Wisata Tangerang Part 2 (Bendungan Pintu Air 10, Dodol Ny. Lauw, RM Hj Kokom)



 
Sungai Cisadane dari Pintu Air 10
Sungai Cisadane dari Pintu Air 10
Pagi itu, Bang De dengan berapi-api menceritakan perihal kemahsyuran Rumah Makan Sunda Hj. Kokom. “Pokoknya kalian harus ke sana, beda banget lah pokoknya masakannya, enak banget, kalian harus ke sana.”

“Bedanya apa sih, Bang?” Ujar salah satu dari kami bertiga, yang hari ini diajak jalan-jalan keliling Tangerang, sama duta wisata satu ini.

“Beda! Nasinya anget gitu lah!” Kemudian kita bertiga serentak menengok ke arah Bang De, sambil mencerna maksud omongan Bang De.

“Bentar, De. Setahu gue ya, nasi KFC juga anget.” Kita bertiga akhirnya spontan tertawa terbahak-bahak melihat wajah Bang De yang kemudian cengar-cengir enggak jelas.

  • Bendungan Pintu Air 10, Tangerang.


 
Pintu Air Sepuluh, Bendungan Hits di Tangerang
Pintu Air Sepuluh, Bendungan Hits di Tangerang
Percakapan di atas adalah salah satu bumbu tak terlupakan dari perjalanan hari itu. Selepas menelisik dan melihat-lihat Masjid Seribu Pintu, kami berlima karena akhirnya Bang Eka sudah berhasil bergabung bersama kita, melanjutkan perjalanan lagi-lagi dengan taksi online menuju destinasi selanjutnya, Bendungan Pintu Air Sepuluh. Pintu air cantik, berwarna merah biru  yang tadi pagi, kita lihat saat macet di perjalanan menuju Masjid Seribu Pintu. 

Tidak sampai 10 menit kami berlima tiba dengan selamat di tempat tujuan, kali ini tidak perlu masuk jauh ke dalam perkampungan, 10 pintu air berderet cantik terlihat jelas dari jalan raya tempat mobil kami berhenti.  Sesampainya di depan pintu air, Bang De meminta izin untuk bisa masuk dan naik ke atas. Dan, betapa beruntungnya kami, karena si bapak penjaga pintu air dengan baik hatinya mengizinkan kami berlima untuk masuk dan naik ke atas, sungguh kesempatan langka. 

Tangga yang harus kami lewati, menuju roof top Pintu Air Sepuluh
Tangga yang harus kami lewati, menuju roof top Pintu Air Sepuluh

Kami berjalan menaiki tangga berputar yang cukup cantik dan tentunya instagramable, satu jepretan Bang Ocit dari bawah saat kami mulai naik sudah cukup mejelaskan masih banyak anak tangga yang harus kita lewati untuk sampai ke atas.  Kami, dengan semangat 45 terus naik ke atas, di tengah deru nafas yang mulai putus-putus akhirnya kita sampai di puncak pintu air. Segera, pemandangan kota Tangerang lengkap dengan Sungai Cisadanenya menyambut kami, cantik, aku sebagai pencinta ketinggian sangat menikmati momen berada di atas seperti ini. Selain menikmati ketinggian, aku juga meminta si bapak mencoba membuka salah satu pintu air. 

Ruang mesin Pintu Air Sepuluh, Tangerang.
Ruang mesin Pintu Air Sepuluh, Tangerang.
“Cuma enggak bisa dibuka full ya, Neng. Saya Cuma bakal buka sebentar dan ditutup lagi, supaya, Neng tahu aja.” Kata si bapak dengan baik hatinya.

Ternyata membuka pintu air tidak sesulit yang saya bayangkan, ruangan tempat membuka pintu air terdiri atas rangkaian besi rumit, beserta beberapa roda gerigi yang cukup besar. Tadinya, aku pikir si bapak akan memutar salah satu roda besi bergerigi itu. Ternyata, aku salah total, si Bapak hanya menyentuh satu tuas, kemudian bunyi berdecit kencang keluar dari gesekan pintu besi yang mulai terbuka, yang dengan segera ditutup kembali. Aku merasa, itu keren. 

