TOSS Tuberkulosis (Bukan Batuk Biasa)

“Dek, kalau batuk tuh jangan gitu, ditutup. Nanti nular tau enggak?”

Ocehku ketika melihat si adek batuk-batuk sembarangan. Ini berkat pengetahuan yang aku dapat di Workshop dari Kementrian Kesehatan, 19 Maret 2018. Aku bahkan baru tahu, kalau batuk itu ada etikanya, enggak bisa sembarangan, kayak buang mantan, eh.

Hari Tuberkulosis (TBC) sedunia
Dr. Anung Sugihantono, M.Kes selaku DirJen Pengendalian dan Pencegahan Penyakit KEMENKES RI.
Kenapa sih batuk aja mesti beretika? Ya, biar kita enggak jadi penyebab penyakit orang lain. Udah enggak bisa bikin bahagia malah ngasih penyakit. Dan, yang lebih ngerinya lagi, gimana kalau ternyata batuk kita bukan batuk biasa?

Hari Tuberkulosis (TBC) sedunia

Apa sih maksudnya bukan batuk biasa? Jadi begini saudara-saudara sekalian, sebangsa setanah air, sependeritaan dalam menghadapi kesendirian, lah, kita harus waspada kalau batuk kita enggak sembuh-sembuh dalam kurun waktu 2 minggu.

Kenapa? Karena bisa jadi adalah sebab musabab dari gejala Tuberkulosis, atau bahasa tenarnya TBC. Penyakit ini tergolong penyakit menular yang selama ini jadi momok dalam masyarakat, bahkan sebagian menganggap penyakit ini adalah kutukan. Saya pastikan ini mitos.

Hari Tuberkulosis (TBC) sedunia

Kalau batuk kalian disertai gejala di atas segera meluncur ke Rumah Sakit atau Puskesmas terdekat ya. Tidak perlu malu, yang malu itu kalau enggak pakai baju keliling-keliling komplek. TBC itu bukan penyakit kutukan kok, Tuberkulosis itu hanya batuk yang tak biasa, yang bisa jadi sebab kalian meninggalkan dunia yang fana ini kalau tidak segera diobati.

“Loh, emang bisa yah TBC diobati?”

Bisa dong, yang enggak bisa diobati itu, hati yang sakit karena dia berkhianat. Hah, sudahlah. Serius loh, Tuberkulosis itu bisa diobati sampai benar-benar sembuh dan yang terpentingnya adalah GRATIS. Iya, TBC itu memang menular, dan medianyapun udara, mengerikan ya. Tapi, ini enggak akan jadi masalah serius kalau kalian yang menderita berhati mulia dan mau menerapkan etika batuk sepanjang pengobatan berlangsung. 

Dan Mycrobacteria Tuberculosis yang mematikan ini, sebenarnya mati jika terkena sinar matahari langsung. So, jangan biarkan rumahmu kekurangan sinar matahari, semacam aku yang kurang perhatian dia ya!

Hari Tuberkulosis (TBC) sedunia

Bertepatan dengan hari TBC sedunia di tanggal 24  Maret, pemerintah mengingatkan kita sebagai warga masyarakat yang sama-sama bertanggung jawab mengeliminasi Tuberkulosis di Indonesia dalam berbagai event dengan cara menerapkan program TOSS.

TEMUKAN


Nah, langkah menemukan ini enggak bisa kita bebankan hanya pada pemerintah saja. Kita sebagai warga masyarakat harus punya kesadaran dalam langkah menemukan. Kenapa aku sangat bersikeras untuk sama-sama menemukan? Karena, tak semua warga Indonesia ini punya pengetahuan dan keilmuan yang sama. Bukan, bukan karena mereka lebih tidak pintar dari aku apalagi kamu, lah. Ini lebih karena mungkin informasi ini belum mendarat di telinga mereka, di sinilah salah satu tugas kita, menyebarluaskan.

