Kuliner Khas Cikini: Bubur Cikini dan Es Krim Tjanang

Cikini, ada yang terlintas di pikiran kalian ketika mendengar tentang nama daerah ini?

Kalau aku, malah jadi keinget jaman kecil dulu, setiap weekend sama mama sering banget diajak naik kereta turun di Cikini, terus lanjut metromini ke Atrium Senen, ke tempat kerja mama. Dan, dalam ingatanku tak ada yang istimewa juga dari Cikini, hanya tempat turun kereta. 

Tapi, hari itu seorang teman mengajak ku menjajal jajanan khas Cikini, kalau bahasa yang lebih manisnya kulineran di Cikini. Kita tidak menyambangi banyak tempat, tapi dua ini cukup membuat kesan di lidah, dan rasanya sayang kalau tidak aku bagi ke kalian. Selayaknya aku yang menganggap Cikini hanya tempat persinggahan ―semoga hatiku tak seperti itu untukmu―, aku ingin kalian menggap Cikini lebih dari itu. Tempat berhenti, tempat kalian memuaskan lidah dan perut, tempat kalian menuntaskan rindu. Kenapa Titi selalu curhat tidak pada tempatnya, abaikan saja.

Bubur Cikini (BURCIK), H. Suleman


Bubur ini sesungguhnya adalah bubur Cirebonan, tapi dijual di Cikini, nama tenarnya BURCIK. Lokasinya, gampang sekali dicari, buat kalian para anak kereta macam aku. Dari Stasiun Cikini, kita tinggal jalan kea rah KFC terdekat, supaya enggak linglung karena da beberapa pintu di stasiun ini, kalian bisa tanya ke petugas, “Pak, pintu keluar arah ke KFC yang mana ya?”. Tentunya, harus dengan wajah manis, semanis gula-gula yang kau beri malam itu, semanis janji yang kau ucap setiap hari, sebelumnya akhirnya kamu memilih pergi meninggalkanku.


Lokasi tepat di samping KFC, kalau kalian berjalan kaki dari arah stasiun, sebelum KFC ya. Mudah sekali kan? Ancer-ancernya KFC yang warnanya merah itu, tahu kan? OK, saya yakin kalian tahu. 

Pertama melihat dari luar hanya ada satu kesan, penuh, ramai, sesak, padahal saya kesana sekitar jam 5 sore, bukan waktunya orang sarapan bubur, halah. Tapi, sebagai orang Indonesia asli, saya meyakini, tempat makan yang ramai orang pasti makanannya enak. Begitu saya masuk ke dalam, saya cukup sulit mencari kursi, tapi syukurnya ada yang baru selesai makan dan akhirnya saya bisa duduk dengan manis dan penasaran.

Dekorasi tempat ini kental dengan nuansa, tua. Sungguh, berasa sekali ini bukan bangunan baru, apalagi modern. Ada beberapa foto yang menunjukan sepasang suami istri pada jamannya, satu foto tak berwarna, satu lagi sudah berwarna seperti hari-hariku saat ada kamu.

Saat kalian pesan satu porsi BURCIK, si Pak Haji akan langsung bertanya satu hal ke kalian. 

“Kamu udah makan?”, eh ini mah chat dari si dia, maaf aku sedang tidak focus, halah.

Ini pertanyaan yang sesungguhnya, “Pakai telur mentah enggak?”, sejujurnya agak ngeri-ngeri sedap juga ditawarin telur mentah di tukang bubur. Tapi, berhubung saya orangnya kepo, saya iya kan saja akhirnya. Sebagai pelengkap makan sore ini, saya memesan es teh tawar, maklum saya sudah biasa diacuhkan, jadi terbiasa dengan yang tawar.

Tidak lama, seporsi bubur yang ditunggu datang juga, kebetulan makan siang saya kurang member kepuasan, saya langsung nafsu melihat semangkuk besar bubur Cikini yang fenomenal ini. Mangkuknya cukup besar, dibandingkan bubur di samping RNI yang saya makan setiap pagi. Begitu saya cicip, ini sungguh hambar persis seperti aku saat kamu tinggalkan. Aku tak melihat penampakan bumbu kuning seperti buburku setiap pagi, dan buburnya pun lebih encer. Mungkin ini sebabnya ada kecapmanis, kecap asin, lada, sambal lengkap hadir di setiap meja, untuk kita meracik kembali dengan cita rasa masing-masing.