  • Dodol Ny. Lauw

Alamat Dodol Ny. Lauw, Tangerang, Banten.
Alamat Dodol Ny. Lauw, Tangerang, Banten.
Dari pintu air, kami berjalan ke arah Disbudpar KotaTangerang, dari sana kami menuju jalan besar dan menaiki angkot menuju tempat pembuatan Dodol Ny. Lauw. Tempatanya tidak terlalu jauh, sekitar 7-10 menit saja kami sudah tiba di pinggir jalan menuju Dodol Ny. Lauw. Tempat ini, bersebelahan dengan pembuatan peti mati, tidak jauh dari pabrik kami melihat mobil jenazah terparkir, lumayan bikin deg-degan ya. 

Tempat pembuatan peti mati di Tangerang
Tempat pembuatan peti mati di Tangerang
Ternyata, lagi-lagi saya berekspektasi berlebihan, ternyata sama halnya dengan Pabrik Kecap SH, Dodol Ny.Lauw juga merupakan industri rumahan. Bahkan, untuk berkunjung kita harus mengetuk pintu semacam berkunjung ke rumah teman lama. Tidak lama, dari balik pintu muncul cici-cici cantik yang mempersilahkan kita masuk. 
 
Proses pembuatan dodol Ny. Lauw, Tangerang.
Proses pembuatan dodol Ny. Lauw, Tangerang
Di dalam, selayaknya rumah biasa, tapi di ruang tengahnya yang luas kita bisa menyaksikan banyak tumpukan, dodol, kue keranjang, kue bulan dan pia Ny. Lauw. Di pojok kanan ruangan, kita bisa melihat satu meja berukuran lumayan besar dengan seorang ibu yang sedang sibuk mengolah dodol wijen, bersama seorang bapak yang enggak kalah sibuk menimbang dodol menggunakan timbangan yang biasa kita lihat di pasar-pasar tradisional. 

Setelah sebelumnya mencicip dan akhirnya aku membungkus dodol wijen dan satu buah pia dengan ukuran cukup besar untuk buah tangan dari Tangerang, kami melanjutkan berjalan menuju pabrik pembuatan dodolnya yang ternyata berada tepat di sebelah rumah. Lebih terlihat seperti gudang ya, dengan beberapa kuali besar dan tungku kayu di bawahnya. 
 
Tungku dari pembuatan dodol Ny. Lauw, Tangerang.
Proses pembuatan dodol Ny. Lauw, Tangerang
Sayang sekali saat kami tiba, produksi dodol hari itu sudah selesai, jadi kami hanya melihat sisa-sisa perjuangan bapak-bapak pengaduk dodol. Dan, kami juga sempat mampir ke tempat di mana mobil Ambulance terparkir rapi, penasaran melihat-lihat peti mati hasil produksi dari rumah sebelah pabrik dodol.

  • Rumah Makan Sunda Hj. Kokom

 
Tempat makan yang harus dikunjungi di Tangerang
Proses pembuatan dodol Ny. Lauw, Tangerang
Perut kami mulai memberontak tanpa ampun, lapar luar biasa. Setelah melihat-lihat peti kami kembali ke jalan raya, kembali memesan taksi online menuju Rumah Makan Hj. Kokom yang digadang-gadang punya nasi hangat ―yang menurut Bang De, nasi hangatnya spesial―. Ternyata, dari sini tempat makan ini lumayan jauh, jadi sepanjang di mobil kami harus terus bicara sambil berusaha membunuh rasa lapar. 

Akhirnya, kami sampai di tempat makan kebanggaan Bang De, Rumah Makan Sunda Hj. Kokom, dan ternyata penuh, sepertinya tempat ini memang cukup terkenal. Sesampainya di sana anggota tim kami bertambah satu, Yudi. Beliau ternyata sudah selesai mengajar di salah satu kampus di Tangerang yang tidak terlalu jauh dari Hj. Kokom sehingga memutuskan bergabung makan siang bareng kami. 

Beruntungnya, kami dapat saung yang tepat menghadap ke Danau, pemandangan yang cukup romantis apalagi kalau sore ditemani langit senja. Sayangnya, kami sampai sana siang hari bolong, jadi yang terlihat hanya pantulan panas sinar matahari. Tapi, tetap saja romantis, angin sepoi-sepoi menemani siang kami yang datang dengan perut lapar. Tidak lama kami duduk-duduk di saung, Kak Caca berhasil mendarat dengan selamat ke Hj. Kokom bergabung bersama kami, tim kami komplit berisi 7 manusia super, super lapar.

