikir cepat, sepertinya kita harus langsung booking buat besok kalau masih bisa, mengingat agak riskan kalau harus pindah hotel dan belum booking di mana-mana.

Syukurlah masih bisa, dan harganya sama kaya di aplikasi, sungguh bahagia. Rencanaku, kita sampai hotel, drop barang langsung cus ke mssjid yang ada karpet rumputnya. Katanya, di sana makin malam makin ramai. Tapi, itu kan rencana ya, kenyataannya, kita kelelahan dan malah langsung ketiduran.

Pagi-pagi banget kita berdua sudah bangun, dan teringat perkataan mas-mas kasir semalam, kalau kita ada jatah sarapan. Ini di luar dugaan, karena seingat kita di aplikasi nggak dikasih tahu kalau dapat sarapan. Ini namanya rezeki  anak lapar, alhamdulillah. Pagi itu kita memilih makan nasi goreng, yang lumayan juga rasanya ditemani teh manis hangat, sehangat tatapnya, eh.

Setelah kenyang kita mulai bisa berfikir dengan baik, gimana caranya kita menuju Orchid Forest, Lembang. Mengingat kita masih belum ada sewa motor, dengan santainya aku minta tolong mas hotel untuk cariin sewa motor. Dan, jreng-jreng, dia bilang sudah full booked semua, kita mulai panik, akhirnya.

Kita coba telponin semua tempat sewa motor di Bandung, berbekal info dari Google, beneran semua kita telpon, dan bener semuanya full. Kita mulai tatap-tatapan dan senyum-senyum nggak jelas. Akhirnya, kita putuskan untuk naik angkot, dan mulai tanya-tanya rute angkot ke akang hotel yang selalu bisa diandalkan, kita padamu kang. Sampai akhirnya kita mengantongi rute angkot, dengan yakin kita berdua naik ke kamar, ambil barang, dan.

“Beb, coba cek kalau naik Ojol berapa duit? Naik ojol aja apa ya?”

Dan akhirnya kita berdua dengan romantisnya naik ojol dari stasiun Bandung sampai Orchid Forest, Lembang, yang kurang lebih habis 50k sekian. Kalau dipikir-pikir lagi, aku tuh kasihan sama abang ojolnya, beneran jauh, macet dan ah pokoknya sengsara lah. Setelah pantat terasa mulai tepos, sampai lah kita di Orchid Forest, Lembang tepat beberapa waktu setelah azan Zuhur.

Ini pun belum selesai dramanya, karena aku sama Leni kepisah, jadilah aku nggak tahu kalau dari pintu masuk kendaraan, masih ada hampir 2km, dan abang ojol aku sudah pergi. Dengan baiknya, abang ojol Leni lihat aku jalan kaki, dan nganter aku ke pintu masuk yang di dalem, duh untung ada si dia, ojolnya Leni yang sangat pengertian.


Setelah nunggu Leni solat, kebetulan aku lagi libur solat, mulai juga akhirnya penjelajahan kita di Orchid Forest, Lembang, tempat wisata yang sedang kekinian. Pertama-tama serahkan tiket yang sudah kita beli di pintu masuk kendaraan ke akang di loket ini, kemudian masuk ke dalam, cari spot-spot menarik, dan berfotolah, sampai pegel.

Di dalam area Orchid ini banyak banget spot-spot foto yang instgramable, dari yang hijau sampai yang full colour. Kaya contohnya nih foto-foto kita, pertama di hutan pinus, kemudian di taman anggrek yang sudah sangat mirip Garden Bay The Bay nya Singapore. Belum lagi foto-foto di dalam kubah kaca yang ciamik, ada juga loh Taman Kelincinya.



Bahkan, di kawasan Orchid Areanya, ada mbak-mbak baik hati yang bakal fotoin kalian secara gratis, spotnya kece, kalian tinggal antri dan kasih alat foto kalian ke mbaknya, she will take the best foto for you. Asyik kan.

Kalau ditanya ini tempat rekomen nggak untuk jalan-jalan? Absolutely yes. Kenapa gitu? Jalannya enaknya sama siapa?