Kalian tahu? Indonesia merupakan juara 2 jumlah penderita TBC di dunia. Ini jadi PR yang cukup berat ya, tapi bukan enggak mungkin kok Indonesia bebas TBC kalau kita rakyatnya mau ikut berpartisipasi aktif. Penderita TB bukan hanya orang-orang dengan kondisi ekonomi yang buruk loh, semua orang bisa terjangkit. Contohnya ada banyak loh tokoh-tokoh dalam maupun luar negri yang menderita TB.

Kalau kalian rajin nonton film ke bioskop, pasti kalian ngeh, bahwasanya BJ Habibie pernah menderita TB tulang saat sedang mengenyam pendidikan di Jerman. Atau, tentang Chairil Anwar yang harus mengakhiri hidupnya karena telat penanganan. Pasti kalian juga ingat kan, Jendral Soedirman yang harus memimpin perang dengan kondisi sedang menderita TB. Dan, masih banyak contoh para pesohor yang  tak bisa mengelak dari serangan TB ini.

Hari Tuberkulosis (TBC) sedunia
Chairil Anwar meninggal karena TBC.
Semakin cepat ditemukan, akan semakin mengurangi jumlah penyebarannya dan semakin cepat juga masa penyembuhannya. Kalau kalian sendiri atau orang di sekitar kalian mengalami gejala-gejala yang disebutkan di atas, segeralah ke RS atau Puskesmas terdekat, enggak perlu malu. Proses pengecekannya pun sekarang sudah semakin cepat dan mudah. Dengan metode TCM (Tes Cepat Molekuler), hanya dalam waktu 90 menit hasilnya sudah keluar, dan lagi-lagi saya ingatkan untuk biaya tes dan pengobatannya GRATIS, jadi jangan khawatir masalah biaya.

OBATI SAMPAI SEMBUH


Kenapa sih, kata sampai sembuh ini begitu ditekankan dalam pengobatan TBC ini? Karena memang banyak sekali penderita yang merasa sudah sembuh, kemudian berhenti minum obat sebelum waktunya. Mereka hanya merasa sudah mendingan bukan berarti sudah sembuh loh. Pengobatan TBC ini minimal 6 bulan, obatpun harus diminum rutin selama 6 bulan itu.

Jangan berhenti minum obat sebelum benar-benar dinyatakan, Mycrobacterium Tuberculosis di dalam tubuh sudah benar-benar tidak ada. Beberapa merasa badannya sudah enakan kemudian berhenti, ini yang harus dihindari. Bahkan, beberapa dari mereka akhirnya harus menyerah disebabkan tidak adanya dukungan dari orang-orang sekitar.

Penderita TBC ini sudah cukup menderita dengan penyakit yang dideritanya, dengan pemisahan segala alat hidupnya dari orang lain, mulai dari gelas, piring, bantal, guling dan lain sebagainya selama masa pengobatan. Belum lagi mereka harus memakai masker kemanapun mereka pergi. Terus, kalian mau ikutan menjauhi mereka? Semakin mengucilkan mereka? Membuat mereka merasa lebih baik mati saja? Dimana nurani kalian?

Kita tidak perlu ketakutan berlebihan kepada mereka, memang penyakit yang mereka derita sangat rentan menular, bahkan lewat udara sekalipun. Tapi, selama mereka menerapkan etika batuk, memakai masker, membatasi kontak seperti memisahkan barang-barang pribadi, mereka adalah sama seperti kita, manusia. Yang butuh “dimanusiakan” bukan justru dikucilkan, mereka butuh support dari kita, tugas kita adalah membuat mereka semangat untuk sembuh.

Bukti Nyata


Jangan terus-terusan memposisikan diri sebagai yang sehat saja, bayangkan kalau kita ada di posisi mereka? Apa yang kita harapkan dari orang sekitar kita? Seperti itulah kita harus bersikap kepada mereka. Aku enggak hanya asal bicara kok, teori ini aku dapat dari Bapak Edi.

