Pantai Trikora, Eksotisme di Ujung Pulau Bintan.


Postingan ini adalah tindak lanjut dari postingan Pulau Penyengat tempo hari. Jadi, sebenarnya tujuan utama kami adalah Pulau Bintan, yang pasti namanya sudah lebih tenar. Ada apa di Pulau Bintan ini? Ada banyak, yang pastinya kenapa kita ke sini adalah karena ada si Yuan di sini yang membuat kita tergiur untuk nyusul.

Aku dan Leni memang sungguh tanpa persiapan, kita sepasrah ini diperjalanan ini. Mempercayakan ittinerary dan lain-lainnya ke teman tapi supir Yuan Indrian. Bercanda yah, Yu, peace!.

Pantai Trikora


Ittinerary pertama kami kami berjalan dengan mulus, Pulau Penyengat dan segala kekayaan alam, tradisi dan kuliner di dalamnya. Destinasi selanjutnya adalah Pantai Trikora, kami memang sempat menobatkan diri sebagai anak gunung, mengingat beberapa perjalanan sebelum ini selalu diisi dengan gegunungan. Tapi, untuk Bintan’s trip ini, kami menobatkan diri sebagai anak pantai, yang santai, tapi tidak melambai.

Setelah kenyang dengan ikan bakar bumbu khas Pulau Penyengat, kami bertiga kembali ke Pulau Bintan dengan kapal pongpong kebanggaan. Sesampainya di dermaga, kamu langsung lanjut berjalan kaki menuju parkiran mobil yang cukup lama kami tinggalkan. Begitu sampai mobil, dan AC-pun dinyalakan, rasanya nikmat luar biasa, mengingat perjalanan di Pulau Penyengat yang panasnya sungguh merobek-robek kulit ari.

Yuan bergegas menstarter mobil, dan aku berdua Leni langsung gerak cepat menyalakan aplikasi kebanggan Google Map, mengetik Pantai Trikora. Perjalananpun dilanjutkan masih dengan kebahagiaan, mengingat perut yang masih kenyang. Sampai, selama perjalanan ke Pantai Trikora kami menelusuri jantung pemerintahan kota Tanjung Pinang, cukup rapi, lengang dan bersih untuk ukuran daerah di Indonesia. Masih sangat jarang kami temui, angkutan kota di pulau ini.

Kami sengaja mengunjungi pantai ini di sore menuju senja, maksudnya supaya bisa menikmati matahari tenggelam sambil ditemani deburan ombak. Saat menuju pukul 15.30 sampailah kami di kawasan pantai, sepanjang jalan di sebelah kiri kita bisa melihat garis pantai dengan pasir putih yang masih sangat bersih dan sepi.


Untuk aku yang biasa berwisata ke Ancol, dan merasa berdiri di atas pasir aja mesti rebutan, melihat Pantai yang lengang begini berasa surga banget. Kami mulai bingung di mana sebenarnya letak tepatnya Pantai Trikora, kami terus menyusuri pinggir pantai, tapi plang bertuliskan Pantai Trikora, tak kunjung kami jumpai.

Sampai akhirnya kami menemukan pantai yang cukup cantik dengan batu-batu besarnya, kami memutuskan berhenti, menikmati deburnya dan bermain air sebentar. Kalian tahu? Di pantai secantik ini pun kami hanya bertiga, tak ada satu orangpun yang kita temui di sini. Kami bisa berfoto sesuka hati, terserah di sebelah mana, karena niscaya tak akan ada foto yang bocor.


Setelah puas main air, bengong-bengong, foto-foto, kami memutuskan melanjutkan perjalanan dan penasaran mencari spot untuk menikmati matahari tenggelam. Karena, sejujurnya, kami rasa kami tak akan bisa menikmati oranye senja di tempat ini, memang cantik, sunyi, tapi kamu sungguh obsesi menimati senja.

Perjalananpun dilanjutkan, berharap akan menemukan tempat yang pas, tapi justru kami menikmati senja dari dalam mobil, lama kelamaan, langit menggelap, dan kalian tahu? Pencahayaan masih sangat minim di sini. Akhirnya, kami bertiga memutuskan kembali ke kota, mengingat tempat ini mulai terlihat sepi dan menyeramkan.

Sop Tulang dan Jeruk Panas Isi Kiamboi


Di perjalanan menuju kota, perutku menuntut haknya, dan mulut ini mulai rewel ke si Yuan.

