Honeymoon di Tokyo, Jadi Mimpi yang Wajib Diselesaikan



Tadi pagi terjadi perbincangan halusinasi paling menyenangkan di kantin kantor.

“Ti, kapan lo nikah? Buruan lah dicari partnernya.” Yang sudah tidak muda lagi dan belum nikah paham betul lah ya, nyebelin banget ditanya begini pun. Dia penasaran? Lah kita yang ditanya lebih penasaran lah.

Sambil ketawa-ketiwi aku mencoba menjawab dengan santai, padahal hati dongkol, “Yah, kalau nggak Sabtu, palingan Minggu.”

Jawaban paling populer dan aman, yang biasa dipakai untuk tameng pertahanan.

“Terus lo kalau abis nikah mau honeymoon kemana? Lo kan suka jalan-jalan tuh, pasti ada bayangan donk tempat yang pas buat mesra-mesraan abis akad.”

Menyenangkan sekali bahasan ini, yups honeymoon kemana? Aku memang cukup terkenal suka ngebolang kesana-kemari di kantor dilihat dari daftar cuti yang sepanjang tahun sudah diatur dengan teramat baik.

Sebenanya hobby jalan ini bukan barang baru buat aku, ini sudah tertanam dari aku kecil. Papaku suka banget ngajak aku jalan, katanya aku anaknya nggak rewel kalau diajak ke luar rumah, dan sering nyebelin kalau kelamaan di rumah. Tapi, saat adik-adikku mulai lahir, dan kebetulan jumlahnya lumayan, intensitas jalan-jalan agak berkurang.

Akhirnya, saat aku punya penghasilan sendiri aku punya dua impian besar.

1.     Beli laptop baru.  Agak aneh ya? Aku tuh suka banget nulis dari zaman SD kelas 6, suka banget bercerita di tulisan, dari mulai buat buku diary, sampai nulis puisi sampai berdisket-disket dan sekarang lenyap entah kemana, Beberapa aku hadiahkan ke teman.  Jadi, punya laptop yang kecil dan bisa dibawa kemana-mana adalah impian.
2.     Setelah mimpi pertama selesai, masih ada satu lagi. Jalan-jalan ke tempat-tempat yang belum pernah aku datangi sebelumnya, nggak peduli ke mana. Dari mulai gunung, laut sampai beberapa negara tetangga.

Kalau ditanya honeymoon paling enak kemana? Jelas, aku nggak mungkin jawab nanjak, seberapapun aku sukanya nanjak. Tapi, kalau cuma leha-leha depan laut juga aku kurang sreg, aku anaknya agak bosenan.

Jadi yang terbayang langsung pengen banget ngulangin Autumn In Japan, terutama Tokyo. Kenapa harus Tokyo? Emang Titi kemana aja pas ke Jepang waktu itu?

Aku akhirnya berhasil mewujudkan impian jalan langsung ke 2 negara di akhir 2017 lalu, aku 2 minggu jalan-jalan capek ke Jepang- Korea. Kenapa dibilang jalan-jalan capek? Iya,  soalnya aku waktu itu benar-benar memadatkan jadwal, yah maklum nggak mau rugi banget kan waktu itu jalan-jalan sama sahabat yang super nyebelin tapi paling ngangenin juga si Lenifey.

Kemana aja? Aku eksplore Osaka, Nara, Tokyo, Odaiba dan terakhir ke Hakone di 8 hari full. Kebayang ya, capeknya kaya apa? Pokoknya mantabs lah. Hari pertama aku langsung menjelajah Osaka jalan-jalan bingung ke Umeda Sky Building, ditutup makan malam super tak terlupakan di Dotonburi.



Hari kedua, pagi-pagi kita berdua langsung ke Osaka Castle lanjut keretaan ke Nara, balik makan di Dotonburi lagi.  Hari ketiga yang super hectic, eksplore Kyoto, super rumit super lelah. Secara dengan pintarnya kita segala nanjat Inari Mount.


