Merapi yang Baik Hati

Setelah badai semalaman.
Saat itu tepat pukul 2.00 dini hari, kita berlima tiba dengan selamat di Stasiun Solo Jebres setelah menempuh jarak lumayan jauh dari ibu kota dengan KAI Brantas yang berangkat dari Stasiun Pasar Senen jam 5.00 sore. Rombongan pendakian kali ini beranggotakan Yuan, Eja, Siska, Dinar dan aku tentunya. Sebagian dari kita memang belum saling kenal, Dinar yang engga kenal sama Eja Siska, dan aku yang juga baru kenal sama Eja Siska pas naik ke Gede Juli tahun lalu dan aku juga
baru kenal Dinar di Papandayan Februari tahun lalu. Beginilah pendakian, selalu menyisakan cerita dan sahabat baru. Tujuan perjalanan kita sekarang adalah Gunung Merapi, sejujurnya engga pernah sama sekali terbayang pengin kesini sampai tiba-tiba Desember lalu aku kepikir buat menyelesaikan 2M, Merbabu Merapi.
Stasiun ini sudah banyak sekali perubahan dari terkahir April tahun lalu aku kesini, dulu di luar stasiun engga ada tempat yang layak buat nunggu, apa lagi tidur-tiduran kaya sekarang gini. Aku inget, dulu si Yuan senderan lemah tak berdaya nunggu subuh di pelataran depan stasiun. Sekarang ada tempat nunggu yang sangat layak, jadi setelah diusir bapak security dari dalam stasiun kalian bisa leyeh-leyeh nunggu pagi di sini, tempatnya luas, bangku-bangkunya juga luar biasa banyak. Di sini, kita ketemu sama banyak manusia berkeril macam kita-kita ini, seperti biasa mata aku langsung ijo kalo liat yang begini, bawaanya pengin ngajak kenalan siapa tau bisa jalan bareng ke basecamp, kan lumayan mengurangi biaya patungan sewa mobil.
Setelah duduk-duduk engga faaedah sekitar 10 menit, aku mulai bergerak menghampiri rombongan di pojok kiri. Kebetulan hari itu cuma ada 2 rombongan lain di stasiun, mungkin karena ini bukan long weekend dan juga karena sudah mulai masuk musim hujan. Setelah kenalan, ngobrol basa-basi ternyata mereka engga bisa di jadiin temen barengan ke basecamp karena mereka mau ke Lawu bukan Merapi atau Merbabu. Akhirnya, aku lanjut bergerak ke satu-satunya rombongan yang tersisa di situ. Info dari rombongan inilah yang membuat kita galau tak terkira mau lanjut ke Merapi atau menerima ajakan teman baru untuk main ke Lawu.
Rombongan di pojok kanan ini ternyata bukan mau berangkat naik gunung, tapi mereka udah mau balik ke Jakarta dan mereka membawa berita buruk dari Merapi Merbabu. Mereka berangkat dari Jakarta dengan tujuan nanjak langsung 2M. Tapi, nasib berkata lain, mereka engga bisa ngecamp di Merapi disebabkan terjebak badai bahkan sebelum sampai di pos 3, akhirnya mereka langsung balik turun ke basecamp dan melanjutkan perjalanan ke Merbabu, kemudian terpaksa ngecamp di Merbabu sampai 3 malam demi menunggu cuaca bagus buat dapet sunrise cantik yang akhirnya jadi sia-sia karena sampai perbekalan mereka habis, Merbabu masih ditutup kabut tebal dan sesekali badai hebat. Pantes aja muka mereka kucel lesu tak berdaya, salut tapi mereka masih bisa pulang dengan selamat.
Setelah selesai ngobrol bareng mereka yang cukup malang nasibnya, kita berlima tetiba galau tak karuan, bingung luar biasa, yang tadinya sudah yakin mau ke Merapi tetiba jadi pengen ke Lawu. Akhirnya dengan drama berkepanjangan disertai dengan pertimbangan yang di logis-logiskan kita menetapkan keyakinan untuk tetap ke Merapi. Saat adzan subuh berkumandang aku bareng Eja nyari-nyari masjid sekalian belanja kekurangan logistik kita, sayur-mayur dan minyak goreng. Sekitar jam 7.00 pagi kita akhirnya berhasil ngelobi mobil untuk sampai basecamp New Selo dengan biaya 250.000, alias 500.000 pp.
Tepat pukul 10.00 kita sampai di base camp Merapi dengan penuh kebimbangan. Saat mulai memasuki kawasan Selo dengan jujur aku sampaikan, kita berlima kembali galau luar biasa dikarenakan Si Merapi Merbabu yang seharusnya terlihat berdiri gagah hilang tak terlihat sama sekali tertutup kabut tebal luar biasa. Kita bahkan sempet bilang ke bapak mobil elf buat nunggu kita sebentar, takutnya kita engga jadi naik, mau minta anter ke Solo atau Jogja aja buat jalan-jalan.
Sesampainya di basecamp kita langsung cari info apakah memungkinkan buat naik ke atas atau tidak, secara jalur pendakiannya saja tertutup kabut tebal disertai hujan rintik-rintik. Kita berlima coba untuk ngobrol bareng beberapa rombongan yang sepertinya nekat mau naik dan beberapa ranger Merapi. Hasilnya adalah, kita memutuskan untuk naik, tapi dengan catatan mengurangi bawaan, kita berniat tek-tok tapi tetep bawa satu tenda, kalu amit-amit nanti kita terjebak badai masih ada tempat berlindung. Tas keril yang tadinya penuh sesak akhirnya menjadi jauh lebih ringan, barang-barang kita titipkan ke basecamp, tapi kita tetep bawa sleeping bag dan perlengkapan pribadi secukupnya, cemilan, kartu poker dan segala hal-hal yang bersifat sunnah kita tinggal di basecamp.

