Tempat Wisata di Pulau Penyengat, Menjelajah Bagian Barat Indonesia


Berjalan bersama mereka memang selalu mengejutkan. Ini berawal dari keinginan jalan-jalan di hari libur 17 agustus (enggak nasionalis jangan ditiru).

Rencana kami pun gonta-ganti terus pokoknya, dari ke Andong, Pahawang sampai akhirnya kita memutuskan ke Pari tanggal 18 Agustus, dikarenakan salah satu personel kita adalah abdi dalam negara (a.k.a PNS), jadi dia wajib upacara di 17 Agustus, jadi kami tak bisa berangkat tanggal 17.


Tanggal sudah fix, tempat sudah fix, itinerary sudah dibuat, cuti sudah diapprove, segala rupa persiapan sudah matang. Tidak perlu booking tiket atau semacamnya lah ya, wong tinggal nyebrang dari Muara Angke  kok. Dan, secara tiba-tiba tanggal 15 Agustus, thats mean H-3 si Yuan ditugasin ke Bintan dari tanggal 18-23 Agustus. 

Segala itinerary jalan-jalan ke Pari pun, akhirnya hancur lebur, luluh lantah tak berbentuk.
Sampai tanggal 17 Agustus, aku sama Leni masih kekeuh buat tetep nenda di Pari even cuma berdua. Namanya juga cewek strong kan, katanya.

Tanggal 17 Agustus, kita berdua ketemuan sama Yuan di salah satu mall ternama di Cibinong, sebut saja CCM. Pertemuan ini bertujuan meminjam tas keril Yuan dan tenda kami.  Sekali lagi, si Yuan mencoba membujuk kita, buat ikut berangkat ke Bintan.

"Lo berdua nggak mau ikut ke Bintan aja? Bagus loh tempatnya", dengan muka sok baik dan sok manis dia berusaha membujuk kami.

"Males lah, enak aja! Lo gratis, gue sama Leni bayar! Dasar kam**et!", umpatku tanpa ampun, sambil terus menjejalkan bihun goreng ke dalam mulut.

Tapi, bukan Yuan namanya, kalau nggak ngotot dan keras kepala, dia tidak menyerah begitu saja, segala cara dia pakai demi untuk membuat kami, ikut berangkat ke Bintan. Sampai habis bihun goreng di piring, aku masih nggak peduli dengan ocehan dia.

"Lagian ya, ongkos terbang ke sana enggak mahal kok, nanti mobil dan hotel di sana dari gue deh." Kata-kata sakti ini sukses membuat aku dan Leni pandang-pandangan sepersekian detik. 

Kami berdua, tetap pulang dengan tenda dan tas gunung besar si Yuan, tetap pada kegigihan pertama kami, jalan ke Pulau Pari. Sampai akhirnya terjadi obrolan di motor, tentang sepertinya asyik juga kalau ikut ke Bintan sama si Yuan, ya mumpung dia janji gratisin penginapan sama sewa mobil. 

Sepanjang, Cibinong - Depok, kita berdua sukses menggalau, menimbang dengan benar, lalu kujadikan layang-layang.Halah, malah nyanyi. Sampai akhirnya kami berdua berpisah, berbaring di kasur empuk masing-masing, kami masih galau.Kemudian, di tengah malam, kita berdua melanjutkan kegalauan ini di chat aplikasi WA. 

Singkat cerita, entah bagaimana, kami memutuskan membeli tiket PP Jakarta - Tanjung Pinang, sungguh teramat implusif kami ini. Baru tanggal 17 bersikeras ke Pulau Pari, kemudian tanggal 18 sudah memegang tiket PP Jakarta-Bintan. Kami bisa secepat ini mendapatkan tiket pesawat disebabkan kemudahan akses dan pemesanan di Skyscanner. Tidak butuh waktu lama kode booking untuk Tiket Pesawat Garuda Indonesia sudah di dalam genggaman.

Sungguh merupakan perjalanan tanpa rencana, mendadak, jauh, dan sangat nekat. Kami jadi lebih percaya diri untuk senekat ini, mengingat kesuksesan kami mendaki merbabu, April lalu. Cerita tentang perjalanan ini sempat dibekukan dalam cerita oleh salah satu personel Trio Baper di blognya.

