Mendadak Palembang 2 hari 1 malam (Part 1)



Sudah sekian lama nggak jalan jauh, sepulang dari perjalanan 2 minggu, Jepang-Kore, akhir 2017, aku pribadi ada rasa jengah jalan jauh. Mungkin mamang benar, yang namanya jalan-jalan 1 minggu tuh udah paling puas, karena begitu memasuki minggu kedua, terbang dari Jepang ke Korea kita berdua mulai merasa lelah dan kangen Indonesia, pengin pulang.

Belum lagi ditambah aku yang baru banget pindah kerja  awal tahun ini, yang sudah pasti jadi belum punya jatah cuti, kebayangkan ya sedihnya kaya apa. Si tukang main yang demennya ngayap nggak jelas tiba-tiba nggak punya cuti, miris.

Sampai akhirnya, entah kenapa, di sekitar bulan Agustus 2018, aku begitu bernafsu jalan jauh, tapi nggak mau cuti, tapi nggak mau mahal. Sejak kerja di tempat baru dan nggak punya cuti, aku memang jadi terbiasa jalan-jalan tipis bareng temen-temen komunitas. Tetiba rindu banget jalan jauh, rindu banget sama sensasi pesawat take off, terus terbang di atas awan, sungguh aku rindu.

Pas banget, lagi begini, si teman yang sibuk kerja dan kuliah ngabarin di akhir November kuliah dia libur, terus ngajak jalan aja yang jauh. Kita masih nggak tahu mau kemana, nggak tahu mau ngajak siapa, kan nggak asyik jalan berdua aja, nggak seru juga, mengingat kita bukan muhrim.

Iseng-iseng cari-cari tiket pesawat ke Jogja di weekend dan rata-rata 500k sekali jalan, kemudian sayang. Bolak-balik searching, akhirnya sampailah kita pada tiket pp Jakarta-Palembang dengan budget air yang biayanya kurang lebih cuma 600k. Tanpa banyak pertimbangan aku langsung ajak temen-temen Genk Julid, lah yang merespon positif dan serius cuma Kak Yun. Akhirnya, ada nyeriusin setelah ratusan purnama kulewati, tsaah.

Suatu Minggu siang, aku dengan jiwa peri baik hati menawarkan untuk mesenin tiket berangkat untuk kita bertiga. Bolak-balik bandingin harga di beberapa aplikasi, kemudian bolak-balik chat di grup “Palembang 24-25 November 2018”, akhirnya aku klik lah tiket yang kurasa paling murah.

Setelah selesai melakukan pembayaran, aku baru sadar, dan sungguh ingin nangis rasanya, aku salah pesan tiket. Yang seharusnya kita berangkat Sabtu, 06.00, aku jusrtru issued tiket buat Sabtu juga sih, tapi jam 16.30. Bodoh kan, kezel!

Kak Yun masih mencoba menenangkan,  minta aku coba menghubungi pihak maskapainya, siapa tahu masih bisa direschedule. Dan, hasilnya, iya bisa, tapi tiket jadi hampir 2x lipat harganya, aku sungguh merasa bersalah.


Akhirnya dengan pasrah kita boarding jam 16.30, kemudian delay, sekitar jam 19.00 baru sampai di Bandara Sultan Muhammad Badarudin, Palembang. Ini artinya, kita hanya punya waktu dari Sabtu malam sampai Minggu sore. Ke Palembang jauh-jauh kaya numpang pipis doank ya.

Mengingat waktu yang sangat mepet, kita bertiga mencoba membuat perjalanan ini seefektif mungkin.  Kita mendarat di Palembang malam itu dengan hati deg-deg ser, secara cuaca nggak bersahabat, Palembang hujan deras, bantingan ban pesawat malam itu berasa kenceng banget.

Sesampainya di Hotel, tanpa banyak bicara kita bertiga, drop barang dan langsung lanjut kuliner malam. Hujan gerimis romantis malam itu, tak membuat kita sampai hati merubah ittenerary.

1.     Martabak Har


Ditemani payung hotel, kita bertiga langsung menuju Martabak Har yang sebentar lagi tutup. Kata papa, kalau nanti ke Palembang jangan lupa makan martabak Har. Wajib.


