Dibalik Foto Cantik Gereja Gothic Sayidan, Hidden Castle di Jogja (Tempat Wisata Baru di Jogja)

Januari 05, 2018

Aku dan Gereja Gothic, istana tersembunyi di sudut Jogja.
Awal tahun 2017, aku putuskan untuk membuka tahun dengan melakukan pendakian ke satu Gunung di Jawa Tengah yang sudah menjadi resolusi sejak tahun sebelumnya, Gunung Merapi. April 2016, aku bertiga  Leni dan Yuan nekat mendaki Merbabu  tanpa guide dan porter (jangan dicontoh), padahal kami bertiga belum ada pengalaman naik gunung yang seserius ini. Dengan modal nekat, akhirnya kami bertiga dengan gagahnya bisa berdiri tegap di Puncak Kenteng Songo. Begitu turun
dari puncak, kami disuguhi pemandangan cantik puncaknya Merapi. Kemudian aku akhirnya merapal dalam hati, “Kok cantik sih Merapi, aku harus ke sana, secepatnya!”.

Ternyata, aku baru bisa ke Merapi di Januari 2017, berangkat dari Jakarta  berlima kemudian di Merapi seru-seruan bareng  5 anak perantauan dari Makassar yang kuliah di Jogja  dan baru kita kenal di jalur pendakian. Jadi, personel pendakian dari 5 orang menggembung jadi 10. Nah, di sini lah aku pertama kenal geng Makassar ini, dan kemudian menjaga silaturahmi sampai sekarang.
Pertengahan 2017 ini aku bareng Siska, Eja dan Leni sempat main ke Jogja  dan mereka  mau dengan repotnya nemenin dan anterin kita 3 hari 2 malam keliling Jogja, makin-makinlah kita akrab dan sayangnya sama mereka, adik-adik Makassar yang paling baik hati, eaaa

Dan sebenarnya, selain baik hati, mereka juga seru dan nyenengin banget.  Siapa aja yang akhirnya kenal dan deket sama mereka dijamin bahagia dan enggak bisa berhenti ketawa.
Makanya, gak heran kalau saat moment aku pulang ke Kutoarjo aku sempet-sempetin buat ketemu mereka di Jogja. Kamis, 28 desember 2017, aku akhirnya bisa jalan bareng mereka lagi. Syukurnya, aku masih bisa ketemu mereka semua hanya sayangnya minus Opal,  walaupun waktunya pisah-pisah.

Jam 11.30, Malik sama Aan dengan baik hatinya repot-repot jemput kakak ini di kosan adek ku yang kebetulan tidak sberapa jauh dari kosan mereka.
Pertama ketemu  mereka langsung tanya, “Mau kemana ini kita kaks?” dengan logat Makassaran yang khas, ini yang paling aku kangenin dari mereka.
“Kemana yah? Ehmm.. ke istana-istanaan yuk, yang ada di IG yang ini nih”, ucapku semangat sambil kasih unjuk  foto di IG @infojogja.

sumber foto dari accoun IG @jogjainfo

Bisa lihat sendiri kan, keren gitu fotonya. Kemudian si Malik akhirnya melontarkan tanya dengan muka yang aneh , “Mbak, serius mau kesini? Ini sih cuma kaya reruntuhan bengkel gitu loh.”

Dan, aku yang kepala batu ini tetep keukeuh mau kesana. Setelah berjalan lumayan lama sekitar 20 menit, sampailah kita di suatu lapangan luas. Ehmm, enggak bisa disebut lapangan juga sih, pokoknya penampakan tempatnya persis gambar di bawah.


Kalian lihat sendiri kan, ini beneran macam bangunan yang baru banget diruntuhin. Banyak puing-puing berserakan, debuan, pasiran, parkiran. Nah, dari jalan enggak jauh dari lampu merah Sayidan kalian sudah bisa lihat penampakan bangunan seperti mantan gereja dengan arsitektur Belanda yang sangat kental bahkan jadi lebih mirip istana bergaya Eropa.
Gereja ini juga sudah terlihat sangat tua dan dalam masa renovasi juga, jadi hanya bisa dipandang tapi tidak bisa dikunjungi. Jujur, pertama sampai ada rasa semacam, -duh, mau jadi berhenti enggak yah. Tapi, nanggung udah keburu sampai-.

Akhirnya, kita memutuskan untuk parkir motor di tempat reruntuhan itu dan meniatkan untuk tetap berfoto ria macam remaja-remaja tanggung kota Jogja yang sedang sibuk memadati tembok pembatas antara lapangan puing dan Gereja. Setelah beres parkir motor, kita iseng  ngobrol sama tukang parkirnya. Dengan sangat kebetulan juga dia terlihat sangat bersemangat cerita tentang spot baru ini, kurang lebih begini ceritanya.
“Ayo mbak foto-foto aja dulu nanti bayar parkirnya belakangan.”
Do'i dengan semangat bantuin kita parkir. Oia, FYI juga, lapangan ini hanya bisa dipakai parkir motor, mobil gak akan bisa  masuk sebab pintu gerbang yang sempit. Jadi, saran saya kalian coba cari tempat sekitaran sini untuk parkir mobil, kemudian jalan kaki ke spot foto ini.