Jadi gini, kenapa rekomen? Ini tempat tuh luasnya luar biasa say, sebanyak apapun orang yang kalian temui di pintu masuk, di dalamnya kalian masih bisa banget buat foto anti bocor. Pokoknya buat kalian yang suka buat konten isntagram yang enak dipandang mata, kalian bisa dapet banyak banget stock foto di sini. Ini emang judulnya Orchid Forest, but you can find anything more than the title.



Enaknya ke sana sama siapa? Berjalanlah dengan orang-orang yang bersama mereka kalian merasa nyaman. Eh ini serius loh, sekarang gini yah, jalan-jalan tuh butuh tenaga, waktu dan uang, nggak pengen kan kalian mengorbankan banyak hal itu demi membersamai orang yang ngeselin dan bikin kalian malah jadi bad mood pulang holiday.


Eh, tapi ini tuh serius sih, tempat ini tuh cocok banget buat jalan sama siapa aja, sama pacar? Bisa banget, mengingat tempatnya dingin, bisa lah modus-modus kedinginan. Sama gebetan? Nah, ini lebih bisa lagi, karena banyak tempat-tempat yang pas banget buat mengutarakan isi hati, mau sampe kapan sih ini gebetan digantungin kaya jemuran gitu. Nah aku ada beberapa contoh foto-foto jalan ke Orchid Forest beserta modus, hehe.

Selain, sama pacar dan gebetan, jalan bareng teman-teman seperjuangan, sependeritaan juga asyik kok. Kalian bisa games ala-ala, wefie dimana-mana, dan menemukan moment-moment seru lainnya. Kalau sama keluarga gimana? Ini lebih seru lagi menurutku, aku juga jadi pengen banget ke sini sama keluarga, sempat iri liat beberapa gerombol keluarga cemara berseliweran di antara rimbun cemara, eaah.

Kita akhirnya capek juga muter-muter, mengingat katanya di atas jam 4 sore akan susah cari kendaraan ke bawah, akhirnya kita berdua dengan segera cari jalan keluar. Dan sempet kesel, pas lihat lampu-lampu di jembatan-jembatan gantung mulai nyala, cantik banget, masih betah. Belum lagi, menerima kenyataan bahwa, ada flying fox yang jaraknya lumayan jauh, cuma 20k, dan ini sudah sore, kan BT.

Dengan perasaan, semacam, kita harus balik lagi, kita meninggalkan Orchid Forest sore itu. Ternyata, pihak pengelola sangat pengertian, bayangin aja, kita bahkan dibekelin air satu botol kecil pas keluar tempat ini, mereka paham ini tempat luas banget, kita pasti lelah. Tuh, mereka aja ngertiin aku, masa kamu nggak. Halah.

Setelah berhasil keluar dari Orchid Forest, naik mobil yang gratis gitu menuju gerbang terluar buat lanjut pulang, kami harus menerima kenyataan pahit, bahwasanya, tiada ojol di mari, jam segini, zonk kali.

Akhirnya kita memutuskan ngangkot, tapi, bisa kalian bayangkan lah ya, naik angkot dari Lembang ke Bandung kota, malam minggu, macet saudara-saudara. Jam 4 sore teng, kita jalan dari Orchid Forest, jam 6.30 kita baru mendarat dengan selamat di Lembang Kota, sungguh baru sampe Lembang Kota, ini loh yang deket-deket alun-alun Lembang, kan sedih ya.

Karena kita lapar, dan belum solat Maghrib, kita memutuskan untuk cari makan dan masjid. Setelah selesai solat, kita menyusuri jalanan sekitar alun-alun, karena aku ingat dekat sini ada ayam bakar Pak Nanang yang luar biasa laziznya, aku belum pernah nggak ke sini kalau ke Lembang. Jadi lah, hari itu sore-sore kita jalan kaki hampir 3km demi Ayam Bakar Pak Nanang.

Di tengah jalan kita lapar, beli kue balok, dan ternyata rasanya nggak seenak yang biasa aku makan di Rumah Kayu, Lembang, tempat makan tahu dan cincau paling favorite di Lembang.


