Tentang Patah Hati

November 10, 2015

Hari itu aku akhirnya tersadar, dia bukan untukku. Kalau ada yang tanya bagaimana rasanya, ingin aku telan bulat-bulat orang itu...
Pagi itu cermin menjadi teman paling awal yang menyapaku, seperti sabtu-sabtu sebelumnya aku sudah sangat menantikan hari itu. Bukan tentang kelulusan ku yang menjadi point utama, tapi lebih tentang pertemuan dengan dia. Aku bercermin, bersenandung, dan menampilkan senyum paling manis yang aku miliki pada sang cermin,. Awan pagi itu pun cerah seolah mendukung bahagiaku.

"Iya, Insyaa Allah dateng ti :)"

Satu balasan whats app itu saja, sudah mampu membuat ku sesemangat itu.

Dengan senyum manis luar biasa aku memacu kuda besi ku pagi itu, kalau ditanya bagaimana rasanya.. Ahh pokoknya aku bahagia. Sudah beberapa minggu ini aku tak pernah berjumpa dengan dia yang begitu aku kagumi. Semenjak kami sama-sama sibuk dengan skripsi masing-masing, semenjak sudah tidak ada lagi jadwal kelas perkuliahan. Untuk alasan itu aku begitu menanti hari ini, hari pengumuman kelulusan. Aku tau aku lulus. Aku, dia dan semua teman-teman kelasku. Yaa.. kami sudah pasti lulus.

Sepanjang seminggu kemarin, semua tentang dia terasa meggantung di kepala. Senyumannya, tawanya, kecerdasannya dan semuanya. Semuanya tentang dia yang selalu mampu menjadi alasan mengapa aku begitu mengagumi dia.  

Sampai di ruangan mata ku mulai menyisir tiap kursi berharap menemukan punggungnya, tapi ahh aku harus menelan kecewa karena dia ternyata belum datang, aku yakin belum bukan tidak. 

Acara pun dimulai, satu persatu nama disebut beserta hasil yang kami dapat.. dan dia masih belum terlihat. Dengan cemas aku terus-terusan memandangi pintu aula, dan dia masih belum datang. Sampai akhirnya aku melihat wajah itu, si tampan yang sudah ku tunggu-tunggu. Hati ku pun mulai menggumam.. Akhirnya dia datang :)

Bahagia luar biasa rasanya hanya dengan melihat dia, aku rindu tak terkira beberapa minggu ini, dan rasanya hanya dengan melihat bahwa dia baik2 saja pun aku sudah bahagia sekali :). Sepanjang acara berlangsung aku hanya terdiam takjim memandang punggungnya. Ini sudah cukup..

Selesai acara aku meminta sahabatku untuk mengantarku ke toilet, sebenernya aku gag kebelet sama sekali, tapi hanya ingin menenangkan detak jantung yang makin tidak karuan setelah acara foto-foto bareng barusan. Aku selalu begini, tidak sengaja menatap matanya saja rasanya langsung lemas lutut ini.

"Gw seneng banget, akhirnya ketemu dia hari ini. Cakep ya dia hari ini :) ... dan bla bla bla bla"

Aku tak bisa menahan bahagia ku, sepanjang perjalanan dari toilet sampai tempat makan aku terus menceritakan betapa bahagianya aku hari itu kepada sang sahabat. Sang sahabat yang aku tau sudah sangat bosan meladeni kekaguman ku yang keterlaluan in. Sampai akhirnya sang sahabat berseruu...

"Heh, lu liat dehh, itu dia sama siapa mesra gitu kok yaa, ceweknya yaa. Kayanya iya dehh itu anak-anak pada ngeledekin gtu..."

Dan gag perlu ditanya bagaimana hancurnya bahagia ku saat itu... Hancur se-hancur-hancurnya... Lemas se-lemas-lemasnya.... Entah rasanya seperti mimpi melihat dia bersenda gurau sebahagia itu dengan perempuan yang entah siapa yang tertawa manja di sampingnya.

.... Jangan ditanya bagaimana kabarku saat itu, perut yang lapar luar biasa tetiba mual dan hilang nafsu. Semua makanan pun aku hibahkan ke sahabat-sahabat yang berusaha menenangkan ku. Hari itu rasanya melempar tatap ke arahnya pun aku tak kuasa. 

Rasanya aku masih belum bisa terima, apalagi saat aku mengiangat-ingat saat dulu sempat hampir setiap hari kita bertukar pikiran, bertukar cerita, berbagi gelisah dan aku mulai tidak sekedar kagum tapi mulai berani jatuh hati. Yang aku pun sebenernya sadar beberapa bulan terakhir ini dia memang menjauh, pergi dan tidak pernah lagi ada pesan-pesan seperti dulu. Aku sadar dia mulai menjauh semenjak anak-anak satu kelas mulai menjadikan kita bahan empuk untuk cie-cie.. hmmm. Harusnya saat dia mulai menjauh aku sadar, harusnya aku pun mulai perlahan menghapus semua rasa, bukan justru semakin memupuk rasa yang akhirnya sekarang semakin tumbuh subur.

Beberapa hari ini aku pun sempat sesekali berbalas pesan di WA dengan dia yang duduk disana, dia yang begitu aku harapkan saat ini, dia tak bercerita apa pun tentang perempuan di sampingnya itu. Yang di sore itu juga tersiar kabar mereka berdua akan segera menikah. Mennyisakan aku disini yang terluka sendiri akan perasaan yang aku tumbuhkan sendiri genap 1 tahun terakhir ini.


Itu adalah akhir kisah dari dia yang beberapa saat lalu itu mampu membuat aku nyata mengakui bahwa Aku Jatuh Cinta Lagi. Karena tak selalu kisah cinta itu berakhir semanis cerita princess-princess Disney itu. Karena tak selama nya yang begitu kamu inginkan juga balik menginginkanmu. Karena terkadang cinta harus bertepuk sebelah tangan, terkadang jatuh cinta menjadi keputusan yang salah. Dan sial nya lagi adalah menghapus rasa tak akan pernah sesederhana menjatuhkan rasa. 


  • Share:

You Might Also Like

0 komentar