12 Hari Backpacker Jepang-Korea (Day 1)


Okelah, ini saatnya membayar hutang saya ke kalian, bercerita tentang perjalanan akhir tahun lalu. Again, aku buat info sedikit untuk mengingatkan kalian, akhir tahun lalu saya berdua sahabat tercinta, ternyebelin, terngeselin terngangenin si Lenifebri. Kami berjalan full 12 hari, 8 hari Jepang, 4 hari Korea.


Nah, kami memulai perjalanan kami di suatu Jumat sore sepulang kerja. Aku berdua Leni dengan sangat beruntungnya dapet flight Jumat malam dengan harga Sabtu pagi. Yes, ini berkat si AirAsia yang meminta kami reschedule, sungguh kami sedang beruntung.

Kami terbang jam 07.00 malam dari Soekarno-Hatta kemusian transit di Kuala Lumpur, makan malam McD di KLIA2 dan mendarat di Osaka pada suatu pagi yang cerah.


Sesampainya di Osaka, tepatnya di Kansai International Airport, kami berduapun akhirnya terharu, ingin menangis tapi malu. Setelah kami berdiam, tergugu, halah, kami sadar kami harus segera bergegas. Kami segera antre imigrasi dengan tertib, dengan muka sok cool, padahal penampakan kucel macem mbak-mbak baru beres nyapu bandara.

Awalnya, saat antre, kemudian menunggu dengan sabar semuanya masih lancar tanpa kendala. Tapi, saat kami masing-masing tiba di konter imigrasi, satu masalah mulai datang di tengah perjalanan kami yang baru dimulai dengan Bismillah ini. Di tengah aku yang sedang asyik wawancara, sejujurya nggak asyik juga sih, kebayang kan petugas imigrasi mana ada yang ramah.

Sini aku deskripsikan seperti apa penampakan mereka, mas-mas sipit, putih, keliatan tampan, tutupan masker dengan Inggris logat Jepang. Mereka ber-Inggris logat Jepang tanpa masker aja sudah cukup merepotkan untuk dipahami, ini ditambah maskernya lagi. Wawancaraku dengan mas imigrasiku lancar tanpa kendala. Tapi, tidak dengan Leni, aku hampir saja melanjutkan perjalanan  ini sendiri.

Kita memang jadi agak rumit untuk urusan imigrasi ini karena paspor kami yang menunjukan kami akan langsung lanjut ke Korea setelah 8 hari di Jepang. Ditambah dengan penampilan kami yang kurang meyakinkan. Gimana gak, aku berdua Leni cuma sendal jepitan, baju seadanya ditambah jaket yang, ah pokoknya tampak cupu dan tak meyakinkan. Wajar, mungkin mereka takut kami hanya menambah jumlah gembel di negara mereka, cukup sedih.

Banyak sekali yang sudah aku siapkan untuk mengantisipasi ketidakmengertian antara aku dan dia. Oke, aku dan si mas imigrasi, sudah bisa kubayangkan, kami pasti akan misskom.   Nah, mungkin ini juga perlu kalian contoh ya, apalagi buat kalian yang bahasa Inggris rasa Jepangnya pas-pasan macam aku. Aku sudah siapkan print-printan kode booking semua pesawat, dari mulai berangkat, Jepang-Korea sampai Korea Indonesia. Selain itu aku juga siapkan salinan ittenary kasar aku 12 hari perjalanan, aku juga kasih unjuk booking hotel-hotel selama perjalanan ini.

Nah, si Leni ini sempat cek-cok sama si mas imigrasi, karena nggak nyambung. Untungnya aku sempat kerja di perusahaan Jepang kurleb 2 tahun, jadi sedikit banyak paham lah. Ternyata mereka salah paham tentang, apa yang diminta masnya nggak sama kaya apa yang Leni maksud, aku sampe ikutan nyamperin ke konter Leni untuk bantu-bantu sebisanya. Setelah ngoceh-ngoceh sok ngerti kami akhirnya berhasil bebas dari imigrasi dan diterima di negri matahari terbit ini, sungguh bahagia.

