Kebetulan akhir tahun lalu, aku berdua sahabat ternyebelin tapi ngangenin, si Leni Frebriayanti akhirnya berhasil menintaskan 1 mimpi buat jalan berdua yang lama. Bener aja lma banget, 2 minggu tepat kita traveling ke Jepang dan Korea. Untuk semua detailnya aku udah banyak nulis kok, dari mulai visa jepang, visa korea, ittenerary perjalanan, hari pertama dan kedua juga sudah done aku bagi di blog kesayangan ini.



 

Zaman sudah berubah, begitupun anak mudanya, begitupun kamu, eah. Kalau zaman Milea dan Dilan, cukup telpon koin dan bisa kring sudah bahagia. Tapi sekarang, mana cukup kan? Sekarang zamannya segala informasi didapat dengan sangat cepat dengan koneksi internet yang tanpa lag, lancar jaya kayak di jalan raya jam 3 pagi.


Berhubung saya bukan penipu apalagi pembohong, jadi kali ini saya akan menepati janji ke kalian.  Setelah postingan sebelumnya saya ngoceh-ngoceh tentang berbagai Sushiyang pernah saya jamahi, sekarang saya mencoba membahas yang paling membuat saya takjub dan wothed dari sekian banyak tempat.


Selamat berjumpa setelah cukup lama tak saling sapa, hai kalian pengunjung blogku yang entah seberapa setianya. Maafkan aku yang sok sibuk dan sok laris ini. Iya, jadi begini, kenapa sekarang Mbak Titi agak jarang posting?


Kalian pernah merasa bosan setengah mati? Iya, bosan dengan rutinitas yang terus menjebak. Ingin pergi tapi tak mungkin, ingin lari dari rutinitas ini, tapi kita hidup dari sini.

Siapa bilang harus benar-benar pergi, seperti dia yang pergi sejenak lalu datang kembali, seperti itu kita bisa meninggalkan yang terlalu membosankan ini. Hari itu, aku dan sahabat terbaikku, terbaik bukan karena kita selalu akur tanpa tengkar, salah. Kalian tahu? Kita berdua adalah pribadi yang terlihat sama dari luar, tapi nyatanya sangat berbeda di dalam.


Banyak yang bilang, “Kalian kembar ya? Atau saudaraan? Kok mirip dan kompak banget?”

Ditambah lagi list perjalanan yang selalu kami lakukan bersama, list cerita yang kami buat pada hari-hari yang seru ini. Tapi, sebenarnya kami tak semirip itu, tak selalu sepemahaman. Aku yang keras ditambah banyak gaya, dan dia yang lebih keras plus banyak mikir. See? We are totally different.

Satu yang membuat kita selalu jadi akur, saat kami mulai punya mimpi baru untut liburan. Mendadak akur dan cocok, mendadak satu visi misi, semendadak itu.

Sepulang perjalanan panjang Jepang-Korea di akhir 2017 lalu, kita berdua belum ada rencana perjalanan jauh lagi. Entah, mungkin memang sempat muak jalan-jalan, sesaat setelah kepulangan kami 2 minggu ngebolang di negri orang.  Tapi masa-masa bosan dan muak itu sudah berganti, sekarang aku mulai ngebet jalan jauh lagi, ngebet liat lautnya Indonesia Timur sana.

Aku iri liat foto-foto selfie sama biru bening laut Indonesia Timur. Aku memang kebetulan bukan fans besarnya laut lepas, tapi aku cukup jatuh cinta sama pasir putih dan air bening, yang konon katanya Indonesia Timur banget.

Sejak Maret ini aku sudah menjadi sangat ngiler setiap lihat postingan intagram dengan tagar lombok, east Indonesia, terutama Gili Trawangan. Sejak saat itu juga aku mulai berisik ngomongin rencana jalan-jalan ke Lombok ke teman akrab, travelmate, rival abadi, kakak beda ibu-bapak ini.

Dia mulai menyerah dan akhirnya mengiyakan. Kalian tahu? Dia begitu beruntung, mengingat beberapa kali bisa terbang bolak-balik ke Timur Indonesia dengan alasan pekerjaan. Nggak seperti kerjaanku, yang paling mentok bikin aku terdampar di Singapore beberapa hari.