Benar saja, sesampainya di Martabak Har, pengunjung sudah tidak begitu ramai, tapi untungnya masih bisa pesan. Kita pesan 2 porsi untuk bertiga.  Begitu martabaknya datang, kita lagsung nggak sabar nyicipin, karena kebetulan kita juga belum makan dari Jakarta.


Yang membedakan Martabak di sini dengan yang biasa dimakan di Jakarta adalah, telurnya di ceplok di dalam kulit martabaknya. Jadi bukan yang dikocok gitu, dan yang lebih lucunya lagi, kuahnya pakai kuah kari yang kental. Kentalnya, kurang lebih mirip kalau kita makan nasi kari di Singapore.

2.     Jembatan Ampera

Masih ditemani gerimis yang setia sekali malam itu, kita bertiga berjalan kaki menuju jembatan Ampera yang kalau dari Martabak Har kelihatan sudah dekat. Ternyata istilah yang jauh terlihat dekat tuh ada benarnya juga. Karena ternyata agak rumit jalan malam-malam, gerimis-gerimis menuju jembatan Ampera.


Kita melewati jalanan menuju pasar 16 ilir, kemudian naik ke tangga yang super sepi dan agak bau pesing di dekat taman, di bawah jembatan Ampera. Untungnya ditengah gerimis malam itu saja Ampera masih menawan. Tanpa banyak basi-basi, kami nggak mau kehilangan momen, langsung berfoto di bawah gerimis.

3.     Lorong Basah Night Culinary


Setelah puas berfoto, mengabadikan kesyahduan gerimis malam itu, kami lapar lagi. Kami segera turun balik arah ke penginapan, dengan sebelumnya mampir ke Lorong Basah Night Culinary, yang katanya ramai akan jajanan khas Palembang.

Tapi, rasanya malam itu memang kita bertiga kurang beruntung, tempat yang katanya ramai tampak sepi, sebagian besar pedagang sudah bersiap-siap menutup lapak untuk pulang. Tersisa 2 lapak, 1 lapak pempek crispy dan satu lagi lapak tekwan dan model.

Dengan tampang sangat lapar, kita langsung pesan masing-masing menu 1 porsi, jadi ada 3 porsi makanan yang kita pesan di pukul 22.00 malam itu. Setelah menunggu, ditemani angin semriwing dan dendangan dengan suara yang lebih banyak falsnya, dari mbak-mbak di belakang panggung yang sedang dirapikan, akhirnya tiga porsi yang dinanti datang juga.


Pempek goreng crispy ini sungguh terlihat tak menarik, tapi begitu masuk mulut, kok yah nagih. Rasanya mirip pempek tanpa isi, tapi inikan Palembang, jadi berasa banget ikannya dan beneran crispy di luar, kemudian kenyal di dalam. Kuahnya juga sama kok, tetap pakai cuka pempek. Ini Plembang, sekali lagi, cukanya endes masbro. Saking doyannya, kita memutuskan untuk mbungkus buat nyemil di hotel 2 porsi.


Kemudian, tekwan. Ini bukan kali pertama aku makan tekwan, kebetulan tenteku dari Papa bersuami orang Palembang. Jadi, setiap lebaran pasti beliau masak tekwan dan pempek. Yang biasa aku makan setiap tahun, menurutku sudah cukup enak. Tapi, ini jauh lebih enak, sungguh, tekwan, yang ditemani lobak putih rebus dan soun begitu pas di lidah. Kuahnya yang gurih-gurih amis, bakalan sulit dilupakan begitu saja.


Selain tekwan, kita juga pesan model tahu. Sebenarnya ini sungguh kali pertama makan model, dan ternyata tidak begitu mengejutkan, karena ternyata model itu adalah tekwan yang punya isian. Belinya juga dari abang yang sama yang jual tekwan. Seger-seger gimana gitu, endolita bala-bala lah.

Oia, untuk harga nggak perlu khawatir bikin miskin, tiap-tiap menu diatas harganya kisaran 10k-15k saja. Dan, porsinya juga banyak banget kok, dijamin kenyang dan puas.

