Setelah badai semalaman.
Saat itu tepat pukul 2.00 dini hari, kita berlima tiba dengan selamat di Stasiun Solo Jebres setelah menempuh jarak lumayan jauh dari ibu kota dengan KAI Brantas yang berangkat dari Stasiun Pasar Senen jam 5.00 sore. Rombongan pendakian kali ini beranggotakan Yuan, Eja, Siska, Dinar dan aku tentunya. Sebagian dari kita memang belum saling kenal, Dinar yang engga kenal sama Eja Siska, dan aku yang juga baru kenal sama Eja Siska pas naik ke Gede Juli tahun lalu dan aku juga


Selamat siang dari riuh deru mesin bus kota yang penuh sesak, berbagai aroma lelah bercampur jadi satu. Saat suasana kurang asyik seperti ini, seorang teman berbicara tentang Brownies Cinta asal Karanganyar, Solo. Dasar memang aku yang gak bisa diajak ngomongin makanan, langsung OTW searching di hashtag instagram. Sudah bukan rahasia umum anak muda zaman now, lebih suka searching lewat Instagram.
Hubungan ku bareng Mama  memang mungkin bukan yang paling romantis, bukan yang paling penuh haru dan bukan yang paling layak dielukan. Bisa dibilang, aku sempat sangat tidak akur ke Mama, yang jelas bukan karena gak sayang, hanya mungkin kurang  akrab saja, jadi kaku, jadi bingung sendiri kalau mau ugkapkan cinta, helah.
Maksudnya gimana sih, kenapa bisa begitu?

Dari umur 6 bulan aku sudah lepas ASI, sudah disapih dan tinggal jauh dari Mama. Orang tua ku tinggal di Jakarta dan aku tinggal bareng Nenek Kakek di Kutoarjo, Jawa Tengah. Tapi, saat umur 4 tahun aku balik ke Jakarta tinggal bareng Mama. Untuk alasannya, karena nenek ku sangat berhasrat merawat cucu dari Mama, jadi saat umur 4 tahun aku ditukar, adek ku yang saat itu masih usia 2 tahun dirawat di kampung, gantian. Saat kelas 3 SD aku tukeran lagi, dan aku balik tinggal bareng
Aku dan Gereja Gothic, istana tersembunyi di sudut Jogja.
Awal tahun 2017, aku putuskan untuk membuka tahun dengan melakukan pendakian ke satu Gunung di Jawa Tengah yang sudah menjadi resolusi sejak tahun sebelumnya, Gunung Merapi. April 2016, aku bertiga  Leni dan Yuan nekat mendaki Merbabu  tanpa guide dan porter (jangan dicontoh), padahal kami bertiga belum ada pengalaman naik gunung yang seserius ini. Dengan modal nekat, akhirnya kami bertiga dengan gagahnya bisa berdiri tegap di Puncak Kenteng Songo. Begitu turun