Eja, Siska, Aku, Dinar, Yuan (kiri-kanan)
Sekitar jam 11.30 hujan yang sedari tadi mengguyur basecamp mulai berhenti. Kita berlima mulai bergegas untuk memulai pendakian. Sepanjang jalan sampai pos 1 kita ditemani kabut tebal, tapi syukurnya engga hujan. Kita berjalan cukup cepat, secara kita was-was juga mengingat seminggu terkahir kabarnya Merapi tidak absen dari hujan deras dan badai hebat. Sepanjang perjalanan menuju pos 2 kita mendapat teman-teman baru, yang bahasanya luar biasa aneh, kita sekarang sedang mendaki gunung di Jawa Tengah dan mereka malah asyik bercanda dengan logat kental Makassar, jadi berasa dengar radio Makassar. Mereka adalah 5 orang adek-adek mahasiswa Jogja yang asli Makassar, pantas saja kan.

Rombongan yang mulai menggembung jadi 10 orang
Kita yang awalnya berlima jadi menggembung bersepuluh, adek-adek ini luar biasa asik, rame dan supel, kehadiran mereka meramaikan pendakian kita saat itu.  Salah satu dari mereka hobby ngegombal pake puisi, terus yang lain hobby ngelucu, rame luar biasa mereka ini. Jalur Merapi via New Selo ini bisa dibilang asik-asik sedap, sepanjang trek di dominasi sama tanah liat, akar tanaman dan bebatuan yang luar biasa besar. Semakin kita ke atas, cuaca semakin cerah ceria, kabut bahkan perlahan mulai menipis, sampai akhirnya tiba di pos 2 kita mulai bisa melihat Merbabu berdiri dengan anggunnya tepat di depan mata, cantiknya tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, apalagi mengingat sedari tadi cuma kabut tebal yang kita lihat.
Di tengah lelah yang mulai terasa, secara dari tadi kita jalan luar biasa buru-buru karena memang niat awal kan mau tek-tok, pemandangan makin ke atas makin bikin engga mau langsung turun. Setelah 4 jam jalan terus dengan sangat sedikit istirahat, akhirnya kita sampai di Pos 3. Cuaca terlihat sangat baik dan hanya kabut tipis yang menemani, akhirnya kami bersepuluh memutuskan untuk bermalam di Merapi dengan catatan engga boros konsumsi, secara kan kita sangat mengurangi logistik setelah memutuskan tadi pagi untuk tek-tok.
Kita mendirikan tenda engga jauh dari pos 3, nanjak sedikit dari sini kita menemukan lokasi yang dirasa sangat stategis. Lokasi yang kita pilih ini pas berada di cekungan antara bebatuan besar, yang kita harap mampu melindungi kita dari badai yang bisa saja tiba-tiba datang kaya cinta, ehh.
Selesai mendirikan 2 tenda berhadap-hadapan bareng anak-anak makassar dan kita juga buat teras di antara 2 tenda dengan berpayung flysheet. Secara, kita engga jadi bawa 2 tenda untuk berlima, alhasil tenda kapasitas 4 orang warna silver merah ini mesti penuh sesak sama kita berlima, makanya kita bikin teras-terasan supaya engga engap di tenda semua kalau belum mau tidur. Saat kita mulai masak sambil bercandaan bersepuluh, ledek-ledekan, gombal-gombalan, tiba-tiba hujan mengguyur dengan deras tanpa ampun, disertai angin yang semilir-semilir sedap.
