Hari itu aku akhirnya tersadar, dia bukan untukku. Kalau ada yang tanya bagaimana rasanya, ingin aku telan bulat-bulat orang itu...
Pagi itu cermin menjadi teman paling awal yang menyapaku, seperti sabtu-sabtu sebelumnya aku sudah sangat menantikan hari itu. Bukan tentang kelulusan ku yang menjadi point utama, tapi lebih tentang pertemuan dengan dia. Aku bercermin, bersenandung, dan menampilkan senyum paling manis yang aku miliki pada sang cermin,. Awan pagi itu pun cerah seolah mendukung bahagiaku.

"Iya, Insyaa Allah dateng ti :)"

Satu balasan whats app itu saja, sudah mampu membuat ku sesemangat itu.

Dengan senyum manis luar biasa aku memacu kuda besi ku pagi itu, kalau ditanya bagaimana rasanya.. Ahh pokoknya aku bahagia. Sudah beberapa minggu ini aku tak pernah berjumpa dengan dia yang begitu aku kagumi. Semenjak kami sama-sama sibuk dengan skripsi masing-masing, semenjak sudah tidak ada lagi jadwal kelas perkuliahan. Untuk alasan itu aku begitu menanti hari ini, hari pengumuman kelulusan. Aku tau aku lulus. Aku, dia dan semua teman-teman kelasku. Yaa.. kami sudah pasti lulus.

Sepanjang seminggu kemarin, semua tentang dia terasa meggantung di kepala. Senyumannya, tawanya, kecerdasannya dan semuanya. Semuanya tentang dia yang selalu mampu menjadi alasan mengapa aku begitu mengagumi dia.  

Sampai di ruangan mata ku mulai menyisir tiap kursi berharap menemukan punggungnya, tapi ahh aku harus menelan kecewa karena dia ternyata belum datang, aku yakin belum bukan tidak. 

Acara pun dimulai, satu persatu nama disebut beserta hasil yang kami dapat.. dan dia masih belum terlihat. Dengan cemas aku terus-terusan memandangi pintu aula, dan dia masih belum datang. Sampai akhirnya aku melihat wajah itu, si tampan yang sudah ku tunggu-tunggu. Hati ku pun mulai menggumam.. Akhirnya dia datang :)

Bahagia luar biasa rasanya hanya dengan melihat dia, aku rindu tak terkira beberapa minggu ini, dan rasanya hanya dengan melihat bahwa dia baik2 saja pun aku sudah bahagia sekali :). Sepanjang acara berlangsung aku hanya terdiam takjim memandang punggungnya. Ini sudah cukup..

Selesai acara aku meminta sahabatku untuk mengantarku ke toilet, sebenernya aku gag kebelet sama sekali, tapi hanya ingin menenangkan detak jantung yang makin tidak karuan setelah acara foto-foto bareng barusan. Aku selalu begini, tidak sengaja menatap matanya saja rasanya langsung lemas lutut ini.

"Gw seneng banget, akhirnya ketemu dia hari ini. Cakep ya dia hari ini :) ... dan bla bla bla bla"

Aku tak bisa menahan bahagia ku, sepanjang perjalanan dari toilet sampai tempat makan aku terus menceritakan betapa bahagianya aku hari itu kepada sang sahabat. Sang sahabat yang aku tau sudah sangat bosan meladeni kekaguman ku yang keterlaluan in. Sampai akhirnya sang sahabat berseruu...

"Heh, lu liat dehh, itu dia sama siapa mesra gitu kok yaa, ceweknya yaa. Kayanya iya dehh itu anak-anak pada ngeledekin gtu..."

Dan gag perlu ditanya bagaimana hancurnya bahagia ku saat itu... Hancur se-hancur-hancurnya... Lemas se-lemas-lemasnya.... Entah rasanya seperti mimpi melihat dia bersenda gurau sebahagia itu dengan perempuan yang entah siapa yang tertawa manja di sampingnya.

.... Jangan ditanya bagaimana kabarku saat itu, perut yang lapar luar biasa tetiba mual dan hilang nafsu. Semua makanan pun aku hibahkan ke sahabat-sahabat yang berusaha menenangkan ku. Hari itu rasanya melempar tatap ke arahnya pun aku tak kuasa. 

Rasanya aku masih belum bisa terima, apalagi saat aku mengiangat-ingat saat dulu sempat hampir setiap hari kita bertukar pikiran, bertukar cerita, berbagi gelisah dan aku mulai tidak sekedar kagum tapi mulai berani jatuh hati. Yang aku pun sebenernya sadar beberapa bulan terakhir ini dia memang menjauh, pergi dan tidak pernah lagi ada pesan-pesan seperti dulu. Aku sadar dia mulai menjauh semenjak anak-anak satu kelas mulai menjadikan kita bahan empuk untuk cie-cie.. hmmm. Harusnya saat dia mulai menjauh aku sadar, harusnya aku pun mulai perlahan menghapus semua rasa, bukan justru semakin memupuk rasa yang akhirnya sekarang semakin tumbuh subur.

