BACKPACKER JEPANG KOREA DAY 2 (NARA, DOTONBURI) PART 2



Sesuai janjiku ke kalian ya, ini aku lanjut ceritaku Day 2 di Jepang, aku mah aapa tuh ya, nggak bisa cerita sedikit-sedikit, day 2 aja mesti jadi 2 part. But, I promise this is my last part in day 2.


Kota Nara



Bergegas menuju stasiun, sekaligus cek rute di hyperdia dan tetep ya, foto-foto lagi, maklum wanita. Setiba di stasiun kami celingak-celinguk cari peron menuju Nara. Di sini, kita tidak perlu bingung masalah rute, tinggal buka hyperdia, tulis nama stasiun tujuan dan dari stasiun mana kita berangkat, hyperdia segera memberi petunjuknya, sampai estimasi waktu dan biaya yang dibutuhkan, kalau kamu nggak pakai pass. Ini juga yang menjadi patokan kami waktu itung-itungan bakal beli pass atau nggak.




Perjalanan menuju Nara lancar, tanpa nyasar, mendarat mulus di stasiun Nara. Di Nara tujuan kami adalah cari makan, Nara Park dan Todai-ji Temple (ini adalah kuil Budha). Begitu keluar stasiun kita akan disambut olah pemandangan rusa berkeliaran dimana-mana. Yang lebih menakjubkan lagi, kalau kita perhatikan di jalan raya Nara, banyak terdapat peringatan “Awas Rusa”.

Di sini memang terkenal dengan kota rusa, mereka bebas berkeliaran di trotoar, bahkan di jalan-jalan besar. Mereka akan dengan santai jalan di sebelahmu, malah bakalan kamu yang jadi nggak santai karena grogi. Di sini juga banyak dijual biskuit untuk rusa, bentuknya kaya crepes, tapi lebih tebal. Saranku sih nggak usah beli deh, selain irit budget, sekalian sebagai perlindungan diri supaya nggak dipepet rusa.



Oia, mereka peka banget dan tertarik sama makanan kita juga, jadi hati-hati deh jangan bawa-bawa makanan waktu kalian jalan di trotoar di Nara, kalau nggak mau diseruduk rusa. Tapi, tenang aja, untuk rusa jantan, tanduknya sudah dipangkas. Mungkin, demi melindungi pengunjung juga ya, daripada kena seruduk tanduknya yang lumayan kan. Rusa disini agak nggragas kalau lihat atau nyium kalian bawa makanan, jadi hindari makan sambil jalan bagai kuda di sini ya.

Daya tarik berikutnya dari kota ini adalah, suasana pedesaan yang sejuk banget. Pepohonan rimbun di mana-mana, tepat saat kami ke sana pas musim gugur. Sudah banyak pohon yang daunnya mulai menguning bahkan beberapa oranye, cantik dan romantis banget. Ditambah lagi, suasana rumah-rumah di Nara yang tradisional Jepang banget. Aku suka Nara, rusa dan keramahannya.

Awalnya, kami sempat berniat ngebis menuju Todaiji Temple, tapi mengingat susananya enak banget buat jalan akhirnya kami memutuskan buat jalan, padahal lumayan juga sekitar 2 km dari stasiun ke templenya. Hanya saja, melihat suasana jalanan yang sangat sayang dilewatkan kami memutuskan untuk menikmati trotoar Nara dengan berjalan kaki saja.


Bahkan, di jalan kami beberapa kali melihat segerombolan anak-anak yang berhentiin mobil demi nyebrangin rusa-rusa lucu, pemandangan yang cuma bisa ditemuin di Nara. Rumah-rumah tradisional Jepang berjejer rapi, bikin pengen mampir. Udara di sini juga lebih dingin dan sepoi-sepoi dibanding Osaka kota.





Saking asyiknya jalan nggak kerasa kami sampai dengan selamat di Todaiji Temple dan sempat melewati Nara Park juga. Kami memutuskan untuk ke kuil dulu karena, takut keburu tutup kalau kesorean. Gerbang kuil ini luar biasa besar dan megah, terdapat juga danau yang lumayan besar dan cantik di area kuil. Terbentang juga taman-taman keren mengelilingi kuil, sangat sayang untuk tidak dinikmati dengan seksama. Kami memutuskan terus berjalan ke area di belakang kuil, ternyata banyak juga terdapat kuil-kuil kecil di belakang kuil utama.


Tidak lupa juga kami mulai panik cari tempat untuk sholat, dan sangat sulit cari Mushola, ya iya ini di kuil. Karena takut kelewat waktunya, kami memutuskan untuk ambil wudhu di toilet dan mulai cari lapak buat gelar sajadah. Setelah selesai wudhu kami mulai terus berjalan cari tempat yang lumayan sepi untuk menunaikan kewajiban. Akhirnya, kami memutuskan untuk sholat di depan kuil yang cukup sepi karena letaknya di atas bukit.

