Jogja, kota dengan sihir candu paling awet. Ratusan kali ke Jogja, puluhan kali mengunjungi tempat yang kata orang itu-itu aja, tapi juga ribuan kali rindu Jogja.

Kenapa sih segitunya sama Jogja? Punya kenangan manis yah? Punya mantan? Atau, punya rindu yang belum selesai sama salah satu warganya?
Banyak orang yang berkali-kali bertanya tentang sejarah ku dengan si Jogja ini. Sayangnya, aku gak ada history apa-apa tentang seseorang di kota ini. Seringnya, liburan ke Jogja bareng keluarga
Penampakan Theragran-M kesayangan bareng cover kalender 2018.

Sebelumnya, mari kita flashback menilik kemudian menelusur perjalanan panjang di 2017. Tahun paling penuh kejutan, banyak mimpi yang menjadi nyata tapi banyak resolusi yang juga belum berhasil dituntaskan. Setahun bergelut dengan berbagai list tempat-tempat impian, mimpi-mimpi kecil tapi nyatanya sulit diwujudkan dan berbagai macam kejutannya yang hadir tanpa permisi. Bertemu dengan berbagai macam wajah baru, semangat baru dan tentunya manfaat baru. 2017, saat di awal hanya ada mimpi berbagai destinasi wisata yang perlahan tapi pasti diselesaikan dan satu perjalanan besar yang cukup menguras tenaga dan isi kantong. Kemudian, berbagai pencapaian mimpi-mimpi kecil, hidup lebih sehat dan teratur, rutin olah raga dan meminimalisir jumlah bolak-balik rumah sakit.

Seperti  apa yang aku katakan di awal, masih banyak resolusi 2017 yang belum berhasil dituntaskan, yang sepertinya akan lanjut menjadi resolusi di 2018. Begitulah resolusi, dibangun di awal tahun kemudian berguguran di pertengahan, sampai akhirnya patah di akhir tahun. Jadi, di akhir tahun 2017 ini aku punya banyak resolusi sedang dan satu resolusi besar. Apa sih resolusi besarnya? Baiklah, aku akan beberkan kepada kalian, resolusi besarku adalah mengupayakan tiap-tiap resolusi menjadi nyata dengan rentang waktu yang sudah aku gariskan.

Membahas apa yang aku sebutkan di judul artikel ini, sehat lahir batin. Sehat di sini punya arti yang luas, sehat di sini menjadi awal dari munculnya bahagia. Maksudnya, aku ingin sehat agar hati kuat menahan rindu, halah malah curhat. Jadi, satu resolusi yang tak kunjung selesai sejak entah tahun berapa aku membuatnya adalah menikah. Memang tidak semudah itu menyelesaikan resolusi yang satu ini, terlalu banyak rintangan dan tantangan. Masalah terberat dari resolusi ini adalah aku ingin menikah dengan siapa? Masalah yang signifikan rumitnya kan? Untuk akhirnya menyelesaikan tanya dengan siapa ini, salah satu solusinya adalah dengan menjaga agar lahir ini benar-benar sehat. Karena untuk memikirkan dan mengupayakan menikah dengan siapa butuh lahir yang sehat bukan?

Tahun lalu, alhamdulillah aku tidak banyak sakit parah tapi juga cukup sering bolak-balik rumah sakit lantaran beberapa penyakit langganan. Kenapa juga sehatnya mesti bareng Theragran-M sih? Baiklah, aku akan ceritakan ke kalian awal mula aku kenal sama dia. Di pertengahan 2017 aku terlalu punya banyak resolusi destinasi yang harus diselesaikan, persis orang kejar setoran dalam 2 bulan sabtu-minggu ku selalu penuh. Ada aja list perjalanan yang harus diselesaikan di tengah jadwal ngantor yang juga enggak kenal ampun. Akhirnya aku drop, bolak-balik panas tinggi yang ternyata disebabkan oleh si penyakit langganan, radang tenggorokan.

Setelah mulai masa pemulihan dokter kantor ku berpetuah, “Ini saya resepkan Theragran-M yah, ditebus jangan lupa, ini sangat bagus untuk masa pemulihan dan supaya kamu enggak bolak-balik drop lagi”.

Berhubung memang waktu itu aku bolak-balik drop, sudah sedikit lagi sembuh kemudian sakit lagi, gitu aja terus sampai akhirnya aku kenal Theragran-M, minumin rutin dan syukurnya beneran bisa sembuh sampai tuntas. Setelah benar-benar sembuh dan  sakitnya enggak dateng lagi, enggak bolak-balik lagi. Thenagran-M memang beneran bikin kita sehat dan enggak balik sakit lagi, senangnya.
Jadi kalian sekarang paham yah kenapa akhirnya aku memutuskan untuk sehat lahir batin bareng Thenagran-M?? So pasti karena memang sudah jelas sekali aku bukan salah satu yang hanya dengar iklan saja, tapi sudah jelas merasakan manfaatnya.  Kalau  kalian mencari vitamin yang bagus untuk mempercepat masa penyembuhan, Theragran-M pasti jadi jawaban yang paling pas. Sekarang dengan sederet resolusi di 2018, aku pantang sakit kelamaan. Untungnya ada Thergran-M yang setia jadi vitamin untuk mengembalikan daya tahan tubuh setelah sakit sampai akhirnya sakitnya enggak hobby bolak-balik.

Lanjut ngomongin resolusi 2018 ku, sebagai wanita muda yang aktif sudah pasti aku punya sederet list resolusi, diantaranya:

