Mengatasi Anyang-Anyangan Setelah Turun Gunung dengan Prive Uri-Cran


Lomba blog Prive Uri-Cran
Prive Uri-Cran dan aku
Mungkin sebagian dari kalian merasa aneh dan bertanya-tanya, apa sih hubungan kamu ke si dia? Ups, maksudnya apa sih hubungan anyang-anyangan dengan  turun gunung. Seriusan deh, ada, malah berhubungan erat. Yuk, disimak hubungan mereka sejauh apa.



“Foto-foto lo bagus banget, Ti!”
“Ih, keren ya sering naik gunung.”
“Pemandangannya bagus banget ya, jadi pengen nyoba naik gunung.”

Statement di atas, hanya sebagian dari komentar iri dari teman-teman saat melihat foto-foto cantik oleh-oleh pendakian.  Sebagian selalu mengira naik gunung itu hanya soal gaya-gayaan menaklukan alam, upaya membuat feed instagram penuh dan keren, upaya mencari pengakuan dan berbagai pemikiran nyinyir lainnya. 

Rasa-rasanya jika tujuannya hanya itu, sayang sekali semua perjuangan sebelum, saat dan setelah pendakian. Beberapa mengira perjuangannya hanya saat berpeluh di jalur pendakian. Sebenarnya enggak hanya itu, dari sebelum mendaki, persiapannya saja sudah jadi bagian dari perjuangan. Lain cerita saat kita ingin berlibur ke pantai, persiapannya berupa belanja sunblock, topi cantik, kaca mata hitam dan lain sebagainya. Tapi, saat kita memutuskan untuk mendaki, yang harus disiapkan adalah jiwa, raga dan harta. 

Biasanya aku sendiri, pasti olah raga lebih keras menjelang tanggal pendakian, sebagai bentuk usaha agar tidak merepotkan di jalur nanti. Kemudian, tidak lupa minta doa restu orang tua, agar apapun yang akan terjadi nanti teriring doa mama di sana. Jangan ditanya lagi lah ya, kalau masalah perjuangan saat pendakian. Berpeluh dan nafas yang tersengal adalah bukti betapa perjuangan saat pendakian bukan perihal yang enteng, apalagi mudah. 

Prive Uri-Cran anyang-anyangan
Anyang-anyangan setelah turun gunung.
Lalu, setelah pendakian, mana ada sih perjuangannya? Entah ya, hanya aku saja atau sebagian kalian yang suka mendaki juga merasakan hal yang sama. Selama di perjalanan dari kota asal menuju basecamp, yang jelas tak pernah dekat, untuk aku yang tinggal di kota metropolitan ini. Jarak tempuh yang lumayan, dengan angkutan umum, entah bus atau kereta, memaksa kita buang air di toilet seadanya. Apalagi saat mulai berjalan di jalur, aku pribadi lebih memilih menahan pipis selama bisa ditahan, prinsipnya hampir sama kayak perasaan perempuan ya, paham kan.

Kalaupun, akhirnya kita terpaksa sudah enggak tahan pengin pipis, akhirnya semak-semak belukar jadi pilihan tempat yang dirasa layak. Maka dari itu, jangan heran kalau aku akhirnya selalu melakukan perjuangan setelah pendakian. Perjuangan sembuh, dari anyang-anyangan sepulang pendakian.

Penyebab Anyang-anyangan

Ini membuat aku penasaran, lalu kemudian cari tahu sendiri apa penyebab dari anyang-anyangan yang sering aku derita sepulang mendaki. Dari hasil kepo, ternyata beberapa point di bawah ini adalah jawabannya:

1.      Kurang mengkonsumsi air putih.
2.      Sering menahan buang air kecil.
3.      Toilet yang kurang bersih.
4.      Pakaian dalam yang terlalu ketat.
5.      Terlalu sering mengkonsumsi kopi dan minuman bersoda.

Sebagian point di atasa adalah penyebab anyang-anyangan , setelah mengetahui hal itu sekarang aku paham kenapa aku masih harus berjuang bahkan setelah turun gunung sekalipun.  Penyebab nomer 1 sampai 3 adalah yang selalu dengan sengaja atau tidak terjadi saat kita mendaki.

1.      Kurang mengkonsumsi air putih

Pasti jadi malas minum, mengingat persediaan air yang terbatas. Sayang banget kan, kalian capek-capek bawa naik air 3 botol, yang masing-masing  1,5 L, eh di atas hanya dijadikan teman pipis.

2.      Sering menahan buang air kecil.

Berhubung jarang ada toilet di jalur membuat kita malas bolak-balik pipis, akhirnya memilih menahan sampai tak bisa ditahan lagi. Lagi ya, males kan mesti belusukan nyari semak yang toiletable.

3.      Toilet yang kurang bersih.

Perkara toilet kurang bersih, bahkan kita pipisnya saja di semak-semak, sungguh tak pantas disebut toilet. Sekalinya ketemu toiletpun, sudah dipastikan toiletnya akan jauh dari kesan bersih, apalagi higienis.

Jadi, sangat wajar kalau anyang-anyangan selalu jadi oleh-oleh pendakian di samping foto-foto instagramable di atas.

Sebelumnya aku selalu menyepelekan urusan anyang-anyangan ini. Tapi sekarang, rasanya sudah tidak bisa lagi, setelah aku tahu bahaya yang berawal dari anyang-anyangan. Ini, ternyata merupakan cikal bakal dari Infeksi Saluran Kemih, dan girls perlu kita tahu, wanita lebih rentan terserang penyakit anyang-anyangan berujung Infeksi Saluran Kemih disebabkan oleh saluran uretra wanita yang ternyata lebih pendek. 