Kenikmatan yang hakiki adalah saat kita bisa tetap menunaikan ibadah di tengah-tengah orang yang heran liat kita sholat. Tetiba kangen Indonesia yang kita bisa sholat dengan layak di mana juga kita main, mengingat banyaknya tempat sholat. Kalian coba deh jalan-jalan ke tempat di mana kita jadi minoritas gini, saat ada orang tanya, itu apa sih yang kalian pakai di kepala? Untungnya juga kita jalan saat Autumn, yang suhu terus-terusan di bawah 10oC, jadi nggak gitu banyak orang yang memandang heran.

Menjadi minoritas dan tetap harus menunaikan kewajiban itu, nikmat, membuat kita menjadi semakin menghargai kemudahan yang kita dapat. Yang, biasa kurang kita syukuri karena menganggap itu sudah biasa. Seperti hari itu, saat kami pikir, tempat yang kami pilih sudah yang paling sepi, dan masih saja ada yang melihat heran ke arah kami. Ini hari pertama kami sholat di jalan, wajar kalau masih grogi.



Selesai sholat kami melanjutkan jalan-jalan dan foto-foto lagi, tak terasa hari mulai gelap. Dan, tak terasa kita berjalanan terlalu jauh ke belakang kuil dan akhirnya kami adalah satu-satunya yang masih ada di dalam area kuil. Asli serem deh, krik-krik, gelap, dan karena didominasi oleh pepohonan dan rusa, jadi jarang banget juga ada pencahayaan. Yang lebih bikin ngerinya juga adalah, beneran udah nggak ada wisatawan lain.


Kami dengan deg-degan akhirnya mulai memutuskan untuk pelan-pelan cari jalan untuk keluar area kuil yang luar biasa luas sambil lagi-lagi bingung ngikutin google map. Syukurnya, kami bisa benar-benar sampai di gerbang besar yang tadi sore mau masuk aja susah karena penuh banget orang, dan sekarang kosong, untungnya juga, nggak ditutup. Beberapa toko souvenir di depan kuil bahkan sudah banyak yang tutup.

Lagi pula Nara adalah daerah pedesaan jadi ya suasana malamnya beneran senyap. Nggak ada tuh keliatan lampu-lampu gemerlap di Nara Park, ini juga membuat kita nggak bisa foto-foto dan main-main di Nara Park. Beberapa rusa bahkan terlihat sudah mulai tertidur di pinggir-pinggir trotoar. Jalanan yang tadi sore sangat ramai kini benar terlihat sunyi dan senyap. Tapi, tetap ada beberapa turis yang masih lalu lalang, yang membuat kita tetap memutuskan berjalan kaki menuju stasiun.

Sepulang dari Nara kami tidak langsung balik ke penginapan, kita masih mau menggaul di Dotonburi, walaupun kaki rasanya udah mau copot. Kami balik lagi ke Osaka, tepatnya ke Dotonburi, menggunakan kereta yang memakan waktu sekitar 50 menit. Berbeda dengan Nara, lagi-lagi malam di Dotonburi masih sangat meriah.

Dotonburi Lagi




Kami mampir ke Seven Eleven demi mencari beberapa nasi kepal (onigiri) dan sushi demi memuaskan hasrat si perut yang kelaparan. Tujuan kami ke sini adalah berfoto di ikon Dotonburi, Billboard Glico. Tanpa basi-basi setelah kenyang kami langsung menuju billboard kenamaan yang must cekrek di Osaka ini.

Bukan hal yang sulit untuk mencari letak billboard ini, tinggal search di google map “Glico Office”, maka map akan memberi petunjuk agar anda bisa sampai dengan selamat di lokasi tujuan berfoto. Saat kita lagi bolak-balik cari spot asyik, cekrak-cekrek di sana-sini tiba-tiba kami dengar ada orang yang menyapa kita. 

"Mbak, dari Indonesia ya?" Wah, senang sekali ya rasanya ketemu orang Indonesia di negri orang, ramah pula,kami berempat akhirnya ngobrol-ngobrol dengan asyik.


Ternyata mereka adalah MUA dan photographer pasangan Indonesia yang lagi pemotretan pre-wedding di Dotonburi ini. Menyebalkan tapi ya, justru mereka yang lagi prewed angkuh sekali, mungkin memang begitu kali ya gaya orang yang uangnya sudah nggak berseri. Padahal banyak temen-temenku yang tajir dan nggak sombong bin nyebelin gitu, tapi ya sudahlah nggak penting. Kami sempat tuker-tukeran instagram id demi tetap menjalin tali silaturahmi dengan baik.