Berhubung kami nggak ada bagasi, kami bisa dengan santai melenggang keluar bandara untuk segera melanjutkan perjalanan. Kalian pasti bingung gimana caranya anak ini 12 hari nggak ada bagasi. Jadi gini kami cuma bawa sedikit baju, yang dikemas dengan sedemikian rupa di 2 tas gemblok yang penuh sesak, jadi jangan tanya, berat dan besar sekali tas gemblok kami ini. Kami sampai menyebut diri kita sendiri sebagai baling-baling bambu. Jadi, kalo kami muter-muter niscaya orang yang kesenggol akan terjatuh dan tak sanggup bangkit lagi, halah.

Kami keluar bandara dengan muka celingukan, yes, literally celingukan. Entah ya, kita bingung, kita harus ngapain dulu, apa langkah pertama yang harus kita lakukan. Kita diem, mikir, lalu memutuskan untuk cari konter untuk beli Kansai Thru Pass. Ternyata, sangat mudah ditemui konternya, besar, ada di sebrang tempat duduk yang menyediakan banyak brosur tentang Osaka. Kami segera nyamperin konter, ikut antre dan menjelaskan dengan terbata-bata kami mau beli Kansai Thru Pass untuk 3 hari.


Kami membeli Kansai Thru Pass seharga 5200 yen untuk 3 hari, pass ini hanya bisa di gunakan di Kansai Area, bebas boleh tap sesuka hati tapi hanya untuk subway train and bus. Jadi, di Jepang ini ada 2 perusahaan train, yang pertama punya pemerintah, biasa warna stasiunnya pink dan tulisannya subway, satu lagi punya swasta, namanya JR line, stationnya warna hijau. Dengan Kansai Thru Pass ini kita cuma bisa pakai subway aja, tapi tenang aja subway line ini juga menjangkau semua tempat wisata kok, jadi sans lah.

Begitu pass ditangan, kami segera membaca peta dengan sok tau, dan bingung, nggak bisa mikir, mungkin efek jetlag juga kali ya. Akhirnya, kami memutuskan balik ke konter kemudian tanya ke mbak informasi, kita mau ke Shin-imamiya Station yang merupakan station terdekat dari penginapan kita di Osaka, Zipang Hotel.


Kemudian mbaknya menunjukan line mana yang harus kita ambil, sekalian kita tanya kemana kita harus jalan ke station-nya, pokoknya kita nanya mulu lah. Dengan berbekal informasi dari mbak konter sampailah kita di stasiun bandara, pepohohan yang mulai orange terlihat dari sini, dan kita baper lagi. Kita baik-baik baca peraturan yang tersebar di sepanjang satsiun, dan tertegun saat baca satu peraturan penting, jangan berisik.

Kami berusaha tenang, naik ke kereta di line yang sudah ditunjukkan mbak-mbaknya. Ini menakjubkan banget sih saat kereta kami melintasi teluk, cantik banget, kereta kita kaya jalan di atas lautan, menakjubkan. Kita sempat transit satu kali sampai akhirnya sampai dengan selamat di penginapan kita.


Beruntungnya, ternyata penginapan kita super deket banget dari stasiun. Kita tinggal jalan ke arah kiri sekitar 300 meter sudah langsung mendarat di Zipang Hotel. Oia, di jepang ini kami benar-benar mengandalkan google map dengan bantuan wifi portable yang kita sewa seharga 700 ribu rupiah dari Jakarta, kita sewa di HIS Travel yang berkantor di Mid Plaza 2.

Penginapan di Osaka ini sudah kita booking jauh-jauh hari dari Jakarta, Zipang. Letaknya sangat dekat dengan stasiun Shin-Imamiya dan tempatnya private banget deh. Kita sewa satu kamar isi dua, beneran sempit, pas isi kasur 2 yang kalo kasurnya digelar udah gak ada space sama sekali. Di kmar yang super sempit ini dilengkapi penghangat ruangan, kasur lipat ala jepang dan bed covernya, tv, kulkas kecil dan lemari. Kamar mandi di luar, ada juga dapur yang berisi microwave tapi tanpa piring, gelas dll, ada juga air galon yang penting banget buat kita refill minum selama di hostel dan juga buat dibawa jalan-jalan. Over all Zipang ini nyaman kok, di front desk juga selalu ada mas-mas penjaganya yang cakep-cakep yang stand by 24 jam kalo kamu bingung-bingung.

