Dinding rumah warga menuju Masjid 1000 Pintu. (Tangerang01)
"Mangga Brazil ini, Neng. Enak deh, boleh diicip dulu" Promosi gencar dari si bapak penjual mangga enggak jauh dari  Stasiun Tangerang, pagi itu 14 Januari 2018. 
 
Jadi, trip pertama saya di 2018 adalah bertualang di Tangerang, bersama Dede Ruslan sebagai Duta Wisata Tangerangnya anak KUBBU (Klub Buku dan Blogger) BPJ, yang syukurnya mau repot memimpin perjalanan hari itu. Grup WA sudah dibuat, hari dan tanggal sudah ditetapkan, kemudian hari H-nya pun datang juga. 

Pukul 07.00 pagi, saya sudah rapi, selesai dandan di depan cermin. Semua bekal sudah masuk tas, mulai dari payung ―mengingat sekarang musim hujan―, sampai buku bacaan, sepertinya Tangerang itu jauh, saya takut bosan di KRL. Walaupun saya sudah berusaha berangkat pagi, ternyata masih harus membuat Kak Yunita menunggu di Stasiun Manggarai. 

Setelah bolak-balik dan celingak-celinguk di peron 5, yang ternyata Kak Yunita ada di peron 4 ―pantes enggak ketemu-ketemu―, kami akhirnya bertemu. Beruntungnya, begitu kami berhasil saling menemukan, KRL arah Duri datang. Kami berdua tiba di Stasiun Tangerang sekitar pukul 10.30, kabarnya Bang Derus dan Bang Ocit sudah menunggu kami. Kami berjalan ke arah masjid yang terlihat jelas dari dalam Stasiun.

Sesaat setelah keluar stasiun, aku dan Kak Yun semakin mempercepat langkah, ya namanya juga ditungguin jadi harus buru-buru. Masjid mulai terlihat dekat, sampai tiba-tiba Bang De mengagetkan kami, ternyata mereka bukan menunggu tepat di Masjid, tapi di jalanan sebelumnya. Akhirnya kami berempat berkumpul, harusnya masih menunggu Kak Caca dan Bang Eka. Tapi, berhubung Kak Caca sepertinya masih tidur, dan Bang Eka bilang mau menyusul nanti, kita akhirnya memulai perjalanan di Minggu pagi yang sejuk itu berempat.

Pabrik Kecap SH

Penampakan Pabrik Kecap SH dari Luar. (Tangerang01)

Destinasi pertama, Bang De mengajak kita berjalan ke arah Pasar Lama yang terletak sangat dekat dari stasiun, kita tinggal jalan kaki saja. Nah, diperjalanan ini kita ketemu si abang mangga. Si abang yang baik banget, kita masing-masing  bahkan sempat diberi kesempatan  mencoba irisan mangga dengan cuma-cuma. Sejujurnya kita sangat berminat beli, tapi kita piker, nanti aja lah pulangnya, males kan jalan muter-muter Tangerang bawa kantong plastik isi mangga berkilo-kilo.

Tujuan utama kita bukan pasarnya, tapi pabrik kecap SH yang kabarnya terletak di area pasar. Setelah berjalan kaki kurang lebih 5 menit dari gerbang pasar, kita mulai menemukan tempat yang kita cari. Jadi, kenapa kita mesti ke sana sih. Kabarnya, kecap SH adalah kecap yang tidak diproduksi di tempat lain, hanya di Tangerang, dan hanya didistribusikan di Tangerang juga. Semacam, kecap khasnya Tangerang. 

Saya pikir awalnya, kami akan sampai di pabrik yang besar selayaknya industri FMCG lainnya. Ternyata tidak, yang kami temukan adalah sebuah gedung tua sederhana, berwarna biru muda yang catnya mulai terlihat pudar. Tempat produksi kecap yang kabarnya punya rasa yang berbeda ini, ternyata merupakan industri rumahan yang telah diturunkan turun temurun, dari generasi ke genarasi. Sayangnya, saat kami tiba di sana, pabrik ini tutup. Wajar sih, sekarang kan hari Minggu.

Masjid Pintu 1000 (MAsjid Agung Nurul Yaqin)

Penampakan Masjid dari Luar. (Tangerang01)

Setelah puas melihat-lihat bangunan tua Pabrik Kecap SH, yang cukup bikin penasaran karena cuma bisa dilihat dari luar, kami memutuskan ke tempat tujuan berikutnya. Bang De bilang, ini tempatnya enggak terlalu jauh, tapi juga gempor kalau jalan kaki. Akhirnya, kami berempat memutuskan menggunakan taksi online untuk menuju destinasi selanjutnya. Destinasi kedua ini, dari namanya cukup bikin penasaran, dan membuat kami berekspektasi berlebihan.