Sabtu pagi, 20 Agustus, aku berdua Leni bergegas menuju terminal Kampung Rambutan, demi mengejar Bus Damri menuju Bandara Soekarno Hatta. Tapi, memang nasib yang sedang kurang mujur, berangkat pagi-pagi pun kami masih ketinggalan bus, akhirnya kami menggunakan taksi online menuju Bandara yang cukup jauh di Cengkareng sana. 

Syukurnya, kami tidak tertinggal pesawat, kami take off dan landing dengan mulus dan selamat. Di Bandara Raja Haji Fisabilillah, Tanjung Pinang, Bintan, si biang kerok dari perjalanan ini Yuan Indrian sudah menunggu kami dengan senyum lebarnya dan 2 buah Roti Boy di tangan. 


Tanpa banyak basa-basi kami langsung menuju mobil sewaan, sebuah mobil Avanza silver, yang dari luar tampak baik-baik saja. Tapi, ternyata mobil ini punya masalah teknis yang cukup menggelikan. Jadi, kaca depan sebelah kanan dari mobil ini tidak dapat dibuka. 


Awalnya, kami bertiga berpikir ini bukan masalah berarti mengingat kami bertiga tidak ada yang merokok. Tapi, ternyata ini cukup menyulitkan saat si supir harus mengambil tiket parkir dan lain-lain, itu artinya dia harus membuka pintu mobil, sudah cukup kocak.

Perjalanan ini diawali dengan penyebrangan kami menuju Pulau Penyengat, yang masih dalam komplek Kepulauan Riau yang secara jarak dan akses tempuh sangat dekat dan cepat dari Pulau Bintan ini. Dari Bandara Raja Haji Fisabilillah, mobil kami berjalan mengikuti petunjuk GPS dari Google Map menuju Pelabuhan Tanjung Pinang. Sesampainya di pelabuhan, kami berjalan masuk ke dalam sekitar 10 menit menuju tempat start kapal pongpong. Kapal kayu berkapasitas kurang lebih 15-20 orang, yang biasa digunakan untuk menyebrang dari Pulau Bintan ke Pulau Penyengat. Satu orang hanya dikenai biaya sebesar 7000 saja, murah sekali bukan.

Setelah menunggu cukup lama, sekitar 15 menit giliran kapal Pongpong kami berlayar. Dengan antusiasme berlebihan, kami bertiga langsung mencari posisi duduk paling enak di kapal. Dan, ternyata perjalanan ini tidak memakan waktu lama, sekitar 15-20 menit berlayar kami sudah tiba di pelabuhan kecil di Pulau Penyengat. Turun dari kapal Pongpong, kami bertiga yang bingung ini celingak-celinguk sampai akhirnya, kita ditawari untuk diantar becak dengan biaya 40000 untuk 3 orang.


Ini becak motor, bisa bawa penumpang 3 orang, lain dengan becak motor di kampungku, Kutoarjo, yang motornya di belakang becak, di sini motornya di samping kiri becak. 2 orang duduk manis di dalam becak, dan 1 orang bisa menumpang jok belakang motor si abang. Kami memilih menaiki becak ini, karena sejujurnya kami bertiga enggak tahu ada apa saja di pulau ini.

Jadi, kita hanya pasrah percaya ke abang becak, tanpa banyak tanya kami langsung duduk manis di posisi masing-masing. Si abang bilang di sini banyak makam raja melayu, pulau ini banyak dikunjungi para peziarah, pulau ini kaya akan nilai historycal Melayu. Dan, perlu kalian tahu, pulau ini bahkan tampak sepi, padahal ini hari Sabtu, weekend. 

"Segini sudah ramai nak, biasanya lebih sepi, ini termasuk ramai wisatawan." Ujar si bapak menjawab pertanyaan kami akan betapa sepinya tempat ini. Ramai? Padahal hanya ada kami berempat, dan 2 kelompok kecil lainnya yang terlihat turun dari kapal Pongpong 
bersama kami. 

Bekas Rumah Tabib (Rumah Pohon)

Tujuan pertama, adalah komplek makan Raja Hamidah, kata abang becak. Tapi, di tengah perjalanan kami melihat bangunan tua yang dindingnya dirambati akar pohon yang besar. Lebih terlihat seperti rumah pohon. Kita meminta si bapak berhenti di sana, kami sungguh penasaran dan ingin berfoto.


