GARA


Kalian tahu, aku cukup bahagia dengan hidupku. Keluargaku adalah yang terbaik yang paling aku syukuri, dan teman-temanku adalah yang paling seru yang aku punya.

Mama papa, selalu nggak tega kalau anaknya pindahan sendirian. Dari kota ke kabupaten, mereka tetap aja bantuin anaknya ini pindahan. Jauh-jauh dari Jakarta, mengerahkan seluruh pasukan, buat bantuin angkutin barang anak kos ini.

Begitu juga sama teman-temanku, mereka adalah yang terbaik yang aku punya. Kita pndahan di waktu yang bersamaan, bareng-bareng nempatin kontrakan baru yang sudah kita cari-cari dengan susah payah. Hari itu, pertama kalinya kami semua berkumpul dengan keluarga juga. Aku mulai kenal dengan orang tua mereka.


Kami satu rumah, berbagi canda, tawa, kesal, jengkel bareng-bareng, terus-menerus.

“Eh, eh liat tuh ada cowok ganteng, liat deh!” kata satu di antara kami, aku menoleh, memperhatikan, dan jujur memang bukan tipeku.

“Biasa aja.” Ujarku, lirih hari itu.

***

Entah bagaimana, mereka bisa-bisanya membawa laki-laki yang kata mereka ganteng itu belajar bareng, di kontarakan, di suatu siang yang teduh di kota itu.

Perkenalan pun terjadi, selain nggak seganteng itu, menurutku lagi, dia juga nggak asyik, nggak ada omomngnya, sok cool deh. Itu yang ada di benakku hari itu.

Hampir seminggu 2-3 kali si lelaki yang katanya ganteng itu datang dan ikut nimbrung bareng kita. Dari yang belajar bareng, sampai akhirnya ikut main bareng. Aku agak risih sebenarnya, gimana ya, males aja gitu. Awalnya.

***

Sekarang gengku menggendut, dari berenam jadi berdelapan, ditambah satu  yang katanya ganteng dan temannya, perempuan. Anak perempuan ini asyik, Sandra namanya. Anaknya seru, motornya laki, tapi bajunya feminim sih.

Kami jadi makin seru dan ramai, berdelapan kesana-kemari, bolak-balik cari pengalaman baru. Sampai pada suatu pagi yang cerah di kota jakarta.

Aku mengajak seorang teman lelaki, iya hanya teman, sayang sekali, namanya Reno.  Aku mengajak dia menjadi bagian dari kita, ikutan geng kita yang hari itu kekurangan lelaki. Biar seimbang aja.

Sebenarnya ada misi yang aku selipkan, aku naksir Reno dari TK. Dan, kemarin, seminggu yang lalu, aku baru tahu kita merantau di kota yang sama. Alhasil aku ajak Reno bergabung, hitung-hitung biar aku bisa punya alsan untuk bolak-balik ngajak Reno jalan tanpa canggung.

Yang katanya ganteng itu masih terus jadi bagian dari kita, bersama Sandra dan Reno. Di mataku, dia, Sandra dan Reno, tetap jadi pendatang di geng kontrakan kita, aku tak banyak berbagi ke mereka.

Kami, tim inti, si enam orang ini tetap punya quality time tiap malam, ngobrol ini itu sambil menghabiskan mie goreng di piring masing-masing.

“Eh, gue mau curhat nih.”

Ujarku malam ini di ruang tengah saat kita semua menjalankan rutinitas di minggu malam.

“Kenapa? Lo mau bilang, lo sebenernya naksir Reno dari lama. Makanya lo ajak dia gabung. Gitu? Hahaha, tahu gue mah, keliatan kok.” Alita emang paling tahu, belum aku cerita dia sudah menebak dengan tepat.

***

Sejak malam itu mereka tahu, aku modus ke Reno, aku suka ke Reno. Tiap malam aku telponan sama Reno, dan setiap mereka lewat cuma senyum-senyum sambil cie-cie, termasuk Alita, she do the same thing with the other.

Ke beberapa acara, kalau kita main aku selalu sengaja semotor sama Reno. Alesan motor bensinnya habis lah, atau sengaja nggak keluarin motor. Reno terlihat nggak masalah, aku tahu dia juga jomblo. Bahkan beberapa kali aku sempat main ke rumah Reno, bareng Alita, karena nggak enak kalau main sendiri kan.