  • ·         Menikah, yang sudah di bahas panjang lebar tadi yang sangat berpengaruh ke kesehatan batin yang pastinya untuk mencapainya harus diimbangi dengan kesehatan lahirnya juga.
  • ·         Meningkatkan karier dalam pekerjaan yang aku geluti sekarang, yang luar biasa sibuk dan menyita waktu lebih dari 8 jam sehari, 5 hari seminggu dalam kehidupan ku yang punya cukup banyak cita-cita ini.
  • ·         Menambah dan meningkatkan kualitas buku bacaan, seperti cita-cita masa kecil saya yang selalu ingin menjadi sesuatu di balik deretan buku yang dipajang di toko buku kesayangan. Masalahnya, tidak mungkin menulis tanpa membaca, bisa-bisa isi tulisan ku macam tong kosong nyaring bunyinya.
  • ·         Setelah rajin membaca, sudah pasti impian selanjutnya adalah akhirnya mulai rajin menulis dan mengumpulkan prestasi dari bidang ini.
  • ·         Traveling ke banyak tempat impian yang masih setia nangkring di booklist sejak beberapa tahun terakhir ini, semacam mendaki ke puncak indahnya Indonesia, Gunung Rinjani dan Gunung Semeru. Impian sederhana yang entah kenapa masih sulit digapai.
  • ·         Memperbaiki kualitas keimanan, dengan salah satu cara pergi ke tanah suci bareng keluarga tercinta. Kalau dipikir akal sehat , mungkin masih terlalu berat. Tapi, satu keyakinan dalam diri, saat ada niat baik dan Allah approve, aku yakin akan selalu ada jalan.
  • ·          Mulai membuat financial planning yang matang, beruntungnya saya bergabung bersama kakak-kakak keren di Kubbu BPJ yang dengan suka rela membagi ilmunya di tanggal 7 Januari nanti. Semoga di 2018 saya sudah punya perencanaa keuangan yang lebih baik. Dari sini juga saya jadi punya satu list mimpi tambahan yang belum pernah terpikir sebelumnya.
  • ·         Jadi list tambahan tersebut adalah menambah daya guna bagi sekitar, keluarga, lingkungan dan beberapa komunitas yang sudah membuat saya bertumbuh seperti sekarang.
  • ·         Dari semua list diatas, rasanya tak mungkin bisa diwujudkan tanpa peran tubuh yang sehat dan kuat. Oleh karena itu, resolusi berikutnya adalah membuat Theragran-M selalu hadir mengisi kotak P3K yang aku punya. Bukan karena aku berdoa supaya sakit, tapi lebih ke sedia payung sebelum hujan.


Sebagai wanita yang sudah mulai dewasa tapi tak pernah mau disebut tua, aku mulai merasa perlu lebih konsen ke gaya hidup untuk menuju tubuh sehat dan jiwa yang kuat. Bukan jadi rahasia umum lagi, di umur yang sudah menginjak seperempat abad ini, aku mulai harus konsen dan serius dalam mencapai semua resolusi yang sudah disusun dengan matang. Bukan hanya berfikir keras masalah resolusi di penghujung 2017 dan kemudian memperpanjang durasi di akhir 2018 nanti.

*Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Theragran-M.

Setelah drama tak berkesudahan di pembuatan visa Jepang, kita berdua berharap ini engga terjadi di proses apply visa Korea. Lagi pula ini bukan pengalaman pertama buat temen aku yang Oktober tahun lalu baru banget kesana. Segala persyaratan sesuai dengan yang telah tertulis jelas di #webkorea sudah kami siapkan.

Mengingat pengalaman teman kita si Yayang yang tahun lalu mesti masalah karena engga bisa melampirkan SPT (Surat Pajak Tahunan), si Leni sudah mengingatkan saya untuk baik-baik nyimpen SPT tahun ini. Kita apply visa ini bisa tergolong mepet, kita baru apply tanggal 16 Oktober, padahal kita sudah harus berangkat tanggal 4 November. Pembuatan visa Korea ini normalnya 6 hari kerja di hitung pertanggal kita apply. Jadi, kalau semuanya lancar dan engga ada masalah kita baru bisa menimang kembali paspor hijau kesayangan di tanggal 24 Oktober. Lumayan jadi panik juga kalau ingat cerita si Novi yang  temannya baru berangkat sebulan yang lalu ke Korea dan paspor dia sempet ketahan di kedutaan 1 bulan, lah kalau paspor kita ketahan sebulan juga bisa-bisa engga jadi jalan urusannya.

Kamis, 12 Oktober paspor Leni sudah mendarat dengan selamat di kosan dia, setelah jalan-jalan ke Surabaya, karena konselat Jepang di Jakarta menolak mentah-mentah pemrosesan visa dengan ktp Surabaya. Dengan gercep kita sudah berniat untuk apply visa Korea di hari Jumat, 13 Oktober. Kita sudah memperhatikan dengan seksama bahwa pelayanan apply visa di buka mulai jam 09.00 - 11.30. Karena kesibukan pekerjaan dan lain-lainnya yang begitu rumit hari itu, kita baru sampai di gedung bergerbang biru muda yang di apit oleh gedung utama kedutaan Korea Selatan dan RS. Medistra tepat jam 11.00. Dengan penuh semangat dan peluh netes-netes karena panasnya Jakarta siang itu, kita berjalan ke pintu masuk tempat apply visa, dan kalian tau apa yang dikatakan bapak security hari itu jam 11.00 ??

"Mau apply visa yah mbak?? udah tutup, dateng lagi Senin aja mbak" si bapak berkata tanpa rasa kasihan sedikitpun melihat dua gadis lusuh kepanasan dengan dokumen lengkap di pelukan.
Saat mendengar itu, aku sama Leni tatap-tatapan dengan heran. Kemudian aku langsung nyembur nanya, "Lah, bukannya tutup jam 11.30 yah pak?? kasihan ini pak teman saya udah jauh-jauh dari Ciracas"
Si bapak menjawab dengan santainya, "Iya sih mbak belum 11.30, tapi sudah habis nomer antrian hari ini"
Kita berdua langsung lemes denger omongan si bapak security, kita berdua sempet mohon-mohon dengan melas ke si bapak, tapi katanya sudah engga bisa. Dengan gontai kita balik badan meninggalkan si bapak dengan engga lupa bilang makasih, walaupun hati ini remuk redam rasanya.



Dari pada sedih tak berkesudahan, dan karena sudah terlanjur sampai kita akhirnya duduk-duduk lesehan di kedutaan sambil isi formulir dan cek-cek lagi kelengkapan dokumen. Akhirnya kita memutuskan, hari Senin aku aja yang balik ke kedutaan buat apply, jadi dokumen dan uang Leni aku bawa balik ke kantor.

ini penampakan setelah masuk gerbang sangat biru muda

gerbang biru menjelang abu-abu yang diapit RS Medistra dan Kedubes Korea Selatan

Dari pengalaman Jumat kemarin aku engga mau mengulang kesalahan, kali ini aku berangkat dari kantor 9.15. Sekitar 9.30 aku sampai ke gerbang biru samping Medistra, aku langsung bergegas masuk ke dalam tempat apply visa, yang kali ini disambut dengan senyum ramah bapak security yang mempersilahkan masuk dan sekaligus kasih tau ruangan yang harus aku datangi.


antrian yang engga bisa santai, padahal udah dateng pagi 
penampakan menuju pintu penuh derita penantian



Begitu masuk ruangan aku lihat tempat ini sudah lumayan penuh, agak berbeda sama tempat apply visa Jepang yang terdiri dari 20an konter, disini cuma ada 4 konter, dan tidak terpisah untuk kasir, jadi konter itu tempat apply sekaligus bayar. Dan yang penting dan perlu dicatat adalah di kedutaan Korea tidak menyediakan fasilitas debit, jadi kalian harus bawa uang cash.