Tapi, yakin sih kalau kalian bawa mobil pasti akan sangat malas untuk bela-belain ke tempat ini. Dari luar keliatan gak banget dan sangat malesin, Cuma saya bisa jamin saat kalian bermain-main dengan lensa fix kamera DSLR di tempat ini kalian pasti gak nyesel sudah mau repot-repot berhenti dan panas-panasan di puing-puing ini.

Lanjutlah yah, saya akhirnya turun dari motor dan iseng tanya ke si masnya, “Mas, itu yang kaya istana itu apaan sih?”.

Si masnya rapihin handuk kecil di pundaknya, kemudian jelasin panjang lbr sambil tangannya gak lupa nunjuk-nunjuk ke bangunan instagramable di ujungkanan sana. “Nah mbak,  itu dulunya gereja dan yang punya orang Jepang. Tapi, sudah sangat lama gereja itu ditinggalkan pemiliknya, dan kemudian gak difungsikan lagi. Nah, tempat sampeyan parkir ini beberapa minggu lalu masih bengkel mbak, makanya dulu jarang ada orang  yang tau ada bangunan bagus buat foto di belakang bengkel ini. Setelah bengkel ini dirubuhin, mulai banyak yang datang buat selfie. Akhirnya kata yang punya bengkel, sudah itu dikelola coba, uangnya nanti dimasukkan ke kas pemuda sini. Nah, kenapa itu mirip arsitektur Belanda, yah karena memang yang bikin orang Belanda mbak. Gereja ini disebut Gereja Gothic, karena tempatnya yang memang tersembunyi, gak dipinggir jalan, gitu mbak.”

Setelah lelah denger masnya cerita tentang tempat ini, kita bertiga langsung gerak cepat cari spot untuk bergaya dan berfoto. Teriknya matahari siang itu, sama sekali tidak memadamkan semangat kita untuk bergaya di antara sisa-sisa puing.

Saya kebetulan bukan orang yang mudah percaya, saya mencoba mencari lagi informasi tentang Gereja Gothic ini di mesin pencarian kenamaan. Apa yang saya dapat? Cukup jauh berbeda dari cerita si mas tukang parkir siang itu. Menurut info yang cukup simpang siur, bangunan ini ada yang mengatakan bukan gereja tapi hanya rumah hunian. Pemiliknya warga keturunan Tionghoa, awalnya memang ingin di jadikan gereja mengingat di bagian depan bangunan ini terdapat patung Yesus yang sangat besar, ditambah lagi adanya salib di ujung-ujung atapnya. Tapi, katanya kesulitan dalam mendapatkan izin pada masanya, sehingga dijadikan rumah singgah. Sudah lebih dari 10 tahun terakhir bangunan ini kehabisan masa ijinnya, dan saya dengar juga sudah jadi aset pemerintah.
Bangunannya sebenarnya belum berumur ratusan tahun juga sih, tapi sudah terlihat sangat tua karena warna cat yang sudah tidak lagi putih dan banyak terdapat tumbuhan liat di dinding-dindingnya. Pintunya terkunci rapat, maka sudah dipastikan kita tidak bisa menerobos masuk ke dalam. Tapi, saya lihat kemarin mulai ada pengerjaan pembangunan, mungkin pemerintah akan resmi menjadikan gereja ini sebagai salah satu cagar budaya di Jogja. Sekian informasi yang bisa saya bagikan perihal bangunan cantik serupa istana di Eropa yang nyempil di Jalan Sayidan, Jogja.

Foto di bawah ini adalah beberapa foto yang menurut saya layak untuk di upload ke account instagram saya @purwati_titi, jangan lupa di follow  yah, halah malah promo. Kece dan ciamik kan, dan dibalik foto-foto kelas macam itu ada adek Malik yang sudah mau repot jongkok-jongkok sampai pegal, ditambah perjuangan kita yang harus menahan sengat terik matahari siang itu, dan debu-debu puing  yang bertebaran tanpa ampun. Puji syukur kita panjatkan kepada Allah SWT, karena nikmat dan rahmatnya sesi foto ini beberapa kali diberi cuaca yang  teduh tapi tidak hujan, yang menambah khasanah warna langit di hasil jepretan siang itu.

Malik, man behind foto-foto cantik hari itu.

Pelajaran berharga yang kita dapat dari artikel ini adalah, tidak semua yang terlihat mevvah dan wah di IG seindah yang terlihat. Jadi, tidak perlu banyak iri dan dengki sama foto –foto kece teman-teman kita di IG. Jangan juga baper liat postingan orang lain, dan yang terpenting satu lagi pelajaran berharganya, tidak ada hasil maksimal tanpa usaha dan susah payah dibaliknya. Sekian dan terimakasih, sekedar info setelah puas berfoto di sini, kita melanjutkan melihat wajah baru alun-alun utara Jogja. Untuk cerita lengkapnya, nantikan di postingan selanjutnya.









  • Share:

You Might Also Like

0 komentar