Kita sangat bersyukur, setidaknya saat hujan mengguyur, tenda kita sudah terpasang kuat, sungguh ini pasti karena doa ibu. Jangan naik gunung tanpa restu orang tua teman-teman, bahaya. Syukurnya hujan turun tidak terlalu lama, menjelang waktu Maghrib hujan mulai reda menyisakan genangan air di atas flysheet, yang dengan asyiknya kita jadikan air wudhu.
Setelah matahari mulai tak nampak, gelap malam mulai memeluk, kami memutuskan untuk tidur. Entah kenapa badan ini terasa lelah luar biasa, mungkin mental juga yang lelah menghadapi cuaca Merapi yang tak menentu, sama kaya hati aku. Sekitar jam 20.00 kita berlima mulai masuk sleeping bag dan atur posisi tidur sebaik-baiknya. Ingat tenda isi 4 kita paksa untuk 5 orang, jadi kebayang sempitnya kaya apa, belum lagi ditambah keril-keril besar yang ikut masuk.
Sekitar jam 10.00 malam badai mulai mengamuk, bahkan tenda kita yang sudah jelas-jelas terapit batu-batu besar masih goyang-goyang luar biasa. Selalu ada hikmah dari setiap perkara, termasuk dari tenda yang diisi penuh sesak ini. Karena tenda sangat penuh, kita berlima tidak merasa menggigil di tengah badainya merapi, ditambah lagi tenda kita juga engga roboh, lah iya orang penuh banget isinya, gimana mau roboh. Semalaman badai tak kunjung reda, sampai-sampai aku kehabisan rasa takut dan malah berubah ngantuk, aku tertidur pulas di temani badai Merapi.
Entah jam berapa badai semalam berhenti, tapi begitu pagi menjelang, sekitar pukul 5 pagi aku membuka tenda sudah kulihat anak-anak Makassar itu asik rebus air dan bahkan bikinin kita minuman hangat juga.
"Sudah bangun mbak, sini ngeteh-ngeteh dulu" sapa salah satu dari mereka, sambil menyodorkan segelas teh hangat.
Subuh itu begitu sempurna, langit Merapi masih dihiasi beberapa gemintang sisa semalam. Setelah menyeruput teh dari mereka, aku bergegas menunaikan ibadah, gelar trashbag bersih di samping tenda. Selesai shalat aku lihat teman-temanku satu-persatu mulai keluar tenda, menggeliat bahagia setelah tertidur pulas semalaman di tengah badai kemudian bangun dengan cuaca secerah ini. Setelah puas bermalas-malasan di tenda kita mulai cekrak-cekrek, naik ke batu-batu di sekitar tenda. Dari bebatuan ini pemandangan Merbabu terlihat dengan  sangat jelas ditemani awan-awan tipis disekitarnya di tambah semburat ungu oranye cantik dari sang mentari yang mulai malu-malu muncul. Ini sunrise paling bikin speechless, sunrise yang cantik luar biasa setelah kmrn pagi ketemu sama rombongan pendaki dari jakarta yang udah stay 3 hari Merbabu cuma ditemani kabut tebal.

Si Merbabu yang kemarin tertutup awan
Setelah puas foto di sekitaran tenda kita bersepuluh mulai bersiap menyambangi pos 4nya Merapi, Pasar Bubrah. Banyak pendaki biasanya mendirikan tenda di sana, tapi sebenarnya ini tidak disarankan karena Pasar Bubrah ini merupakan tanah lapang berpasir yang tandus tanpa pepohonan, bahaya kalo sampai ada badai, engga ada batu atau pohon yang bisa menahan angin kencang. Kita hanya berbekal kamera, air sedikit, roti sedikit dan engga lupa jas hujan. Jalur dari pos 3 menuju Pasar Bubrah ini adalah jalur Merapi yang ada dalam bayangan ku, tanah kering, pasir, kerikil dengan perpaduan batu-batu besar yang rapuh kaya perasaanku.