“Yu, pengen sop tulang. Pengen makan enak. Yu!”, tapi sungguh malang nasib si Titi, si Yuan terlihat abai dan tak peduli. Karena kesal dan lapar aku akhirnya tertidur.

“Ti, bangun, Sop Tulang tuh!”, ah ternyata si Yuan tidak sejahat itu, dia menepati janjinya, bahagia sekali rasanya.

Aku sudah lapar luar biasa, kami memesan berbagai menu, aku pastinya Sop Tulang, karena penasaran, kata Yuan enak. Dan, kami memesan jeruk panas sebagai penghilang dahaga.



Setelah cukup lama menunggu, tapi tenang, enggak selama aku nunggu dia kok. Akhirnya pesanan kami tersaji dengan manis di atas meja, dan pas dirasa-rasa, sejujurya sopnya agak biasa aja, lebih mirip sop iga, enggak sesuai ekspektasi, masih lebih enak yang di Kutoarjo. Sop ini mengingatkanku, jangan pernah berharap berlebihan, nanti kecewa. Tapi, ada yang unik dengan jeruk hangatnya, kami diberi semacam kiamboi kering di samping gelas.


Pelayannya bilang, biasanya di sini kalau minum jeruk hangat ditambah kiamboi kering ini. Dan rasanya memang beda, sebelum dan sesudah ditambah kiamboi, manis-manis asem bikin rindu gitu deh. Aku doyan sekali jeruk panas dan kiamboinya ini, amboi nian rasanya. Kan, aku berharap sama Sop Tulang, malah dapet kejutan dari Jeruk Panas, Tuhan memang pengatur rencana terbaik.

Setelah akhirnya sangat kenyang, kami bergegas bayar, jangan kabur gitu aja ya, dipikir itu masakan mama, hehe. Kami akhirnya sampai ke hotel, dari sejak mendarat di Bintan, baru di sini akhirnya aku dan Leni bisa beristirahat dengan tenang. Oia, sebelum balik ke hotel, Yuan sempat dengan repot muter-muter cari apotek, karena biang keringatku yang mulai terasa sangat gatal, pesanku sebelum kalian ke Bintan, mending beli Caladine di Jakarta, susah sekali cari apotek di sini.

Setelah lelah muter-muter cari apotek akhirnya dapet juga Caladine dingin kecintaan biang keringat si Titi, makasih Yuan yang gigih. Sampai hotel, aku berdua Leni baru sadar, kami sangat lelah, jet lag, mengingat dari waktu turun pesawat kita langsung jalan tanpa istirahat dan jeda. Aku mulai muyer, pusing, pilek. Enggak di gunung, enggak di pantai, Titi memang ditakdirkan untuk merepotkan Yuan Leni.

Dua orang ini adalah sahabat yang paling siaga yanga aku punya, terutama Leni yang selalu ada, terima kasih. Setidaknya, walaupun aku belum dipertemukan dengan dia yang jodoh dunia akhiratku, aku mesti tetap bersyukur dikasih sahabat kayak mereka berdua. Sembari menunggu mas jodoh, setidaknya hari-hariku enggak pernah sepi karena mereka.



Perjalanan ini tentu belum selesai di sini ya, masih ada Vihara terluas di Bintan, Lagoi Bay, Vihara Dharma Sasana, Senggarang dan kepiting gorengnya. Nantikan postingan selanjutnya ya, tenang aja enggak akan lama kok terbitnya. Apalagi buat yang sudah terbiasa menunggu yang enggak tahu lagi ditunggu. Eh, malah curhat. Salam cerita bersambung dari si Mbak Titi yang suka bikin penasaran, muaaachh. 

40 komentar:

  1. kiamboi kering? jadi kepo deh rasanya gimana...
    boleh tuh diulas lebih jauh makanan atau jenis minuman yang cocok dicampur

    BalasHapus
  2. Antara lain karena tertarik karakteristik bebatuan di Bintan, saya private trip ke sana. Ternyata tidak hanya bebatuannya yang bikin saya males balik ke Jakarta. Langitnya yang biru bening ndak terlupakan sampai sekarang. Duuh mbak titi sukses bikin saya kangen pantai berbatu dan langit cerahnya Bintan..

    BalasHapus
  3. Porsi tulisannya; Cerita seru perjalanan, Persahabat dan Curahan hati.
    Semoga lekas merit ya.