Setelah perjuangan yang berat, gimana nggak berat yah, kita nggak makan siang, kelaparan jam 6an masih belum makan, dan mesti jalan 3km dulu baru akhirnya sampe ke Ayam Bakar Pak Nanang tercinta. Begitu sampai, kita langsung pesen ayam bakar 2 porsi dengan kalap, dan nasi 1 bakul, padahal makan cuma berdua. Pas nasi dateng, kita bilang, “Ya ampun ini banyak banget.” Beberapa menit kemudian, lah nasi yang 1 bakul itu hampir habis donk.




Makan di sana tuh ya, udah nikmat murah lagi, kan aku bahagia jadinya. Kalian wajib coba kalau ke Lembang, wajib. Setelah kenyang, kita masih harus berjuang lagi jalan hampir 3km, balik ke pertigaan buat naik angkot, yah nggak apa lah anggap saja membakar lemak dari nasi 1 bakul dan ayam bakar super nikmatnya Pak Nanang, kita redho. Dan, mesti agak jantungan waktu liat , pocong dan kuntilanak di depan alun-alun Lembang, yang ternyata itu cuma, tipu-tipu, hah.


Naik lah kita angkot yang katanya tujuan Stasiun Bandung, macet lagi donk, jam setengah 8an kita dari Lembang, jam 10an masih belum sampai juga, udah mah ini angkot seenaknya nurunin kita di tempat antah berantah yang katanya buat ke stasiun kita mesti naik 2x lagi, sungguh malang perjalanan pulang ini. Tapi, untungnya dari sini sudah mulai ada ojek online, penyelamat wisatawan nggak tahu jalan macam kita. Segeralah kita order ojek online, menuju Jalan Braga, di mana kita sudah janjian dengan seorang teman yang nggak sengaja ternyata lagi di Bandung juga. Ini nggak kalah seru ceritanya, gimana? Next aku ceritain lagi yah. Just wait!














Kebetulan akhir tahun lalu, aku berdua sahabat ternyebelin tapi ngangenin, si Leni Frebriayanti akhirnya berhasil menintaskan 1 mimpi buat jalan berdua yang lama. Bener aja lma banget, 2 minggu tepat kita traveling ke Jepang dan Korea. Untuk semua detailnya aku udah banyak nulis kok, dari mulai visa jepang, visa korea, ittenerary perjalanan, hari pertama dan kedua juga sudah done aku bagi di blog kesayangan ini.



 

Zaman sudah berubah, begitupun anak mudanya, begitupun kamu, eah. Kalau zaman Milea dan Dilan, cukup telpon koin dan bisa kring sudah bahagia. Tapi sekarang, mana cukup kan? Sekarang zamannya segala informasi didapat dengan sangat cepat dengan koneksi internet yang tanpa lag, lancar jaya kayak di jalan raya jam 3 pagi.


Berhubung saya bukan penipu apalagi pembohong, jadi kali ini saya akan menepati janji ke kalian.  Setelah postingan sebelumnya saya ngoceh-ngoceh tentang berbagai Sushiyang pernah saya jamahi, sekarang saya mencoba membahas yang paling membuat saya takjub dan wothed dari sekian banyak tempat.


Selamat berjumpa setelah cukup lama tak saling sapa, hai kalian pengunjung blogku yang entah seberapa setianya. Maafkan aku yang sok sibuk dan sok laris ini. Iya, jadi begini, kenapa sekarang Mbak Titi agak jarang posting?


Kalian pernah merasa bosan setengah mati? Iya, bosan dengan rutinitas yang terus menjebak. Ingin pergi tapi tak mungkin, ingin lari dari rutinitas ini, tapi kita hidup dari sini.

Siapa bilang harus benar-benar pergi, seperti dia yang pergi sejenak lalu datang kembali, seperti itu kita bisa meninggalkan yang terlalu membosankan ini. Hari itu, aku dan sahabat terbaikku, terbaik bukan karena kita selalu akur tanpa tengkar, salah. Kalian tahu? Kita berdua adalah pribadi yang terlihat sama dari luar, tapi nyatanya sangat berbeda di dalam.


Banyak yang bilang, “Kalian kembar ya? Atau saudaraan? Kok mirip dan kompak banget?”

