Eksplore Pecinan di Jakarta, dari Urusan Foto Sampai Perut



Sudah lama sekali penasaran dengan kawasan pecinan di Jakarta, mengingat begitu banyak teman saya yang keturunan Cina. Ini bukan rasis ya, aku justru banyak berteman akrab dengan mereka. Dan, aku cukup kepo dengan kebudayaan mereka, menurutku, unik. Tapi, apa daya setiap aku ngajak teman untuk mengunjungi Glodok mereka bakalan bilang, “Mau ngapain sih, Ti di Glodok?”.


Rasanya aneh aja ya, aku sudah ke banyak Klenteng dan Vihara di luar Jakarta, dari yang di Tangerang sampai yang di Pulau Bintan, jauh di Kepulauan Riau sana. Tapi, aku nggak pernah tuh jalan-jalan di kawasan pecinannya ibukota ini, tempat di mana aku lahir dan dibesarkan. Tempat dimana aku banyak bersahabant dengan mereka yang berkulit putih dan bermata sipit, tak hanya menjadi teman, kami sahabat.

Aku nggak setuju, kalau kita Indonesia harus terpecah hanya karena aku Jawa, mereka Cina. Yang ada, kita sama, satu, Indonesia. Aku bahkan cukup salut dengan budaya mereka yang ngotot dalam meraih kesuksesan. Dengan usaha dan cara berfikir mereka, yang tak pernah main-main, apalagi setengah-setengah. Kenapa mesti iri, kalau kita bisa menyontoh kegigihan mereka dan menjiplaknya untuk meraih sukses kita sendiri, kenapa harus memusuhi, kalau dengan jalan beriringan kita mampu menjadi lebih kuat.

Aku tak pernah bercanda dalam mengartikan “Bhineka Tunggal Ika” , dan menancapkan keyakinan itu dengan begitu jauh di lubuk sanubari. Tak hanya Cina yang mampu jadi yang menyebalkan, yang katanya Jawa, ngakunya Jawa pun, banyak yang jadi biang kerok.

Jadi, jangan jadikan ras apalagi agama sebagai alasan kita pantas untuk bercerai berai, jangan pernah. Kita satu, Indonesaia kan? Jangan sia-siakan perjuangan dan tetes-tetes darah pahlawan bangsa untuk menjadi merdeka. Kita bebas, kita merdeka karena kita satu, kita pernah ratusan tahun dijajah hanya karena berusaha sendiri-sendiri. Memerangi bangsa sendiri, maka, jangan pernah ulangi lagi. Karena hanya keledai yang jatuh 2x di lubang yang sama, dan bangsa ini tentu bukan berisi manusia-manusia bertingkah keledai kan?

Oke, ini alasan kuat saya belakangan tertarik mengetahui tentang yang lain. Alasan saya dengan sangat semangat ikutan diversity tour, sampai sekarang dengan antusias ikutan “Glodok Walking Tour”. Bisa dibilang trip ini adalah trip dadakan, yang hangat dan bulatnya melebihi tahu bulat. Sudah lama jadi wacana, dan kandas beberapa kali sampai akhirnya bisa terelisasi di suatu pagi yang sangat cerah di Sabtu itu.

Pantjoran Tea House



Kami berkumpul sekitar jam 9.30 tepat di Pantjoran Tea House. Loh, itu tempat apa? Ngapain kita kumpul di sana?

Jadi begini, Pantjoran Tea house ini merupakan salah satu tempat makan tua di Glodok, Seberapa tua? Yang jelas lebih tua dan umur hubungan kita yang tidak jelas ujungnya ini. Uniknya, kita nggak perlu order minum ala-ala tempat kumpul lain. Restoran ini menyediakan bangku-bangku di depan untuk sekedar kumpul. Yang lebih uniknya lagi, tepat di depan Pantjoran Tea House, terdapat meja berisi beberapa ceret berisi teh dan gelas-gelas bersihnya.