Mimpi apa pagi ini bisa berdiri lagi di atas awan
Jalurnya bikin deg-degan, tapi viewnya bikin mulut engga berhenti mengucap syukur, cantik luar biasa. Lautan awan di sebelah kiri disertai Puncak Lawu yang terlihat menyapa malu-malu, di sebelah kanan terlihat dengan jelas Gunung Merbabu berdiri dengan gagah, seperti tersenyum membalas rinduku pada sabananya. Pendakian menuju Pasar Bubrah ini sempurna, sunrise cantik, cuaca cerah, tanpa hujan, tanpa panas, sungguh masih sulit dipercaya kalau ingat kemarin pagi kita berdiri dengan khawatir di basecamp New Selo sembari memandangi kabut yang sempurna menutupi Merapi. Tidak sampai 1 jam kita bersepuluh            sudah sampai di Pasar Bubrah, awalnya ada beberapa dari kami yang pengin muncak walaupun sudah jelas dilarang. Saat beberapa dari kami mulai bersiap lanjut muncak, tiba-tiba kabut tebal turun, sangat tebal, sampai-sampai puncak Merapi yang tadi terlihat jelas seakan hilang ditelannya.
Akhirnya niat muncak pun disimpan jauh di lubuk hati yang terdalam, dan dengan hati-hati kita mulai turun kembali ke tenda. Perjalanan turun pun syukurnya tetap lancar tanpa kesulitan apa-apa, hanya sedikit ditemani kabut saja. Sesampainya di tenda kami mulai membagi tugas, sebagian dari kami mulai masak dan sebagian lainnya mulai packing.
Menu pagi ini spesial, nasi hangat, telur dadar, nugget dan sayur sop dengan bumbu bikinan mamanya Eja yang nikmat luar biasa. Selesai makan dan packing kita mulai berkumpul, awalnya mau langsung doa untuk turun, tapi malahan kita jogetan dulu dengan soundtrack lagu "Tahu Bulat", lagu dangdut yang dinyanyikan Lisa V. Kita jogetan dengan berbagai gaya, dari gaya amburadul sampai sok-sokan maniqueen challange. Setelah capek jogetan dan awan mulai mendung kita bergegas berdoa bersama sebelum kemudian turun kembali ke basesamp.
Sepanjang jalan balik ke basecamp kita bersepuluh engga berhenti bercanda, sampai-sampai rasa lelah entah ada dimana. Tiba-tiba saja kita sudah sampai di pos 1 dan kembali bertemu monyet-monyet gendut luar biasa. Semakin sering bolak-balik naik gunung, sekarang aku udah engga gitu panik kalau ketemu satwa liar macem gini, Malahan Eja sempet selfie bareng si monyet. Setelah puas istirahat, kita lansung lanjut turun, jalur turun cukup licin mengingat semalam sempat hujan. Aku bahkan sempat beberapa kali terpleset, tapi untung aku bareng teman-teman yang luar biasa cekatan nolongin.
Setelah 2,5 jam berjalan engga kerasa kita sudah tiba di basecamp New Selo dan baru banget kita sampai, tetiba hujan mengguyur dengan derasnya, syukurlah kita tepat waktu, alhasil di pendakian kali ini, yang di khawatirkan hujan, badai, basah, kabut, kita malahan engga kebasahan sama sekali dan lagi-lagi kita malahan dapet banyak foto dengan view super cantik. Setelah cukup leyah-leyeh, tanpa basi-basi kita pesen makan, antri mandi dan kemudian hubungin elf charteran kemarin pagi. Dan beberapa logistik dan cemilan yang kemarin kita tinggal di basecamp akhirnya kita hibahkan ke adik-adik Makassar, yang katanya anak kostan yang pastinya seneng banget dibekelin nugget, sosis, kopi, teh, mie instan dll. 
            Setelah selesai packing, dan mobil sewaan juga sudah datang kami berlima mengucapkan salam penuh cinta semoga bisa bertemu lagi ke adek-adek Makssar yang pastinya bakal bikin kita kangen. Mobil elf pun melaju dengan lancer tanpa macet, andai Jakarta kaya gini. Kita sampai stasiun tepat 30 menit sebelum kereta tiba. Kita bahkan sempet beli nasi bungkus ayam penyet buat di kereta yang ternyata rasanya super endes. Kereta tiba tepak waktu dan akhirnya kami harus kembali ke Jakarta, kembali hidup dengan kenyataan.
            Sampai detik ini masih engga percaya, di tengah cuaca Merapi yang labil di Januari itu, justru aku mendapatkan view yang luar baisa cantik, ditambah lagi kita pun selalu terhindar  dari hujan. Pantaskan kalau aku sampai menjuluki si Merapi di Januari ini dengan sebutan Merapi yang baik hati. Kurang baik apa coba, di tengah minggu-minggu penuh badai dan hujan, dia masih mau menunjukan pesona nya pada kami yang jauh-jauh berkunjung.


3 komentar:

  1. Aaaaa keren bangett.. Jadi kangen suasana pasar bubrah

    BalasHapus
  2. Pengin lihat area pasrah bubrah yang banyak dibicarakan orang katanya pasar gaib .....
    Apa memang scarry ?

    BalasHapus