Begitu sampai rencananya, kita mau langsung keluar dan jalan, tapi ternyata kita liat kasur nggak sanggup untuk melewati kesempatan untuk ngelurusin punggung setelah perjalanan jauh Jakarta-Osaka. Selesai gegoleran kita bergegas isi-isi air minum ke dalam botol, siap-siapin kamera dan lanjut jalan. Rencana kita buat ke air terjun di suatu desa yang cukup jauhpun, akhirnya terpaksa kita urungkan. Sore pertama ini kita awali dengan makan onogiri di Family mart deket stasiun dan lanjut jalan ke Umeda Sky Building.

Beli onigiri di family mart pun tak luput dari drama, yah bayangkan aja, nggak ada tulisan latinnya, kan serem ya jadi mau belinya. Setelah kita searching di google ternyata yang membedakan isinya adalah warna dibungkusnya. Yang warna pink kabarnya berisi sayuran pickle gitu dan yang biru isi tuna. Karena kita enggakboleh makan daging-dagingan di sini, khawatir daging bebong kan, akhirnya kita memutuskan beli onigiri warna pink dan biru.  Dan kita juga sempet beli takoyaki di deket penginapan seharga 500 yen dan enak pakai banget,

Oia, saran aku jangan beli yang warna pink deh, ini rasanya asam luar biasa, nggak enak pokoknya, benci aku tuh beli yang ini, kesel aku tuh. Kalau yang warna biru endes, tuna plus mayo gitu, ditambah nasi pulennya Jepang dan kulit nori yang gurih, makanan paling murah dan ngenyangin selama di Jepang. Onigiri ini harganya kisaran 95-150 yen, tergantung isiannya apa.

Umeda Sky Building


Setelah perut kenyang kami lanjut ke stasiun dan naik train menuju Umeda Station. Tahukah kalian saudara-saudara? Aku sungguhingin mennagis nyari si Umeda Sky building ini, jauh sekalian dari stasiun dan susah sekali jalanannya. Keluar stasiun kami langsung menunduk takjim merhatiin google map, berhubung kami adalah wanita sejati, maka wajarlah kalau kami bingung baca google map. Hampir sekitar 1 jam kia muter-muter, mondar-mandiri cari di mana keberadaan Umeda Sky Building.

Dan, begitu sampai, asli kita berdua ingin tertawa dibuat oleh pemandangan depan kami. Ini isinya beneran cuma gedung, iya gedung aja, biasa aja, apa istimewanya. Kebanyakan orang sih sering naik ke atas untuk liat Osaka dari atas, tapi berhubung kita koret bin medit bin irit kita males bayar 1000 yen cuma buat naik ke atas. Akhirnya bingung lah kita mau ngapain di Umeda Sky building ini.


Mau di foto pun juga sulit, ini gedung setinggi itu, dan kita sedeket ini, apa ini tuh yang mau difoto, apa? OK, setelah kita meratap sambil melihat gedung yang tidak fotogenik ini kita mencoba memmutari hedung dan mencari faedah dengan keberadaan kita di sini. Oia, pas kita datang jalanan ke arah Umeda Sky Building ini lagi under contraction, alhasil kita wajib lewat kolong gitu. Tappi, justru hikmah pertama bisa diambil di sini, foto-foto di kolong, mayan lah ya, foto backgroundnya orang-orang mata sipit gitu.