Destinasi kedua kami adalah, Masjid Seribu Pintu. Dalam bayangan saya, kita akan tiba di Masjid Maha Megah dengan banyak pintu. Setelah perjalanan kurang lebih 15 menit kami tiba di pinggir jalan masuk ke perkampungan penduduk. Jadi, judul trip ini adalah percaya saja sama Bang De. Tidak ada satupun dari kita bertiga yang insiatif untuk cari tahu sebelumnya. Aku heran sangat, saat Bang De bilang, "Iya, gue inget kok. Enggak jauh lah jalannya, masjidnya ada di dalam perkampungan ini.”

Kami dengan nurutnya mengikuti dari belakang, setelah jalan kaki hampir 10 menit, kok enggak sampai-sampai. Kemudian dengan polosnya Bang De nyeletuk, "Ini jalannya bener enggak yah? Ehmm, semoga bener deh ya." 

What? dia ternyata lupa-lupa inget, duh lah, tapi kami tidak melakukan apa-apa tetap manut jalan di belakang dia. Untungnya, setelah keragu-raguan tadi, kita sampai di Masjid yang dimaksud. Lagi-lagi, ternyata bukan Masjid megah, bahkan tidak nampak seperti masjid. Lebih mirip, pondok pesantren tua. Berada di jalan kecil perkampungan penduduk, Masjid ini sejujurnya dari luar tampak tak terurus. Ternyata Masjid ini terdiri atas 2 bangunan utama, sebelah kanan jalan merupakan Masjid utama, yang saat kita masuk kita akan ditemani oleh penjaga masjid yang membawa kita ke makam sesepuh Banten. Ternyata, ini tempat ziarah, semacam Mesjid Agung Demak. Di dalam semerbak aroma wewangian, dan sudah bisa kita lihat banyak lorong dan tempat-tempat bersekat. Awalnya, aku pikir ini yang disebut pintu seribu. 

Ternyata aku salah, bukan ini yang dimaksud dengan pintu seribu. Setelah kita selesai berdoa bersama di depan makam sesepuh Banten yang dipimpin oleh salah satu untadz penjaga Masjid Pintu Seribu, kami diminta menunggu di depan pintu di bangunan sebrang tempat makam. 

Sembari menunggu penjaga masjid yang akan membawa kita tur masuk ke dalam lorong “pintu seribu”, Bang Derus mulai menceritakan pengalam pertama dia mengunjungi tempat ini yang ternyata sudah beberapa tahun yang lalu, pantas saja Bang De lupa-lupa ingat jalan menuju masjid.

“Gue ke sini waktu itu sama temen, berempat doank. Jangan kaget yah nanti kalian kalau masuk ke dalem situ.”

“Kenapa emang, Bang?” , tanyaku saking penasaran.

“Nanti di dalem gelap banget gitu, terus ada banyak banget lorong-lorong. Gelap banget lah pokoknya. Udah gitu pas itu enggak ada yang ngingetin kalo di dalem tuh segelap itu. Jadi kita berempat kaget banget lah.”

Pintu Teralis Menuju Lorong. (Tangerang01)
Setelah cukup lama nunggu di depan pintu teralis yang masih dikunci, akhirnya penjaga masjid yang ditunggu datang dengan sebuah kunci di tangan dan tambahan rombongan dua cewek dan satu mas-mas bule. Awalnya, kami bertiga berniat langsung ngintilin rombongan itu, tapi tiba-tiba Kak Yun dapet kabar kalau Bang Eka sudah OTW dan sebentar lagi sampai ke lokasi. 

Akhirnya, kita memutuskan untuk menunggu Bang Eka. Lalu, kemudian yang ditunggu tak kunjung datang padahal kita sudah sangat penasaran dengan lorong gelap di depan kita. Dengan tidak sabaran akhirnya kita berempat mulai masuk ke dalam lorong.

