Pura Aditya jaya Rawamangun, Nuansa Bali yang Ada di Jakarta.



Senyum-senyum liat foto-foto album kenangan waktu dulu ke Bali. Inget banget, anting pernah dirampas monyet di Sangeh. Terus masih nggak lupa, main ke rumah temen mama yang anaknya seumuran aku, namanya Dayu tapi ini perempuan ya, dan banyak banget anjing di jalanan. Masih nggak lupa juga nginep di Hotel Sanur yang di baliknya langsung pantai.

Yang paling epik, masih nggak lupa lari-larian di lorong pesawat Garuda, pakai baju super gembel dan muka cupu sampai kemudian ditanyain mana orang tuanya. Ditaruh di Economy Class, sampe akhirnya Papa nyamperin dan jelasin ke pramugarinya kalau kita ada tiket di Business Class.

Dulu masih nggak paham selfie, liat pura yang cantik banget di pinggir danau, malah fokus ngerengek minta naik perahu keliling danaunya. Jadi yang barusan, adalah kilas balik 20 tahun yang lalu. Iya, dulu pas ke Bali waktu masih kelas 2 SD, umur 7 tahun. Izin nggak masuk sekolah 3 hari, di Bali 5 hari. Itu adalah kali pertama dan terakhir ke Bali. Sampai sekarang masih belum kesampaian mau ke sana lagi.

Aku masih lebih beruntung ke sana umur 7 tahun, lah si Ardi ke sana pas umur 7 bulan. Kasihan, malang nasib adekku itu.

Kalau ditanya orang, “Pernah ke Bali, Di?”

“Pernah, umur 7…. Bulan.” OK, yang penting udah pernah.

Jadi, wajar ya kalau aku pengen banget ke Bali lagi, dengan kondisi sudah dewasa. Sudah paham, kalau yang nari-nari di depan pura itu namanya budaya, dan bisa dinikmati. Bukan malah ditinggal lari-lari.

Tapi, apa daya saya belum ada dana dan semua ajakan masih jadi wacana. Makanya, pas Mas Achi cerita tentang Pura Aditya Jaya di Rawamangun yang rasanya Bali banget  aku excited dan langsung bilang, “Kesana yuk!”

Ternyata waktu, tempat dan segala hal yang mendukung lainnya sangat bersahabat, obrolan itu terjadi di hari Minggu, dan hari Rabu kebetulan libur nasional, pilkada serentak. Mas Achi pun langsung inisiatif untuk membuka lowongan pekerjaan, eh maksudnya Diversity Walking Tour yang salah satu tujuannya ke Pura Aditya Jaya, Rawamangun, Jakarta, deket UNJ.

Mungkin aku adalah yang paling menanti-nanti tour ini, dengan semangat membara, dari hari Senin aku sudah menanti-nanti hari Rabu, berlebihan, memang. Aku mah gitu dah kalau penasaran, makanya kamu jangan bikin aku penasaran ya.

Hari yang ditunggu-tunnggu datang juga, kita janjian di puranya jam 10.00 pagi, tapi yah wajar Indonesia ya, akhirnya aku baru sampai pura 10.40. Hampir semua peserta sudah mendarat duluan di Pura Aditya Jaya.

Akses Transportasi Menuju Pura Aditya Jaya Rawamangun


Naik apa kesana? Aksesnya gampang kok. Akses transportasi ke Pura Aditya Jaya, Rawamangun, kalian tinggal naik kereta listrik kebanggan Jabodetabek dan turun di stasiun Manggarai.

Dari stasiun Manggarai, tinngal lanjut ojek online, nggak jauh kok kemarin bayarnya 9000 aja. Anak zaman now gitu ya, dikit-dikit buka aplikasi ojek online dan search lokasi yang dituju, selesai segala masalah dan urusan. Kalian bisa banget kok langsung search Pura Aditya Jaya, tapi aku nggak sarankan sih, biasa pintu depan pura jarang dibuka.

“Jadi search apa dong, Ti?”

“Tenang, sabar, jangan paksa-paksa aku begitu!” malah drama.

OK, aku jelaskan dengan bijaksana, search aja Masjid At-taqwa, karena pintu masuk yang biasa dibuka, persis tepat di samping pintu masuk Masjid At-Taqwa. Untuk kemarin abang ojek aku pengertian, pas pintu depan nggak dibuka, dia langsung tanya-tanya biasa masuk lewat mana. Begini ya balada wanita muda masa kini, lebih pengertian abang ojek online daripada si dia, hah! Sudah nggak usah dibahas, merusak mood.


Setelah sampai gerbang, tidak lupa saya kasih tip ke abang ojek paling pengertian tadi. OK, fokus ke tujuan ditulisnya blogpost ini Pura Aditya Jaya, Rawamangun. Konon, Pura ini merupakan yang terbesar dan terluas di Jakarta kita tercinta ini. 