Kemudian hikmah kedua kita dapatkan dengan keberadaan taman-taman di sekitar gedung yang lumayan banget buat foto-foto. Di bangunan yang kata kita kurang faedah ini aja kita terbukti betah, kita nongkrong foto-foto di sini sampai langit mulai gelap. Oia, di sini mah jam 5 juga udah Maghrib saudara. Di malam hari tempat ini terlihat lebih hidup dan menarik, Umeda adalah tempat yang cantik di malam hari. Setelah cukup istrihat dan foto-foto kami lanjut balik ke stasiun terdekat yang nyatanya jauh banget tadi untuk melanjutkan perjalanan menuju Dotonburi.



Dotonburi 

Ini lah tempat paling pas menikmati malam di Osaka, kalau kaya Jogja ini tuh semacam Malioboro. Tempatnya besar dan luas banget, sepanjang jalan isinya kedai-kedai makanan dan berbagai toko-toko, dari mulai Toko Sepatu ABC yang ternyata banyak banget di Jepang sampai Toko Kosmetik yang berhasil membuat kita bolak-balik masuk tapi nggak beli apa-apa karena selalu merasa No Budget.


Di Dotonburi ini juga bersemayam billboard Glico kenamaan, tapi hari pertama ini aku nggak langsung ke sana, Kita sibuk mencari Mizuno Okonomiyaki yang berkat arahan Google Map kita nggak dapet-dapet. Berhubung kita lapar, mampir lah kita di satu kedai Takoyaki yang banyak banget orang yang antre, yang di atasnya ada patung gurita merah super seram dan besar.

Takoyaki ini cukup mahal, sekitar 700 yen kita beli yang satu paket, tapi urusan rasa, enak. Kenapa aku bilang enak? Karena sejujurnya aku pernah beli di Cibubur Junction dan nggak doyan karena rasanya yang super amis dan nggak enak banget. Tapi, yang di Jepang ini beda, nggak amis, seger guritanya, maknyus bumbunya, manis-manis pedes bikin rindu, aku suka.

Kita memandangi kali di tengah Dotonburi ini dengan hikmat, dengan penuh penghayatan, bagus, bersih. Ditemani pemandangan Uniqlo dan H&M kami menghabiskan Takoyaki di tangan dengan beringas.

Selesai makan Takoyaki, kita lanjut jalan dan akhirnya tergiur masuk ke dalam Daiso dan kita bahagia. Segala sesuatu 100 yen, kecuali beberapa barang yang ada label harganya. Bahagia sekali muter-muter Daiso walaupun ujung-ujungnya cuma beli mangkok, sendok dan sarung tangan super kece yang ujung jempolnya membuat kiyta masih bisa main hape walaupun pakai sarung tangan. Pas banget kan buat kita yang nggak mau kediginan tapi tetep nggak mau lepas update sosmed, asyik kan.

Setelah lelah muter-muter Daiso, kita kembali berjalan lunglai, kemudian liat orang-orang pada antre kue yang menul-menul gitu, kemudian kita kepengen, dan ikutan beli.


Ini semacam Pablo, cuma mbaknya langsung masak dan teriak-teriak heboh, bikin aku pengin ikutan antre. Si mbak yang masak selalu bunyiin lonceng gitu kalau dia selesai baking, dan semua yang ada di kedai ini, maksudnya yang jaga, cantik semua, kalian cowok-cowok pasti bakalan betah antre. Ini kue beneran bolu super lembut menul-menul, enak banget, aku doyan banget, harganya 685 yen satu loyang. Kita sempet makan di jalanan gitu dan masih sisa kita taro kulkas hotel.

Setelah kenyang dan lelah kita balik ke Zipang, dan menyenangkannya dari Dotonburi ke Shin-Imamiya ini cuma 3 stasiun dengan 1 kali transit. Sungguh bahagia, karena dekat dan cepat sampai penginapan. Sampai penginapan tanpa banyak basi-basi kita bergantian ke kamar mandi, cuci tangan-kaki, sikat gigi dan pipis. Selesai urusan kamar mandi kita wudhu dengan air yang lebih dingin dari air es dilanjut sholat dan langsung tidur.







16 komentar:

  1. Tampilan blogmu yg baru jd aneh ti..
    Apalagi about me d bawah post bahasanya gk dimengerti. Haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Anehnya yang mana Den? hhe, sekarang masih aneh gak about menya?