Aku langsung ambil nomer dan harus terkaget waktu menerima kenyataan, aku dapet nomer antrian 79, yang awalnya aku pikir no antrian 60. Dan aku lihat semacam display digital yang terletak di masing-masing konter yang baru menunjukan nomer antrian 19. Padahal ini masij jam 9.30, pengen nangis rasanya, mana cuma ada 4 konter lagi. Aku duduk di bangku 3 paling kiri, di sebelah ku ada mas-mas yang sepertinya sudah lebih dulu sampai. Menunggu itu memang pekerjaan yang luar biasa membosankan. Sampai sekitar 10.30 nomer antrianku belum juga dipanggil, padahal waktu apply visa Jepang cuma butuh waktu 30 menit udah bisa keluar, nah ini sudah 1 jam dan nomer antrian dipanggil aja belum.

Sekitar jam 11.03 aku lihat nomer antrian 60 dipanggil, dan aku dengan semangatnya berjalan ke arah konter, tapi kok si mas sebelah ku ikutan juga ke konter yang sama.
"mbaknya nomer berapa?" kata si masnya waktu kita akhirnya kebingungan ada di konter yang sama.
Sambil nunjukin kertas nomer antrian aku nyaut dengan PD tanpa batas "60 donk mas, liat aja nih"
 
ini nomer antrian yang cukup menyesatkan

Si masnya senyum-senyum lucu sambil ngembaliin kertas antrian ku, "mbak, ini yang 60 number of waiting. Nomer antrian yang atas ini 79, tadi pas mbak dateng antrian udah sampe nomer 19, makanya number of waiting-nya 60, 79-60"
"Oh iya mas, saya engga ngeuh, maap ya mas" dengan muka merah padam menahan malu aku balik ke bangku tadi, yang untungnya masih kosong.
Sempat-sempatnya si mas tadi pas udah selesai, jalan ke arah ku, terus pamit dengan nyebelinnya, "Mbak duluan ya, inget mbak nomer 79"
Sumpah yahh ini hari, udah antre lama banget sampe emosi, pake ditambah drama memalukan sama mas-mas tak dikenal. Akhirnya, setelah sekitar 11.45 sampai giliran nomer 79. Dan kalian tau, aku dapet konter yang tadi ribut-ribut sama si mas itu. Yang lebih nyebelinnya, mbaknya masih inget kejadian nomer antrian 60.

"Sekarang udah bener nih mbak nomer antriannya" kata si mbak konter sambil senyum-senyum nyebelin.
Di konternya sendiri aku engga sampai 10 menit, aku serahkan semua dokumen, milik aku dan Leni. Selagi mbaknya ngecek aku siapin uang Rp 1100000 untuk 2 orang, yang dikembaliin Rp 12000 sama mbak konter, sambil mbaknya ngabarin nanti paling cepet kalau engga ada masalah visa bisa di ambil Selasa minggu depan. Sebelum ke kedutaan, mbaknya bilang cek dulu di website, visanya sudah approve atau belum. Dibawah ini aku fotoin cara ceknya di website, yang nempel di semacam mading engga jauh dari konternya.
 Dan akhirnya aku balik kantor tepat jam 12.00, dengan perasaan lega campur khawatir. Lega karena akhirnya dokumen untuk visa selesai di submit, khawatir karena rumornya visa Korea ini suka banyak masalah. Apalagi mengingat rekening koran yang aku print tertanggal bulan sebelumnya, karena aku pakai rekening koran yang aku pakai juga untuk submit visa Jepang bulan lalu.

Setelah khawatir 1 minggu penuh menunggu kabar visa Korea, di hari Selasa 24 Oktober si Leni cek approval di website dan hasilnya visa kami berdua "approved"  Bahagia sekali denger kabar ini, cuma Leni baru bisa ambil hari Rabu. Ini rasanya lega luar biasa, lubuk hati yang terdalam akhirnya bisa berseru, "jadi juga jalan-jalan minggu minggu depan".
Hari Rabu 25 Oktober, akhirnya aku ketemu Leni dan ketemu paspor kesayangan yang sekarang di dalamnya sudah ada tempelan visa Jepang dan Korea. Ini tempelan mahal luar biasa, Rp 540000 + Rp 544000 yang kalau ditotal jadi Rp 1084000.
Ternyata engga ada pengajuan visa yang tanpa drama di perjalanan ini, semoga persiapan-persiapan perintilan lainnya engga sedrama ini lagi.


  

            Mungkin sebagian dari kalian sudah tahu kalau sekarang udah engga bisa lagi tuh urus visa travel ke Jepang di Japan Embassy yang berlokasi di deket bundaran HI itu. Sudah sejak 15 September 2017 lalu pengajuan visa Jepang dilakukan di kantor VFS Global yang berlokasi di Lotte Shopping Avenue, yang tepatnya berada di samping persis XXI.

ini adalah penampakan di sebelah kanan kantornya

            Jadi awalnya aku berdua si Leni sudah sepakat untuk mulai mengurus urusan visa-visaan ini di awal September, supaya engga mepet aja sama jadwal berangkat kita. Tapi di pertengahan Agustus kita dapet kabar kalo mulai 15 September urus visa Jepang bisa dilakukan di LOVE yang notabene sangat dekat dengan tempat aku ngantor. Akhirnya dikarenakan tergiur oleh godaan engga usah jauh-jauh dan repot-repot ke Thamrin kita memutuskan untuk ajuin bisa after 13 September. Seperti kabar baik yah awalnya, tapi tidak pada akhirnya.