Ibunya Reno asyik, adeknya juga klop banget ke aku. Aku sempat merasa, “Hmm, kalo jodoh mah gini ya, semuanya dipermudah.”

Kita sangat dekat, kabar-kabaran setiap hari, telpon-telponan setiap malem, selalu jalan bareng juga walaupun emang bareng-bareng berdelapan. Intinya, wajar kan kalau aku menaruh harap?

***

Suatu minggu malam, anak-anak yang lain belum ada yang balik ke kontrakan. Maklum baru beres libur semester, biasa mereka Senin pagi baru muncul. Aku hanya berdua Alita malam itu, aku nonton TV di ruang tengah, sambil Alita masakin mie goreng di dapur.

“Ta, ada bbm.” Teriakku, saat melihat Blackberry Alita kedap-kedip tanda ada pesan masuk.

“Buka aja, Ti. Paling si Sandy tuh ngabarin balik besok pagi.”

Atas izin Alita aku buka bbmnya.

Reno. Nama ini yang aku liat di layar. Aku buka pesannya.

“Kamu juga, jangan lupa makan ya. Sehat-sehat. Nanti Selasa aku jemput di tempat biasa. Jangan sampai Titi tahu ya.”

Aku tak tahu harus berbuat apa, aku bingung, masih nggak percaya.

“Iya kan, Ti? Sandy mah sok romantis emang gitu aja pake ngabarin.” Ujar Alita sambil membawa mie goreng dari dapur, berjalan ke arahku.

Aku berdiri menghampiri Alita, “Dari Reno, Ta. Gue masuk kamar ya. Abisin aja mienya.”

***

Sudah seminggu ini aku nggak tegur sapa ke Alita. Aku hanya melempar senyum setiap papasan sama Alita. Sudah seminggu ini juga semua pesan Reno nggak ada yang aku balas. Telponnya pun nggak pernah aku angkat, kita memang nggak ada apa-apa. Tapi dikhianati seperti ini, sakitnya lebih parah.

“Ti, dengerin dulu penjelasan Lita.” Kata-kata ini yang keluar dari mulut teman-temanku yang mulai prihatin dengan hubungan persahabatan yang mulai tampak tak sehat ini.

Aku masih belum bisa menerima penjelasan apapun, dikhianati sahabat sendiri adalah subjek yang masih belum bisa aku terima. Sudah seminggu terakhir ini juga kita berdepalan nggak main bareng. Semuanya sibuk menghiburku, kecuali si lelaki yang katanya ganteng itu, namanya Gara.

Gara adalah yang terlihat paling tidak peduli dengan masalah ini, merasa ini bukan urusan yang perlu dijadikan highlight. Yang aku lihat, dia sesimple, ya sudah kalau nggak bisa kumpul, sama sekali nggak cari tahu ada apa.

***

Dua minggu pasca kejadian paling menyakitkan itu, aku sudah mulai bisa pura-pura terima bahwa diam-diam di belakangku, Alita dan Reno sudah lama jadian. Sakit.

Minggu siang aku menyepi, ngopi sendirian di daerah Tebet. Ditemani denting piano dari live music dan isi kepala yang terus mendesak minta dituang ke tulisan. Saat sedang asyik nulis, tiba-tiba.

“Ngapain lo sendiri di sini, Ti? Kaya jomblo aja.”

Si Gara tiba-tiba muncul depan muka nggak pake Assalamualaikum, nggak sopan emang anak ini. Yang begini nih yang ditaksir sama anak-anak, ckckckck.

“Ngapain sih lo? Mau ganggu ketenangan gue ya? Jauh amat sih lagian maen lo.”

“Yelah, lo pikir nih kafe cuma boleh didatengin anak Jakarta.”

Anak ini dengan asyk pesen minuman dan duduk depan aku tanpa permisi dulu.

“Emang ada yang ngebolehin lo duduk sini?” Ketusku selesai dia order.

“Ti, mentang-mentang abis dikhianatin jangan sensi gitu ah.”

Lah anak ini jadi sebenernya tahu apa yang terjadi?