      Hapus
  2. Komenku tadi nyasar ke bagian pesan keknya efek laper ��
    Btw, itu beneran ya ada peraturan "jangan berisik" di stasiun, sunyi sepi dong ya��

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukan di stasiunnya sih kak, Tapi di keretanya. Jadi gak ada tuh mak2 nyinyir cerita sama sebelahnya sambil teriak2 klo di sana. Gak boleh berisik soalnya, tapi sungguh mulutku gatal pengenngoceh sama Leni, akhirnya bisisk-bisik donk. hha

      Hapus
  3. Hahah.. eh gue baru inget lewat di kolong2 gitu.. ada potoo akuuuh..
    Dan btw.. iya tuh profil lo pake bahasa aneh
    Ah ku jadi ingin nulis jepang..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, gw juga ingetnya pas liat foto2 kita di umeda yang maksa itu beb. Inget kan betapa galaunya udah jalan jauh2 dan gitu doank, dan gimana fotonya ini? hha

      Hapus
  4. Ceritanya bisa jadi panduanku kalo nanti ada rejeki buat ke Jepang sama Korea Kak hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huahhaha, nantikan lanjutannya ya kak, masih ada 11 hari lagi. Ini baru hari pertama dan udah banyak kekacauan terjadi di sini. hha

      Hapus
  5. Ternyata ada yang nyewain wifi portable, baru tahu saya.
    Yang dimakan di Takoyaki itu gurita atau cumi-cumi? Kalo gurita, gede banget binatangnya dong.

    BalasHapus
  6. Ada mas, banyak, cuma kau lbh prefer sewa di HIS, soalnya dia tuh ada cabang jg di Jpang, jadi ko ad apa2 gampang. Guryta mas, tapi dipotong2, tentakelnya emg gede2 gtu kok. hhe

    BalasHapus
  7. Wah asyik banget kayaknya Bacpacker- an ke Jepang Korea.
    Walau kita kesana baru sekali itu kata teman saya yang pernah Bacpacker- an ke Jepang nih khususnya katanya tidak membingungkan. Petunjuk - petunjuk jalan yang ada disana jelas dan mudah dimengerti dan polisi (atau apapun istilahnya) membantu banget kalau kita kebingungan cari jalan disana.

    BalasHapus
  8. Ketika mba cerita tentang imigrasi lagi di jepang itu. Ya Allah terpikirkan ribetnya. Apalagi saya nggak yang kurang jagi bahasa Inggrisnya. Kayaknya langsung pusing saya kalau di posisi Mba

    BalasHapus
  9. Seruuu banget. Dan makasih ya banyak banget info yang saya belom tau. Yakali nanti bisa jalan2 ke jepang dan korea juga sama suami dan anak2, jadi udah ada bayangan nih gimana2nya di sana. Ditunggu lanjutan kisahnya ya

    BalasHapus
  10. Salut daku sama mbak Titi backpackeran sama ke luar negeri, ngadepin ribetnya di kantor imigrasi. Dari kisah itu sih, boleh juga yah berkunjung ke suatu negara setidaknya kita memiliki sedikit pemahaman tentang bahasa negara itu. Biar nggak salah paham.

    BalasHapus
  11. Dek, komenku kali ini mengenai kebahasaan ya:
    1. Subyek usahakan konsisten mau pakai "aku" atau "saya"
    2. Partikel "pun" ditulis terpisah kecuali untuk 16 kata yang biasanya merupakan konjungsi.
    3. Kata bahasa asing sebaiknya ditulis miring, tadi kulihat ada kata literary.

    Selebihnya seperti biasa, aku suka caramu bercerita. Semangaaatt

    BalasHapus
  12. Wow..asyik banget backpackeran ke Jepang dan Korea bareng sahabat. Saya sampai gak bisa berhenti bacanya. Jadi pingin baca yg 11 hari berikutnya. Sudah terbit belum Mbak ?

    BalasHapus