            Sekitar tanggal 20-an September kita mulai buka-buka website Kedubes Jepang untuk cari info pengajuan visa, dan kita berdua dikejutkan oleh beberapa fakta kurang menarik hati.
  • ·   Fakta pertama adalah bahwasanya pertanggal 15 September 2017 biaya visa Jepang yang awalnya hanya Rp.330.000/orang/kunjungan naik menjadi  Rp.370.000/orang/kunjungan. Oke, fakta ini sudah cukup mengesalkana tapi ndak apalah setidaknya cuma naik Rp.40.000 aja.
  • ·       Fakta kedua ini lebih-lebih mengesalkannya, asli lah engga bohong, BT luar biasa waktu baca baris berikutnya. Setelah dipindah ke Lotte ternyata yang pegang bukan lagi konselatnya langsung, tapi dipindah tangankan ke swasta VFS Global tadi. Ini mengakibatkan adanya additional fee yang mereka sebut dengan Logistic Fee sebesar Rp.155.000 jadi total biaya pembuatan visa Jepang berada di angka Rp.525.000. Super kesal kan jadinya, padahal kalo kita buat sebelum tanggal 15 September 2017 biayanya Cuma Rp.330.000 saja tanpa embel-embel logistic fee.

Setelah beberapa hari misuh-misuh, akhirnya kita berdua mencoba menerima kenyataan dengan tulus dan ikhlas. Akhirnya kita mulai membaca kembali baik-baik web Jepang lagi untuk melihat persyaratan dan berkas apa saja yang diperlukan.

ini adalah berbagai syarat pengajuan visa Jepang secara mandiri

Kerepotan selanjutnya adalah kenyataan bahwa kita belum booking hotel dan Willer Bus Osaka-Tokyo, ditambah lagi kita juga belum beli tiket pesawat Tokyo-Seoul. Akhirnya di suatu Minggu sebelum tanggal 25 Oktober kita berdua khusyuk susun ittenerary sekaligus booking hotel dan pesan tiket bus malam. Niatnya sih hari itu mau sekalian booking pesawat, tapi apa daya dompet ku yang berisikan kartu kredit andalan ketinggalan di kantor.

Akhirnya di hari setelah Minggu aku coba booking pesawat dengan maskapai Peach Airline, ini adalah budget air-nya Jepang. Di sini lah drama babak 1 dimulai, aku berkali-kali coba untuk booking di rumah dengan laptop kesayangan dan dengan signal wifi ala kadarnya, ternyata berkali-kali juga gagal. Aku pikir mungkin karena wifi nya kurang oke, akhirnya besok pagi aku coba di kantor, ternyata sama zonk nya. Aku pun mulai putus asa dan minta Leni untuk coba booking, dan di sini lah drama babak 2 dimulai.

Proses booking ini terlihat lancar awalnya, si teman ini beberapa kali ngabarin tentang rencana kita untuk beli 1 bagasi dan kasih info totalan yang mesti dibayar. Tidak lama pihak bank melakukan konfirmasi atas transaksi kartu kredit sebesar 17000 yen, dan aku mengiyakan. Tapi engga lama Leni ngabarin kalo websitenya time out, yang ini artinya transaksi di CC udah terjadi tapi kode booking belum kita dapat. Hari itu kepala pusing engga karuan, mau langsung telpon ke Peachnya, masalahnya ini kan maskapainya Jepang, bisa jebol telpon roaming pake hape.

Kemudian besok siangnya aku minta bantuan teman kantor yang bahasa Inggrisnya lebih baik dari aku buat konfirmasi ke Peachnya, pake nomer kantor (demi mengirit pulsa, jangan ditiru yahh ;)). Dan, kabar buruknya adalah pihak peach mengabarkan tidak ada pembayaran atas namaku. Itu rasanya langsung lemas luar biasa, akhirnya coba telpon pihak Bank nya dan ternyata transaksi kemarin dibatalkan dikarenakan website timeout, "oh BCA kenapa kamu tidak konfirmasi". Akhirnya kita coba booking lagi sambil deg-degan, dan syukurnya kali ini berhasil setelah dengan penuh ketegangan sempat gagal beberapa kali.

Oia, untuk pengajuan visa Jepang ini kami berdua mencoba untuk memenuhi data selengkap-lengkapnya, kaya mestinya doi engga minta surat keterangan kerja, dan kita nyantumin, terus kita juga melampirkan bukti booking hotel dan tiket bis willer, khawatir pihak kedutaan takut kita menggembel.

Setelah dirasa seluruh persyaratan dokumen sudah lebih dari lengkap, kita memutuskan untuk apply visa Senin, 2 Oktober 2017.  Suatu malam di Minggu tanggal 1 Oktober,
“Beb, gua barusan baca blognya blognya Frenky , masa katanya buat yang KTP Surabaya mesti bikin di sana, gimana nih??” WA mengagetkan dari Leni.
Sejujurnya baca pesan chat WA ini kepala ku cukup cenat-cenut, mencoba berpikir tenang dan sok-sokan bijak, “Besok kita tanya dulu aja beb, telpon kedutaannya, jangan langsung panik ah, terus kalo nanti masih engga bisa juga, kita minta bantuan agen, engga lucu sih kalo urusan gini doank lo mesti balik Surabaya”

Besok pagi-paginya di 2 Oktober, Leni telepon pas aku baru banget beres meeting di kantor, “Beb, beneran engga bisa donk, dan udah coba tanya dwidaya juga dia engga bisa bantu. Lo apply duluan aja hari ini, gw coba telpon konselat Surabaya, nanti gw minta tolong nyokap kalo emang bisa diwakilin”

Jujurlah, lemes sekali aku denger ini, bayangan ku hari ini bakal apply visa berdua Leni yang notabene udah pengalaman bikin visa KorSel tahun lalu pupus sudah. Aku harus menerima kenyataan buat apply visa sendirian, dengan kecupuan dan kegaptekan maksimal yang aku miliki. Dan pas aku baca-baca lagi ternyata oh ternyata ada keterangan yang terlewatkan yang tidak kita perhatikan di website kedutaan Jepang. Lupa info ih, masalah ini timbul dikarenakan si Leni ini masih KTP Surabaya, ini yang bikin cukup repot. Sebenernya kalo punya KTP sementara Jakarta masih tidak masalah apply di sini.

besok-besok harus lebih teliti kalo baca informasi, ternyata jelas di mention jelas di websitenya

            Minggu malam kemarin kita berdua sudah daftar untuk buat appointment apply visa via
website Jepang, kabarnya ini lebih efektif dibanding tiba-tiba dateng.  Jadi pastikan kalian daftar untuk buat appointment dulu via website sebelum keesokan harinya apply visa yah.