Hari Tuberkulosis (TBC) sedunia

Siapa sih Pak Edi? Beliau adalah penderita TBC MDR (Multi Drug Resistence), yang perjalanan dengan TBC tak singkat dan tak mudah.

Di awal, saat ia masih menderita TBC Sensitif Obat, Pak Edi harus merelakan karirnya berantakan bahkan sampai ibu mertuanya memusuhi beliau. Saat itu ia masih punya istri dan anak-anak yang masih sangat mendukung. Sampai di tengah jalan pengobatan, istrinya yang paling memberi dukungan penuh harus pergi.

Hidup Pak Edi, yang awalnya mulai rutin meminum obat dan punya semangat untuk sembuh kembali berantakan. Ia tak kuasa menahan pedih, sampai akhirnya mulai gaya hidup tidak sehat lagi, merokok, minum minuman keras ditambah begadang setiap malam. Kondisinya yang mulai membaik, akhirnya berantakan lagi, bahkan setelah hidup yang berantakan, si TBC Sensitif Obat menjelma menjadi TBC yang lebih mengerikan, TBC MDR (Multi Drug Resistance).

Dalam keadaan seperti ini, Pak Edi merasa masih ada tujuan hidup, yaitu anak-anaknya. Beliau memulai pengobatan lagi, anak-anaknya dititipkan kepada saudaranya. Ia berjuang sendiri, bolak-balik RS, mengganti masker 2 jam sekali, rutin meminum banyak obat keras. Bahkan efek yang ditimbulkan obatpun tidak main-main. Pak Edi pernah mengalami halusinasi parah, sampai pernah hampir bunuh diri.

Beliau menjalani semuanya dengan semangat sembuh luar biasa. Ditemani sahabat-sahabat dari PETA (komunitas yang dibuat oleh para mantan penderita TBC, yang sudah sembuh. Guna menyemangati para penderita yang masih berjuang), selama hampir 2 tahun, Pak Edi menjalani pengobatan yang tidak mudah dengan sangat konsisten. Sampai hari ini, akhirnya  beliau sudah dinyatakan sehat dan bebas dari Mycrobacterium Tuberculosis.

Pak Edi mengingatkan pada kita semua, penderita TB juga manusia yang butuh “dimanusiakan”, bukan malah diacuhkan dan dikucilkan. Perjuangan mereka melawan penyakitnya sudah berat, jangan ditambah beban psikologis lagi. Dan, seluruh rangkaian pemeriksaan dan pengobatan untuk penyakit TB ini, GRATIS. Ayok, bareng-bareng kita TOSS, Temukan Obati Sampai Sembuh. Bukan hal tidak mungkin membuat Indonesia bebas TB. Salam TOSS, dan waspada pada batuk yang “bukan batuk biasa”.

Baca juga tentang Penyakit Anyang-Anyangan.

12 komentar:

  1. Pengalaman pribadi mama aku terkena TB dan bisa di sembuhkan dengan minum obat selama 6bulan rutin.

    BalasHapus
  2. Salam Toss, batuk ada etikanya sampai sampai buang tisu aja gak boleh sembarangan. bahaya kuman TB menyangkut harkat hidup orang banyak

    BalasHapus
    Balasan
    1. bener bgt mbak. menyangkut harkat martabat org banyaak

      Hapus
  3. Wah keren ada success story nyaa...😍😍😍
    MDR pulak...wiw

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyaak aku aja merinding pas dengerinnya

      Hapus
  4. Ada aku tampak belakang *bangga banget. Hihihi
    Btw, salut dengan perjuangan Pak Edi melawan TB. 2x lho akhirnya bisa sembuh total.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya aampuun, aku perlu bayar royalti g yaa?? hhe

      Hapus
  5. Cieee yg jd blogger di kemenkes..

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah ini sih nyari ribut komennya. issh

      Hapus
  6. Jadi tahu lebih banyak tentang TBC setelah baca posting ini :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyaaa, jangan lupa disebarkan pengetahuannya mbak.

      Hapus