Aku dan dia bukan orang yang mau ribet, apalagi susah, zaman sudah mendukung untuk menjadikan semuanya lebih ringkas, termasuk urusan jalan-jalan ini. Aku berdua dia, belakangan tak punya banyak waktu yang bisa kita habiskan bersama. Ditambah aku yang belum lama pindah kerja, membuat jarak diantara kita makin jauh. Membuat kesibukan dengan berbagai elemen pendukung didalamnya membuat jarak jadi terasa makin jauh.

Tapi, bukan kita namanya kalau terpaksa harus menyerah, bukan gaya kita banget deh. Aku berdua dia tetap berisik di chat setiap mulai punya rencana jalan-jalan, lepas sejenak dan rutinitas yang memisahkan kita.

Aku mulai membuat list panjang berbagai tempat cantik di Lombok yang sangat mungkin kita nikmati dengan motoran berdua. Kebetulan kita berdua bukan termasuk manusia-manusia yang akan pasrah dengan ittenerary dari travel agent. Mungkin, kita memang tidak ditakdirkan untuk menjadi pelanggan setia mereka.

Kita cukup hobi repot dan ribut-ribut untuk urusan jadwal perjalanan, penginapan sampai tarnsportasi ke, dari dan di tempat yang kita tuju. Seperti hari itu, saat kami dengan semangat terlalu berlebihan mulai melakukan listing disertai ribut-ribut manja.

Bersyukur kita hidup di zaman, saat kita butuh informasi akan jadi semudah, ambil smartphone, buka google dan ketik kata kunci dari info yang kita butuh. Seperti hari itu, saat kami dengan asyik berselancar di dunia maya perihal tempat asyik dan wajib dikunjungi di Lombok.

Dan entah kenapa, ini nama Gili Terawangan begitu seliwar-seliwer diperbincangkan di setiap artikel dengan kata kunci wisata Lombok. Seperti memang sudah ditakdirkan berjodoh, aku merasa punya daya tarik menarik dari entah medan magnet sebelah mana dengan Gili Trawangan ini.

Dari awalnya Lombok, aku mulai mempersempit pencarian ke Gili Trawangan. Saat kami fix, jatuh cinta dengan gambar-gambar yang berseliweran di Google dan berbagai media sosial, aku mulai mempersempit tujuan.

Kita memang paling senang dibuat seru ke berbagai hal begini, setelah ittenerary rampung, disertai persetujuan dari kedua belah pihak, dengan keikhlasan yang hakiki untuk saling menemani ke tempat-tempat yang sudah dipilih bersama, berikutnya adalah masalah transportasi dan penginapan.


Dari entah berapa purnama yang lalu kita berdua adalah pengabdi Traveloka untuk urusan akomodasi, dari mulai tiket pesawat, kereta sampai urusan booking hotel. Seperti hari itu juga, kita berdua mulai sibuk pilah-pilih tiket pesawat di Traveloka. Aplikasi ini selalu jadi yang paling menyenangkan untuk urusan booking mode transportasi ke tempat yang kita tuju. Harga bersaing, dan yang paling menyenangkan kita bisa membandingkan harga dari berbagai jenis maskapai penerbangan sekaligus, bisa disortir sesuai kemauan kita juga lagi.

Setelah selesai booking pesawat, kami lanjut cari-cari hotel yang pas di hati, pas di kantong. Maklum, kita berdua ini kan traveler irit bin pelit. Kita selalu berfikir buat apa bayar mahal-mahal untuk penginapan. Yang penting nyaman, dekat dari berbagai akses wisata dan jelas segala rupanya.




Kita ini irit, tapi sulit percaya, dan kalau sudah terlanjur nyaman susah berpindah ke lain hati. Sama kaya hubungan kita sam aTraveloka, dari awal kita sering bolak-balik jalan ke sana ke mari, pesan hotel Traveloka nggak pernah ngecewain kita, jadi bikin males coba-coba yang lain.

Karena dengan Traveloka, cari hotel semudah buka aplikasi di smart phone, ketik nama tempat dan waktu menginap, keluarlah beragam pilihan tempat menginap. Dari yang low budget sampai hotel bintang lima, kelas super. Kalian bisa sortir juga berdasarkan range harganya, cucok kali kan. Ditambah lagi cara pembayaran yang nggak pake ribet, apalagi buat aku yang sudah sering pakai dan sudah mendaftarkan kartu kreditku, pesan hotel semudak klik-klik doang. 