    BalasHapus
  4. Seru banget perjalanannya. Tapi kalau pantai sepi gitu jadi suka parno ya pas mulai malam. syereemm

    BalasHapus
  5. Terus diantin jadi pengen jeruk hangat di suasana sendu seperti ini

    BalasHapus
  6. Kirain cuma anak kecil saja yang masih kena biang keringat. Bayangkan kalau di gunung gak bawa bedaknya, terus turun lagi gitu cuma buat nyari bedak di apotek. Mantap sis...

    BalasHapus
  7. Oo.. Jadi Yuan itu TTS ya..
    Kirain TTM 🙊

    BalasHapus
  8. Aku tuh pengen banget ketemu pantai, yg kalo foto ato buat video klip ala2 gak bochooor ��

    BalasHapus
  9. Pantainya jauh ya ternyata dari tanjung pinang

    BalasHapus
  10. Pengen banget pergi ke pantai atau pulau, dari dulu beloman pernah. Kalo jalan ujung-ujungnya gunung lagi gunung lagi hahahahah...

    BalasHapus
  11. Sebenarnya aku berharap ada lebih banyak photo pemandangan pantainya..
    Tapi seru juga kisah perjalanannya.
    Dan jadi pingin nyoba jeruk hangat plus kianboi

    BalasHapus
  12. Berasa punya private beach yah, Kak Titi? Anw , ke pantai trikora nya pas weekday kah?

    BalasHapus
  13. Mbak Titi kalo nulis bahasanya seru ya, suka bikin cekikikan hehe.
    Perjalanan yang menyenangkan ya Mbak, bersama teman2 terbaik.

    BalasHapus
  14. Wahh enak ya pantainya sepii. Aku jadi penasaran sama kiamboinya kak. Hehe

    BalasHapus
  15. Pengen banget ke pantai yang sepi kaya gitu, sama dia #ehh

    BalasHapus
  16. Kwrennnn ceritanyaaaaa 😍😍😍😍

    BalasHapus
  17. Hmmm penasaran kiamboi tuh kayak apa...

    BalasHapus
  18. Kiamboi itu sama gak ya dengan hammoi yang di belitung? mungkin sama cuma beda sebutannya aja..

    BalasHapus
  19. Kok jadi pengen ke Kiamboi ya. Penasaran

    BalasHapus
  20. Belum pernah ke Bintan. Kayaknya seru ya

    BalasHapus
  21. Nanggung banget ceritanya hahaah. Bikin penasaran hehehe.

    BalasHapus
  22. ya ampun titi mainnya jauh banget, pas search di google bintan tuh deket spore dan malaysia haha..

    BalasHapus
  23. kiamboi apaan sih Ti? penasaran..

    BalasHapus
  24. Semoga cepat bertemu dengan jodohnya ya mbaktiti. Aamiin

    BalasHapus
  25. Yang merah2 itu namanya kiamboy? Baru tau gue.. haha..duh dah lama gak maen bareng ber3 lagi ya.. hahah

    BalasHapus
  26. Ceritanya seruuu Ti, kurang baik apa coba Leni dan Yuan 😂😂. Btw aku sampe searching google karena penasaran kiamboi itu apaan wkwkwk 😂😂

    BalasHapus
  27. titi nanggung amat sih ceritanya pake dipisah pisah segala....

    BalasHapus
  28. Kiamboi apaan sih.

    Itu lo kurus amat ti. Ky abege aj potony

    BalasHapus
  29. Aku koq salah fokus k warna minumannya yg beda ya, mba, itu kedua-duanya jeruk? Atau apa? 😁

    BalasHapus
  30. Nice story.

    Seperti teman-teman yang lain, saya mau minta diulas tentang Kiamboi lebih jauh hohoho

    BalasHapus
  31. mantap yaa... es jeruknya enak

    BalasHapus
  32. Kiamboi itu apa ya? Penasaran sama rasanya

    BalasHapus
  33. jeruk ama kiamboi, ga kebayang rasanya gimana. thx for share ti
    https://helloinez.com

    BalasHapus
  34. oh ini yg buat muka kebakar waktu itu?

    BalasHapus
  35. aku malah sering ga bisa menikmatti makanan baru di tempat baru. apalagi namanya kaya gitu. kiamboy hmmm

    BalasHapus
  36. Kayaknya stok cerita jalan2nya nggak ada abis2nya nih :))

    BalasHapus
  37. budged abis berapa itu selama disana...

    BalasHapus