            Sesampainya disana saya langsung cari lokasi kantor pembuatan visa Jepang yang kabarnya terletak di sebelah XXI Lotte Avenue yang kebetulan sangat dekat dari kantor, tapi berhubung saya males jalan siang-siang bolong akhirnya saya memutuskan buat naik Go-Jek yang engga sampe 10 menit udah langsung mendarat di lobby belakang Lotte Avenue. Dari lobby saya langsung naik lift ke lantai 4, dan ternyata dari keluar lift petunjuk menuju XXI sangat jelas, ternyata VFSGlobal ini beneran sebelahan sama XXI, jadi yah super gampang nemuin tempat ini.

penampakan bagian depan VFS Global, Sudah cukup Jepang yah :)

            Nah, gambar di atas adalah penampakan kantor VFSGlobal dari permukaan, halah. Kantornya super rapih, suasan Jejepangan sudah mulai terasa dari awal ,masuk. Pertama masuk kita akan disambut oleh mas dan mbak security yang cukup ramah yang bakalan mengingatkan kita buat engga ambil foto di dalam nanti. Jadi alasan ini aku engga bisa fotoin buat kalian kaya apa suasana di dalam. Aku bakal coba deskripsiin ke kalian yang menurut pengelihatan aku aja yah. 

            Jadi pas baru dateng nanti kita ditanya udah buat appointment ato belom, karena ini kayanya bakal ngaruh sama nomer antriannya, dan yang penting juga jangan lupa print bukti appointment yah teman-teman. Sebelum masuk ruangan kita bakal dikasih kertas nomer antrian, kebetulan hari itu aku dapet nomer antrian IA182. Antrian di sini engga kan seberapa lama karena emang efektif luar biasa, rapi, dibedain mana antrian untuk yang buat visa mandiri dan mana yang untuk agent, jauh lebih rapih dibanding waktu aku antri untuk foto passport di imigrasi Jakarta Selatan 2 tahun lalu.

            Ruangan ,ini berbentuk persegi panjang yang sangat panjang dengan tidak begitu lebar, terdiri dari 22 konter untuk pengajuan dokumen dan 6 konter untuk bagian pembayaran, dan semuanya terisi, jadi engga ada konter fiktif alias kosong engga ada yang jagain, macem kasir hypermart kalo udah mulai malem. Setelah nunggu kurang lebih 15 menit akhirnya no antrian ku terpampang di layar, hari itu aku dilayani sama mas-mas super ramah yang engga jutek sama sekali. Sejujurnya bayanganku tempat-tempak kaya gini pasti bakal dipenuhi sama pegawai nya yang super nyebelin macem di kantor imigrasi. Yah, engga salhin mereka juga sih, pasti mereka lelah melayani ribuan applicant tiap harinya dengan kepribadian super warna-warni belom lagi kalo ada yang masalah ato naeh-aneh kan.

            Begitu ketemu si masnya aku langsung nyerahin dokumen-dokumen yang disyaratkan dan sekilas juga tanya-tanya masalah si temen yang engga bisa apply di Jakarta kan KTPnya Surabaya, dan masnya dengan baik hati ngasih penjelasan ke aku bahkan suruh aku buat foto alamat konselat Surabaya, padahal engga boleh foto kan yah di dalem, hehehe.

ini adalah foto alamat konselat jepang di Surabaya

            Jadi tiap-tiap konselat Jepang yang ada di Indo tuh punya wilayah kerjanya masing-masing.  Kalian bisa cek wilayah kerja tiap-tiap konselat, ini penting buat kalian yang perantau. Nah setelah beres dicek dengan sangat teliti sama si mas baik hati, dan ternyata aku salah foto kopi KTPnya karena aku vertical padahal harusnya horizontal. Jadi akhirnya aku foto kopi ulang di sini. Di kantor ini ada jasa foto kopi dan pas foto, untuk foto kopi 1000/lembar dan untuk pass foto 45000. Lumayan mahal yah, tapi daripada ribet mesti keluar buat cari-cari kang foto kopi ato kang pass foto kan yah. Oia, aku juga ditawarin mau dikirim kan langsung hasilnya nanti, atau mau diambil sendiri, untuk biaya kalo mau dikirim 50000 dan kalo mau ada notification via sms juga  bisa dengan tambahan biaya 30000. Tapi berhubung saya pelit dan irit, dan lagi pula kantor deket dari Lotte Avenue, dan notif  bisa di dapat via e-mail dengan gratis jadi saya engga ambil tawaran si masnya. Setelah beres semua, dokumen ku dipindahin ke map kainnya mereka warna hitam gitu dan aku diminta untuk tunggu di panggil lagi di kasir.

            Dan pelajaran berikutnya lagi nih man teman, mendingan kalian bawa uang cash, udah tau kan yang perlu di bawa berapa, balik lagi aku ingetin deh yah Rp 525.000 daripada kalian mesti terpaksa pake debit  macem aku yang ternyata kecharge lagi 3% sehingga mesti bayar Rp.540.000-an , mending dipake makan mie ayam uangnya. Setelah beres bayar membayar nanti kalian di kasih semacam nota gitu yang mesti kalian simpan, dan di nota itu juga ada kode app reff yang nanti dipakai untuk cek ke web vfsglobal visa kalian udah bisa diambil atau belum.
            “Kalau engga ada masalah besok Jumat udah bisa diambil mbak, jangan lupa di cek dulu di web nya sebelum ambil kesini, jangan lupa juga kertas ini dibawa yah mbak, terimakasi” begitu kira-kira kata-kata perpisahan manis dari mbak kasir yang manis.

tanda bukti pembayaran yang harus disimpang baik-baik

            Aku menghabiskan waktu sekitar 40 menit di dalam kantor vfsglobal dan segala urusan pervisa-an selesai tanpa ada kerepotan apapun, kecuali kebetean karena kena charge 3%. Lain halnya sama si temen yang perjuangannya lebih panjang dari aku.

            Akhirnya doi kirim semua dokumen lengkapnya ke Surabaya, dan terpaksa mesti diurus sama ibunya yang super banget. Kenapa aku bilang super? Penasaran kan, jadi gini, ini ibu-ibu mesti ngurus visa Jepang anaknya yang ada di Jakarta, dan fyi ibu nya doi bukan pegawai kantoran yang terbiasa sama hal-hal kaya gini yah, ibu doi ini pure ibu rumah tangga, tapi untungnya emang pemberani banget, kabarnya si Ibu ini pernah urus surat tanah sendiri.

