Melepas Penat Pada Debur Ombak



Kalian pernah merasa bosan setengah mati? Iya, bosan dengan rutinitas yang terus menjebak. Ingin pergi tapi tak mungkin, ingin lari dari rutinitas ini, tapi kita hidup dari sini.

Siapa bilang harus benar-benar pergi, seperti dia yang pergi sejenak lalu datang kembali, seperti itu kita bisa meninggalkan yang terlalu membosankan ini. Hari itu, aku dan sahabat terbaikku, terbaik bukan karena kita selalu akur tanpa tengkar, salah. Kalian tahu? Kita berdua adalah pribadi yang terlihat sama dari luar, tapi nyatanya sangat berbeda di dalam.


Banyak yang bilang, “Kalian kembar ya? Atau saudaraan? Kok mirip dan kompak banget?”

Ditambah lagi list perjalanan yang selalu kami lakukan bersama, list cerita yang kami buat pada hari-hari yang seru ini. Tapi, sebenarnya kami tak semirip itu, tak selalu sepemahaman. Aku yang keras ditambah banyak gaya, dan dia yang lebih keras plus banyak mikir. See? We are totally different.

Satu yang membuat kita selalu jadi akur, saat kami mulai punya mimpi baru untut liburan. Mendadak akur dan cocok, mendadak satu visi misi, semendadak itu.

Sepulang perjalanan panjang Jepang-Korea di akhir 2017 lalu, kita berdua belum ada rencana perjalanan jauh lagi. Entah, mungkin memang sempat muak jalan-jalan, sesaat setelah kepulangan kami 2 minggu ngebolang di negri orang.  Tapi masa-masa bosan dan muak itu sudah berganti, sekarang aku mulai ngebet jalan jauh lagi, ngebet liat lautnya Indonesia Timur sana.

Aku iri liat foto-foto selfie sama biru bening laut Indonesia Timur. Aku memang kebetulan bukan fans besarnya laut lepas, tapi aku cukup jatuh cinta sama pasir putih dan air bening, yang konon katanya Indonesia Timur banget.

Sejak Maret ini aku sudah menjadi sangat ngiler setiap lihat postingan intagram dengan tagar lombok, east Indonesia, terutama Gili Trawangan. Sejak saat itu juga aku mulai berisik ngomongin rencana jalan-jalan ke Lombok ke teman akrab, travelmate, rival abadi, kakak beda ibu-bapak ini.

Dia mulai menyerah dan akhirnya mengiyakan. Kalian tahu? Dia begitu beruntung, mengingat beberapa kali bisa terbang bolak-balik ke Timur Indonesia dengan alasan pekerjaan. Nggak seperti kerjaanku, yang paling mentok bikin aku terdampar di Singapore beberapa hari.

Aku dan dia bukan orang yang mau ribet, apalagi susah, zaman sudah mendukung untuk menjadikan semuanya lebih ringkas, termasuk urusan jalan-jalan ini. Aku berdua dia, belakangan tak punya banyak waktu yang bisa kita habiskan bersama. Ditambah aku yang belum lama pindah kerja, membuat jarak diantara kita makin jauh. Membuat kesibukan dengan berbagai elemen pendukung didalamnya membuat jarak jadi terasa makin jauh.

Tapi, bukan kita namanya kalau terpaksa harus menyerah, bukan gaya kita banget deh. Aku berdua dia tetap berisik di chat setiap mulai punya rencana jalan-jalan, lepas sejenak dan rutinitas yang memisahkan kita.

Aku mulai membuat list panjang berbagai tempat cantik di Lombok yang sangat mungkin kita nikmati dengan motoran berdua. Kebetulan kita berdua bukan termasuk manusia-manusia yang akan pasrah dengan ittenerary dari travel agent. Mungkin, kita memang tidak ditakdirkan untuk menjadi pelanggan setia mereka.

Kita cukup hobi repot dan ribut-ribut untuk urusan jadwal perjalanan, penginapan sampai tarnsportasi ke, dari dan di tempat yang kita tuju. Seperti hari itu, saat kami dengan semangat terlalu berlebihan mulai melakukan listing disertai ribut-ribut manja.