“Sok tahu lo!” Dan aku pura-pura nggak peduli dan lanjut ngetik di laptop. Dia malah ikutan ngeluarin laptop dan ngetik juga. Kok ngeselin sih anak ini, bukannya pergi.

Kita nggak ngbrol apa-apa, hening, sibuk dengan pemikiran masing-masing.

Aku periksa jam, sudah menunjukkan pukul 19.00 waktunya pulang ke kontrakan, yang rasanya masih 2 jam lagi dari sini kalo motoran dan nggak macet. Aku bergegas beberes, masukin laptop ke tas. Dan, Gara melakukan yang sama persis.

Aku berjalan ke parkiran, dan Gara masih ngintilin di belakang, padahal dari tadi aku masih abai. Sampai di motor.

“Mana kunci lo? Pamali cewek malem-malem sendirian bawa motor antar kota antar provinsi. Selau, gue bawa helm kok.” Dia langsung merampas kunci motor dan nangkring d jok depan, aku malas berdebat, udah aja aku naik di jok belakang. Sepanjang jalan, kita diam.

Sudah ¾ perjalanan, tiba-tiba hujan deras luar biasa, dan aku nggak bawa jas hujan. Alhasil kita berdua memutuskan berteduh di kios koran yang sudah tutup, nggak ada orang lain yg neduh, cuma kita berdua, mungkin karena udah malem juga.

Aku bosan juga diem-dieman terus.

“Lo tahu masalah gw sama Alita dan Reno?”

“Ya tahu lah, semuanya juga tahu kan? Cuma gue males aja bahas-bahas di grup, nggak akan bikin lo maafin Alita juga kan? Gue paham kok, sakit pasti, pengkhianatannya yang bikin sakit.”

“Iya, lo bener, Gar. Kalau seandainya Reno jadian sama orang lain, ya gue tetep akan sakit tapi nggak sesakit ini.”

Perbincangan berlanjut, kita cerita tentang apapun, semuanya, entah, rasanya nyaman. Gara tidak sediam biasanya, di sini dia yang lebih banyak ngomong.

“Oia, Lo kok bisa kebetulan banget ke kafe tadi sih? Kan itu nggak tenar juga, dan jauh banget dari rumah lo.”

Rumah Gara di daerah kontrakan, emang jauh banget dari kafe tadi.

“Hahaha, temen gw update status di bbmnya. Dia foto, dan nggak sengaja ada elo di belakangnya. Terus gw tanya itu di mana? Yaudah gw nyusul, takut tiba-tiba lo bunuh diri. Jujur gue agak kesal sama yang ngakunya temen-temen lo. Kejadian begini kok mereka nggak ada yg support elo, malah bolak balik bilang. Ya, lo nggak bisa marah karena lo bukan siapa-siapa Reno.”

Nggak lama hujan berhenti, aku berdua Gara kembali melanjutkan perjalanan. Tapi, kali ini nggak pakai diem-dieman, kita ketawa-ketiwi sepanjang jalan. Nggak terasa sampailah aku di kontrakan jam 11 malam.

***

Semenjak hari itu, diantara kita berdelapan, aku jadi sangat dekat ke Gara. Kita sering ketawa seru berdua. Gara masih jadi yang pendiam buat yang lain, tapi sama sekali nggak buat aku. Dia bisa tertawa terbahak-bahak di depanku. Semuanya mulai heran, beberapa langsung tanya ke aku.

“Si Gara sejak kapan berisik gitu, Ti?”

Aku cuma senyumin aja, emang nggak ada yang tahu kejadian malam itu.


Sejak hari itu, kita emang jadi sering jalan berdua. Gara cerita apa pun ke aku, mantannya, ibunya, adeknya, kakaknya, apapun dia cerita ke aku. Lama-lama kedekatan kami mulai terlihat dengan jelas. Gara bisa tiba-tiba datang bawa sop panas, saat tahu aku sakit.

Semenjak semua mulai tahu, aku mulai dimusuhi teman-teman yang paling aku percaya. Beberapa dari mereka nyinyir di depanku.

“Katanya, bukan tipenya, tapi diembat juga.”