Untuk kita yang kepo bin penasaran, review dan foto-foto dari hotel yang kita akan pilih juga super lengkap di Traveloka. Dan, so far nggak pernah ada masalah yang gimana-gimana pakai aplikasi ini.


Semudah ini kami merencanakan perjalanan ini. Berselancar di dunia maya menentukan tempat berlibur, kali ini kami memilih Gili Trawangan. Booking tiket pesawat dan hotel di aplikasi Traveloka. Sederhana, tapi membawa dampak bahagia yang besar.

Turut berduka untuk gempa di Lombok dan sekitarnya, tapi jujur ini tidak menyurutkan niat kami untuk tetap pergi ke sana. Kami yakin, Indonesia adalah negara yang tanggap akan bencana, dan tak butuh waktu lama untuk kembali mengaktifkan pariwisata di Gili Trawangan. Kami hanya perlu bersabar dengan sedikit memundurkan jadwal perjalanan.

Jadi, apa alasan kita stress terkungkung rutinitas di ibu kota, kalau sekarang berjalan ke mana pun jadi lebih mudah dan praktis. Coba deh kalian ikutin rutinitas random aku dan sahabat ini, jalan-jalan berdua, eksplore berbagai tempat baru dengan kamera di tangan. Dijamin, jauh-jauh dari stress dan keluhan kebotakan di usia dini.





Sudah lama sekali penasaran dengan kawasan pecinan di Jakarta, mengingat begitu banyak teman saya yang keturunan Cina. Ini bukan rasis ya, aku justru banyak berteman akrab dengan mereka. Dan, aku cukup kepo dengan kebudayaan mereka, menurutku, unik. Tapi, apa daya setiap aku ngajak teman untuk mengunjungi Glodok mereka bakalan bilang, “Mau ngapain sih, Ti di Glodok?”.


Kalian tahu, aku cukup bahagia dengan hidupku. Keluargaku adalah yang terbaik yang paling aku syukuri, dan teman-temanku adalah yang paling seru yang aku punya.

Mama papa, selalu nggak tega kalau anaknya pindahan sendirian. Dari kota ke kabupaten, mereka tetap aja bantuin anaknya ini pindahan. Jauh-jauh dari Jakarta, mengerahkan seluruh pasukan, buat bantuin angkutin barang anak kos ini.

Mbak Titi dan Jogja adalah sesuatu yang agak asing kalau harus terus tak bertemu. Iya, aku paling hobby jalan-jalan ke sana. Makanan, budaya dan alamnya adalah yang paling pas untuk selalu dirindukan.



Senyum-senyum liat foto-foto album kenangan waktu dulu ke Bali. Inget banget, anting pernah dirampas monyet di Sangeh. Terus masih nggak lupa, main ke rumah temen mama yang anaknya seumuran aku, namanya Dayu tapi ini perempuan ya, dan banyak banget anjing di jalanan. Masih nggak lupa juga nginep di Hotel Sanur yang di baliknya langsung pantai.


Sesuai janjiku ke kalian ya, ini aku lanjut ceritaku Day 2 di Jepang, aku mah aapa tuh ya, nggak bisa cerita sedikit-sedikit, day 2 aja mesti jadi 2 part. But, I promise this is my last part in day 2.

Setelah melewati hari yang panjang, Sabtu lalu seharian di Osaka, muter-muter Umeda Sky Building, jalan-jalan malam di Dotonburi dan akhirnya kita tepar di kamar sempitnya Zipang, cerita masih belum usai, masih ada 11 hari lagi. Dan ini adalah cerita di hari kedua kami, aku dan Leni di Osaka, Jepang.

Okelah, ini saatnya membayar hutang saya ke kalian, bercerita tentang perjalanan akhir tahun lalu. Again, aku buat info sedikit untuk mengingatkan kalian, akhir tahun lalu saya berdua sahabat tercinta, ternyebelin, terngeselin terngangenin si Lenifebri. Kami berjalan full 12 hari, 8 hari Jepang, 4 hari Korea.