Bersyukur kita hidup di zaman, saat kita butuh informasi akan jadi semudah, ambil smartphone, buka google dan ketik kata kunci dari info yang kita butuh. Seperti hari itu, saat kami dengan asyik berselancar di dunia maya perihal tempat asyik dan wajib dikunjungi di Lombok.

Dan entah kenapa, ini nama Gili Terawangan begitu seliwar-seliwer diperbincangkan di setiap artikel dengan kata kunci wisata Lombok. Seperti memang sudah ditakdirkan berjodoh, aku merasa punya daya tarik menarik dari entah medan magnet sebelah mana dengan Gili Trawangan ini.

Dari awalnya Lombok, aku mulai mempersempit pencarian ke Gili Trawangan. Saat kami fix, jatuh cinta dengan gambar-gambar yang berseliweran di Google dan berbagai media sosial, aku mulai mempersempit tujuan.

Kita memang paling senang dibuat seru ke berbagai hal begini, setelah ittenerary rampung, disertai persetujuan dari kedua belah pihak, dengan keikhlasan yang hakiki untuk saling menemani ke tempat-tempat yang sudah dipilih bersama, berikutnya adalah masalah transportasi dan penginapan.


Dari entah berapa purnama yang lalu kita berdua adalah pengabdi Traveloka untuk urusan akomodasi, dari mulai tiket pesawat, kereta sampai urusan booking hotel. Seperti hari itu juga, kita berdua mulai sibuk pilah-pilih tiket pesawat di Traveloka. Aplikasi ini selalu jadi yang paling menyenangkan untuk urusan booking mode transportasi ke tempat yang kita tuju. Harga bersaing, dan yang paling menyenangkan kita bisa membandingkan harga dari berbagai jenis maskapai penerbangan sekaligus, bisa disortir sesuai kemauan kita juga lagi.

Setelah selesai booking pesawat, kami lanjut cari-cari hotel yang pas di hati, pas di kantong. Maklum, kita berdua ini kan traveler irit bin pelit. Kita selalu berfikir buat apa bayar mahal-mahal untuk penginapan. Yang penting nyaman, dekat dari berbagai akses wisata dan jelas segala rupanya.




Kita ini irit, tapi sulit percaya, dan kalau sudah terlanjur nyaman susah berpindah ke lain hati. Sama kaya hubungan kita sam aTraveloka, dari awal kita sering bolak-balik jalan ke sana ke mari, pesan hotel Traveloka nggak pernah ngecewain kita, jadi bikin males coba-coba yang lain.

Karena dengan Traveloka, cari hotel semudah buka aplikasi di smart phone, ketik nama tempat dan waktu menginap, keluarlah beragam pilihan tempat menginap. Dari yang low budget sampai hotel bintang lima, kelas super. Kalian bisa sortir juga berdasarkan range harganya, cucok kali kan. Ditambah lagi cara pembayaran yang nggak pake ribet, apalagi buat aku yang sudah sering pakai dan sudah mendaftarkan kartu kreditku, pesan hotel semudak klik-klik doang. 


Untuk kita yang kepo bin penasaran, review dan foto-foto dari hotel yang kita akan pilih juga super lengkap di Traveloka. Dan, so far nggak pernah ada masalah yang gimana-gimana pakai aplikasi ini.


Semudah ini kami merencanakan perjalanan ini. Berselancar di dunia maya menentukan tempat berlibur, kali ini kami memilih Gili Trawangan. Booking tiket pesawat dan hotel di aplikasi Traveloka. Sederhana, tapi membawa dampak bahagia yang besar.

Turut berduka untuk gempa di Lombok dan sekitarnya, tapi jujur ini tidak menyurutkan niat kami untuk tetap pergi ke sana. Kami yakin, Indonesia adalah negara yang tanggap akan bencana, dan tak butuh waktu lama untuk kembali mengaktifkan pariwisata di Gili Trawangan. Kami hanya perlu bersabar dengan sedikit memundurkan jadwal perjalanan.

Jadi, apa alasan kita stress terkungkung rutinitas di ibu kota, kalau sekarang berjalan ke mana pun jadi lebih mudah dan praktis. Coba deh kalian ikutin rutinitas random aku dan sahabat ini, jalan-jalan berdua, eksplore berbagai tempat baru dengan kamera di tangan. Dijamin, jauh-jauh dari stress dan keluhan kebotakan di usia dini.



0 comments:

Posting Komentar