Aku bahkan di kick dari grup bbm yang isinya kita berenam, dan tiba-tiba mereka semua pindah kontrakan nggak bilang-bilang. Alhasil, aku sendirian di kontrakan sebesar itu. Menyakitkan, ini harga yang harus aku bayar untuk kedekantanku dengan Gara.

Akhirnya aku jadi sangat dekat ke Gara dan Sandra, sudah nggak ada lagi tuh grup yang isinya 8 orang, sekarang sudah pecah. Dan, aku denger Alita dan Reno juga sudah bubar, nggak mau jahat sih cuma kok aku seneng aja dengernya.

Sampai suatu malam di perjalanan pulang dari Jakarta bareng Sandra.

“Ti, nginep di gue yuk.”

Dan, akhirnya aku nginep di rumah Sandra, di situ dia minta aku baca satu buku tulis yang penuh tulisan tangan dia. Isinya, perjalanan betapa dia jatuh cinta ke Gara, kapan dia pertama ketemu, mulai kapan dia suka dan lain sebagainya.

“Iya, Ti. Gue suka banget sama Gara. Jauh sebelum lo kenal Gara. Jauh. Gue tahu, dia sangat nyaman sama lo. Setelah depresi dia putus dari Rara, dia nggak pernah ketawa selepas dia bareng lo, itu ketawa Gara yang gue lihat terakhir bareng Rara. Sebelum Rara akhirnya selingkuh dan lebih memilih bareng Tomi. Gara frustasi, nggak pernah lagi suka sama cewek lain, di situ gue mencoba untuk selalu ada buat dia. Sekarang, Gara menemukan elo, dia seperti menemukan lagi nyawanya. Gue nggak bisa paksain Gara sama gue. Buku ini bakal gw kasih ke Gara besok siang. Apa yang terjadi setelah itu, kita lihat besok aja.”

Begitu kalimat penutup dari Sandra setelah aku menamatkan buku diary dia yang kalau boleh aku kasih judul, judulnya adalah “Gara”.

***

Aku mulai berpikiran macem-macem, otakku ruwet luar biasa, saat aku merasa menemukan seseorang yang selalu ada, yang selalu bisa aku andalkan, begini ceritanya.

Siang itu, aku bareng Sandra jalan ke kontrakan, Gara barusan ngasih kabar dia sudah di depan kontrakan.

“Hai Gar, masuk. Kasihan, udah berapa purnama nunggu di sini?” Tanyaku mencoba bersikap sesantai mungkin.

Padahal, sejak percakapan semalam, aku baru sadar beberapa hal, aku sepertinya juga sudah jatuh cinta pada lelaki yang katanya ganteng ini. Bukan karena dia sekarang ajdi ganteng, tapi karena dia yang selalu ada, kapanpun aku butuh. Karena dia yang paling tahu, bagaimana cara membuat aku berhenti menangis dan menukarnya dengan tawa.

Aku sengaja meninggalkan Gara dan Sandra di ruang tamu berdua, aku tahu Sandra butuh berdua dengan Gara. Lamat-lamat aku mendengar percakapan mereka dari kamarku, yang kebetulan paling dekat dengan ruang tamu.

“Gar, tolong baca buku gue. Setelah itu, terserah lo mau berpikir apa tentang gue.”

“Buku apaan ini Sand?”

“Baca aja, tipis kok.”

Tak terdengar apa-apa lagi.

Aku kembali ke ruang tamu membawa air dari kulkas. Tak banyak bertanya aku segera ingin bergegas kembali ke kamar, sampai akhirnya, tangan Gara mencegah langkahku.

“Duduk sini, Ti.”

“Apaan sih Gar, gue mau ambil cemilan.”

“Bukan saatnya nyemil sekarang, duduk.” Dia memaksaku duduk tepat di sebelahnya.

“Gimana, Gar?” Sandra memecah keheningan antara kita bertiga.

“Sand, lo tahu pasti jawabannya. Lo adalah teman terbaik yang gue punya. Lo selalu ada, lo selalu yang paling paham. Tapi, gue jatuh cinta sama Titi, Sand. Lo tau kan, gue udah lupa caranya senyum sampai Titi mengajarkan gue caranya tertawa. Gue nggak bisa, Sand.” Ucap Gara tegas siang itu.

Sandra terdiam, kemudian pingsan.