Ditambah lagi list perjalanan yang selalu kami lakukan bersama, list cerita yang kami buat pada hari-hari yang seru ini. Tapi, sebenarnya kami tak semirip itu, tak selalu sepemahaman. Aku yang keras ditambah banyak gaya, dan dia yang lebih keras plus banyak mikir. See? We are totally different.

Satu yang membuat kita selalu jadi akur, saat kami mulai punya mimpi baru untut liburan. Mendadak akur dan cocok, mendadak satu visi misi, semendadak itu.

Sepulang perjalanan panjang Jepang-Korea di akhir 2017 lalu, kita berdua belum ada rencana perjalanan jauh lagi. Entah, mungkin memang sempat muak jalan-jalan, sesaat setelah kepulangan kami 2 minggu ngebolang di negri orang.  Tapi masa-masa bosan dan muak itu sudah berganti, sekarang aku mulai ngebet jalan jauh lagi, ngebet liat lautnya Indonesia Timur sana.

Aku iri liat foto-foto selfie sama biru bening laut Indonesia Timur. Aku memang kebetulan bukan fans besarnya laut lepas, tapi aku cukup jatuh cinta sama pasir putih dan air bening, yang konon katanya Indonesia Timur banget.

Sejak Maret ini aku sudah menjadi sangat ngiler setiap lihat postingan intagram dengan tagar lombok, east Indonesia, terutama Gili Trawangan. Sejak saat itu juga aku mulai berisik ngomongin rencana jalan-jalan ke Lombok ke teman akrab, travelmate, rival abadi, kakak beda ibu-bapak ini.

Dia mulai menyerah dan akhirnya mengiyakan. Kalian tahu? Dia begitu beruntung, mengingat beberapa kali bisa terbang bolak-balik ke Timur Indonesia dengan alasan pekerjaan. Nggak seperti kerjaanku, yang paling mentok bikin aku terdampar di Singapore beberapa hari.

Aku dan dia bukan orang yang mau ribet, apalagi susah, zaman sudah mendukung untuk menjadikan semuanya lebih ringkas, termasuk urusan jalan-jalan ini. Aku berdua dia, belakangan tak punya banyak waktu yang bisa kita habiskan bersama. Ditambah aku yang belum lama pindah kerja, membuat jarak diantara kita makin jauh. Membuat kesibukan dengan berbagai elemen pendukung didalamnya membuat jarak jadi terasa makin jauh.

Tapi, bukan kita namanya kalau terpaksa harus menyerah, bukan gaya kita banget deh. Aku berdua dia tetap berisik di chat setiap mulai punya rencana jalan-jalan, lepas sejenak dan rutinitas yang memisahkan kita.

Aku mulai membuat list panjang berbagai tempat cantik di Lombok yang sangat mungkin kita nikmati dengan motoran berdua. Kebetulan kita berdua bukan termasuk manusia-manusia yang akan pasrah dengan ittenerary dari travel agent. Mungkin, kita memang tidak ditakdirkan untuk menjadi pelanggan setia mereka.

Kita cukup hobi repot dan ribut-ribut untuk urusan jadwal perjalanan, penginapan sampai tarnsportasi ke, dari dan di tempat yang kita tuju. Seperti hari itu, saat kami dengan semangat terlalu berlebihan mulai melakukan listing disertai ribut-ribut manja.

Bersyukur kita hidup di zaman, saat kita butuh informasi akan jadi semudah, ambil smartphone, buka google dan ketik kata kunci dari info yang kita butuh. Seperti hari itu, saat kami dengan asyik berselancar di dunia maya perihal tempat asyik dan wajib dikunjungi di Lombok.

Dan entah kenapa, ini nama Gili Terawangan begitu seliwar-seliwer diperbincangkan di setiap artikel dengan kata kunci wisata Lombok. Seperti memang sudah ditakdirkan berjodoh, aku merasa punya daya tarik menarik dari entah medan magnet sebelah mana dengan Gili Trawangan ini.