Lorong Gelap Nan Sempit. (Tangerang01)

Lorong ini benar-benar gelap dan sempit, bahkan Bang De yang memimpin barisan kita sampai harus merunduk masuk ke dalam lorong. Ternyata di dalam lorong terdapat banyak sekali percabangan ke lorong-lorong berikutnya, jadi dalamnya persis seperti labirin yang punya banyak banget pintu. Ini ternyata yang disebut dengan seribu pintu, di sini lah makna dari Masjid Seribu Pintu. Di dalam lorong, sama sekali tidak ada pencahayaan, gelap gulita Jadi, masing-masing kami sigap dengan penerangan mode light dari ponsel masing-masing. Sekarang akhirnya kami mulai paham kenapa banyak banget penjual senter di depan masjid, pertanyaan mulai terjawab satu-persatu.

Bang De mulai menghentikan langkahnya, saat kami mulai menemukan persimpangan, petualangan dimulai.

“Eh, belok mana ini yah? Ehmm, ini ada kabel sih, ikutin aja apa yah. Seinget gue, di tempat doanya ada lampu yang pas mau mulai doa nanti dimatiin.” 

“Logis sih, Bang. Iya lah ikutin kabel aja kita juga udah terlanjur ketinggalan rombongan kan.” Aku mulai menimpali omongan masuk akal Bang De.

Kita berempat mulai menyusuri lorong gelap dengan berbasis mengikuti kabel, dan ternyata akhirnya kami tiba. Kalian tahu tiba di mana? Di pintu masuk tadi, sudah cukup mengesalkan ya. Akhirnya kita berempat tertawa geli, begitu sadar kita kembali ke titik awal.

Kita memutuskan kembali menunggu Bang Eka, dan syukurnya enggak lama kita nunggu sambil menertawakan kesok tahuan Bang De, si Babang yang ditunggu-tunggu muncul. Setelah formasi lengkap berlima, kami mulai kembali menyusuri lorong gelap, tapi kali ini rombongan di pimpin oleh Bang Ocit, di susul Kak Yun, Aku, Bang De kemudian Bang Eka. Kita berjalan menyusuri lorong dengan arah berlawanan dari yang pertama tadi. Sampai kemudian kita mulai sampai di lorong yang wangi luar biasa, dan Bang Ocit yang berseru sebagai pemimpin rombongan.

“Eh, runtuh nih lorong yang depan ini, enggak bisa lewat sini deh kayanya.”

Kemudian, di suasana super horor macam begitu, dengan kondisi lorong gelap gulita, yang semakin kita masuk  ke dalam semakin pengap, tiba-tiba ada suara bapak-bapak dengan nada super berat, “Salah! Bukan lewat situ.”

Awalnya kita berempat malah ketakutan, tapi untungnya Bang Eka melihat sosok si Bapak di lorong yang berbeda. Dan, akhirnya kami jalan menuju arah si Bapak, dan kemudian beliau menunjukkan arah yang benar. Sampai lah kita di lorong yang ujungnya terdapat ruangan yang cukup luas, tapi saat kami sampai, beberapa rombongan sebelum kami sudah mulai duduk rapi, sehingga lampu sudah mati, suasana gelap, hanya cahaya dari ponsel kami saja yang terlihat. 

Setelah kami duduk rapi, si Bapak yang memimpin doa mulai menyuruh kami mematikan ponsel, dan suasana mendadak hening dan cukup menegangkan. Saat cahaya mulai benar-benar tidak ada ―ini adalah gelap paling gelap yang pernah aku rasakan sepanjang hidupku― aku reflek mulai mencari tangan Kak Yun, dan Bang De, langsung bisik-bisik sambil memastikan keberadaanku.

Si Bapak memulai doa-doa, membawa kita merenungi dan merasakan beginilah nanti di alam kubur, sendiri, gelap. Kemudian mulai mengingatkan kita sudah cukupkah bekal kita untuk sampai di tahap itu? Aku pribadi, tetiba merasa sesak, mengingat kematian memang bukan sesuatu manis untuk dibahas, tapi harus selalu diingat. Demi membuat kita terus menabung kebaikan, melakukan persiapan, dan tidak terus jumawa dengan apa yang kita punya.

Suasana saat itu sangat pas untuk merenungi segala dosa yang rajin kita timbun, semua maksiat yang dengan sengaja kita banggakan, ini saat yang pas untuk kemudian kembali mengingat tentang taubat. Sungguh, aku tidak sama sekali menyangka bahwa ini akan menjadi perjalanan wisata religi yang menyentuh hati sedalam ini, menyentuh rasa sejauh ini, ini mengagumkan. 