            Dan ternyata juga konselat yang di Surabaya super ketat, di Jakarta okelah engga boleh foto-foto di dalem, nah yang di Surabaya bahkan hape nya di sita donk sebelum masuk ruangan. Jadi yang rencana si temen yang kalo ibu nya bingung suruh orang konselatnya ngomong ditelpon aja sama temen ku, engga bisa terwujud, lah wong hape nya ditahan di depan. Belum lagi yang mengharuskan rekening koran terakhir ada di nominal 30juta, WOW banget kan, lah aku yang apply di Jakarta aja rekening koran terakhir Cuma 22juta aman-aman aja kok. Pokoknya ini konselat super duper lebih ribet, lebih ketat, banyak aturan bahkan kayanya minta akta lahir segala deh padahal engga ada tercantum di website nya. Luar biasa, aku aja bangga sama ibunya temen ku ini, yang dengan segala daya dan upayanya berhasil membuat dokumen doi masuk ke konselat.

            Singkat kata, Jumat, 6 Oktober dokumen si temen masuk dengan selamat ke konselat, dan di tanggal yang sama aku cek website dan ternyata visa ku sudah beres. Siang, sekitar jam 12.30 aku ambil visa ke Lotte Avenue, dan engga antre sama sekali, aku dateng dan langsung ke bagian pengambilan visa dan langsung dapet visanya yang sudah tertempel cantik di pasporku.

alhamdulillah sudah jadi visanya :)

            Akhirnya si visa Jepang udah nempel cantik di paspor, dan kabar baiknya Rabu minggu depannya visa si temen di Surabaya juga udah beres. One step closer, tinggal urus satu visa lagi, semoga selancar urusan visa Jepang ini. 

Big thanks kepada bu bos mbak Endah dan mbak Marina yang telah menyelamatkan kegaringan acara family gathering kantor untuk para single ini. Sesungguhnya tempat gatheringnya menarik, Lembang, tapi sayang tujuannya kurang asik, cuma ke Sindang Reret, udah gitu ujan, engga bisa ngapa-ngapain, akhirnya semua peserta cuma nguplek jadi satu restoran.

Tapi emang mbak-mbak baik hati ini dari awal udah bilang ke kami-kami para single yang sebenernya sangat malas ikutan acara ini, "Udah, kalian pada ikut aja, nanti aku bawa mobil. Kita ngabur jalan-jalan kulineran di Lembang"

Rombongan bis dari Cimanggis yang berisi aku dan teman-teman lain mendarat dengan selamat dii Sindang reret sekitar jam 12.00an setelah bermacet-macet, 6 jam perjalanan Cimanggis-Lembang.  Begitu sampe, kita langsung bergegas solat dan makan siang. Selesai makan siang geng single berkerumun ngerubutin mbak Endah dan mbak Marina, ngabur bahagia pun dimulai.

Penampakan Tahu Tauhid dan Sate bumbu ketumbar

Tempat pertama yang kita kunjungi adalah salah satu tempat tahu yang sudah cukup tenar di Lembang, Tahu Tauhid, tempatnya persis di sebrang tempat wisata D'Ranch. Di sini kita pesen tahu goreng buat rame-rame, sate dan jus buah.

Untuk rasa tahunya jelas enak lah, tahu di Lembang engga akan pernah gagal. Untuk aku yang memang pencinta tahu, Lembang adalah tempat paling pas untuk bertahu-tahuan. Tahu Tauhid ini jenisnya mirip tahu Sumedang yang di jual di Jakarta, yang keras coklat di luar lembek putih di dalem tapi engga full dalemnya. Tapi, kalo untuk masalah rasa tahu ini beda sama yang biasa di bis-bis Jakarta, tahu ini segar, engga ada asem-asemnya, lembut dan enak banget, apalagi dimakan panas-panas di gerimis Lembang kaya siang itu.

Dan beruntungnya juga, ternyata satenya enak, bumbunya apalagi, ada kaya ditambah ketumbar gitu deh rasanya, cuma jadi enak dan beda, aku sih suka. Kalo dagingnya, engga spesial-spesial banget, cuma yang daging ayam ditusuk-tusuk kemudian dibakar dipastikan selalu enak. Tempat ini rekomended, enak dan murah juga kok.
Selesain cemal-cemil di Tahu Tauhid, kita melanjutkan kebahagiaan tahu-tahuan ini. Kita lanjut ke Phia Sophia yang deketan banget sama Kafe Rumah Kayu Taiwan yang tahu glesernya aku suka banget. Inii bukan kali pertama ke tempat ini, tapi kalo disuruh lagi dan lagi kesini masih sangat mau, tahu gleser, pepes-pesannya dan cincaunya sangat ngangenin.

Lokasi engga jauh dari Tahu Tauhid, para wisatawan memang cenderung jarang tau tempat ini, kebanyakan yang familiar sama tempat ini penduduk lokal, karena emang tempatnya yang ada di dalem perumahan gitu. Cuma kalo kalian penasaran dan pengen ngicip makan disini, tenang aja, tempat inii udah ada di google map kok tingga ketik aja "rumah kayu taiwan" atau "new sophia" mereka berdua deketan kok.

ibu-ibu khilaf yang kalap borong oleh-oleh

Satu korak kebahagiaan dari Lembang

Pertama turun mobil kita langsung straight ke new sophia, pia ini agak mirip sama bakpianya jogja, cuma diluarnya agak lebih kering, dia juga punya sangaat banyak pilihan rasa, durian, nanas, taro, green tea, kacang hijau, keju, coklat dan masih sangat banyak lagi rasa lainnya, cuma kayanya kalo rasa yang pernah ada sihh belom tersedia.Tempat ini engga cuma jualan pia aja, ada berbagai macam keripik, kerupuk, yoghurt dann berbagai kue-kue enak dan unik lainnya. Sekotak isi 24 buah pia, harganya 40-50ribu tergantung isiannya. Setelah puas belanja di new sophia yang tempatnya homey banget, kita lanjut mampir ke rumah kayu taiwan yang tetanggaan banget sama doi.