Si bapak becak, yang merangkap tour guide kami, menjelaskan bahwa tempat ini tadinya adalah rumah tabib terkenal di Pulau ini, bukam tempat istimewa, hanya rumah tua biasa, ujar si bapak becak. Untuk kami, orang kota, yang jarang melihat bangunan seunik ini, merasa ini istimewa. Kami bahkan masuk ke dalam bangunan tua yang sudah tak beratap ini, menikmati setiap sudutnya, kemudian tak lupa bergaya bak foto model papan penggilasan.

Komplek Makam Raja Hamidah

Setelah puas, kami kembali ke becak, kembali diantar ke tujuan wisata sebenarnya, Komplek Makam Raja Hamidah. Bangunan ini adalah komplek makan yang terawat, cantik, tapi tetap terasa kuat kesan magisnya. Bgaimana juga ini kan tetap kuburan, kami dengan hati-hati menelusuri tempat ini. Membaca beberapa informasi yang terdapat di makam ini. 


Ada hal unik tentang makam para petinggi di Pulau Penyengat ini, setiap makam, batu nisannya dibungkus dengan kain kuning keemasan. Aku sempat penasaran, kemudian bertanya ke si bapak becak. Menurut informasi dari si bapak, ini sebagai penanda tentang strata sosial para penghuni kuburnya. Jadi, tidak semua dibungkus kain kuning keemasan, sebagian lain, yang hanya rakyat biasa, yang hanya prajurit saja, kain pembungkusnya akan berbeda warna. Wah, adat disini sungguh terlalu ya, bahkan sudah meninggalpun, masih saja membedakan manusia dengan strata sosialnya. Padahal, sepengetahuan saya, di akhirat nanti semua manusia derajatnya sama di mata Allah SWT, yang membedakan mereka hanya amal dan kebaikannya selama di dunia. Tapi, aku yakin, pasti ada alasan baik kenapa adat ini ada.

Komplek Makam Raja Ja'far


Setelah selesai di makam Raja Hamidah, si bapak becak kembali mengajak kami ke komplek makam lainnya, kali ini Komplek Makam Raja Ja'far. Yang satu ini konsepnya agak berbeda dengan yang tadi. Tanahnya lebih lapang, dari depan komplek, kita akan melihat undakan dan gapura, kemudian terbentang luas tanah lapang, yang di tengahnya terdapat jalan setapak menuju bangunan berkubah, yang di dalamnya terdapat beberapa makan utama. Oia, saya lupa mengingatkan, kalau kalian ke Pulau Penyengat, ada baiknya kalian jangan menggunakan pakaian yang terbuka - a.k.a sexy - , karena di sini kalian akan mengunjungi beberapa makam raja semacam ini.

Kami tidak berlama-lama di sini, tanpa basa-basi aku langsung bilang ke bapak becak. 
"Pak, kalau habis ini kita mau ke makam lagi, dilewat saja lah. Kita jangan ke makam lagi ya." Ujarku yang langsung diamini oleh anggukan kepala si bapak. 
Bukannya kami tidak menghargai sejarah, tapi sejujurnya aku merinding bolak-balik ke makam begini, apalagi mengingat setiap sampai di makam kami hanya benar bertiga, tak nampak wisatawan lain. 

Rumah Adat Melayu Indera Perkasa


Si bapak bilang, tujuan selanjutnya adalah Rumah Adat Melayu Indera Perkasa. Tempatnya mirip rumah anjungan profinsi di TMII. Di dalamnya tampak juga beberapa bangku, pakaian adat, alat musik dan segala rupa benda khas Kepulauan Riau. Rumah adat ini terbuat dari kayu, bentuknya rumah panggung, cantik dan rapi sekali. Dan, tepat di sebrang rumah adat ini adalah dermaga yang sepertinya sudah tidak beroperasi lagi. 


Di depannya juga tampak berderet rumah makan, beserta es kelapa batoknya. Tadinya, kami sempat berpikir mau makan di sana, tapi mengingat kasihan ke si abang becak, kami memutuskan menunda makan siang. 

Perjalanan akhirnya dilanjut, setelah kami bertiga bosan bolak-balik di rumah adat dan main-main di dermaga. Kami melanjutkan perjalanan ke tempat terakhir kebersamaan kita dengan si bapak becak yang setia. Iya, setia enggak kayak dia *ehh.

Benteng di Bukit Kursi

Tempat berikutnya adalah Benteng di Bukit Kursi. Dari semua tempat tadi, ini favorite saya, cantik luar biasa, sampai sekarang saya masih belum bisa melupakan tentang kesenyapan dan kecantikan tempat ini. Kami berjalan melewati jalan setapak dan anak-anak tangga ke arah atas. Hanya ada kami bertiga di tempat ini.