Aku dibantu Gara, bergegas memposisikan tubuh Sandra dengan baik. Aku langsung mengambil minyak kayu putih di kamar. Nggak lama Sandra sadar.

“Ti, sekarang lo gimana? Lo udah tau kan apa yang Gara rasaian ke elo.” Tanya Sandra lirih.

Aku? Tanyaku dalam hati. Aku jatuh cinta sejadi-jadinya ke lelaki yang katanya ganteng, yang nggak pernah absen jadi yang menemani, yang selalu membawa warna di hidup yang belakanga agak gelap. Gara? Aku pun tergila-gila ke dia, sama kaya Sandra. Tapi, aku tak mau jadi Alita untuk Sandra.

“Gar, sama kaya Sandra buat lo. Begitu juga elo buat gue, Gue nggak bisa.”

***


Mulai hari itu aku minta Gara jangan menghubungi aku. Kebetulan 1 minggu setelah kejadian itu, kami wisuda. Tak ada bunga ataupun coklat, wisudaku penuh bunga dari adik-adiku, saja.

Sudah cukup rasanya, di hari wisuda, aku dan  Gara, iya, kami. Yang sudah menghabiskan banyak waktu bersama, menyusuri jembatan FIB UI, cerita ini itu di foodcourt BNR, sampai perjalanan touring panjang ke Anyer. Hari itu, hanya saling tatap dan melempar senyum. Tak ada foto bareng dengan toga di kepala. Aku hanya berfoto dengan Sandra, kemudian bergegas pergi dengan keluargaku.

Bahkan, hati yang retak kadang bukan karena penolakan, bukan karena bertepuk sebelah tangan. Yang saling mencintaipun, akhirnya bisa sama-sama retak saat keadaan tak mendukung untuk kita bersama.











31 komentar:

  1. Oke, cinta kadang datang bukan disaat yang tepat. Ceritanya sederhana dan sepertinya banyak orang yang pernah ngerasain hal ini. Haha

    BalasHapus
  2. Semoga setelah menulis ini Mbak Titi jadi lebih legaa.. Ndak tahu, ujungnya gimana tapi berada di dua ' sudut' yang bersebrangan akan jadi 'sesuatu' dalam perjalanan hidup kita. Selalu suka cara bertutur mbak titi di berbagai tulisan.

    BalasHapus
  3. Sangat berbakat, coba dibuat cerbung atau novel, Ti. Keren tulisanya

    BalasHapus
  4. Pertanyaaanny, kenapa tokoh utamanya namanya harus Titi ya.. 🤔🤔🤔
    Media curhat pribadikah? 🤔🤔🤔

    BalasHapus
  5. Cerita yang sederhana tapi menarik, semenarik tokoh Gara.
    Sempat salah terka endingnya, kirain tetap menerima Gara, ternyata persahabatn yang menang

    BalasHapus
  6. ceritanya bagus mengalir bagaikan air... ditunggu cerita bersambungnya semoga happy ending

    BalasHapus
  7. Duh, sedih. Ceritanya menyentuh banget. Selama baca kok bertanya-tanya, ini kisah nyata bukan sih? Semuanya terkesan real banget. Good Job!

    BalasHapus
  8. Jadi ingat kata-kata di buku Distilasi Alkena. "Denganmu, Jatuh Cinta Adalah Patah Hati Paling Sengaja". Cerita cintanya seruuuu.

    BalasHapus
  9. Girlfriends, best friend , and boys has always has many great side to talk about. Dont know why, cerita tentang si Gara ini terbaca as a base on true story version. Proud of Titi yang lebih milih untuk ga jadi Alita buat Sandra 😊😉

    BalasHapus
  10. Ya ampun MbakTiti... sedih banget ini drama percintaannya ya. Apa ga mau balikan lagi sama Gara? ��

    BalasHapus
  11. Mbak Titi, sekarang giliran aku yang baper baca cerita Mbak.

    "Bahkan, hati yang retak kadang bukan karena penolakan, bukan karena bertepuk sebelah tangan. Yang saling mencintaipun, akhirnya bisa sama-sama retak saat keadaan tak mendukung untuk kita bersama."

    This is worse than cinta bertepuk sebelah tangan, Kak.

    BalasHapus
  12. Pada akhirnya suka juga kan sama cowok yang cool. Walaupun mungkin tidak bisa saling memiliki...