Dari awalnya Lombok, aku mulai mempersempit pencarian ke Gili Trawangan. Saat kami fix, jatuh cinta dengan gambar-gambar yang berseliweran di Google dan berbagai media sosial, aku mulai mempersempit tujuan.

Kita memang paling senang dibuat seru ke berbagai hal begini, setelah ittenerary rampung, disertai persetujuan dari kedua belah pihak, dengan keikhlasan yang hakiki untuk saling menemani ke tempat-tempat yang sudah dipilih bersama, berikutnya adalah masalah transportasi dan penginapan.


Dari entah berapa purnama yang lalu kita berdua adalah pengabdi Traveloka untuk urusan akomodasi, dari mulai tiket pesawat, kereta sampai urusan booking hotel. Seperti hari itu juga, kita berdua mulai sibuk pilah-pilih tiket pesawat di Traveloka. Aplikasi ini selalu jadi yang paling menyenangkan untuk urusan booking mode transportasi ke tempat yang kita tuju. Harga bersaing, dan yang paling menyenangkan kita bisa membandingkan harga dari berbagai jenis maskapai penerbangan sekaligus, bisa disortir sesuai kemauan kita juga lagi.

Setelah selesai booking pesawat, kami lanjut cari-cari hotel yang pas di hati, pas di kantong. Maklum, kita berdua ini kan traveler irit bin pelit. Kita selalu berfikir buat apa bayar mahal-mahal untuk penginapan. Yang penting nyaman, dekat dari berbagai akses wisata dan jelas segala rupanya.




Kita ini irit, tapi sulit percaya, dan kalau sudah terlanjur nyaman susah berpindah ke lain hati. Sama kaya hubungan kita sam aTraveloka, dari awal kita sering bolak-balik jalan ke sana ke mari, pesan hotel Traveloka nggak pernah ngecewain kita, jadi bikin males coba-coba yang lain.

Karena dengan Traveloka, cari hotel semudah buka aplikasi di smart phone, ketik nama tempat dan waktu menginap, keluarlah beragam pilihan tempat menginap. Dari yang low budget sampai hotel bintang lima, kelas super. Kalian bisa sortir juga berdasarkan range harganya, cucok kali kan. Ditambah lagi cara pembayaran yang nggak pake ribet, apalagi buat aku yang sudah sering pakai dan sudah mendaftarkan kartu kreditku, pesan hotel semudak klik-klik doang. 


Untuk kita yang kepo bin penasaran, review dan foto-foto dari hotel yang kita akan pilih juga super lengkap di Traveloka. Dan, so far nggak pernah ada masalah yang gimana-gimana pakai aplikasi ini.


Semudah ini kami merencanakan perjalanan ini. Berselancar di dunia maya menentukan tempat berlibur, kali ini kami memilih Gili Trawangan. Booking tiket pesawat dan hotel di aplikasi Traveloka. Sederhana, tapi membawa dampak bahagia yang besar.

Turut berduka untuk gempa di Lombok dan sekitarnya, tapi jujur ini tidak menyurutkan niat kami untuk tetap pergi ke sana. Kami yakin, Indonesia adalah negara yang tanggap akan bencana, dan tak butuh waktu lama untuk kembali mengaktifkan pariwisata di Gili Trawangan. Kami hanya perlu bersabar dengan sedikit memundurkan jadwal perjalanan.

Jadi, apa alasan kita stress terkungkung rutinitas di ibu kota, kalau sekarang berjalan ke mana pun jadi lebih mudah dan praktis. Coba deh kalian ikutin rutinitas random aku dan sahabat ini, jalan-jalan berdua, eksplore berbagai tempat baru dengan kamera di tangan. Dijamin, jauh-jauh dari stress dan keluhan kebotakan di usia dini.





Sudah lama sekali penasaran dengan kawasan pecinan di Jakarta, mengingat begitu banyak teman saya yang keturunan Cina. Ini bukan rasis ya, aku justru banyak berteman akrab dengan mereka. Dan, aku cukup kepo dengan kebudayaan mereka, menurutku, unik. Tapi, apa daya setiap aku ngajak teman untuk mengunjungi Glodok mereka bakalan bilang, “Mau ngapain sih, Ti di Glodok?”.