Kami menunggu pesanan dengan sangat sabar, dan tiba-tiba hujan deras mengguyur dengan tiada ampun. Saung kami yang awalnya damai tentram, tiba-tiba riuh dan gaduh oleh ribuan butiran air hujan yang jatuh tanpa jeda, sama seperti rinduku untukmu ―malah curhat―. Ternyata makan siang kami malah jadi semakin romantis, ditemani rintik hujan. 

Dan ternyata makanan di sini benar enak adanya, nasinya benar hangat, tapi bukan itu yang bikin istimewa, nasinya wangi, pulen dan lauknya enak. Ayam gorengnya pas gurih dan gorengnya, ikan bakarnya lezat dan pecelnya pun pas. Pokoknya, semua yang terjadi di atas meja hari itu, istimewa. Satu kalimat untuk makan siang itu,”Terima kasih, Hj. Kokom!”.

Kampung Bekelir yang berubah jadi Karaoke di Venus

Tujuan selanjutnya, sebenarnya adalah Kampung Bekelir, hujan pun sudah reda seakan paham kami harus melanjutkan perjalanan. Kami kembali memesan taksi online, tapi ternyata hujan tidak sepengertian itu, kami salah sangka. Setengah perjalanan menuju Kampung Bekelir, hujan deras turun tanpa ampun. Jelas kami harus membatalkan kunjungan kami saat itu, bagaimana juga caranya berfoto di tengah hujan yang teramat deras seperti itu?

Setibanya di Kampung Bekelir kita justru berputar arah menuju salah satu mall yang tidak jauh dari situ. Dari yang awalnya niat kami berfoto, malah justru akhirnya karaokean sampai malam. Sungguh sangat di luar rencana, inilah perjalanan, manusia bisa menyusun acara dengan sangat sempurna, tapi Tuhan juga yang akhirya memutuskan mana yang terbaik menurut versi-Nya. 

Belanja oleh-oleh di Tangerang

Setelah 2 jam bernyanyi dengan riang, ternyata karaokean merupakan ide cemerlang untuk menutup perjalanan ini. Kami, kembali memesan taksi online menuju Stasiun Tangerang. Dan, beruntungnya kami masih sempat berbelanja Kecap SH yang mahsyur se-Tangerang di salah satu toko besar semacam super market Toserba Sabar Subur namanya. 

Tempat belanja oleh-oleh khas Tangerang, Kecap SH
Tempat belanja oleh-oleh khas Tangerang, Kecap SH

Kembalian uang 50 rupiah dari Toko Subur, Tangerang
Kembalian uang 50 rupiah dari Toko Subur, Tangerang
Ada hal langka yang kami temukan di sini, bukan hanya karena Toserba ini menjual kecap SH yang langka itu, tapi juga karena Toserba ini bahkan mengembalikan uang Rp. 50,00, di saat kami di Jakarta kembalian Rp. 500,00 saja bisa dikembalikan dengan senyum manis si mbak kasir sambil bilang, “ Rp. 500,00 nya boleh didonasikan?”. 

Oleh-oleh khas Tangerang
Oleh-oleh khas Tangerang
Sebelum masuk Stasiun kami sempat membeli cilok di abang-abang depan Stasiun, dan kami menemukan fakta bahwa ciloknya enak sekali. Sungguh tidak diduga, Tangerang seistimewa ini, seunik ini, seberbeda ini. Ada rasa terbesit di hati, aku ingin kembali.


12 komentar:

  1. Mantap, cerita part ke-2 nya.. 👍🏻
    Next smoga bisa ikut klo kubbu ngadain trip dadakan..

    BalasHapus
  2. Asik banget ya mbak trip Tangerangnya. Lebih asik lagi baca tulisan mbak Titi yang seru banget. Kerennnnn

    BalasHapus
    Balasan
    1. tapi aku g bisa bkin puisi penuh diksi kaya mbak tuty :(

      Hapus
  3. Foto2 pemandangannya ga ada ya? Mau aliaat penasaraan

    BalasHapus
    Balasan
    1. foto aku aja yaa dinikmati. hihi

      Hapus
  4. Jadi pengeng ke Rumah Makan Sunda Hj. Kokom, kayanya endes.. hehehe

    BalasHapus
  5. Waaah ada jari jari aku yang gendaaats,

    #gagalfokus

    BalasHapus