Dan, tak kutemukan senyummu lagi pagi itu, eh maksudnya tak kutemukan kerupuk oranye atau kuning yang kalau ditenggelamkan ke bubur akan terasa nikmat tiada tara. Di sini, si Pak Haji menggunakan emping sebagai penggantinya, tapi dirasa cukup nikmat juga ternyata makan bubur pakai emping. Kemudian yang selanjutnya, aku mencari keberadaan telur mentah yang dijanjikan akan hadir. Dari pertama datang bubur ini hadir dihadapanku,  tak nampak ada telur ngambang-ngambang di permukaan. 

Ternyata, telur itu tenggelam, persis seperti aku yang semakin tenggelam dalam lautan cintamu, halah. Dia tersembunyi diballik emping-emping, suiran ayam dan bubur yang agak encer tadi. Aku pikir, aku bakalan geli melihat telur mentah dibuburku, tapi ternyata justru di sini letak kenikmatannya. Karena bubur ini relative encer, artinya kadar airnya cukup banyak, sehingga panasnya juga jangan ditanya, panas ngebul bahkan setelah hampir 5 menit di atas mejaku. Mkanaya enggak heran, kalau telur mentah yang ditenggelamkan menjelma menjadi telur setengah matang yang kenikmatannya tak dapat diungkapkan dengan kata-kata, tabik.

Dengan hati-hati aku mengagkat kuning telur yang masih bulat sempurna, kemudian mulai aku pecahkan, dan diseruput pelan-pelan, duh untuk para penikmat telur setengah matang pasti paham di mana letak kenikmatannya. Tapi, untuk yang enggak doyan, biasanya malah geli ya. Makanya, si bapak tanya dulu di awal, pakai telur mentah enggak?


Over all, aku suka dan bakal balik lagi makan burcik ini, rasanya berbeda dari bubur lain, isinya lebih banyak, mungkin disebabkan harga yang memang beda juga dibanding kompetitornya ya. Rasanya juga enak-enak bikin rindu, asepnya enggak habis-habis sampai suap terakhir, mungkin karena aku makannya kecepetan ya. Isiannya lengkap, emping, ayam yang banyak, dan ada sesuatu semacam cakwe, tapi kok kayanya bukan yah, lebih mirip roti, dan tidak terlihat sekering cakwe, ditambah metode membuat telur setengah matang yang tak aku lupakan begitu saja.

Es Krim Tjanang

Es krim jaman dulunya Cikini nih, siapa yang enggak kenal es krim ini, sejujurnya aku yang enggak kenal dan baru tahu sekarang, sungguh saya memang kurang bergaul di ibu kota, begini lah jadinya. Es krim ini hadir sejak 1951, bahkan saat Indonesia baru merdeka 6 tahun saja. Bahkan kabarnya, es krim ini sudah jadi langganan Bung Karno pada jamannya loh, gimana aku enggak tambah penasaran kan.


Es krim ini bisa kita temui di kafe di dalam Hotel Cikini, enggak jauh kok dari tempat makan bubur, kalian tinggal pesan ojek online dan tulis di map, Hotel Cikini. Sesampainya di hotel, kalian bisa langsung masuk ke dalam kafe, dan langsung bisa menemukan kotak es krim Tjanang di pojok ruangan.

Es krim ini diproduksi di daerah Tebet, kata mbak penjaga kafe yang cantik dan baik hati, bisa difollow instagramnya @sitirahmaa_27 kalau mau tanya-tanya lebih jauh. Menurut si mbak ini, es krim ini bisa dijual di sini dikarenakan si pemilik hotel yang masih merupakan kerabat dekat dari si pembuatnya. Tadinya, es krim ini dijual di kedai sebrang hotel.


Es krim ini punya banyak varian rasa, dari kopyor, durian, coklat, alpukat, nougat dan banyak lagi. Andalannya adalah rasa kopyor dan durian. Bahkan, saya sempat baca dari beberapa sumber si pembuatnya lebih memilih tidak usah produksi dibanding harus memakai kelapa dan durian yang kualitasnya kurang baik.


Harga dari es krim ini memang tidak bida di bilang murah, satu cup kecil dihargai 15.000, cup sedang (0.5L) 65000 dan untuk ukuran besar (1L) 80000. Tapi ini wajar, dibanding es krim pabrik yang sekarang menguasai pasar, es krim ini rasanya lebih rich, kalau untuk saya ya. Manis, lembut dan rasa dari tiap varian yang jelas pasti lebih kaya dibanding es krim pabrikan biasanya. Hal ini menjadi wajar setelah saya cari tahu lebih lanjut. Ternyata untuk membuat 1 kg es krim, bahan yang diperlukan kurang lebih 1L. Ini jelas sangat berbeda dengan es krim yang sekarang banya kita jumpai, wajar kan kalau harganya sedikit lebih mahal.