Cincau topping susu dan lemon

Ini kali ketiga aku ke tempat ini, aku begitu addict sama tahu gleserr dan cincau di tempat ini. Tahunya tuh pas kepadatan dan rasanya, engga asem, dia juga bukan tipical tahu yang sangat lembut yah, dia lembut tapi tetep padat, ini sebenernya cuma tahu direbus yang disajikan bareng bawang putih yang direbus juga, aku sih suka dan ketagihan. Satu lagi yang bikin aku luar biasa kangen sama tempat ini, cincaunya. Apa sih bedanya cincau disini sama di tempat lain? beda lah, cincau di sini engga terlalu bau daun, dan lembut paraaah, aku belom pernah ngerasain cincau yang lebih lembut dari ini. Cincau ini kuahnya bisa milih, mau kuah susu, lemon atau gula jawa. Favoritku sih lemon sama susu, pokoknya kalo kalian ke Lembang kalian wajib coba, ini enak banget, engga dusta. 
Pepesnya juga engga ada yang failed, variatif banget, dari pepes ayam, jamur, berbagai ikan, tahu sampe ada variant telur asinnya. Sayurannya juga endes, sesundaan gitu, ditambah sambel sama lalapannya yang super lengkap. Jadi ngiler sendiri nulis sambil bayangin menunya Rumah Kayu Taiwan ini.

Setelah kenyang disini kita berencana lanjut ngopi ke Bandung kota, dengan rencana mampir dulu ke tempat heitsnya Lembang, kafe and art galery lawang wangi yang menurut mbak Marina ciamik viewnya buat jeprat-jepret.                                               



Lawang Wangi ternyata terletak engga jauh dari tempat makan kita, sekitar kurang lebih 15 menit dii mobil kita sampai di sebuah bangunan yang tepat berhadapan dengan view kota bandung yang super cantik dan hijau dari ketinggian. Dari tempat ini deretan bukit dan gunung yang mengelilingi kota bandung terlihat dengan jelas dan cantik. Setelah puas tercengang dengan cantiknya tempat ini, kita lanjut masuk ke dalam, ternyata isinya engga kalah cantik, terpampang banyak karya seni anak bangsa yang sejujurnya kurang bisa dimengerti oleh orang awam macam saya. Tapi, Lawang Wangi sudah menyiasatinya dengan baik, terdapat keterangan maksud dan tujuan dari masing-masing karya di setiap sudutnya.

Narsis di balkon resto di lantai 2
Lawang Wangi Resto and Art  Galery
Di lantai paling atas terdapat kafe dengan arsitektur dan view yang mencengangkan. Kafe dan balkon tempat ini luar biasa instagramable, istilah yang biasa dipakai kids jaman now untuk tempat dengan view super cantik dan jadi makin cantik saat masuk ke kamera. So, buat kamu-kamu yang belum sempat kesini, wajib banget kesini. Buat masuk tempat ini bahkan sampai foto-foto di balkon kafenya pun gratis kok, engga mesti harus jajan. Sayangnya karena kita berencana lanjut ngopi ke Bandung kota, akhirnya kita engga sempet ngopi-ngopi di tempat ini. Padahal view dan tempatnya kelihatan cozy banget, next time lah yah balik kesini dan sempetin bengong-bengong cantik sambil nyeruput hot chocolate.

Setelah puas foto sana-sini kita melanjutkan turun ke Bandung kota, tapi sayang sekali Rencana ini akhirnya terpaksa diurungkan akibat macet luar biasa dan undangan gala dinner kantor jam 19.00 di hotel daerah Lembang tempat yang sudah di booking kantor untuk acara family garhering. Kebahagiaan hari ini ditutup dengan dinner bareng orang-orang kantor dan berbagai acara khas family gathering lainnya.


Saya adalah salah satu dari sebagian orang yang mengenal pendakian secara tidak sengaja dan kemudian jatuh cinta. Dan saya yakin di zaman semua orang hobby posting foto di media sosial seperti sekarang, tidak jarang ditemukan pendaki dadakan macam saya ini.  Beberapa kali naik turun gunung dengan pengetahuan seadanya, belajar dari alam dan dari orang-orang baru yang saya temui di jalur membuat saya semakin sadar, masih banyak lagi  yang saya masih belum mengerti.
Ini adalah latar belakang yang menggugah hati nurani saya untuk datang ke acara "diskusi santai membongkar fakta dan mitos pendakian berdasarkan pengalaman dan medis". Sejujurnya judul acaranya pun udah membuat jempol ini pengen banget wa kakak cp nya, ditambah pematerinya yang sesungguhnya membuat saya semakin penasaran. Lah jadi siapa aja sih pematerinya?? Penasaran yahh 😎😎
1. Dr. RIDHO ANDRIANSYAH, Sp. PD
(RS Firdaus)
2. HARLEY. B. SASTA
(Penggiat Alam, Penulis dan Pemerhati Konservasi Alam dari Federasi Mountainering Indonesia)
3. TYO SURVIVAL
(Eks Host Survival, Jejak Petualang dan Co Host Berburu TRANS 7)
4. SITI MARYAM  - EDI M YAMIN
(Survivor 4 hari 3 malam di Gunung Rinjani - Founder BPJ)
Sekarang kalian paham kan kenapa saya ikutan acara ini 😊😊.
Dan syukurnya kebahagiaan saya tidak berhenti sampai di pendaftaran saja. Acaranya pun jauh dari kata mengecewakan. Baru datang saja kita sudah di sambut dengan keramahan petugas medis dari RS FIRDAUS JAKARTA UTARA yang Melayani dengan Hati. Petugas medis RS Firdaus memberi fasilitas cek darah (Gol Darah, Gula Darah, Asam Urat) dan Tensi secara cuma-cuma. Baik yah RS Firdaus Jakarta Utara ini 😍😍. Kabarnya juga rumah sakit ini adalah salah satu rumah sakit yang memberi pelayan terbaik BPJS. Duh lah maap yah keasyikan ngobrolin RS Firdaus, gimana donk mbak-mbaknya baik-baik, dokternya pun kece luar biasa ditambah RS Firdaus juga bagi-bagi goodie bag di akhir acara.