Sebelum di Nara kami berkali-kali bersitatap dengan orang-orang Indonesia, tapi boro-boro negor, disenyumin aja malahan melengos, kan jadi males ya. Makanya seneng banget pas akhirnya ketemu mereka berdua, yang mau nyapa, yang mau basa-basi ngobrol panjang lebar sama kita.

Setelah akhirnya kami pamit untuk lanjut jalan-jalan di Dotonburi, kami berjalan di selasar yang kiri-kanan penuh toko-toko yang display-nya super-super gemesin. Saat tidak sengaja akhirnya kami menemukan counter Lush, kami hampir tertegun, dan tak sanggup untuk nggak mampir. Kami seperti biasa, liat-liatan, senyum-senyuman dan tanpa da yang nyuruh kami langsung masuk dengan kompak.



Aroma rempah, bunga, buah dan yang segar-segar lain langsung tercium dengan jelas. Dan, kalian pasti takjub banget deh liat dekor dari counter kosmetik yang lebih mirip display yogurth dibanding display masker. Belum lagi, mereka mendisplay sabun-sabun, wewangian dll nya dengan unik da menarik. Hari pertama ini kita lihat-lihat, catet-catet dan rencana malam ini bakalan bandingin harga sama online shop yang cukup tenar. Kita beneran sudah catet semua yang mau kita beli, semua, beneran semua.

Penjaga di Lush ini baik hati sekali loh, kita berdua bahkan dikasih sample conditioner gitu, wangi mint dan lembut banget. Padahal ya kita cuma galau muter-muter dan belum beli apa-apa, kebayang kan kalau di Jakarta mungkin kita justru bakal dicemberutin sama si mbak-mbaknya. Ini, malah kita berdua dikasih sample sekitar 45 ml, luar biasa ya mereka.

Selesai menggalau di Lush, kita tetap main lagi ke Daisho, sekarang lebih sebentar dan lanjut balik ke penginapan. Kemudian, sampai penginapan dengan selamat, cuci-cuci tangan kaki, wudhu, sholat, itung duit dan tidur. Oia, kita punya kebiasaan wajib selama di Jepang ini, tulis dan hitung pengeluaran setiap hari, dan kita lihat dengan seksama ada yang loss atau nggak. Menurut kita berdua, ini sangat penting ya, nggak mau kan kalian kekurangan uang di negara orang.













29 komentar:

  1. Balasan
    1. daus harus ksna. dijamin g akan nyesel

      Hapus
  2. Saya tertarik sama rusanya. Ramah banget warga di sana, ya? Atau memang rusanya udha terbiasa banget ketemu orang banyak. Sampai di trotoar pun berkeliaran :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya sudah terbiasa mbak. saya juga g nyangka bakal jatuh cinta sama nara

      Hapus
  3. Jadi inget salah satu keluarga yang tinggal disana selalu share foto-foto susana dan keseruan di Jepang. MBak titi semoga aku bisa menyusul ke Jepang, ngiler banget liat fotonya hee

    BalasHapus
    Balasan
    1. amiin. didoakan mbak, seru bgt pasti, apalagi klo ad keluarga di sana.

      Hapus
  4. How do you feel when you land in Japan with your Hijab? Is anyone welcome you or any discriminate? Beruntung sekali kaki anda sudah menapaki Jepang. For sure I like yoir story and I wanna travel the world. Thanks for sharing.

    BalasHapus
  5. Uwaaahhhh kalo liat rusa, aku jd inget sop rusa yg prnh aku makan di serbia :D. Hihihihi.. Thn lalu aku ke jepang, tp nara kita skip. Cuma kita ketemu rusa pas di Miyajima. Sama kayak di nara, rusa di sana banyak dan jinaaak banget.

    Jepang ga bosenin ya mba.. Aku aja thn depan bela2in cari tiket lg utk ksana. Utg dpt tiket promo lagi utk january thn depan. Tujuanku kalo ke jepang cuma ada 2, main sepuasnya di themepark yg ada rollercoaster jls dunia seperti steel dragon di nagashima spaland, trus dodonpa, fujiyama, takabisha di Fuji Q. Itu ga bosen2 aku naikin :D. Kalo udh kesana, aku selalu spare 1 hari penuh utk masing2 themepark.