Satu-satunya ruangan terang di labirin. (Tangerang01)

Selesai kita berdoa, sembari sedikit meneteskan air mata, mengingat dosa, mengingat mati dan menghitung seberapa bekal kita menuju mati, lampu mulai dinyalakan. Kita akhirnya mulai tahu bahwa di ujung lorong terdapat ruangan yang cukup luas dengan beberapa jeruji kecil yang sepertinya di balik tiap-tiap jeruji terdapat semacam ruangan kecil, entahlah bentuknya mirip penjara kecil.

(Tangerang01)

Selesai foto-foto di satu-satunya ruangan di dalam labirin seribu pintu, kita mulai menyusuri jalan keluar, lagi-lagi melewati lorong super gelap, super sempit dan super pengap. Perjalanan religi di tur Tangerang kali ini kita tutup dengan menyusur bagian luar labirin seribu pintu, yang ternyata seperti bangunan yang terlihat tak kunjung selesai dibangun. Masih berdinding batu bata merah, tapi justru ini yang menambah kesan tua dan ciamik dari Masjid Seribu Pintu ini. Begitu kita keluar dari labirin dan sampai di tempat tadi kita masuk, sudah terlihat banyak orang yang mulai mengantri masuk, padahal tadi saat kita baru datang sepi sekali, sampai sempat ragu, ini benar terkenal tempatnya?

Jalan Kampung Menuju Masjid. (Tangerang01)

Perjalanan kita belum selesai di sini loh! Setelah selesai dengan keseruan mengulik Masjid Seribu Pintu, kita kembali berjalan menyusuri perkampungan warga. Yang kita baru sadar, di sini kita merasa begitu jauh dari kesan perkotaan, berasa pulang kampung. Banyak ayam-ayam dilepas di sekitar jalan, bahkan kita sempat bertemu beberapa mentok yang cukup montok dan bikin gemas. Satu lagi, kita berhasil menemukan  graffiti Soekarno beserta tulisan teks Proklamasinya, tempat ini sungguh mengagumkan.

(Tangerang01)

Setelah berhasil keluar perkampungan penuh kejutan tadi, kami sampai di pinggir jalan yang saat kami datang terlihat sepi, sekarang sudah mulai terlihat tukang rambutan dan kelapa bulat. Tujuan kami berikutnya adalah, Bendungan Pintu Air Sepuluh, Dodol Ny.Lauw,  Rumah Makan Hj. Kokom dan Kampung Bekelir. Untuk lengkapanya sampai jumpa di postingan selanjutnya. Selamat jalan-jalan ke Tangerang, aku jamin kalian pasti bahagia, apalagi kalau jalan-jalannya sama dia yang tersayang.

Selamat pagi dari ketinggian sekian MDPL, di atas kursi empuk AirAsia X, 2 jam lagi menuju Osaka, Jepang. Pagi ini saat matahari malu-malu muncul di antara gumpalan awan aku terkesiap terbangun dengan muka bengep khas orang bangun tidur. Kalo kata lagu zaman old, waktu aku kecil dulu, "bangun tidur kuterus mandi, tidak lupa menggosok gigi". Tapi kegiatan ku pagi ini, bangun tidur oles-oles kapas penuh Bioderma, kemudian langsung dilanjutkan dengan meratakan  Shooting Gel Aloe Vera ke seluruh wajah
sumber dari YouTube
Ini ajaran siapa sih begini?? Ini adalah ajaran seorang beauty vlogger terheboh, ter-uwaw, terSuhaylah, siapa lagi kalau bukan Suhay Salim.

Google zaman now kalau kita ketik Suhay, pencarian pertama paling atas pasti bakal jadi Suhay Salim. Aku sendiri menggandrungi video-video dia sejak dahulu kala, sejak si mbak ini masih cuma sangat fokus sama eyeshadow, sejak followernya masih 1K, sejak kalau aku sebut namanya temen ku cuma  bilang "hah, siapa??", sampai sekarang disaat nama Suhay Salim mulai sejajar sama jajaran beauty vlogger yang lebih senior, macam Lizzie Parra.

Sebenernya apa sih yang membuat aku enggak bisa meninggalkan video-video Mbak Suhay ini?? Sejujurnya, aku ini bukan wanita yang sangat paham make up, apa lagi jago make up-an, sama sekali bukan. Cuma aku memang suka dan cinta sekali sama pengetahuan di dunia make up ini, menarik, ajaib. Saat muka orang bisa berubah hanya dengan teknik mewarnai kelopak mata. 