Terus jadi gimana mbak isi acaranya??
Acaranya seru banget lah, sesi pertama dibuka dengan obrolan gantengnya abang Harley yang dengan baik hati nya mau berbagi video kece doi tentang konservasi alam. Abang satu ini juga kasih banyak pengetahuan buat kita-kita yang kepo ini. Kata-kata doi yang paling ngena di hati adalah "Hormati serta ikuti aturan dan budaya yang berlaku disetiap destinasi dan ingatlah bahwa kita adalah tamu". Kutipan kata dari bang @harleysastha (siapa tau ada yang mau kepoin instagram doi 😉) tadi membuat saya merasa harus semakin menjaga sikap di tiap-tiap pendakian berikutnya. Bang Harley juga melogiskan salah satu pertanyaan yang selalu muncul dibenak saya ketika mendengar adanya kawasan terlarang yang menurut penduduk sekitar ada sesuatu yang mistik. Kita ikuti saja teman-teman karena mungkin maksudnya jalur tersebut adalah kawasan konservasi untuk menjaga kelestariannya. Balik lagi, kita tamu jadi jangan ngeyel kalo dibilangin tuan rumah.


Setelah seru-seruan bareng bang Harley masuk lah pada pembicara berikutnya yang tidak kalah tampan. Bang Tyo Survival, yang baru mulai langsung bagi-bagi trash bag. Bang Tyo mengajarkan kita untuk selalu berpikir kreatif ketika berada di alam, kebayang nggak sih dibenak kalian kalau trash bag tuh punya sangat banyak manfaat. Dari mulai jadi wadah sampah pas turun, alas solat, flysheet, tiker buat gegoleran, toilet darurat sampai alat pelampung. Bang Tyo juga kasih kita satu pengetahuan sederhana untuk bertahan dari hewan buas ketika di hutan. Kalian semua pasti familiar donk sama plastik es 1kg an, nah ini jangan lupa dibawa yah kalau nanti naik gunung. Fungsinya buat di peletusin kalau nanti kita ada dikondisi terjebak sama hewan buas. Mereka biasanya langsung mengartikan ledakan dari plastik itu sebagai suara senapan. Lah tau gitu kemarin pas ke Papandayan nggak perlu panik waktu ketemu Omen (babi hutan).


Bang Tyo juga membuktikan fakta bahwa ular itu tidak takut garam teman-teman, jadi untuk apa kalian menabur garam keliling tenda. Duh asli ini rasanya pengen ngetawain diri sendiri, sejujurnya saya adalah salah satu yang percaya kalau ular takut garam. 

Setelah puas menggali ilmu survival dari bang Tyo masuk lah ke acara mbak Siti dan mas Emye bercerita kronologis hilangnya mbak Siti 4 hari 3 malam di Gunung Rinjani dan alhamdulillah selamat. Dari sini sejujurnya saya salut sama mas Emye yang masih bisa tenang dan tetap fokus pada ikhtiar beliau dalam mencari mbak siti walaupun saya juga lihat sendiri tidak sedikit manusia-manusia sok tau dan nyinyir  beredar d kolom komen instagram doi. 
Dari cerita mbak Siti saya belajar bahwa mendaki juga butuh mental dan iman yang kuat kepada sang Illahi bukan hanya melulu masalah fisik. Disini kalau dilihat secara logika dan bahkan dokter Ridho pun melihatnya secara medis untuk ukuran manusia biasa (bukan galgadot di wonder women) tidak makan dan minum selama 4 hari 3 malam itu ajaib masih bisa bertahan hidup dan baik-baik saja.
Saya salut dengan pikiran positif dan keyakinan Mbak Siti bahkan dalam sistuasi hujan badai di tengah rimbun hutan dewi anjani. Sungguh Allah Maha Melihat, Allah Maha Penolong. Banyak yang nanya "kok bisa sih mbak masih berpikir jernih dan tenang di kondisi begitu?" dan jawaban mbak Siti masih bikin saya merinding kalau ingat, "rajin-rajin puasa Senin Kamis aja".


Kesimpulan yang saya ambil setelah mendengar cerita mbak Siti adalah yang penting dari pendakian selalu jaga emosi dan pikiran kita untuk terus positif dan jangan terpisah jauh-jauh dari rombongan. Mungkin bukan temannya yang mau ninggal, cuma kitanya yang tidak sadar memisahkan diri. 
Sekali lagi masih sangat salut sama mental, keyakinan dan ketulusan dari bang Emye yang walaupun orang di luar mencaci dan mencibir kaya gimana pun abang satu ini tetep fokus pada ikhtiar dan doa nya untuk keselamatan mbak Siti. Beliau pun tetap stay di pelawangan sembalun 4 hari 3 malam tanpa kenal putus asa. Beruntung juga mbak Siti ada di barisan rombongan bang Emye ini.


Setelah mendengar cerita seru dan inspiratif dari mbak Siti dan bang Emye sesi yang ditunggu-tunggu akhirnya dateng juga ngobrolin gunung bareng dokter Ridho dari RS Firdaus. Dokter kece satu ini, menjabarkan tentang pendakian dari sisi medis. Ini ilmu yang wajib dimiliki, karena kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi di gunung. Beliau mengupas tuntas tentang boleh tidaknya perempuan yang sedang haid ikut naik gunung dari sisi medis, dilanjut dengan gangguan-gangguan kesehatan yang memungkinkan terjadi di jalur pendakian dan cara mengatasinya. Dokter Ridho juga membahas penderita penyakit apa saja yang sebaiknya jangan ikut-ikut mendaki. Yang paling penting dokter ridho juga membekali kita dengan pengetahuan apa saja isi P3K kita saat naik gunung. 

RS Firdaus dan KUBBU BPJ mengemas acara ini dengan sangat manis dan puitus, lohh bukan gini maksudnya 😂😂. Dengan sangat ringkas, pedas dan jelas. Berikut saya kasih contekan coret-coretan saya waktu disana  😎😎. 

Dan yang paling menyenangkan dari acara ini adalah, diakhir acara masing-masing peserta dikasih oleh-oleh goodie bag dari RS Firdaus dan Dhaulagiri. Isi goodie bag nya macem-macem, kalo saya dapet tempat minum yang bisa dilipat gitu dari Dhaulagiri. Untuk saya yang notabene adalah satu fansnya Dhaulagiri, lumayan banget ini nambah-nambah koleksi. Di rumah kan udah ada tongkat dan flysheet nya Dhaulagiri. Makasih banyak yaa kubbu, Dhaulagiri dan RS Firdaus. Acara, makanan dan goodie bag nya bikin ketagihan. Bikin lagi donk acara diskusi kaya gini, nagih nih 😉😉😉.