Kalian pernah punya mimpi ingin pergi ke Jepang? Merasakan sensasi jalan-jalan di Jepang, belanja di Jepang, foto-foto, kulineran? Bebas ya, namanya juga mimpikan?

emeron hair care

Setiap wanita di muka bumi ini punya mimpinya masing-masing, termasuk aku. Kami wanita, dengan berbagai keterbatasan tetap punya mimpi yang besar. Mimpi menjadi anak kebanggaan orang tua, mimpi punya karir dan prestasi yang luar biasa, mimpi jadi yang berguna untuk sekitar dan lain sebagainya.

“Dek, ada Skippy nih. Enaknya dibikin apa ya?” Tanya mbak Titi ke si adek.

“Ah Skippy mah diolesin di roti tawar juga udah enak, kan emang Skippy-nya udah enak.”

Kadang si adek suka bener uga kalau ngoceh. Tapi, kan, sayang skill masakku yang enggak seberapa ini masa enggak dilatih.



Ini berawal dari hari itu, saat aku sungguh bingung cari hadiah buat seorang teman. Sudah sangat bosan sama yang itu-itu aja, yang ini-ini lagi, pengen yang beda, pengen yang lain. Tapi, selayaknya seorang anak muda kebanyakan acara, aku enggak punya cukup waktu untuk mempersiapkan segalanya.



Percakapan Telegram grup (TrioBaper)  sepulang dari Bintan.

Yuan (Y) : Eh, Jepang, yuk.
Leni (L)  : Yuk, bertiga lagi.
Aku (A)   : Ah, males. Gue izin enggak ikut yak.

Postingan ini adalah tindak lanjut dari postingan Pulau Penyengat tempo hari. Jadi, sebenarnya tujuan utama kami adalah Pulau Bintan, yang pasti namanya sudah lebih tenar. Ada apa di Pulau Bintan ini? Ada banyak, yang pastinya kenapa kita ke sini adalah karena ada si Yuan di sini yang membuat kita tergiur untuk nyusul.

Ini adalah kisah seorang anak perempuan, single umur sekian tahun dan jatuh cinta sama hewan reptil yang menurut aku agak aneh untuk dicintai, iguana. Kebayang enggak sih, perempuan kok piaranya reptil, kalau piara buaya darat mah masih agak wajar ya, nah ini piara semacam kadal, Iguana.
“Dek, kalau batuk tuh jangan gitu, ditutup. Nanti nular tau enggak?”

Ocehku ketika melihat si adek batuk-batuk sembarangan. Ini berkat pengetahuan yang aku dapat di Workshop dari Kementrian Kesehatan, 19 Maret 2018. Aku bahkan baru tahu, kalau batuk itu ada etikanya, enggak bisa sembarangan, kayak buang mantan, eh.

Hari Tuberkulosis (TBC) sedunia
Dr. Anung Sugihantono, M.Kes selaku DirJen Pengendalian dan Pencegahan Penyakit KEMENKES RI.
Kenapa sih batuk aja mesti beretika? Ya, biar kita enggak jadi penyebab penyakit orang lain. Udah enggak bisa bikin bahagia malah ngasih penyakit. Dan, yang lebih ngerinya lagi, gimana kalau ternyata batuk kita bukan batuk biasa?

Hari Tuberkulosis (TBC) sedunia

Apa sih maksudnya bukan batuk biasa? Jadi begini saudara-saudara sekalian, sebangsa setanah air, sependeritaan dalam menghadapi kesendirian, lah, kita harus waspada kalau batuk kita enggak sembuh-sembuh dalam kurun waktu 2 minggu.

Kenapa? Karena bisa jadi adalah sebab musabab dari gejala Tuberkulosis, atau bahasa tenarnya TBC. Penyakit ini tergolong penyakit menular yang selama ini jadi momok dalam masyarakat, bahkan sebagian menganggap penyakit ini adalah kutukan. Saya pastikan ini mitos.

Hari Tuberkulosis (TBC) sedunia

Kalau batuk kalian disertai gejala di atas segera meluncur ke Rumah Sakit atau Puskesmas terdekat ya. Tidak perlu malu, yang malu itu kalau enggak pakai baju keliling-keliling komplek. TBC itu bukan penyakit kutukan kok, Tuberkulosis itu hanya batuk yang tak biasa, yang bisa jadi sebab kalian meninggalkan dunia yang fana ini kalau tidak segera diobati.