Kalian nggak perlu menrogoh kocek dalam-dalam, lebih tepatnya, bahkan tak perlu sama sekali menyentuh kocek kalian. Teh tersebut gratis, untuk siapa saja, yang haus, yang sengaja atau tak senagaja lewat. Tradisi ini, disebut Patekoan, yang berasal dari kata Pat yang artinya delapan dalam bahasa hakka, dan kata teko, jadi memang kalian bisa hitung sendiri, terdapat delapan teko/ceret yang berderet cantik di atas meja.

Kedai Kopi Tak Kie



Setelah semua berkumpul dan lengkap, kami langsung menuju tempat yang paling bikin aku penasaran. Kalian pasti pernah dengar dan pernah atau bahkan masih penasaran dengan keharuman nama dari Kopi Tak Kie di daerah Gang Gloria.

Kami dibimbing oleh sang juru Glodok, Deni Oey yang menghabiskan masa kecilnya di sini. Kebetulan, di Glodok memang terkenal banyak makanan enak, tapi sayangnye beberapa  nggak halal, makanya kita ajak Deni supaya dia bisa memilah untuk kita makanan enak tapi tetap halal.

Kita menyusuri Gang Gloria menuju Kedai Kopi Tak Kie yang tenar itu. Perlu kalian tahu, kedai ini tutupnya cepat banget, bisa jadi kalau kalian ke sini setelah jam makan siang sudah tutup. Jadi, kalau emang penasaran mau ke sini, pagian dikit ya ke Glodoknya. Tempatnya terdapat di dalam gang pasar yang ramai, dan di dalam kedainya pun tak kalah ramai. Kami masing-masing memesan yang paling banyak di pesan di sini, es kopi susu.

Awalnya aku merasa, apa istimewanya sih, setelah Es Kopi Susu Tak Kie di genggaman, aku mulai paham kenapa orang berbondong-bondong ke sini. Kalau di suruh pilih, kopi susunya Starb**k atau Tak Kie? Aku pilih Tak Kie. Ini kopi susu memang, tapi tak sama sekali meninggalkan rasa kopinya yang khas, roasted, slightly ashy but still milky and creamy, Titi doyan.

Penting untuk kalian ingat juga, kopi susu yang rasanya seistimewa ini, hanya dihargai 20000 rupiah saja per gelasnya. Ini juga gelasnya tuh guede ya, jadi dijamin nggak nyesel lah. Sayang, kedai ini nggak jual makanan halal, kan sedih ya, nasi campurnya isi bebong semua, jadi nggak bisa makan di sini deh.

Vihara Dharma Bhakti dan Mipan


Tujuan berikutnya adalah Vihara Dharma Bhakti/Jin De Yuan. Kami berjalan melewati kawasan Pasar Petak Sembilan, sepanjang jalan kami banyak melihat barang-barang yang tak kami jumpai di pasar lain. Mulai dari teripang, sampai beberapa buah dan sayuran yang agak sulit ditemukan di tempat lain. Di sini, juga banyak yang menjual berbagai barang khas Tionghoa, dari mulai amplop angpau sampai hiasan imlek. Terdapat pula beberapa toko jajanan khas pecinan dan banyak juga kue-kue basah dan berbagai jajanan kaki lima.


Kami berhenti sejenak saat melihat jajanan yang bentukannya belum pernah kami jumpai di tempat lain. Jajanan ini namanya Mipan, harganya 7500, kue ini berbahan dasar tepung beras dan air khi. Abangnya cuma bilang ini terbuat dari tepung berasa yang direbus, tapi aku agak penasaran, karena ada rasa yang khas di kue ini yang membuat aku langsung browsing dengan semangat dari mana asal rasanya.