Hutan rimbun dengan tanah relatif kering adalah pemandangan pertama yang kami dapati. Dilanjut dengan melewati jembatan yang bahkan parit di bawahnya tak berisi air barang setetes. Pulau Bintan dan Penyengat ini, saat kami datang memang panas luar biasa, udaranya lembab, pengap, sampai-sampai tengkuk saya muncul bintik-bintik merah biang keringat. 



Dan, di bukit ini, panasnya makin menjadi-jadi. Semakin ke atas, pepohohan makin jarang, pemandangan berganti dengan padang rumput luas, di ujungnya terlihat beberapa meriam, kami penasaran berjalan mendekat. Dan, ini pemandangan paling cantik yang saya temui sedari pagi. Dari samping meriam, kami dengan jelas melihat bentangan laut lepas beserta pulau-pulau disekitarnya, pantas jika bukit ini dahulu dijadikan benteng pertahanan.


Dari atas sini, segala terlihat begitu magis, hening, cantik, biru, cerah walaupun tetap saja, panas. Udara di pulau ini memang kurang bersahabat dengan aku yang warga Depok ini. Hati dan ingin masih betah memandangi cantik daratan dan lautan di sekitar Bintan dari ketinggian bukit kursi, tapi raga yang sumuk tak kuasa lagi berlama-lama. Setelah dirasa stok foto sudah banyak dan bagus-bagus, kami segera beranjak menuju tujuan terakhir di pulau ini.

Masjid Sultan Riau

Masjid ini tak neko-neko, simple, warnanya kuning muda, tak nampak megah tapi lebih ke bersahaja. Aku dan Leni sekalian menunaikan ibadah solat Dzuhur, dan Yuan yang kebetulan berbeda keyakinan dengan kami memilih menunggu di tukang es di depan masjid. Aku yang memang sudah kepanasan sungguh tak tahan melihat kucuran air kran di tempat wudhu. Aku langsung bergegas berwudhu, rasanya ketemu air tuh surga banget, bahagia sekali. Aku bergegas menunaikan ibadah solat. Arsitektur di dalam masjid ini sangat kental nuansa melayu. Dengan kipas angin super besar, dan susana teduh di dalam masjid, rasanya jadi sangat malas beranjak ke luar, betah. Tapi, mengingat ada si Yuan yang menunggu di luar, kami bergegas ke luar.

Dan, saya baru sadar, bahwasanya, adalah, sesungguhnya, masjid ini cantik sekali, melayu sekali, sederhana sekali. Dari luar, kita bisa melihat ada gapura yang terbuat dari besi, dengan nama masjid yang ditulis dengan bahasa arab. Kemudian, sebelum pintu utama masuk ke masjid, terdapat dua saung kayu di sisi kiri dan kanannya. Yang lebih tidak bisa saya lupakan adalah, cerita si bapak becak. 


"Masjid ini sudah dibangun sejak sangat lama sekali, sudah tersentuh beberapa kali rekontruksi. Pada awal masjid ini dibangun, salah satu bahan dasar masjid ini adalah putih telur." Kalian paham kan bagian mana ya ng membuat saya sulit percaya? Putih telur, ini masjid atau kue bolu?

Ya, setelah kami selesai memandangi masjid kuning-hijau ini, kami bergegas mencari makan untuk perut yang kelaparan ini. Pilihan kami jatuh kepada warung ikan bakar yang sangat dekat dengan pelabuhan. Kami yang sangat lapar ini memesan satu ikan basar sangat besar untuk dimakan bertiga dengan sambal khas Pulau Penyengat.Sejujurnya, untuk aku yang jarang sekali travelling ke luar Pulau Jawa, ini adalah ikan bakar ternikmat yang pernah aku makan, segar, dagingnya manis dan lembut. Untuk makan bertiga, kami hanya habis uang tidak sampai 100000. 


Setelah perut penuh, kami kembali ke Pulau Bintan, kembali berlayar dengan kapal Pongpong yang hanya 7000 sekali jalan. Pulau Penyengat ini sungguh sepi, rasanya hampir semua objek wisata yang kami kunjungi terasa seperti milik sendiri. Padahal nilai historis di tempat ini sebegitu kuatnya, dan aksesnya pun mudah. Cantik dan unik pula tempatnya, murah juga, kami tidak dimintai biaya masuk di semua objek wisata. Kami hanya bayar 40000 bertiga, itupun untuk transportasi dan tour guide kami di sana. 

Untuk kalian yang masih belum pernah ke Pulau Penyengat, percayalah, kalian tidak akan menyesal meluangkan waktu dan uang kalian untuk mengunjungi pulau ini. Kemudahan akses transportasi, kearifan warganya. ikan bakarnya dan mumpung pulau ini belum begitu ramai. Rasakan sunyi senyap yang nagih dari Pulau Penyengat, mengitari bukit kursi hanya bertiga, bebas foto di manapun, tanpa takut hasil jepretan kita "bocor". Kami berani jamin, uang dan waktu yang kalian korbankan tak sebanding dengan apa yang akan kalian dapatkan. Indonesia seindah ini, Pulau Penyengat setentram ini, yakin kalian masih mau diam di rumah?

Yuk, segera cek harga dan ketersedian Tiket Pesawat Garuda Indonesia di Skyscanner, website terlengkap dan terupdate untuk pemesanan tiket pesawat.

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh ID Corners dan Skyscanner. 


23 komentar:

  1. Ternyata di Bintan arsitekturnya juga nuansa kuning, ya. Khas melayu. Jadi ingat Istana Maimun Medan yang juga nuansa kuning.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku malah belum pernah ke Medan, hiks.

      Hapus
  2. Waahh pulau penyengat yaa, pernah ke sini 10 tahunan yang lalu dan kayaknya masih sepi aja yaa wekekek. Cucok yang pengen ketenangan ^^

    BalasHapus
  3. masiih sepi mbak. setiap dateng ke objek wisatanya, cuma ada kita bertiga masaa. berasa pulau punya kita. hhi

    BalasHapus
  4. Keren banget nih mbak titi nulisnya. Saya ke Pulau Penyengat bertemu dengan berbagai kalangan, melihat langsung peninggalan-peninggalan yang selama ini tidak ditunjukkan ke masyarakat umum. Tapi ya udah begitu wae, ndak jadi tulisan apapun. Kudu berguru nih dengan mbak titi

    BalasHapus
  5. Ihhh kamu keren bgt, aku cuma muter2 sm tukang becak aja. hhe

    BalasHapus
  6. jauh aja ni si kk main nya >.< ikut donk hahaha

    BalasHapus
  7. Wah menarik sih tempatnya,, cocok buat bulan madu nanti kali yaa.. hehehee

    BalasHapus
    Balasan
    1. cucok kak, sepi2 gimana gtu. 😆

      Hapus
  8. Wah, aku baru dengar nih ada yang namanya Pulau Penyengat. Pengen sesekali coba ngetrip ke sini juga deh~

    BalasHapus
  9. Keren banget ini liburannya dan aku juga baru tau ada Pulau Penyengat

    BalasHapus
  10. Masjid sultan riau nya bagus ya..

    BalasHapus
  11. Sekarang setelah ada Festival Pulau Penyengat, masih sepi gak ya tempatnya?

    BalasHapus
  12. Wowwww langsung dapet tiket padahal baru direncanain sehari sebelumnya..

    BalasHapus
  13. wah ini kampung halaman ibu, keren banget! Semoga ada kesempatan pergi ke sini

    BalasHapus
  14. Rumah tabibnya unik ya? Dikelilingi akar rambat... Unik dan bikin serem.

    BalasHapus
  15. Aku kok jadi pengen ke pulau penyengat ini yah setelah baca artikel dirimu kakak

    BalasHapus
  16. Masih belum banyak traveller, seru banget utk eksplore

    BalasHapus
  17. Wah nambah lagi nih destinasi wisata di Indonesia yang perlu dikunjungi. Banyak tempat menarik yang bisa dikunjungi di pulau Penyengat ya. Kalau mau ke sana baiknya di bulan apa ya mbak?

    BalasHapus
  18. Mbak di pulau ini ada penginapannya gak ya ? atau harus nginepnya di pulau Bintan?

    BalasHapus
  19. Belum pernah kesini. Kok jadi mupeng ya. Itu rumah tabibnya unik ya. Sampe di tumbuhi pepohonan begitu. Kayak di thailand.

    BalasHapus
  20. Liburan dadakan gini malah jadi seru ya. Apalagi sama teman-teman yang emang udah klop.

    BalasHapus
  21. Jadi pengen kesana juga, enak ya gak terlalu ramai wisatawan

    BalasHapus