    Tujuan kedua utk kulineran :D. Kmrn itu kobe beef dan hida beef yg jd target utama. Next year aku incer matsuzaka beef :D. Ga sabar bener mau kesana :)

    BalasHapus
  6. Waduuh, itu rusa udh temenan sm penduduknya ya. Keren emg ya cb rusa disini udh hampir ga ada. Hiks. Jepang ini salah satu negara impian yg pengen banget dikunjungi. Kapan ya bisa kesana. Kuliner disana byk yg halal g sih mb? Pasarnya ikannya gmn? Oaaalaah..pertanyaan emak2.. Haha

    BalasHapus
  7. Waah, Jepang adalah salah satu negara yang aku pengen banget buat dikunjungi. Bahas tentang kuil kok keingetan INUYASHA, hahaha. bTW, aku paham banget rasanya bisa ketemu temen senegara di lokasi antah-berantah, seru ya mbaakk

    BalasHapus
  8. Niat ya prewed-nya sampai ke Jepang hehe. Demi demiii... tapi gpp lha bagi2 rezeki ke mbak suami istri fotografernya :D
    Jd tau kalau di sana susah nemu mushola, mungkin krn di area kuil ya mbak, kalau agak keluar lagi mungkin ada.
    Seru critanya TFS :D

    BalasHapus
  9. Wah mbaaaaaaaaa aku mau juga dong jalan-jalan ke jepan dan koreaaa. 2 negara itu jadi impian aku banget. Apalagi liat foto-fotonya mba yang keren. Ya Allah kapan ya bisa ke sana ��

    BalasHapus
  10. Koreaaaa...
    Mana pecinta Drakor? ehehe..aku udh keliling Eropa tapi belum keliling Asia salah satunya Korea..
    Salah satu negara yg masuk daftar wajib kunjungi ...

    Baca artikel ini, bisa jadi salah satu rekomnedasi tempat nya kalo mau backpaker. emang enak backpaker bisa bebas waktunya daripada pake travel sih mba..

    BalasHapus
  11. Huwaaa Jepang. Pengen sekali suatu saat nanti bisa ke sana. Pengalaman seru mbak.. Izin nanya dong mbak, mengurus visa dan paspornya gimana ya. Terus berapa budget yang harus disiapkan kalo mau backpackeran ke sana

    BalasHapus
  12. Wah asyik asyik takut gitu paling ya kalau aku jalan di Nara. Tapi kayaknya seru banget.
    Pengen Bacpacker-an ke Jepang tapi kok takutnya yang dominan. Takut kesasar dan takut gak bisa bahasanya. Hehe....

    BalasHapus
  13. Hyperdia itu berarti semacam google map atau map online kah, Mbak? Seru ya jalan-jalannya. Berapa sih mbak anggaran persis ke Jepang backpakeran

    BalasHapus
  14. Ih, sama donk mba, saya klo travelling tiap malam hitung duit >.< takut kebablasan. Apalagi klo di luar negeri ya,bener-bener...kan ga kece kehabisan uang di negeri orang, hihi.

    Mmm, biasanya klo ketemu sesama pribumi di negara asing pasti excited ya mba, koq ini malah gitu sih :(

    Btw, Jepang ini salah 3 dari negara yg paling ingin aku kunjungi loh... Semoga someday bisa kesana dan bisa istiqomah sholat walau ga ada mesjid

    BalasHapus
  15. Beda ya rusa Indonesia sama jepang. Jepang suka makan biscuit sedangkan di Indonesia suka makan wortel

    BalasHapus
  16. Kalau cerita traveller kayak gini bagi saya sebagai pembaca nggak masalah mbak Titi dijadikan banyak part. Bahkan lebih sukanya lagi bisa dijadikan buku. Coba aja mbak diterbitkan..

    BalasHapus
  17. Mba, itu kamu backpakeran? Ak rencana awal tahun depan mau kesana. Tp bingung euy klo mau bacpakeran. Tdnya malah nelat mau pake tour biar gak bingung. Tp tour mehong ��

    BalasHapus
  18. Asiknya jalan2 ke Jepang, keren2 lokasi wisatanya. Kapan2 kl mau ke Jepang lagi, ajak2 dong mbak. Tapi kasih taunya jauh2 hari buat saya nyiapin budget

    BalasHapus
  19. Duh asyik banget ya jalan-jalan ke jepang dan korea. Boleh nih dicoba kalau anak2 sudah besar, jadi bisa diajak backpakeran hihi

    BalasHapus
  20. Gue baca ini sedikit terharu loh. Awalnya flat, mulai penasaran sama rusa. Dan terpana saat lo melakukan ibadah ditengah mayoritas dan lo menjadi minoritas di situ. Salut gue Tik!

    BalasHapus
  21. Alhamdulillah pengalamannya seru ya backpacker ke Nara. Saya belum pernah ke sana dan jadi mupeng baca postingannya.

    BalasHapus
  22. Ditunggu lanjutannya kakak ����

    BalasHapus
  23. wahh mbaknya berani ya sholat di tempat umum. kalau saya masih memilih untuk dijamak deh, jadi dari awal selalu diusahakan pulang ke penginapan saat sore, jadi bisa jamak sholat di kamar aja.
    salut euy!

    BalasHapus
  24. keren, ceritanya seru, udah kayak baca novel aja hehe

    BalasHapus