Ternyata dari air khi. Air khi adalah air yang berasal dari abu batang padi, ehmm sejujurnya aku juga masih nggak kebayang kaya apa, tapi kata Deni dan abangnya ini halal kok. Kue ini lembut banget dan tetap padat gitu teksturnya, rasanya gurih dan ada rasa yang khas tadi. Kue ini disajikan dengan disiram air gula jawa kental ditambah potongan bawang putih sangrai, lucu kan. Kebayang deh, aneh pasti rasanya, tapi aku mah doyan aja, beda sama Bang Derus yang nggak doyan sama kue ini.


Setelah cukup lama menyusuri pasar, sampai lah kita pada Vihara Dharma Bhakti yang nama Cinanya adalah Jin De Yuan. Vihara ini cukup besar dibanding yang sempat aku kunjungi di Tangerag. Di sini juga, kami banyak menemukan wisatawan yang senagaja berkunjung seperti kami. Bahkan, aku sempat mengobrol dan mengambil foto salah satu turis asal Belanda.

Untuk urusan arsitektur, tak perlu diragukan, aku selalu suka dengan nuansa merah dan ukiran-ukiran di setiap vihara atau klenteng yang pernah aku datangi. Kami cukup mengambil banyak gambar di tempat ini.

Gereja Santa Maria de Fatima



Setelah puas mengeksplore tempat ini, tujuan berikutnya adalah Gereja Katolik berarsitektur Tionghoa, Gereja Santa Maria de Fatima. Aku cukup takjub begitu masuk pelataranya, aku melihat taman dengan patung Bunda Maria yang cukup menarik untuk disinggahi. Kemudian, aku tetap melihat patung singa betina dan jantan, layaknya seperti kita lihat di klenteng.



Kami juga berkesempatan masuk ke dalam gereja, kebetulan sedang tidak ada ibadah. Kalian akan menemukan pemandangan altar yang terasa sangat Tionghoa, ini keren, buat aku sih, entah apa pendapat kalian.

Perjalanan kami tidak berhenti sampai di sini, masih ada satu klenteng yang kami kunjungi, dan yang terpenting adalah kuliner yang wajib kalian coba di Glodok. Tapi nggak sekarang ya ceritanya, mbak Titi ngantuk mau obo, see you all on my next post. Jangan sampai kelewatan yah.



25 komentar:

  1. Deny Oey Sang Juru Glodok 😳😳😳
    Ternyata tulisannya malah bersambung, kirain mau langsung sampe selesai..

    BalasHapus
  2. Jadi tambah nyesel. Tidak ikut tour retjeh nya. Ah. Semoga lain kali bisa ikut. Untuk mengikuti jejak penulis yang menceritakan semuanya dengan detil.

    BalasHapus
  3. Glodok memang asyik banget untuk disusuri. Pernah mblusuk2 ke sini tapi belum lengkap. Belum rata. Kapan2 pengen ngulangin lagi ah

    BalasHapus
  4. Aku udah pernah ke gereja dan viharanya, tapi malah belum mencoba teh di Pantjoran Tea House & kopi susu di Tak Kie. Sepertinya kalau ada trip retjeh lagi, kudu ikutan nih.

    BalasHapus
  5. Di daerah lodok banyak banget tempat makan yang makanannya enak-enak dan bikin nagih, jadi maunya bolak-balik untuk makan. Selain itu juga banyak tempat budaya dan adat cina yang masih kental

    BalasHapus
  6. Penasaran sama jajanan Mipan.. seketika langsung browsing juga... Ngga nyangka di Glodok banyak tempat yang asyik.

    BalasHapus
  7. Meski jalur ini sudah sering aku lakukan, tapi koq ya nyesel ga ikut tripnya. Mungkin karena trip itu bukan hanya tujuan tapi juga dengan siapa. Next bikin lagi yaa. Btw, subjek kalimat yg konsisten yaa, pastikan saya atau aku (jangan dua2nya) hehehe

    BalasHapus
  8. Saya sempat kost 5 tahunan di sekitar sana, tapi ndak pernah sekalipun blusukan ke Glodok dan sekitarnya. Padahal sering banget diajak keliling. Kalaupun datang kesana untuk beberapa perayaan, itupun hanya yang di jalan besar saja. Jadi nyesel nih, setelah baca tulisan Kak Titi.