Hari keempat, kita happy-happy ke USJ main sampai malam, balik Dotonburi langsung lanjut nginep di bus menuju Tokyo.

Di Tokyo pagi-pagi belum bisa check in, kita titip barang di hostel kemudian numpang mandi, lanjut jalan-jalan hedon ke Shibuya, foto-foto sama Hachiko, belanja sampai uang habis, ditutup makan malam seadanya dari mini market deket hostel.




Hari keenam dengan tergesa-gesa kita berangkat ke Museum Doraemon, sejujurnya ini tujuan utama aku ke Jepang, obsesi banget ke sana dari dulu tuh. Pagi-pagi banget langsung keretaan ke Stasiun Noborito, pulang dari sana ke Tsukiji fish market, surganya para pecinta sushi. Kenyang dari sana, kita dengan buru-buru meluncur ke Odaiba, nontonin robot raksasa godek-godek.


Perjalanan paling seru adalah kereta menuju Odaiba dari Tokyo, super cantik dengan lampu-lampu kota yang menawan. Pulang dari Odaiba kita langsung ke Tokyo Tower, foto-foto sama landmarknya Tokyo. Hari itu sampai penginapan kita nyaris tengah malam, rasanya kaya kejar-kejaran sama waktu.


Hari ketujuh dan delapan kita habiskan di Hakone Area, autumn bareng Fuji San. Nggak bohong Hakone cantik luar biasa. Kalau kalian pengen merasakan nuansa tradisional di Jepang, ditemani cantiknya Gunung Fuji, jangan lewakan Hakone Area.

Nah, kenapa aku justru pilih Tokyo sebagai tujuan Honeymoon. Nggak salah lagi, aku masih penasaran sama Tokyo. Saat itu, aku cuma spare waktu satu hari di Tokyo, masih banyak tempat bagus yang belum sempat aku jamah, aku harus balik lagi, titik.

Dan pastinya, aku nggak mau ngulangin lari-larian di Tokyo lagi, itu kenapa moment Honeymoon rasanya paling pas untuk melambatkan ritme hidup di Tokyo, yang kalian baru keluar kereta aja semua orang jalannya kaya dikejar setan.

Berjalan gandengan tangan, dua-duan Mas Suami yang namanya masih disimpen Allah kok rasanya asyik banget. Melihat mereka buru-buru di Shibuya, eh aku malah belanja jam Casio berdua suami kok rasanya bakal seru. Dan, kalian harus tahu saat di Tokyo Tower, aku ketemu sepasang kekasih asal Jakarta yang akhirnya minta fotoin, dan aku iri. Jadi, aku pengen banget minta fotoin orang berdua Mas Suami nanti di depan Tokyo Tower, titik.

Lagi, aku nggak mau pusing seperti saat uang pas-pasan dulu, ribet mikirin tiket pesawat dan hotel, pesennya pisah-pisah, banyak banget kode booking. Cita-cita sih pengen langsung ambil paket bulan madu Traveloka ke Tokyo.

6 komentar:

  1. Jika sebagai doa.. saya aminkan ya Mbaktitidotkom

    BalasHapus
  2. Aaamiin..semoga nama Mas Suami yang masih disimpen Allah segera termujud ya Mbak Titi. Jadi bisa diajakin honeymoon ke Tokyo nanti.
    Baca ini jadi kepengin juga honeymoon kedua ke juga..Hmm, ke Tokyo aja kali ya. Kan sudah ada paketnya.

    BalasHapus
  3. Pengen banget sih honeymoon di Jepang, tapi boro-boro honeymoon nikah aja belum hehe

    BalasHapus
  4. Wah udah pernah ke Jepang, pasti seru banget ya, meski jalan-jalan capek. Saya pengen banget ke Jepang, apalagi bareng keluarga, makin seru...

    BalasHapus
  5. Ikut mengaminkan semoga bisa ke jepang lagi bersama pasangan halalnya.

    Ada museum doraemon juga ya mbak? Penasaran isinya apa aja

    BalasHapus