Hal yang paling ngangenin kalo Suhay lama meninggalkan layar YouTube, alias lama engga posting adalah, teriakan super alay, "Hellow wellcome back to my channel..", kemudian bla-bla dengan gaya ngomong dia yang macem orang sakau. 

Kadang aku sering nonton video dia lebih dari sekali di waktu yang sama, cuma karena di nonton pertama sibuk ketawa sama geleng-geleng doank liat kelakuan dia, baru nonton yang kedua lebih fokus dan khusyuk sama materinya, yang ternyata sangat penting tapi dibawakan dengan cara yang tidak penting. Kak Suhay, aku padamu. 

Suhay nih engga jarang banget mengakui ke"pintar"an dia dengan jujurnya, semacam, "yah si goblok..", kemudian garuk-garuk kepala dan minta maap, dan menjadi bagian yang paling ngangenin banget buat disimak, hahahaha.
 
Dari dunia eyeshadow yang warna-warnanya pas awal aku pikir enggak bisa dipakai, tapi malah jadi cakep banget di tangan dia, sampai kemudian banyak bikin one brand tutorial, beberapa kali isi vlog juga rada enggak penting, macem Q 'n A, apa aja isi tas dia, yang kalau kalian lihat pasti bakal kasihan. Kondisi tasnya Astaghfirullah, dan masih dipertahanin. 

Sejujurnya, aku sangat menikmati juga tiap-tiap video engga mikir dia, ini yang bikin aku sebagai penonton (sedih jadinya kalo sadar cuma penonton), langsung merasa jadi saudara, teman akrab, sahabat karib, saudara kandung dan bebagai pernyataan kedekatan emosional yang semacam itu. 

Suhay ini terbuka banget, jujur banget, apa adanya banget, ngangenin banget. Belakangan jadi makin cinta sama dia semenjak dia mulai mengeksplore dunia skin care, dari yang awalnya aku enggak tertarik sama sekali sama skin care, sampai sekarang aku jadi gadis-gadis rindu masker.

Hasil keseringan nontonin Suhay.
Aku yakin yang kena racun masker mbak ini bukan cuma aku, banyak pastinya. Terbukti dengan susahnya mencari masker Freeman di SG dewasa ini, berkat YouTube-er yang merangkap marketing Freeman tanpa bayaran ini. Aku aja yang enggak tahu apa-apa, yang belum kenal sebelumnya sama mas Freeman ini, sekarang tetiba jadi jatuh cinta, jadi obsesi ingin memiliki, halah. 

Usahaku untuk memboyong berbagai produk hasil racunan mbak ini juga tidak bisa terbilang mudah. Dari mulai segala acara nitip ke temen yang lagi ke SG, dengan terpaksa harus belanja online (padahal sejujurnya aku paling males belanja online), sampai beberapa aku harus beli pas liburan ke Jepang sama Korea ini. Padahal sebelumnya, tertarik juga enggak sama segala macam skin care yang menurutku harganya sering enggak masuk akal. Sebelumnya, aku lebih rela merogoh kocek dalam-dalam untuk make up, cuma belakangan prioritas mulai bergeser ke skin care, ini lagi-lagi karena kamu mbak.

Ditambah, segala racuracun ocehanmu itu juga ternyata work well di muka ku yang super sensitif kaya hati aku ini. Bahkan, hasilnya bisa banget nyaingin perawatanku di sebuah klinik kecantikan yang antriannya lebih mencekam dari pada nonton Film Pengabdi Setan sendirian malem Jumat, halah berlebihan si Titi ini.

Sampai sekarang masih sangat takjub setiap inget betapa Suhay mampu merubah dunia ratusan ribu anak gadis di luaran sana. Merubah hubungan mereka dengan puluhan macam masker, dari yang awalnya unfriend jadi in a relationship. Mbak Suhay, mulut mu itu loh, ratjun doenia.

Apa jadinya hari-hari aku tanpa video-video gila mu yang selalu ku tunggu. Mbak ini kalau ngomong emang suka agak gesrek, agak ngaco dan terdengar tidak meyakinkan, tapi sungguh tontonlah video dia saya berani jamin tetap memberi faedah untuk kesehatan wajah dan kesehatan jiwa.

Mbak Suhay terima kasih sudah mewarnai dunia kami, para wanita pecinta ocehan mu. Jangan berhenti ngoceh depan kamera kamudian upload di YouTube yah, aku padamu, aku untukmu, kalo viewermu cuma satu, itu pasti aku.