    BalasHapus
  9. Salam Bhinneka Tunggal Ika.

    Saya yang jarang ngopi, jadi penasaran dengan Kedai Kopi Tak Kie. Semoga bisa ikut trip selanjutnya

    BalasHapus
  10. Saya menunggu trip retjeh lainnya...hehehe...
    Jelajah pecinan di kota mana pun memang selalu seru yah, Mbak Titi.
    Anw, aku pernah baca, it is wiser to call keturunan Tionghoa drpd keturunan Cina, cmiiw.

    BalasHapus
  11. Kalau baca artikel mbaktiti kenapa yg keinget langsung makeup ya. Hahaa
    Btw, trip ini nyesel banget gak ikut. Padahal lokasinya masuk wishlist yg harus dikunjungi. Petak sembilan. Haft

    BalasHapus
  12. Nyesel nggak bisa ikutan, padahal penasaran sama kulinernya. Titi deh, lagi asik baca malah bersambung -_-

    BalasHapus
  13. Glodok ini adalah salah satu tempat yang selalu ingin aku kunjungi kalau ke Jakarta. Tapi selalu kelupaan. :D

    BalasHapus
  14. Ah dari dulu pengen banget eksplor pecinaan di Jakarta gak kesampean. Terima kasih loh review-nya. Ayo lanjutin nulisnya, penasaran ni.

    BalasHapus
  15. Sayang banget pas dikasih tau mau ke sini waktunya bentrok. Next kalo cocok mau ikut

    BalasHapus
  16. Padahal kantor ga jauh dari sini, tapi belom pernah nelusurin glodok sampe ke dalem-dalem kaya gini huhuhu.

    BalasHapus
  17. Adem banget baca tulisan awalnya, "Yang ada, kita sama, satu, Indonesia." Mau dong Kak ikut ke Vihara :)

    BalasHapus
  18. belom pernah explore di pecinan di glodok,,, lain kali pengen kesitu ahhhh

    BalasHapus
  19. Aku belum pernah mblusuk-mblusuk ke Glodok. Tahunya cuman toko elektroniknya aja hahaha. Makasih sudah ditulisin, bisa jadi referensi jalan2 selanjutnya. Ini formal amat yak hahaha ..gpp laah

    BalasHapus
  20. Terima kasih Mba Titi udah sharing pengalamannya jalan2 ke Pecinan di Jakarta. Aku aja yg masih punya darah Cina, belum pernah ngunjungin tempat yang mba Titi sebutin. Hehehe

    BalasHapus
  21. duh kamu nyeritainnya enak banget sih tii....berasa banget feelnya disana, kesono ah weekend

    BalasHapus
  22. Ternyata pidato dulu sblum masuk tema, cocok deh jd pejabat hehe. Oh iya mereka lebig suka dipanggil tiobghwa dripasa cina ti. Ada sejarahnya hehe

    BalasHapus
  23. Apa apaan ini? Sering baca tulisan tentang Glodok jadi pengen ke kesana juga dan tambah nyesel kenapa ga tahu kalau ada trip itu kemarin

    BalasHapus
  24. glodok aku taunya elektronik doang hahah. aduh aku ini banyak ngga tau nya ya hehe cocok nih baca yg kaya gini. maklum anak rumahan :D

    BalasHapus
  25. Azeek sahabat.. ����
    Terus kesal ceritanya malah bersambung.. yang mau cerita lengkapnya boleh banget ke lenifebri.com.. kurang ajar malah promosi.hahah
    Seru ya next kita trip receh lagi bareng cp multi telenan kakak deny oey

    BalasHapus