“Loh, emang bisa yah TBC diobati?”

Bisa dong, yang enggak bisa diobati itu, hati yang sakit karena dia berkhianat. Hah, sudahlah. Serius loh, Tuberkulosis itu bisa diobati sampai benar-benar sembuh dan yang terpentingnya adalah GRATIS. Iya, TBC itu memang menular, dan medianyapun udara, mengerikan ya. Tapi, ini enggak akan jadi masalah serius kalau kalian yang menderita berhati mulia dan mau menerapkan etika batuk sepanjang pengobatan berlangsung. 

Dan Mycrobacteria Tuberculosis yang mematikan ini, sebenarnya mati jika terkena sinar matahari langsung. So, jangan biarkan rumahmu kekurangan sinar matahari, semacam aku yang kurang perhatian dia ya!

Hari Tuberkulosis (TBC) sedunia

Bertepatan dengan hari TBC sedunia di tanggal 24  Maret, pemerintah mengingatkan kita sebagai warga masyarakat yang sama-sama bertanggung jawab mengeliminasi Tuberkulosis di Indonesia dalam berbagai event dengan cara menerapkan program TOSS.

TEMUKAN


Nah, langkah menemukan ini enggak bisa kita bebankan hanya pada pemerintah saja. Kita sebagai warga masyarakat harus punya kesadaran dalam langkah menemukan. Kenapa aku sangat bersikeras untuk sama-sama menemukan? Karena, tak semua warga Indonesia ini punya pengetahuan dan keilmuan yang sama. Bukan, bukan karena mereka lebih tidak pintar dari aku apalagi kamu, lah. Ini lebih karena mungkin informasi ini belum mendarat di telinga mereka, di sinilah salah satu tugas kita, menyebarluaskan.

Kalian tahu? Indonesia merupakan juara 2 jumlah penderita TBC di dunia. Ini jadi PR yang cukup berat ya, tapi bukan enggak mungkin kok Indonesia bebas TBC kalau kita rakyatnya mau ikut berpartisipasi aktif. Penderita TB bukan hanya orang-orang dengan kondisi ekonomi yang buruk loh, semua orang bisa terjangkit. Contohnya ada banyak loh tokoh-tokoh dalam maupun luar negri yang menderita TB.

Kalau kalian rajin nonton film ke bioskop, pasti kalian ngeh, bahwasanya BJ Habibie pernah menderita TB tulang saat sedang mengenyam pendidikan di Jerman. Atau, tentang Chairil Anwar yang harus mengakhiri hidupnya karena telat penanganan. Pasti kalian juga ingat kan, Jendral Soedirman yang harus memimpin perang dengan kondisi sedang menderita TB. Dan, masih banyak contoh para pesohor yang  tak bisa mengelak dari serangan TB ini.

Hari Tuberkulosis (TBC) sedunia
Chairil Anwar meninggal karena TBC.
Semakin cepat ditemukan, akan semakin mengurangi jumlah penyebarannya dan semakin cepat juga masa penyembuhannya. Kalau kalian sendiri atau orang di sekitar kalian mengalami gejala-gejala yang disebutkan di atas, segeralah ke RS atau Puskesmas terdekat, enggak perlu malu. Proses pengecekannya pun sekarang sudah semakin cepat dan mudah. Dengan metode TCM (Tes Cepat Molekuler), hanya dalam waktu 90 menit hasilnya sudah keluar, dan lagi-lagi saya ingatkan untuk biaya tes dan pengobatannya GRATIS, jadi jangan khawatir masalah biaya.

OBATI SAMPAI SEMBUH


Kenapa sih, kata sampai sembuh ini begitu ditekankan dalam pengobatan TBC ini? Karena memang banyak sekali penderita yang merasa sudah sembuh, kemudian berhenti minum obat sebelum waktunya. Mereka hanya merasa sudah mendingan bukan berarti sudah sembuh loh. Pengobatan TBC ini minimal 6 bulan, obatpun harus diminum rutin selama 6 bulan itu.

Jangan berhenti minum obat sebelum benar-benar dinyatakan, Mycrobacterium Tuberculosis di dalam tubuh sudah benar-benar tidak ada. Beberapa merasa badannya sudah enakan kemudian berhenti, ini yang harus dihindari. Bahkan, beberapa dari mereka akhirnya harus menyerah disebabkan tidak adanya dukungan dari orang-orang sekitar.

