Terapi Hati yang Luka

Februari 07, 2016

Belakangan ini hati ku sukses terluka, terkoyak-koyak sempurna atas harap yang aku bangun sendiri yang kemudian ternyata tak berbalas. Bahkan akhir-akhir ini hati ini seperti mati rasa, tak berasa apa-apa, seperti tak ada warna, mirip tv hitam putih jaman Mama Papa muda dulu. Suara yang ada di hati pun gag lebih dari cuman krikk.. krikk.. krikk.. sepi.

Lihat makhluk pria berwajah tampan pun terasa hambar, lihat undangan pernikahan malahan sewot, denger temen cerita jatuh cinta malahan rasanya pengen teriak di kuping dia.. "Gw gag mau tauuuu"

Ternyata patah hati itu bisa membuat kita totally jadi orang lain, membuat kadar jahat kita meningkat dengan cepat, dan segala macam efek buruk lainnya yang kalo aku sebut satu-satu gag ada ujungnya. Ini ternyata kondisi yang perlu big attention dari penderitanya. Ini bahkan sampai pada tahap mampu merugikan industri kosmetik, gimana gag yaa,, gw bahkan biasa aja liat lipstick warna-warni unyu di konter konter kosmetik kesayangan.

Patah hati adalah kondisi yang sangat perlu di terapy, yang sangat perlu disembuhkan. Ini adalah kondisi yang sangat berbahaya. Saat menyadari bahwa hati yang rapuh ini mulai patah aku pun mulai memutar otak dengan kecepan100000rpm.

Aku pun mulai mencari cara untuk mengobatinya, mencari berbagai alternatip terapi untuk lepas dari sakit ini. Mulai baca2 segala rupa tips2 gag penting yang ada d wall facebook. Mulai melakukan hal-hal abstrak, kaya corat coret d buku gambar, penuh2in isi blog kaya gini, jalan-jalan gag jelas, ngaca-ngaca sambil nyanyi2 dan segala hal absurd lainnya.

Sampai akhirnya saat hari paling menyakitkan itu tiba-tiba mengenal kegiatan baru .. yang awal nya hanya untuk menghindari hari itu. Ynag awalnya hanya aku ingin pergi jauh di hari itu, aku tak mau mendengar kabar apapun, postingan foto apapun tentang hari bahagianya yang ada di atas kepedihan hatiku. Aku mulai mengenal dunia.. Tracking, Hiking, Mountain, Fresh Air.....

Dan sepulang dari pendakian pertama gw mulai sadar keadaan gw membaik. Gw menemukan cinta yang lain, yang tak ada ingin untuk memiliki. Mencintai indahnya punggungan gunung, mencintai nafas yang terengah-engah meniti bebatuan di kawah gunung berapi. Gw mulai sembuh....

ternyata ini yang menyembuhkan, ternyata menapaki bebatuan, aliran sungai, tanah becek dan berpegang di akar2 pohon mampu perlahan menyembuhkan luka ini.

terimaksih alam, terimakasih Gunung, terimakasih teman yang selalu mai menemani ;)






jangan pernah takut patah hati, jangan pernah takut hancur, karena akan selalu ada terapi penyembuhan yang tepat.



  • Share:

You Might Also Like

0 komentar