Jujur, ini kali pertama aku masuk pura, bingung juga gimana caranya. Alhasil celingak-celinguk, dan malah nyasar ke pintu depan. Tapi, inilah yang disebut takdir, ternyata ketemu Kal yang nggak bisa masuk di pintu depan. Susah payah aku jelasin ke dia, gimana cara masuknya, eh kita disamperin mas-mas penjaga pura dan karena aku bilang Kal adalah temanku jadi dibukain lah gemboknya. Sungguh beruntung Kal ketemu aku, preett.

Nuansa Bali di Dalam Pura Aditya Jaya


Begitu kalian masuk area pura ini, nuansa Bali sangat terasa, padahal nggak inget kaya apa nuansa Bali, cuma pernah liat lah di IG. Di pintu masuk kalian akan disambut dengan Janur Kuning, tapi yang ini nggak bikin patah hati kok, karena bukan janurnya mantan sama calonnya, jadi aman. Aroma sajen dan menyan pun terasa dimana-mana.


Kemudian kita bilang ke mas penjaga kalau kita adalah rombongan dari komunitas yang sudah ada di dalam. Kita dipersilahkan masuk, dengan sebelumnya ditanya sedang halangan atau nggak. Jadi, kalian nggak boleh masuk pura kalau sedang halangan. Oia, umat Hindu juga nggak boleh ibadah kalau sedang halangan, nggak boleh juga pegang sajen. Sebelum masuk pura, kita dipinjami kain kuning untuk dililit di pinggang. Ingat, ini dipinjami, jadi harus dikembalikan ya.


Begitu masuk kami langsung bergabung dengan teman-teman di bale besar, yang setelah ngobrol dengan Bli Agung Nugraha aku ketahui bernama Bale Ligong. Bale ini biasa digunakan sebagai tempat perhelatan acara besar, seperti contoh belum lama digunakan untuk ulang tahun pura, 12 Mei lalu.


Bli Agung ini merupakan pemuka agama di Pura Aditya Jaya, beliau menyambut kami dengan sangat baik, kami diceritakan tentang sejarah pura, bagaimana mereka biasa beribadah, bagaimana kepercayaan mereka dan bagaimana kita tetap harus Bhineka Tunggal Ika.




Selama ini aku cukup heran kenapa umat Hindu menggunakan sesajen setiap ibadah, ternyata menurut kepercayaan mereka makanan yang mereka makan harus bersih dari dosa, dengan cara dipersembahkan kepada Yang Maha Kuasa. Ini lah indonesia, berbeda-beda tapi tetap Pancasila.



Selain ada Bale Ligong, ada juga Bale Poedan, tempat pemuka agama memimpin upacara. Nah, Pura utama merupakan bangunan yang paling besar, Saat kami ke sana, sedang ada beberapa kelompok umat Hindu yang sedang beribadah, susana hening dan sakral sangat terasa.



Perbedaan Hindu jawa dan Hindu Bali


Oia, Bli Agung juga kasih kita pengetahuan baru loh. Jadi Bang Derus, selaku founder beberapa klub di BPJ, yang sangat banyak tanya, menayakan hal yang menarik. Apa ada beda Hindu di setiap daerah? Ternyata, ada loh, aku juga baru ngeh sih.


Sadar nggak sadar nih ya, kalian liat deh busana yang digunakan untuk ibadah di Jawa dan Bali sedikit berbeda kan. Di Jawa, umat Hindu beribadah dengan menggunakan kain batik, sedang dibali menggunakan songket Bali. Dan untuk penyebutan Tuhan pun juga berbeda, di Jawa biasa menggunakan Gusti, sedang di Bali, menggunakan Anak Agung.

Ternyata, menurut kepercayaan umat Hindu, cara beribadah ditentukan berdasarkan budaya daerah sekitar. Jadi Hindu di Bali, Jawa dan India pasti tidak akan plek sama. Tapi rata-rata isi sajen mereka tidak jauh berbeda, kembang, buah dan beberapa makanan ringan tergantung daerah.

Pura ini sudah sangat lama ternyata berdiri di Indonesia, mulai dibangun di akhir 1970 dan diresmikan oleh Gubernur Jakarta pada masa itu di tahun 1973. Jadi sudah 48 tahun pura ini eksis di Jakarta, dan kalian masih belum mampir? Merugi nak!

Setelah mendengarkan penjelasan Bli Agung dan puas tanya-tanya, kita diberi kesempatan untuk berfoto di area pura yang cantik dan luas ini. Tapi ingat, harus tau diri ya, ini tempat ibadah, jadi jangan berisik!









Pose dengan kembang kamboja diselipkan di sela-sela jilbab membuat aku tampak bali banget ya. Foto-foto diatas jelas bukan foto selfie ya, ada tangan-tangan handal di balik gambar instagramable. Terima kasih kepada Achmadi anggi, Deny Oey dan MAs Achi yang sudah dengan ikhlas meluangkan waktunya untuk mengabadikan make up saya hari itu di Pura Aditya Jaya Rawamangun. Satu tips buat kalian, jalan-jalanlah dengan orang yang jago foto dan mau fotoin kalian, hihihi.

Nah, kalian yakin masih nggak mau mengunjungi pura cantik ini? Indonesia itu beragam. Bhineka Tunggal Ika, di tengah suasana Indonesia yang sedang bolak-balik dirusuhi oleh teroris tak berperikemanusiaan, perjalanan ini membuat aku semakin yakin kita bisa bersatu. Jangan mau Persatuan Indonesia tergadai oleh mereka yang paling pintar adu domba.

Setiap agama mengajarkan kebaikan, dan pemeluknya yang taat tak mungkin tega menyakiti umat lainnya. Salam persatuan, salam Indonesia. 

Perjalanan ini tak berhenti di Pura Aditya Jaya rawamangun, masih ada 4 tempat ibadah lagi yang kami kunjungi. Nanti kalau sempat akan saya post sisanya. Selamat penasaran. :p

43 komentar:

  1. Koq nama gue gk disebut yah. Padahal beberapa foto u gw yg shoot.. 😑😑😒
    Hhhmmm..

    BalasHapus
  2. Ah tempat ini memang bali banget ya.
    Duh Antin belum puas eksplore nih, yuk ke sana lagi. Infonya Mbak Titi lengkap sekali inih

    BalasHapus
  3. Terakhir ke sana saat SD. Duuh sudah lama banget ya. Kalau mau ke sana lagi, info2 ya mbak

    BalasHapus
  4. Terakhir ke sana saat SD. Duuh sudah lama banget ya. Kalau mau ke sana lagi, info2 ya mbak

    BalasHapus
  5. Lah masih afal aja Ti sama semua penjelasannya. Btw typonya banyak.

    BalasHapus
  6. Baru enggeh kalau cara sembahyang agama Hindu tergantung dari budaya daerah masing-masing. Thank you ya infonya.

    BalasHapus
  7. Mbak, ini ulasan tentang suatu perjalanan yang dikemas dengan refleksi diri yang menggugah dan gaya tutur yang menarik. I enjoy reading this article. Curhatnya pas.

    Pura ini pasti jadi salah satu must visit point saya

    BalasHapus
  8. Baru tahu loh saya, kalau ada pura sebagus ini di Jakarta. Bali memang penuh dengan Budaya menawan. Salah satunya tampak dari bangunan pura nya.

    BalasHapus
  9. Waah padahal udah lama tinggal di Jakarta serius deh aku baru tau tempat ini, kayany wajib kesini deh :D

    BalasHapus
  10. Pergi serombongan bareng Titi juga nih hihihi. Cakep emang pemandangannya.

    BalasHapus
  11. informatif banget mba, tulisannya..
    Dulu waktu aku mau kesana dan cari blog tentang pura ini, masih jarang banget..

    BalasHapus
  12. Sekarang udah engga cupu berarti, ya?
    Hehe.
    Hmm ini tuh pura tempat temenku ibadah. Jadi aku suka liat temenku share di ig storynya, emang nuansanya bali banget yaa.
    Aku pun baru tau kalo hindu itu tergantung budayanya ya, nice info nambah pengetahuan..

    Btw suka dg kalimat penutupnya ;)

    BalasHapus
  13. Duh itu kalau pengunjung biasa ujug-ujug dateng tanpa pemberitahuan sebelumnya ke pihak sana, mungkin ga dibukain gerbangnya ya

    BalasHapus
  14. Kawasannya masih asri dan rindang yak.. Mendukung bgt buat liburan sejuk..

    BalasHapus
  15. Wah baru tau nih ada pura sebagus Itu ini jakarta, mana adem pula suasana nya. Makasih mbak info info nya, lain waktu mau kesana ah

    BalasHapus
  16. Wah.. Saya termasuk yang merugi nih.. Belum mengunjungi yang dekat.. Hehe..
    Tapi selain Pura Aditya Jaya di Rawamangun, ada juga Pura Jagatkarta di Bogor.. Semoga suatu hari kita kesana juga ya Mbak..

    BalasHapus
  17. Tips jalan-jalan bareng fotografer mahir dn suka menolong perlu di coba nih..

    BalasHapus
  18. Nice share mba,foto-fotonya juga apik. Btw jd inget pura yg di Bogor, pernah ngobrol sama salah satu penjaga pura disana dan mereka sangat welcome pengunjung agama lain yg ingin sekedar melihat2 atau bahkan ingin beribadah sederhana disana, seperti baca kitab suci, doa, dsb.

    BalasHapus
  19. Kapan-kapan adain lagi dong trip ke sini, sayang waktu itu ga bisa ikut karena harus masuk kerja.

    BalasHapus
  20. Pertama beredar foto-foto pura ini langsung naksir pengen kesana tapi apalah daya, lagi di luar kota. Sepertinya kalau ke Jakarta kudu diniatin datang ke Pura Aditya Jaya ini ya, selain bisa foto-foto cantik juga dapat menambah pengetahuan biar makin bangga dengan keberagaman agama di Indonesia

    BalasHapus
  21. Baru tahu kalau tata cara ibadah umat hindu itu disesuaikan dengan daerah. Uhh sebal aku ga ikut trip ini, jadi aja ga difoto sama Achmadi yg fotonya kece badai

    BalasHapus
  22. Weh-weh.. dari foto-fotonya kayak di Bali beneran..
    Gak nyangka hlo masih di ibu kota ni.. hehe

    Nice post.. Menunjukkan sisi lain Jakarta..

    BalasHapus
  23. Sedih deh gabisa ikut ����
    Bapak founder kubbu ternyata peka sekali ya,ngeh aja kalo hindu bali sama hindu jawa ada bedanya

    BalasHapus
  24. cantik2 banget fotonya mbak, baru tau nih kalo dijakarta ada tempat sekeren ini.

    BalasHapus
  25. Wah, aku baru tahu nih ternyata tata cara ibadah umat Hindu tergantung daerahnya. Terima kasih sharingnya, Mbak. Btw, suka deh sama kalimat penutupnya.

    BalasHapus
  26. Indonesia memang beraneka ragam ya, tak perlu ke bali di jakarta pun bisa menikmati momen yang mirip dengan di bali, dan foto-fotonya bagus-bagus mbak

    BalasHapus
  27. Duh beneran baru tau klo ada Pura di Jakarta yang Bali bingits.. Makasih artikelnya ya Ka ��

    BalasHapus
  28. Gw aja blom pernah kesini walopun rumah gw deket, ternyata dalemnya bagus ya. Jadi pengen ke bali, ke bali aah...

    BalasHapus
  29. Wahhh keren ini mbak titi. Salut bisa hafal perkataan blinya. Terimakasih lho, saya jadi tau infonya.

    BalasHapus
  30. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  31. padahal pengen ikutan tapi galau gara2 blom jelas libur nya, hiks hiks serasa dibali ya mba.

    BalasHapus
  32. Kesel tau bacanyaa, aku ga bisa ikutan gegara masuk kantor. jadi kamu mau ajak aku kesana ga?

    BalasHapus
  33. Wkwkwk makasih loh Ti gara-gara ketemu kamuuu aku bisa masuk ke Pura. Kalo ga mungkin udah guling-guling depan pagar wkwk. Btw fotomu kok kece-kece ihh. Nyesel ga pake mekap kyk kamuuu 😣😂😂

    BalasHapus
  34. Wah pura yang berada di rawamangun kental banget ya dengan suasana bali. Aku liat foto mba wulan dan mas achi dan 1 temannya lagi memakai baju putih dan kembang kamboja, mereka seperti berada di bali. Apa memang di bali betulan ya?

    BalasHapus
  35. wah asyik juga ya, bisa ke pura melihat suasana yang ada di bali

    BalasHapus
  36. Baru tahu ada pura sekeren itu di Jakarta, padahal dekat dari rumah hehe

    BalasHapus
  37. padahal Rawamangun deket ma saya yaa? wahh perlu ke situ nih

    BalasHapus
  38. Wah jadi dewi penolongnya mbak Kalena. Semoga tetap baik hati dan gemar menabung.

    BalasHapus
  39. eh... kayaknya pernah ke tempat ini juga.. wkwkwkwk... btw kak titi narsis banget ya...

    BalasHapus
  40. Waw ternyata ada tempat menarik dari kampusku...
    jadi penasaran pengen kesana

    BalasHapus
  41. Iih beneran rasa Bali banget yaa. Baru tahu kalau ini di Jakarta.

    Ternyata memang ada beberapa perbedaan yaa antara Hindu Bali & Jawa.

    Asik banget nambah wawasan ;)

    BalasHapus
  42. benar2 sperti di Bali.. mbak titi aku dah komen berkali-kali tapi kok g ada ya..

    BalasHapus
  43. Bagus ternayta dalamnya, ya. Selama ini saya cuma lewat aja :)

    BalasHapus