Penderita TBC ini sudah cukup menderita dengan penyakit yang dideritanya, dengan pemisahan segala alat hidupnya dari orang lain, mulai dari gelas, piring, bantal, guling dan lain sebagainya selama masa pengobatan. Belum lagi mereka harus memakai masker kemanapun mereka pergi. Terus, kalian mau ikutan menjauhi mereka? Semakin mengucilkan mereka? Membuat mereka merasa lebih baik mati saja? Dimana nurani kalian?

Kita tidak perlu ketakutan berlebihan kepada mereka, memang penyakit yang mereka derita sangat rentan menular, bahkan lewat udara sekalipun. Tapi, selama mereka menerapkan etika batuk, memakai masker, membatasi kontak seperti memisahkan barang-barang pribadi, mereka adalah sama seperti kita, manusia. Yang butuh “dimanusiakan” bukan justru dikucilkan, mereka butuh support dari kita, tugas kita adalah membuat mereka semangat untuk sembuh.

Bukti Nyata


Jangan terus-terusan memposisikan diri sebagai yang sehat saja, bayangkan kalau kita ada di posisi mereka? Apa yang kita harapkan dari orang sekitar kita? Seperti itulah kita harus bersikap kepada mereka. Aku enggak hanya asal bicara kok, teori ini aku dapat dari Bapak Edi.

Hari Tuberkulosis (TBC) sedunia

Siapa sih Pak Edi? Beliau adalah penderita TBC MDR (Multi Drug Resistence), yang perjalanan dengan TBC tak singkat dan tak mudah.

Di awal, saat ia masih menderita TBC Sensitif Obat, Pak Edi harus merelakan karirnya berantakan bahkan sampai ibu mertuanya memusuhi beliau. Saat itu ia masih punya istri dan anak-anak yang masih sangat mendukung. Sampai di tengah jalan pengobatan, istrinya yang paling memberi dukungan penuh harus pergi.

Hidup Pak Edi, yang awalnya mulai rutin meminum obat dan punya semangat untuk sembuh kembali berantakan. Ia tak kuasa menahan pedih, sampai akhirnya mulai gaya hidup tidak sehat lagi, merokok, minum minuman keras ditambah begadang setiap malam. Kondisinya yang mulai membaik, akhirnya berantakan lagi, bahkan setelah hidup yang berantakan, si TBC Sensitif Obat menjelma menjadi TBC yang lebih mengerikan, TBC MDR (Multi Drug Resistance).

Dalam keadaan seperti ini, Pak Edi merasa masih ada tujuan hidup, yaitu anak-anaknya. Beliau memulai pengobatan lagi, anak-anaknya dititipkan kepada saudaranya. Ia berjuang sendiri, bolak-balik RS, mengganti masker 2 jam sekali, rutin meminum banyak obat keras. Bahkan efek yang ditimbulkan obatpun tidak main-main. Pak Edi pernah mengalami halusinasi parah, sampai pernah hampir bunuh diri.

Beliau menjalani semuanya dengan semangat sembuh luar biasa. Ditemani sahabat-sahabat dari PETA (komunitas yang dibuat oleh para mantan penderita TBC, yang sudah sembuh. Guna menyemangati para penderita yang masih berjuang), selama hampir 2 tahun, Pak Edi menjalani pengobatan yang tidak mudah dengan sangat konsisten. Sampai hari ini, akhirnya  beliau sudah dinyatakan sehat dan bebas dari Mycrobacterium Tuberculosis.

Pak Edi mengingatkan pada kita semua, penderita TB juga manusia yang butuh “dimanusiakan”, bukan malah diacuhkan dan dikucilkan. Perjuangan mereka melawan penyakitnya sudah berat, jangan ditambah beban psikologis lagi. Dan, seluruh rangkaian pemeriksaan dan pengobatan untuk penyakit TB ini, GRATIS. Ayok, bareng-bareng kita TOSS, Temukan Obati Sampai Sembuh. Bukan hal tidak mungkin membuat Indonesia bebas TB. Salam TOSS, dan waspada pada batuk yang “bukan batuk biasa”.

Baca juga tentang Penyakit Anyang-Anyangan.