Semenjak mengetahui kenyataan buruk itu, aku menjadi memberi perhatian lebih tiap-tiap anyang-anyangan turun gunung ini menhampiri. Aku mulai browsing sana-sini, kira-kira obat apa yang bisa menyembuhkan, paling enggak mengurangi perasaan  ingin bolak-balik kamar mandi , demi pipis yang keluar setetes demi setetes, macam air mataku saat kau memilih dia.

Berkenalan dengan Prive Uri-Cran

Akhirnya aku menemukannya, Prive Uri-Cran. Aku yang tidak pernah bisa cepat percaya, disebabkan trauma karenamu. Aku memilih mencari tahu lebih lanjut cara kerja obat ini. Berdasarkan berbagai sumber, akhirnya aku mencoba meringkasnya dalam satu paragraf di bawah ini. 

PriveUri-Cran berisi banyak cranberry extract yang mengandung Proantocyanidin yang berperan sangat penting dalam mencegah bakteri E.Coli ―yang tidak lain tidak bukan adalah penyebab anyang-anyangan―  menempel pada dinding saluran kemih. Cara kerjanya, dengan membuang si bakteri jahat ini keluar melalui air kencing. Prive Uri-Cran ini juga, terbuat dari bahan-bahan alami yang aman bagi tubuh anak-anak, remaja labil, remaja stabil, dewasa, tua renta, sampai ibu hamil dan menyusui.

Di mana beli prive uri-cran
Sumber gambar dari FacebookFacebook
Oleh sebab penjelasan masuk akal dan aman tadi, aku dengan yakin selalu memilih Prive Uri-Cran sebagai sahabat dalam menghadapi si menyebalkan anyang-anyangan terutama saat turun gunung. Dan, syukurnya produk ini tokcer, mengingat kemampuannya yang efektif dalam menemani perjuanganku melawan anyang-anyangan. Terlebih lagi, tidak sulit untukku menemukan produk ini, hampir di seluruh Guardian, Century, Watsons dan Kimia Farma ketersediaanya melimpah.

Macam-macam bentuk Prive Uri-Cran

PriveUri-Cran sendiri terdiri atas 2 varian penampakan.

1.      Prive Uri-Cran dalam bentuk serbuk

Yang satu ini berbentuk serbuk, yang saat ingin merasakan manfaatnya kita perlu menyeduhnya terlebih dahulu dengan air mineral. Jangan bayangkan larutan coklat dengan rasa pahit yang kita rasa, semacam jamu serbuk. Justru larutan ini banyak yang doyan, karena rasanya  yang asem-asem nyentrik bikin kangen, warnanya pun pink ungu manis macam senyumnya. 

2.      Prive Uri-Cran dalam bentuk kapsul

Mewakili manusia-manusia super praktis, Prive Uri-Cran menghadirkan cranberry extract ini dalam bentuk kapsul. Tak perlu repot menyeduh di dalam gelas, kalian cukup lempar kapsul ke mulut dan tegak air putih, selesai.

Prive Uri-Cran mah gitu ya, pengertian. Ada terus saat aku butuh dia, baik tanpa meracuni. Kalau laki sudah kupacari dia. Memang sudah paling pas mengatasi anyang-anyangan dengan Prive Uri-Cran, alami dan menyembuhkan tanpa member efek samping apapun. Terima kasih Combiphar, sudah mengembangkan produk secanggih Prive Uri-Cran.

Dan, untuk kalian, yang masih cuek sama anyang-anyangan, tolong deh jangan lagi. Efek cuek ke anyang-anyangan lebih fatal dari pada efek cuek ke dia, serius deh. Kalian enggak mau kan, tiba-tiba harus menerima kenyataan sudah mengalami Infeksi Kandung Kemih? Mulai aware ya, mulai peduli sama setiap rasa yang menghampiri, termasuk anyang-anyangan ini. Dan, kalau kalian penasaran pengin cobain Prive Uri-Cran, enggak harus nunggu anyang-anyangan dulu kok. Prive Uri-Cran ini juga bisa digunakan untuk mencegah anyang-anyangan loh.

Sekian curhat panjang lebarku, tentang hubungan si anyang-anyangan dengan si turun gunung. Sudah paham kan sekarang,  sejauh apa hubungan mereka berdua. Salam bebas anyang-anyangan dengan Prive Uri-Cran. Selamat belanja, selamat mencoba, selamat menikmati, siap-siap ucapkan salam perpisahan ke anyang-anyangan.

8 komentar:

  1. Air matamu keluar bagai anyang-anyangan? Tidak kah kau lihat, di pinggir matamu dipenuhi flex akibat menahan rindu?
    Wkwkwkwkwk

    BalasHapus
  2. huaaaa.. rindu yang tak pernah tuntas bahkan setelah temu?? #lohhh

    BalasHapus
  3. Wah aku baru tau apa itu ayang ayangan. Tapi selama pendidikan aku jarang mendaki bareng cewek jadi gak pernah tau.. Bahkan baru denger.. Hihi

    Boleh nih di coba kalo aku mendaki lagi baca uri cran.. Wagwagwag.... Eh jangan lupa kunjungan balik yak. Mbak titi..hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah sekarang dicoba mendaki brg ciwi2 bang, biar paham.😆

      siap bang, saya meluncur main.

      Hapus
  4. Bener nih.. nahan kencing bikin anyang2an pas udah dibawah
    nyiksa benerr

    BalasHapus
    Balasan
    1. pas di atas mah gak berasa ya. hehehe

      Hapus
  5. waiya, di alam pegunungan sering abai nih ya pipis apalagi cuaca pegunungan kan dingin jadi nggak kerasa gitu, tahu-tahu kebelet banget. Alhamdulillah sekarang sudah ada uri cran

    BalasHapus