Yang kemarin saya coba adalah rasa kopyor, jangan tanya urusan rasa, enak pakai banget. Di dalamnya bahkan terdapat potongan kelapa muda yang membuat sensasi kopyornya semakin terasa. Teman saya pesan rasa Nougat,  ini juga tak kalah enak, di dalamnya terdapat serpihan rasa yang pernah ada, eh maksudnya serpihan kacang mede. Juara lah, rasanya kaya dan lembut juga kok. Khas, es krim jaman dulu, rasanya mantap, kalian para millenial, yang mengaku anak muda Jakarta, wajib main dan jajan ke sana ya!

Sekian report jajan saya di Cikini minggu lalu. Ternyata makan enak dan murah meriah enggak perlu jauh-jauh ya! Jakarta juga punya kuliner khas, ayo eksplore Jakarta lebih giat lagi. Kalian punya tempat makan favorite di Jakarta? Share di kolom komentar ya, siapa tahu saya bisa kunjungi juga. 

32 komentar:

  1. Mbak titi.... ini kenapa review lebih banyak curhatnyaaa, hihihihi

    Hmm, bubur cirebon yang kuingat adalah sop bubur. Jadi makannya pakai kuah sop atau soto. Kalau baca ulasannya, aku bayangin rasa bubur ini kyk bubur kuningan. Hihihi, coba main ke blog ku deh, aku pernah makan bubur tapi bumbunya kayak kuah rawon. Search aja, bubur kuah rawon

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah boleh tar aku mampir mbak, kepo juga bubur kuah rawon. hhe

      Hapus
  2. kenapa gue lebih fokus sama kata2 mellow dibanding makanannya. Guess what? gue punya tulisan ttg ini, ttg Tangerang juga, yang masih antri direlease heheheh sama lagi kitah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya ampun kamu mah salfok mlu. hhi

      lah iya ya? ketaauan daerah jajahannya sama. 😁

      Hapus
    2. bisa jadi kalian kuliner bareng ya hahahha

      Hapus
  3. Balasan
    1. Enggak usah, temennya udah tenar g usab disebut juga.

      Hapus
  4. Ahhh BURCIK emang mantep rasanya dari dulu sukak, apalagi kalo nambah makan ayam goreng kfc di samping BURCIK juga enak Mba wkwkwkwkwk...

    BalasHapus
    Balasan
    1. lo mah perut karung emang day! hha

      Hapus
  5. Klo denger cikini aku ingetnya lagu dangdut. Cikini ke gondangdia.. 😅😅
    Btw es tjanang ud tersohor sbagai kuliner jadul tuh.. 🍧🍨👌🏼

    BalasHapus
    Balasan
    1. yuk marii digoyang! hha

      iyaa jadul tapi enyaaak aneut yaa

      Hapus
  6. Buburnya sudah pernah coba, ice creamnya belum... Jadi kapan mbak titi ngajak saya ke sana..

    BalasHapus
    Balasan
    1. yuk mbak tuty, deketan kok mereka.

      Hapus
  7. Tiiii, ini review apa curcol? Ahahaha .... ngakak2 deh, bacanya. Kapan2 mau ah nyobain dua makanan ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kak Yun sama mbaak Nunik sama aja nih. 😑

      Hapus
  8. Waah, jadi ngiler nih kak. Kayaknya enak eskrimnyaaaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Enak pakek banget deh, cicip deh. hhe

      Hapus
  9. Ti,tjurhatnya tumpah di mana-mana, eh diatas bubur ding

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mas achi salah fokis juga ke curhatan aku ya? 😂

      Hapus
  10. aku kepengen nyoba es krim tjanangnya...mungkin mbatiti bisa jadi guide tour to Cikini....?!?!

    BalasHapus
  11. Waah boleh banget nih di coba bubur plus es krimnya

    BalasHapus
  12. Bubur Cikini emang juara banget rasanya!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku juga suka, tapi ternyata enggak sedikit juga yang enggak doyan. 😑

      Hapus
  13. ajak-ajak donk kk kalo kulineran

    BalasHapus
    Balasan
    1. yuk, kelompok 8 kukineran bareng. 😍

      Hapus
  14. Ajak aku kesana dong mba haha

    BalasHapus
  15. Kirain telur mentahnya terbenam di dalam lumpur dosa cintamu kepada dirinya yg pergi tanpa say goodbye. Hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. huaaaa.... dia lebih jago ternyata ngegombalnya. suhu 😎

      Hapus
  16. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus