“Dek, kalau batuk tuh jangan gitu, ditutup. Nanti nular tau enggak?”

Ocehku ketika melihat si adek batuk-batuk sembarangan. Ini berkat pengetahuan yang aku dapat di Workshop dari Kementrian Kesehatan, 19 Maret 2018. Aku bahkan baru tahu, kalau batuk itu ada etikanya, enggak bisa sembarangan, kayak buang mantan, eh.

Hari Tuberkulosis (TBC) sedunia
Dr. Anung Sugihantono, M.Kes selaku DirJen Pengendalian dan Pencegahan Penyakit KEMENKES RI.
Kenapa sih batuk aja mesti beretika? Ya, biar kita enggak jadi penyebab penyakit orang lain. Udah enggak bisa bikin bahagia malah ngasih penyakit. Dan, yang lebih ngerinya lagi, gimana kalau ternyata batuk kita bukan batuk biasa?

Hari Tuberkulosis (TBC) sedunia

Apa sih maksudnya bukan batuk biasa? Jadi begini saudara-saudara sekalian, sebangsa setanah air, sependeritaan dalam menghadapi kesendirian, lah, kita harus waspada kalau batuk kita enggak sembuh-sembuh dalam kurun waktu 2 minggu.

Kenapa? Karena bisa jadi adalah sebab musabab dari gejala Tuberkulosis, atau bahasa tenarnya TBC. Penyakit ini tergolong penyakit menular yang selama ini jadi momok dalam masyarakat, bahkan sebagian menganggap penyakit ini adalah kutukan. Saya pastikan ini mitos.

Hari Tuberkulosis (TBC) sedunia

Kalau batuk kalian disertai gejala di atas segera meluncur ke Rumah Sakit atau Puskesmas terdekat ya. Tidak perlu malu, yang malu itu kalau enggak pakai baju keliling-keliling komplek. TBC itu bukan penyakit kutukan kok, Tuberkulosis itu hanya batuk yang tak biasa, yang bisa jadi sebab kalian meninggalkan dunia yang fana ini kalau tidak segera diobati.

“Loh, emang bisa yah TBC diobati?”

Bisa dong, yang enggak bisa diobati itu, hati yang sakit karena dia berkhianat. Hah, sudahlah. Serius loh, Tuberkulosis itu bisa diobati sampai benar-benar sembuh dan yang terpentingnya adalah GRATIS. Iya, TBC itu memang menular, dan medianyapun udara, mengerikan ya. Tapi, ini enggak akan jadi masalah serius kalau kalian yang menderita berhati mulia dan mau menerapkan etika batuk sepanjang pengobatan berlangsung. 

Dan Mycrobacteria Tuberculosis yang mematikan ini, sebenarnya mati jika terkena sinar matahari langsung. So, jangan biarkan rumahmu kekurangan sinar matahari, semacam aku yang kurang perhatian dia ya!

Hari Tuberkulosis (TBC) sedunia

Bertepatan dengan hari TBC sedunia di tanggal 24  Maret, pemerintah mengingatkan kita sebagai warga masyarakat yang sama-sama bertanggung jawab mengeliminasi Tuberkulosis di Indonesia dalam berbagai event dengan cara menerapkan program TOSS.

TEMUKAN


Nah, langkah menemukan ini enggak bisa kita bebankan hanya pada pemerintah saja. Kita sebagai warga masyarakat harus punya kesadaran dalam langkah menemukan. Kenapa aku sangat bersikeras untuk sama-sama menemukan? Karena, tak semua warga Indonesia ini punya pengetahuan dan keilmuan yang sama. Bukan, bukan karena mereka lebih tidak pintar dari aku apalagi kamu, lah. Ini lebih karena mungkin informasi ini belum mendarat di telinga mereka, di sinilah salah satu tugas kita, menyebarluaskan.

Kalian tahu? Indonesia merupakan juara 2 jumlah penderita TBC di dunia. Ini jadi PR yang cukup berat ya, tapi bukan enggak mungkin kok Indonesia bebas TBC kalau kita rakyatnya mau ikut berpartisipasi aktif. Penderita TB bukan hanya orang-orang dengan kondisi ekonomi yang buruk loh, semua orang bisa terjangkit. Contohnya ada banyak loh tokoh-tokoh dalam maupun luar negri yang menderita TB.

Kalau kalian rajin nonton film ke bioskop, pasti kalian ngeh, bahwasanya BJ Habibie pernah menderita TB tulang saat sedang mengenyam pendidikan di Jerman. Atau, tentang Chairil Anwar yang harus mengakhiri hidupnya karena telat penanganan. Pasti kalian juga ingat kan, Jendral Soedirman yang harus memimpin perang dengan kondisi sedang menderita TB. Dan, masih banyak contoh para pesohor yang  tak bisa mengelak dari serangan TB ini.

Hari Tuberkulosis (TBC) sedunia
Chairil Anwar meninggal karena TBC.
Semakin cepat ditemukan, akan semakin mengurangi jumlah penyebarannya dan semakin cepat juga masa penyembuhannya. Kalau kalian sendiri atau orang di sekitar kalian mengalami gejala-gejala yang disebutkan di atas, segeralah ke RS atau Puskesmas terdekat, enggak perlu malu. Proses pengecekannya pun sekarang sudah semakin cepat dan mudah. Dengan metode TCM (Tes Cepat Molekuler), hanya dalam waktu 90 menit hasilnya sudah keluar, dan lagi-lagi saya ingatkan untuk biaya tes dan pengobatannya GRATIS, jadi jangan khawatir masalah biaya.

OBATI SAMPAI SEMBUH


Kenapa sih, kata sampai sembuh ini begitu ditekankan dalam pengobatan TBC ini? Karena memang banyak sekali penderita yang merasa sudah sembuh, kemudian berhenti minum obat sebelum waktunya. Mereka hanya merasa sudah mendingan bukan berarti sudah sembuh loh. Pengobatan TBC ini minimal 6 bulan, obatpun harus diminum rutin selama 6 bulan itu.

Jangan berhenti minum obat sebelum benar-benar dinyatakan, Mycrobacterium Tuberculosis di dalam tubuh sudah benar-benar tidak ada. Beberapa merasa badannya sudah enakan kemudian berhenti, ini yang harus dihindari. Bahkan, beberapa dari mereka akhirnya harus menyerah disebabkan tidak adanya dukungan dari orang-orang sekitar.

Penderita TBC ini sudah cukup menderita dengan penyakit yang dideritanya, dengan pemisahan segala alat hidupnya dari orang lain, mulai dari gelas, piring, bantal, guling dan lain sebagainya selama masa pengobatan. Belum lagi mereka harus memakai masker kemanapun mereka pergi. Terus, kalian mau ikutan menjauhi mereka? Semakin mengucilkan mereka? Membuat mereka merasa lebih baik mati saja? Dimana nurani kalian?

Kita tidak perlu ketakutan berlebihan kepada mereka, memang penyakit yang mereka derita sangat rentan menular, bahkan lewat udara sekalipun. Tapi, selama mereka menerapkan etika batuk, memakai masker, membatasi kontak seperti memisahkan barang-barang pribadi, mereka adalah sama seperti kita, manusia. Yang butuh “dimanusiakan” bukan justru dikucilkan, mereka butuh support dari kita, tugas kita adalah membuat mereka semangat untuk sembuh.

Bukti Nyata


Jangan terus-terusan memposisikan diri sebagai yang sehat saja, bayangkan kalau kita ada di posisi mereka? Apa yang kita harapkan dari orang sekitar kita? Seperti itulah kita harus bersikap kepada mereka. Aku enggak hanya asal bicara kok, teori ini aku dapat dari Bapak Edi.

Hari Tuberkulosis (TBC) sedunia

Siapa sih Pak Edi? Beliau adalah penderita TBC MDR (Multi Drug Resistence), yang perjalanan dengan TBC tak singkat dan tak mudah.

Di awal, saat ia masih menderita TBC Sensitif Obat, Pak Edi harus merelakan karirnya berantakan bahkan sampai ibu mertuanya memusuhi beliau. Saat itu ia masih punya istri dan anak-anak yang masih sangat mendukung. Sampai di tengah jalan pengobatan, istrinya yang paling memberi dukungan penuh harus pergi.

Hidup Pak Edi, yang awalnya mulai rutin meminum obat dan punya semangat untuk sembuh kembali berantakan. Ia tak kuasa menahan pedih, sampai akhirnya mulai gaya hidup tidak sehat lagi, merokok, minum minuman keras ditambah begadang setiap malam. Kondisinya yang mulai membaik, akhirnya berantakan lagi, bahkan setelah hidup yang berantakan, si TBC Sensitif Obat menjelma menjadi TBC yang lebih mengerikan, TBC MDR (Multi Drug Resistance).

Dalam keadaan seperti ini, Pak Edi merasa masih ada tujuan hidup, yaitu anak-anaknya. Beliau memulai pengobatan lagi, anak-anaknya dititipkan kepada saudaranya. Ia berjuang sendiri, bolak-balik RS, mengganti masker 2 jam sekali, rutin meminum banyak obat keras. Bahkan efek yang ditimbulkan obatpun tidak main-main. Pak Edi pernah mengalami halusinasi parah, sampai pernah hampir bunuh diri.

Beliau menjalani semuanya dengan semangat sembuh luar biasa. Ditemani sahabat-sahabat dari PETA (komunitas yang dibuat oleh para mantan penderita TBC, yang sudah sembuh. Guna menyemangati para penderita yang masih berjuang), selama hampir 2 tahun, Pak Edi menjalani pengobatan yang tidak mudah dengan sangat konsisten. Sampai hari ini, akhirnya  beliau sudah dinyatakan sehat dan bebas dari Mycrobacterium Tuberculosis.

Pak Edi mengingatkan pada kita semua, penderita TB juga manusia yang butuh “dimanusiakan”, bukan malah diacuhkan dan dikucilkan. Perjuangan mereka melawan penyakitnya sudah berat, jangan ditambah beban psikologis lagi. Dan, seluruh rangkaian pemeriksaan dan pengobatan untuk penyakit TB ini, GRATIS. Ayok, bareng-bareng kita TOSS, Temukan Obati Sampai Sembuh. Bukan hal tidak mungkin membuat Indonesia bebas TB. Salam TOSS, dan waspada pada batuk yang “bukan batuk biasa”.

Baca juga tentang Penyakit Anyang-Anyangan.
Sabtu, 17 Maret 2018, adalah hari yang cukup berperan dalam perubahan hidupku. Ini kali pertama aku akhirnya berkesampatan menghadiri acara temu 100 blogger dalam rangka BloggerDay 2018, BloggerCrony Community 3rd Anniversary di Ashley Hotel Jakarta. Bertemu dengan orang-orang positif tentunya akan memberi dampak positif dalam hidup seseorang. Pernah dengar tentang, berteman dengan tukang minyak wangi akan ketularan wanginya? Ini yang sedang aku upayakan dalam hidup, salah satunya dengan menghadiri acara ini.

Ashley Hotel Jakata

Pagi-pagi betul aku dan Miss Yun, sahabat, teman, kakak ―iya secomplicated itu hubungan kita―, akhirnya tiba di Ashley Hotel, yang terletak di Jl. KH Wahid Hasyim No 73-75 Jakarta Pusat. Kesan pertama saat memandangnya adalah, adem, ayem, mewah, ramah, hangat dan minimalis. Pertama datang kita akan disambut oleh hiasan huruf-huruf ASHLEY yang lebih besar dari sukuran badanku, jadi dijamin kalian enggak akan nyasar, apalagi hilang arah. Begitu masuk, keramah tamahan dari petugasnya langsung bikin jatuh cinta, kami yang bingung-bingung cantik langsung diarahkan menuju Ruang Meeting Downing di mana kemeriahan Bloggerday 2018 berlangsung.


Baru datang saja kita langsung dibikin betah, dengan aroma lemongrass yang mengisi setiap sudut ruangan tanpa terkecuali. Di depan ruangan sudah penuh dengan peserta yang sibuk menjemput croissant cantik yang ternyata juga endes dari Anns Bakehouse dan secangkir kopi atau teh.


Ashley Hotel Jakata

Persis di depan tempat daftar pengunjung, berdiri stand booth cantik, hijau daun dan rumput buatan, dengan lilin-lilin palsu ―seperti janji-janjimu― tapi tetap cantik, ditambah beberapa bunga-bunga putih segar. Sudah tidak sabar rasanya ingin segera berfoto. Maklum, aku ini bagian dari kaum millenial yang tingkat pamernya tinggi, Photobooth Alfa Kreasi ini enggak boleh dilewatkan dong buat stock foto instagram.

Ashley Hotel Jakata

Ashley Hotel Jakata

Ruang meeting Downing ini sejujurnya jauh melebihi ekpektasiku. Sejujurnya, aku cukup sering menghadiri berbagai event dan meeting-meeting kantor di hotel-hotel bintang lima sekalipun, dari kantor. Biasanya, aura ruang meeting itu selalu terkesan sumpek dan membosankan. Tapi, berbeda dengan ruang meeting di Ashley Hotel ini. Ruangan didominasi warna putih dan coklat kayu, dengan pencahayaan yang ciamik memberi kesan nyaman dan menyenangkan, ditambah aroma lemongrass yang niscaya membuat kalian merasa rileks. 



Acara dipandu oleh MC kondang dan kocak, Yosh Aditya. Orang ini kayaknya kelebihan stock energi, begitulah jadinya, terlalu lincah gerak dan ocehannya. Membuat acara di Sabtu pagi itu terasa begitu hidup ―berbeda dengan kondisi hatiku―.

Acara pertama adalah berbagai sambutan dari penyelanggara tentang acara BloggerDay 2018 di Ashley Hotel Jakarta hari itu. Mbak Yayat dan Mbak Wawa terlihat begitu antusias, yang sesungguhnya cukup berhasil menyuntikkan aura semangat ke dalam adrenalinku.

Setelah acara resmi dibuka, MC langsung memandu kami ke acara pertama, presentasi tentang Ashley Hotel oleh Bapak Fawzan Aziima  selaku Corporate Marketing Communication Manager. Bayangakanku, kita bakal dibuat mengantuk kemudian bosan. Tapi ternyata sama sekali tidak, Pak Fawzan menjelaskan semuanya dengan antusias dan menyenangkan. Setelah presentasi ini saya justru jadi teramat penasaran dengan “daleman” Hotel Ashley Jakarta ini.

Ashley Hotel Jakata

Hotel ini diklaim sebagai hotel dengan kamar terbanyak se-Wahid Hasyim. Kenapa ini jadi menarik untuk aku pribadi? Kebetulan, Jalan Sabang merupakan tempat yang belum lama aku kenal dan ternyata aku langsung jatuh cinta. Beberapa minggu belakangan aku jadi sering menyambangi Jalan Sabang sekedar untuk meeting komunitas atau ngopi cantik. Banyak tempat, yang masih ingin kuicip menunya di sana, dan tentunya harus bolak-balik Cibubur-Sarinah cukup memakan waktu. Jadi, ya tak ada salahnya staycation bersama teman-teman di daerah Wahid Hasyim, sepertinya Ashley Hotel akan jadi pilihan yang sangat tepat.

Ashley Hotel Jakata
Foto milik Ahley Hotel Jakarta
Aku agak rewel untuk masalah tidur di tempat baru, biasanya kalau enggak nyamanin ―kaya dia saat mulai posesif―, aku bakalan susah tidur dan ujung-ujungnya sakit. Kenapa aku yakin bisa nyaman di Hotel Ashley? Tentu, karena desain interior kamar yang pas di hati dan again aroma dan keramahan petugasnya jadi pertimbangan utama untukku.

Hotel ini mengedepankan istilah Broadband, Bed and Breakfast setiap tamu yang datang ke Ashley Hotel sudah bisa langsung terhubung dengan Wi-Fi tanpa harus repot-repot insert password dan layanan ini dapat dinikmati diseluruh area hotel. Paham sekarang kenapa Ashley Hotel membranding dirinya sebagai Hotel Bisnis, disamping ketersediaan kamar dan ruang meeting yang berlimpah.

Ashley Hotel Jakata
Aku juga sempat mengabadikan beberapa sudut Ashley Hotel yang cukup menarik. Untuk kaum millenial yang lagi-lagi hobby pamer macem aku gini, hotel dengan berbagai sudut yang instgramable seperti ini menjadi daya tarik tersendiri. Kalau kalian hobby kulineran, belanja, ada meeting kantor, butuh stock foto untuk akun instagram, butuh ketenangan, kekurangan perhtian ―loh―, Ashley Hotel Jakarta akan jadi pilihan yang tepat untuk menghabiskan hari dan beristirahat.


Aku juga sempat menyambangi Adele Dining Room yang nuansanya romantis-romantis asyik. Dengan lagi-lagi design yang top punya, restoran di dalam Ashley hotel ini jadi terkesan istimewa. Padahal, biasanya resto hotel dibuat biasa saja, tapi tidak di Ashley Hotel ini. Kan, aku beneran nyimak dan malah jadi tertarik, kemudian pengen pdkt ―ups, ini salah jalur mulai―, maksudnya pengen staycation di Ashley Hotel, denger presentasi Pak Fawzan.



Setelah presentasi dari Pak Fawzan, acara dilanjutkan dengan pengenalan beberapa produk berkualitas dari BCC BloggerPreneur dari produsennya langsung. Yang paling menyenangkan dai acara ini, selain materi dan tempatnya adalah berlimpahnya doorprise yang di persembahan oleh Ashley Hotel, BCC BloggerPreneur,   Markamari, Rejuve Skin Lab dan Sandeeva Spa & Reflexology.

Acara berikutnya adalah materi yang sangat menarik dari Pak Tuhu Nugraha. Workshop Digital Influencer dengan tema Fenomena & Strategi Kreatif berlangsung dengan sangat interaktif dan menyenangkan. Materinya sangat berbobot, sehingga menggerakan jempol saya unuk segera mengabadikan setiap materi lewat beberapa tweet di twitter, dengan signal terbaik dari Indosat Ooredoo.

Setelah dengan konsentrasi maksimal menyerap ocehan dari pakar digital, Tuhu Nugraha, tak heran jika cacing-cacing di perut mulai mengamuk. Untungnya, acara selanjutnya adalah Ishoma. Acara makan siang hari itu disponsori oleh tumpeng cantik dan uenaak dari  Lunch box Tumpeng Ayu Dapur Solo.

Ashley Hotel Jakata

Ashley Hotel Jakata

Selesai Ishoma, dilanjut dengan Workshop Creative Writing Mind Mapping oleh bapak gaul, Pak Anwari Natari. Materi mind maping jadi sangat meriah dan menyenangkan dengan cara penyampaian beliau yang interaktif dan seru.

Acara hari ini ditutup dengan Pemberian hadiah dengan nilai total 10 juta rupiah untuk Most Wanted Blog Award, Hadiah Live Tweet Competition, Hadiah IG Competition, pengumuman lomba blog, Lucky Draw dan Doorprize lagi.

Acara hari itu, Sabtu, 17 Maret 2018 sungguh tak bisa dilupakan begitu saja, terima kasih sangat banyak atas kesempatan ini saya haturkan kepada Bloggercrony Community, semoga ulang tahun ke-4 nanti aku di undang lagi ―ngarep―. Dan surprisingly, di sini aku berkenalan juga dengan hotel super nyaman dengan budget pas di mata, pas di hati dan pas di kantong, Ashley Hotel Jakarta. Kalau kalian butuh info lebih lanjut dari hotel ini kalian bisa menghubungan Pak Fawzan Azima di nomer kontak 0811-995-9075 dan e-mail mcm@primahotelindonesia.com.

Baca juga Kulineran di Cikini


Lomba blog Prive Uri-Cran
Prive Uri-Cran dan aku
Mungkin sebagian dari kalian merasa aneh dan bertanya-tanya, apa sih hubungan kamu ke si dia? Ups, maksudnya apa sih hubungan anyang-anyangan dengan  turun gunung. Seriusan deh, ada, malah berhubungan erat. Yuk, disimak hubungan mereka sejauh apa.



“Foto-foto lo bagus banget, Ti!”
“Ih, keren ya sering naik gunung.”
“Pemandangannya bagus banget ya, jadi pengen nyoba naik gunung.”

Statement di atas, hanya sebagian dari komentar iri dari teman-teman saat melihat foto-foto cantik oleh-oleh pendakian.  Sebagian selalu mengira naik gunung itu hanya soal gaya-gayaan menaklukan alam, upaya membuat feed instagram penuh dan keren, upaya mencari pengakuan dan berbagai pemikiran nyinyir lainnya. 

Rasa-rasanya jika tujuannya hanya itu, sayang sekali semua perjuangan sebelum, saat dan setelah pendakian. Beberapa mengira perjuangannya hanya saat berpeluh di jalur pendakian. Sebenarnya enggak hanya itu, dari sebelum mendaki, persiapannya saja sudah jadi bagian dari perjuangan. Lain cerita saat kita ingin berlibur ke pantai, persiapannya berupa belanja sunblock, topi cantik, kaca mata hitam dan lain sebagainya. Tapi, saat kita memutuskan untuk mendaki, yang harus disiapkan adalah jiwa, raga dan harta. 

Biasanya aku sendiri, pasti olah raga lebih keras menjelang tanggal pendakian, sebagai bentuk usaha agar tidak merepotkan di jalur nanti. Kemudian, tidak lupa minta doa restu orang tua, agar apapun yang akan terjadi nanti teriring doa mama di sana. Jangan ditanya lagi lah ya, kalau masalah perjuangan saat pendakian. Berpeluh dan nafas yang tersengal adalah bukti betapa perjuangan saat pendakian bukan perihal yang enteng, apalagi mudah. 

Prive Uri-Cran anyang-anyangan
Anyang-anyangan setelah turun gunung.
Lalu, setelah pendakian, mana ada sih perjuangannya? Entah ya, hanya aku saja atau sebagian kalian yang suka mendaki juga merasakan hal yang sama. Selama di perjalanan dari kota asal menuju basecamp, yang jelas tak pernah dekat, untuk aku yang tinggal di kota metropolitan ini. Jarak tempuh yang lumayan, dengan angkutan umum, entah bus atau kereta, memaksa kita buang air di toilet seadanya. Apalagi saat mulai berjalan di jalur, aku pribadi lebih memilih menahan pipis selama bisa ditahan, prinsipnya hampir sama kayak perasaan perempuan ya, paham kan.

Kalaupun, akhirnya kita terpaksa sudah enggak tahan pengin pipis, akhirnya semak-semak belukar jadi pilihan tempat yang dirasa layak. Maka dari itu, jangan heran kalau aku akhirnya selalu melakukan perjuangan setelah pendakian. Perjuangan sembuh, dari anyang-anyangan sepulang pendakian.

Penyebab Anyang-anyangan

Ini membuat aku penasaran, lalu kemudian cari tahu sendiri apa penyebab dari anyang-anyangan yang sering aku derita sepulang mendaki. Dari hasil kepo, ternyata beberapa point di bawah ini adalah jawabannya:

1.      Kurang mengkonsumsi air putih.
2.      Sering menahan buang air kecil.
3.      Toilet yang kurang bersih.
4.      Pakaian dalam yang terlalu ketat.
5.      Terlalu sering mengkonsumsi kopi dan minuman bersoda.

Sebagian point di atasa adalah penyebab anyang-anyangan , setelah mengetahui hal itu sekarang aku paham kenapa aku masih harus berjuang bahkan setelah turun gunung sekalipun.  Penyebab nomer 1 sampai 3 adalah yang selalu dengan sengaja atau tidak terjadi saat kita mendaki.

1.      Kurang mengkonsumsi air putih

Pasti jadi malas minum, mengingat persediaan air yang terbatas. Sayang banget kan, kalian capek-capek bawa naik air 3 botol, yang masing-masing  1,5 L, eh di atas hanya dijadikan teman pipis.

2.      Sering menahan buang air kecil.

Berhubung jarang ada toilet di jalur membuat kita malas bolak-balik pipis, akhirnya memilih menahan sampai tak bisa ditahan lagi. Lagi ya, males kan mesti belusukan nyari semak yang toiletable.

3.      Toilet yang kurang bersih.

Perkara toilet kurang bersih, bahkan kita pipisnya saja di semak-semak, sungguh tak pantas disebut toilet. Sekalinya ketemu toiletpun, sudah dipastikan toiletnya akan jauh dari kesan bersih, apalagi higienis.

Jadi, sangat wajar kalau anyang-anyangan selalu jadi oleh-oleh pendakian di samping foto-foto instagramable di atas.

Sebelumnya aku selalu menyepelekan urusan anyang-anyangan ini. Tapi sekarang, rasanya sudah tidak bisa lagi, setelah aku tahu bahaya yang berawal dari anyang-anyangan. Ini, ternyata merupakan cikal bakal dari Infeksi Saluran Kemih, dan girls perlu kita tahu, wanita lebih rentan terserang penyakit anyang-anyangan berujung Infeksi Saluran Kemih disebabkan oleh saluran uretra wanita yang ternyata lebih pendek. 

Semenjak mengetahui kenyataan buruk itu, aku menjadi memberi perhatian lebih tiap-tiap anyang-anyangan turun gunung ini menhampiri. Aku mulai browsing sana-sini, kira-kira obat apa yang bisa menyembuhkan, paling enggak mengurangi perasaan  ingin bolak-balik kamar mandi , demi pipis yang keluar setetes demi setetes, macam air mataku saat kau memilih dia.

Berkenalan dengan Prive Uri-Cran

Akhirnya aku menemukannya, Prive Uri-Cran. Aku yang tidak pernah bisa cepat percaya, disebabkan trauma karenamu. Aku memilih mencari tahu lebih lanjut cara kerja obat ini. Berdasarkan berbagai sumber, akhirnya aku mencoba meringkasnya dalam satu paragraf di bawah ini. 

PriveUri-Cran berisi banyak cranberry extract yang mengandung Proantocyanidin yang berperan sangat penting dalam mencegah bakteri E.Coli ―yang tidak lain tidak bukan adalah penyebab anyang-anyangan―  menempel pada dinding saluran kemih. Cara kerjanya, dengan membuang si bakteri jahat ini keluar melalui air kencing. Prive Uri-Cran ini juga, terbuat dari bahan-bahan alami yang aman bagi tubuh anak-anak, remaja labil, remaja stabil, dewasa, tua renta, sampai ibu hamil dan menyusui.

Di mana beli prive uri-cran
Sumber gambar dari FacebookFacebook
Oleh sebab penjelasan masuk akal dan aman tadi, aku dengan yakin selalu memilih Prive Uri-Cran sebagai sahabat dalam menghadapi si menyebalkan anyang-anyangan terutama saat turun gunung. Dan, syukurnya produk ini tokcer, mengingat kemampuannya yang efektif dalam menemani perjuanganku melawan anyang-anyangan. Terlebih lagi, tidak sulit untukku menemukan produk ini, hampir di seluruh Guardian, Century, Watsons dan Kimia Farma ketersediaanya melimpah.

Macam-macam bentuk Prive Uri-Cran

PriveUri-Cran sendiri terdiri atas 2 varian penampakan.

1.      Prive Uri-Cran dalam bentuk serbuk

Yang satu ini berbentuk serbuk, yang saat ingin merasakan manfaatnya kita perlu menyeduhnya terlebih dahulu dengan air mineral. Jangan bayangkan larutan coklat dengan rasa pahit yang kita rasa, semacam jamu serbuk. Justru larutan ini banyak yang doyan, karena rasanya  yang asem-asem nyentrik bikin kangen, warnanya pun pink ungu manis macam senyumnya. 

2.      Prive Uri-Cran dalam bentuk kapsul

Mewakili manusia-manusia super praktis, Prive Uri-Cran menghadirkan cranberry extract ini dalam bentuk kapsul. Tak perlu repot menyeduh di dalam gelas, kalian cukup lempar kapsul ke mulut dan tegak air putih, selesai.

Prive Uri-Cran mah gitu ya, pengertian. Ada terus saat aku butuh dia, baik tanpa meracuni. Kalau laki sudah kupacari dia. Memang sudah paling pas mengatasi anyang-anyangan dengan Prive Uri-Cran, alami dan menyembuhkan tanpa member efek samping apapun. Terima kasih Combiphar, sudah mengembangkan produk secanggih Prive Uri-Cran.

Dan, untuk kalian, yang masih cuek sama anyang-anyangan, tolong deh jangan lagi. Efek cuek ke anyang-anyangan lebih fatal dari pada efek cuek ke dia, serius deh. Kalian enggak mau kan, tiba-tiba harus menerima kenyataan sudah mengalami Infeksi Kandung Kemih? Mulai aware ya, mulai peduli sama setiap rasa yang menghampiri, termasuk anyang-anyangan ini. Dan, kalau kalian penasaran pengin cobain Prive Uri-Cran, enggak harus nunggu anyang-anyangan dulu kok. Prive Uri-Cran ini juga bisa digunakan untuk mencegah anyang-anyangan loh.

Sekian curhat panjang lebarku, tentang hubungan si anyang-anyangan dengan si turun gunung. Sudah paham kan sekarang,  sejauh apa hubungan mereka berdua. Salam bebas anyang-anyangan dengan Prive Uri-Cran. Selamat belanja, selamat mencoba, selamat menikmati, siap-siap ucapkan salam perpisahan ke anyang-anyangan.

Berjalan bersama mereka memang selalu mengejutkan. Ini berawal dari keinginan jalan-jalan di hari libur 17 agustus (enggak nasionalis jangan ditiru).

Rencana kami pun gonta-ganti terus pokoknya, dari ke Andong, Pahawang sampai akhirnya kita memutuskan ke Pari tanggal 18 Agustus, dikarenakan salah satu personel kita adalah abdi dalam negara (a.k.a PNS), jadi dia wajib upacara di 17 Agustus, jadi kami tak bisa berangkat tanggal 17.

Cikini, ada yang terlintas di pikiran kalian ketika mendengar tentang nama daerah ini?

Kalau aku, malah jadi keinget jaman kecil dulu, setiap weekend sama mama sering banget diajak naik kereta turun di Cikini, terus lanjut metromini ke Atrium Senen, ke tempat kerja mama. Dan, dalam ingatanku tak ada yang istimewa juga dari Cikini, hanya tempat turun kereta. 

Tapi, hari itu seorang teman mengajak ku menjajal jajanan khas Cikini, kalau bahasa yang lebih manisnya kulineran di Cikini. Kita tidak menyambangi banyak tempat, tapi dua ini cukup membuat kesan di lidah, dan rasanya sayang kalau tidak aku bagi ke kalian. Selayaknya aku yang menganggap Cikini hanya tempat persinggahan ―semoga hatiku tak seperti itu untukmu―, aku ingin kalian menggap Cikini lebih dari itu. Tempat berhenti, tempat kalian memuaskan lidah dan perut, tempat kalian menuntaskan rindu. Kenapa Titi selalu curhat tidak pada tempatnya, abaikan saja.

Bubur Cikini (BURCIK), H. Suleman


Bubur ini sesungguhnya adalah bubur Cirebonan, tapi dijual di Cikini, nama tenarnya BURCIK. Lokasinya, gampang sekali dicari, buat kalian para anak kereta macam aku. Dari Stasiun Cikini, kita tinggal jalan kea rah KFC terdekat, supaya enggak linglung karena da beberapa pintu di stasiun ini, kalian bisa tanya ke petugas, “Pak, pintu keluar arah ke KFC yang mana ya?”. Tentunya, harus dengan wajah manis, semanis gula-gula yang kau beri malam itu, semanis janji yang kau ucap setiap hari, sebelumnya akhirnya kamu memilih pergi meninggalkanku.


Lokasi tepat di samping KFC, kalau kalian berjalan kaki dari arah stasiun, sebelum KFC ya. Mudah sekali kan? Ancer-ancernya KFC yang warnanya merah itu, tahu kan? OK, saya yakin kalian tahu. 

Pertama melihat dari luar hanya ada satu kesan, penuh, ramai, sesak, padahal saya kesana sekitar jam 5 sore, bukan waktunya orang sarapan bubur, halah. Tapi, sebagai orang Indonesia asli, saya meyakini, tempat makan yang ramai orang pasti makanannya enak. Begitu saya masuk ke dalam, saya cukup sulit mencari kursi, tapi syukurnya ada yang baru selesai makan dan akhirnya saya bisa duduk dengan manis dan penasaran.

Dekorasi tempat ini kental dengan nuansa, tua. Sungguh, berasa sekali ini bukan bangunan baru, apalagi modern. Ada beberapa foto yang menunjukan sepasang suami istri pada jamannya, satu foto tak berwarna, satu lagi sudah berwarna seperti hari-hariku saat ada kamu.

Saat kalian pesan satu porsi BURCIK, si Pak Haji akan langsung bertanya satu hal ke kalian. 

“Kamu udah makan?”, eh ini mah chat dari si dia, maaf aku sedang tidak focus, halah.

Ini pertanyaan yang sesungguhnya, “Pakai telur mentah enggak?”, sejujurnya agak ngeri-ngeri sedap juga ditawarin telur mentah di tukang bubur. Tapi, berhubung saya orangnya kepo, saya iya kan saja akhirnya. Sebagai pelengkap makan sore ini, saya memesan es teh tawar, maklum saya sudah biasa diacuhkan, jadi terbiasa dengan yang tawar.

Tidak lama, seporsi bubur yang ditunggu datang juga, kebetulan makan siang saya kurang member kepuasan, saya langsung nafsu melihat semangkuk besar bubur Cikini yang fenomenal ini. Mangkuknya cukup besar, dibandingkan bubur di samping RNI yang saya makan setiap pagi. Begitu saya cicip, ini sungguh hambar persis seperti aku saat kamu tinggalkan. Aku tak melihat penampakan bumbu kuning seperti buburku setiap pagi, dan buburnya pun lebih encer. Mungkin ini sebabnya ada kecapmanis, kecap asin, lada, sambal lengkap hadir di setiap meja, untuk kita meracik kembali dengan cita rasa masing-masing.


Dan, tak kutemukan senyummu lagi pagi itu, eh maksudnya tak kutemukan kerupuk oranye atau kuning yang kalau ditenggelamkan ke bubur akan terasa nikmat tiada tara. Di sini, si Pak Haji menggunakan emping sebagai penggantinya, tapi dirasa cukup nikmat juga ternyata makan bubur pakai emping. Kemudian yang selanjutnya, aku mencari keberadaan telur mentah yang dijanjikan akan hadir. Dari pertama datang bubur ini hadir dihadapanku,  tak nampak ada telur ngambang-ngambang di permukaan. 

Ternyata, telur itu tenggelam, persis seperti aku yang semakin tenggelam dalam lautan cintamu, halah. Dia tersembunyi diballik emping-emping, suiran ayam dan bubur yang agak encer tadi. Aku pikir, aku bakalan geli melihat telur mentah dibuburku, tapi ternyata justru di sini letak kenikmatannya. Karena bubur ini relative encer, artinya kadar airnya cukup banyak, sehingga panasnya juga jangan ditanya, panas ngebul bahkan setelah hampir 5 menit di atas mejaku. Mkanaya enggak heran, kalau telur mentah yang ditenggelamkan menjelma menjadi telur setengah matang yang kenikmatannya tak dapat diungkapkan dengan kata-kata, tabik.

Dengan hati-hati aku mengagkat kuning telur yang masih bulat sempurna, kemudian mulai aku pecahkan, dan diseruput pelan-pelan, duh untuk para penikmat telur setengah matang pasti paham di mana letak kenikmatannya. Tapi, untuk yang enggak doyan, biasanya malah geli ya. Makanya, si bapak tanya dulu di awal, pakai telur mentah enggak?


Over all, aku suka dan bakal balik lagi makan burcik ini, rasanya berbeda dari bubur lain, isinya lebih banyak, mungkin disebabkan harga yang memang beda juga dibanding kompetitornya ya. Rasanya juga enak-enak bikin rindu, asepnya enggak habis-habis sampai suap terakhir, mungkin karena aku makannya kecepetan ya. Isiannya lengkap, emping, ayam yang banyak, dan ada sesuatu semacam cakwe, tapi kok kayanya bukan yah, lebih mirip roti, dan tidak terlihat sekering cakwe, ditambah metode membuat telur setengah matang yang tak aku lupakan begitu saja.

Es Krim Tjanang

Es krim jaman dulunya Cikini nih, siapa yang enggak kenal es krim ini, sejujurnya aku yang enggak kenal dan baru tahu sekarang, sungguh saya memang kurang bergaul di ibu kota, begini lah jadinya. Es krim ini hadir sejak 1951, bahkan saat Indonesia baru merdeka 6 tahun saja. Bahkan kabarnya, es krim ini sudah jadi langganan Bung Karno pada jamannya loh, gimana aku enggak tambah penasaran kan.


Es krim ini bisa kita temui di kafe di dalam Hotel Cikini, enggak jauh kok dari tempat makan bubur, kalian tinggal pesan ojek online dan tulis di map, Hotel Cikini. Sesampainya di hotel, kalian bisa langsung masuk ke dalam kafe, dan langsung bisa menemukan kotak es krim Tjanang di pojok ruangan.

Es krim ini diproduksi di daerah Tebet, kata mbak penjaga kafe yang cantik dan baik hati, bisa difollow instagramnya @sitirahmaa_27 kalau mau tanya-tanya lebih jauh. Menurut si mbak ini, es krim ini bisa dijual di sini dikarenakan si pemilik hotel yang masih merupakan kerabat dekat dari si pembuatnya. Tadinya, es krim ini dijual di kedai sebrang hotel.


Es krim ini punya banyak varian rasa, dari kopyor, durian, coklat, alpukat, nougat dan banyak lagi. Andalannya adalah rasa kopyor dan durian. Bahkan, saya sempat baca dari beberapa sumber si pembuatnya lebih memilih tidak usah produksi dibanding harus memakai kelapa dan durian yang kualitasnya kurang baik.


Harga dari es krim ini memang tidak bida di bilang murah, satu cup kecil dihargai 15.000, cup sedang (0.5L) 65000 dan untuk ukuran besar (1L) 80000. Tapi ini wajar, dibanding es krim pabrik yang sekarang menguasai pasar, es krim ini rasanya lebih rich, kalau untuk saya ya. Manis, lembut dan rasa dari tiap varian yang jelas pasti lebih kaya dibanding es krim pabrikan biasanya. Hal ini menjadi wajar setelah saya cari tahu lebih lanjut. Ternyata untuk membuat 1 kg es krim, bahan yang diperlukan kurang lebih 1L. Ini jelas sangat berbeda dengan es krim yang sekarang banya kita jumpai, wajar kan kalau harganya sedikit lebih mahal.



Yang kemarin saya coba adalah rasa kopyor, jangan tanya urusan rasa, enak pakai banget. Di dalamnya bahkan terdapat potongan kelapa muda yang membuat sensasi kopyornya semakin terasa. Teman saya pesan rasa Nougat,  ini juga tak kalah enak, di dalamnya terdapat serpihan rasa yang pernah ada, eh maksudnya serpihan kacang mede. Juara lah, rasanya kaya dan lembut juga kok. Khas, es krim jaman dulu, rasanya mantap, kalian para millenial, yang mengaku anak muda Jakarta, wajib main dan jajan ke sana ya!

Sekian report jajan saya di Cikini minggu lalu. Ternyata makan enak dan murah meriah enggak perlu jauh-jauh ya! Jakarta juga punya kuliner khas, ayo eksplore Jakarta lebih giat lagi. Kalian punya tempat makan favorite di Jakarta? Share di kolom komentar ya, siapa tahu saya bisa kunjungi juga.