    BalasHapus
  13. Ceritanya keren dan endingnya nggak ketebak. Siapa sangka 'Titi' akhirnya harus membunuh rasa demi persahabatan. Ditunggu cerita lainnya, Kak.

    BalasHapus
  14. bagus ceritanya. Tetep semangat menulis ti.
    Ditunggu cerita lainnya

    BalasHapus
  15. Bahkan, hati yang retak kadang bukan karena penolakan, bukan karena bertepuk sebelah tangan. Yang saling mencintaipun, akhirnya bisa sama-sama retak saat keadaan tak mendukung untuk kita bersama.


    Kampret lau Ti, bikin galau dan mewek aja. Btw ini pertama kali gue baca cerpen lu. Dan ogah lagi!

    BalasHapus
  16. Aduh baper banget sama ceritanya. Tapi kalau jodoh mah ga kemana koq, kalau Gara ga bisa dimiliki sekarang , mungkin nanti bisa jadi dimiliki selamanya. Semangat ✊

    BalasHapus
  17. Ceritanya natural banget Ti. Cinta yang dipaksa berhenti demi mengedepankan empati. Keren ihh

    BalasHapus
  18. Hahahaha, duh ini ceritanya kenapa sama persis kayak apa yang lagi saya rasain ya. Jadi berasa ngaca. 😂😂😂

    BalasHapus
  19. Mbak Titi itu kisah cintanya bener-bener penuh drama.. Susah bengat di posisi mbak Titit pastinya

    BalasHapus
  20. Gw bacanya khusu bner, gda satu kata yg kelewat.
    Gw kira nih malah kisah nyata wkwk.

    Tapi bagus ceritanya.

    BalasHapus
  21. Nyesek ihhh endingnya. Tp aku suka, karena Mba Titi gak egois hehehe

    BalasHapus
  22. Kisah nyata ya, Ti? Nulisnya bagus, kayak novel2 remaja yang udah pada terbit.

    BalasHapus
  23. Pas aku baca, aku jadi seperti memerani tokohnya kak.. Seakan aku sedang mengalaminya. Bagus banget kakak menulis cerita ini..

    BalasHapus
  24. Dan hatiku pun retak membacanya, meski demikian catatanku ttg tulisan ini adalah penggunaan konjungsinya, Dek. "Aku pergi sama Gara" nah itu ga tepat, harusnya dengan. sip, semangat terus yaa

    BalasHapus
  25. Sumpah pengen ketawa.. komen yang lain pasti sedih.. kenapa gue ketawa dah..
    Bagus beb.. walau personally rada gimanaa gitu dengan penamaan tokoh utamanya yang namanya titi.. wkwkkw..

    BalasHapus
  26. Ini kisah pribadi? Cinta dan sahabat selalu menjadi tema yang luar biasa untuk dikisahkan. Terima kasih sudah berbagi.

    BalasHapus
  27. Kok namanya Titi? Kisah pribadi atau ngebranding nama sendiri tiii? Wkwkwk. Btw ceritanya bagussss. Aku ikut emosi pas tau Alita ternyata ada something sama Reno. Pertemanan cewek itu emang lebih rumit wkwk. Aku tadi ngira endingnya bakal happy, ternyata nyeseekkk.

    BalasHapus
  28. entah kenapa kalau baca tulisan Titi selalu gak mau berhenti dan terbawa ceritanya. Seolah2 saya yang ngalamin sendiri.. Ajarin dong biar bisa nulis cerita sebgaus itu..

    BalasHapus
  29. Seru banget deh ceritanya. Kekinian dan enak dibaca. lanjutkan ka, siapa tau kan bisa buat novel nantinya atau bahkan difilmkan hehe

    BalasHapus
  30. Ada tombol like ga nih disini yaa. Hahah
    Terhanyuuut akuuuu dalam ceritamuuu. wkwkwk
    Sering-sering dek, biar bikin pembaca nyessss

    BalasHapus
  31. Aaaahh Titi bagus ceritanya, udah berasa baca novel kekinian. Lanjutin Ti, semoga bisa lanjut jadi novel dan kurangin typo-nya biar tambah keren tulisannya :D

    BalasHapus