Seandainya malam itu nggak hujan deras, atau kami sampai lebih awal, rasanya akan sangat jadi lebih menarik ya kulineran di Lorong Basah Night Culinary ini.

Jarak dari Lorong Basah Night Culinary ke hotel tempat kami singgah kebetulan nggak seberapa jauh, kurang lebih 600 m. Jadi, kami bertiga memilih untuk jalan kaki sambil menikmati krik-kriknya Palembang malam itu. Agak nggak paham juga sebenarnya dengan kota ini, banyak wisata malam, tapi kok sedari kami sampai di sini, sekitar jam 19.30, tempat ini sudah amat sangat sepi.

Kita bertiga ngobrol asyik sana-sini, kebetulan gerimispun akhirnya memilih berhenti turun, jadi tawa kami seakan menjadi satu-satunya penyumbang gaduh di sepinya jalan Sudirman malam itu. Sampai akhirnya dengan tiba-tiba kami dihampiri seorang anak muda dengan wajah dekil dan baju compang-camping.

Si mas-mas ngeri ini mendekat ke aku, dan perasaanku nunjuk-nunjuk bungkusan pempek crispy yang aku pegang. Karena panik, aku langsung memindah tangankan ke Bagas. Tapi, ternyata dia mengikuti kami dan lagi-lagi menghampiri.

Kita mulai khawatir, kita bertiga berjalan setengah berlari ke arah hotel terdekat. Berharap ada satpam di pos depan hotel, nasib rasanya kurang bersahabat. Kami, masih dibuntuti, dengan sebodo amat, kita langsung masuk lobby depan hotel yang bukan tempat kami menginap itu. Dan sialnya, nggak ada orang, bahkan satpampun nggak ada.

Sebenarnya jarak hotel kita sudah sangat dekat, kurang lebih 200m lagi, tapi ngeri juga mengingat mas-mas itu dari tadi buntututin kita. Kita berfikir keras, gimana caranya sampai hotel dengan selamat. Sampai akhirnya, lewatlah abang bentor penyelamat. Masalah berikutnya, aku dan Kak Yun cukup big size, jadi mana mungkin kita muat naik bertiga.

Tapi, untungnya kita nggak kehabisan akal, aku berdua Kak Yun berdua duduk di depan, dan Si Bagas bonceng si bapak di belakang.

Sampailah kita dengan selamat di hotel tempat kita menginap, dengan Bagas yang sekujur tubuhnya sempurna bau asap knalpot bentor. Kita berdua hanya bisa terkikik tanpa belas kasihan, ditambah Bagas yang sudah cukup manyun-manyun kesal. Tak apa, setidaknya nyawa kami terselamatkan. Ini baru 3.5 jam kami di Palembang, dan sudah jadi semenggelikan ini. So don’t miss my next story.



4 komentar:

  1. Hi Mbaktitidotkom... Saya yang sering banget cuzz ke Palembang, ndak pernah berani jalan-jalan tanpa ditemani warga lokal. Duh poenteun rasa aman menjadi catatan banget kalau ke sana. Nah November lalu, saya juga ke sana. Eh belum sampai tujuan taxi bandara menurunkan saya sebelum tempat tujuan... selalu ada 'kenangan khusus' kalau ke Palembang. Eh ih ups poenteun jadi curhat.

    BalasHapus
  2. "Belum lagi ditambah aku yang baru banget pindah kerja awal tahun ini, yang sudah pasti jadi belum punya jatah cuti, kebayangkan ya sedihnya kaya apa. Si tukang main yang demennya ngayap nggak jelas tiba-tiba nggak punya cuti, miris."

    Aku padamu, Kak.Sekarang juga aku nggak bisa cuti dulu karena baru pindah kerja. :(

    BalasHapus
  3. Selalu ada cerita lucu tiap jalan2, Masih terasa kecium aroma asap bensin yang keluar dari badannya Bagas hhahahaa

    BalasHapus
  4. uhuk
    jadi ini si bagas...

    BalasHapus