Beberapa hari ini aku pun sempat sesekali berbalas pesan di WA dengan dia yang duduk disana, dia yang begitu aku harapkan saat ini, dia tak bercerita apa pun tentang perempuan di sampingnya itu. Yang di sore itu juga tersiar kabar mereka berdua akan segera menikah. Mennyisakan aku disini yang terluka sendiri akan perasaan yang aku tumbuhkan sendiri genap 1 tahun terakhir ini.


Itu adalah akhir kisah dari dia yang beberapa saat lalu itu mampu membuat aku nyata mengakui bahwa Aku Jatuh Cinta Lagi. Karena tak selalu kisah cinta itu berakhir semanis cerita princess-princess Disney itu. Karena tak selama nya yang begitu kamu inginkan juga balik menginginkanmu. Karena terkadang cinta harus bertepuk sebelah tangan, terkadang jatuh cinta menjadi keputusan yang salah. Dan sial nya lagi adalah menghapus rasa tak akan pernah sesederhana menjatuhkan rasa. 




 Entah bagaimana aku akhirnya jatuh cinta LAGI, setelah lama tertahan pada satu nama, tertahan pada satu hati, tertahan pada satu mata. Aku mulai lelah sebenarnya belajar melupakan dia, sampai akhirnya kunikmati saja semua kenangan yg aku punya. Sampai akhirnya aku nikmati saja setiap manis, pahit dan segala yg pernah kita lalui bersama. Saat aku tak lagi berusaha melupakan, entah bagaimana hati ini mulai menerima kehadiran hati yang lain, mata yang lain, senyum yang lain dan nama yang lain.

                 
Mungkin memang benar kata2 bang Tere Liye yang ini:

*Melupakan

Ketika kita mencoba melupakan kejadian menyakitkan, melupakan orang yg membuat rasa sakit itu, maka sesungguhnya kita sedang berusaha menghindari kenyataan tersebut. Lari. Pun sama, ketika kita ingin melupakan orang yg pernah kita sayangi, hal2 indah yang telah berlalu. Maka, sejatinya kita sedang berusaha lari dari kenangan atau sisa kenyataan tsb.

Kabar buruk buat kita semua, mekanisme menyebalkan justeru terjadi saat kita berusaha lari menghindar, ingatan tersebut malah memerangkap diri sendiri. Diteriaki disuruh pergi, dia justeru mengambang di atas kepala. Dilempar jauh2, dia bagai bumerang kembali menghujam deras. Semakin kuat kita ingin melupakan, malah semakin erat buhul ikatannya.

Bagaimana mengatasinya?

Justeru resep terbaiknya adalah kebalikannya. Logika terbalik. Apa itu? Mulailah dengan perasaan tenteram terhadap diri sendiri. Berdamai. Jangan lari dari kenangan tersebut. Biarkan saja dia hadir, bila perlu peluk erat. Terima dengan senang hati. Bilang ke diri sendiri: "Sy punya masa lalu seperti ini, pernah dekat dengan orang menyakitkan itu, sy terima semua kenyataan tersebut. Akan saya ingat dengan lega, karena sy tahu, besok lusa sy bisa jadi lebih baik--dan semua orang berhak atas kesempatan memperbaiki diri." Letakkan kenangan tsb dalam posisi terbaiknya.

Maka, mekanisme menakjubkan akan terjadi. Perlahan tapi pasti, kita justeru berhasil mengenyahkan ingatan itu. Pelan tapi pasti, kenangan tersebut justeru menjadi tidak penting, biasa-biasa saja. Dan semakin kita terbiasa, levelnya sama dengan seperti kenangan kita pernah beli bakso depan rumah, hanyut dibawa oleh hal2 baru yg lebih seru. Ketahuilah, racun paling mematikan sekalipun, saat dibiasakan, setetes demi setetes dimasukkan dalam tubuh, dengan dosis yang tepat, besok lusa jika kita tdk semaput oleh racun tsb, kita justeru akan jadi kebal. Apalagi kenangan, jelas bisa dibiasakan.

Itulah hakikat dari: jika kalian ingin melupakan sesuatu atau seseorang, maka justeru dengan mengingatnya. Terima seluruh ingatan itu.

*Tere Liye

                Post yang bang Tere Liye diatas emang bener banget, setuju banget..
            Karena saat aku mulai menikmati semua yang pernah terjadi, justru saat itu aku sanggup jatuh cinta lagi. Awal jatuh cinta ini sangat indah, INDAH. Dari awal aku menatap mata itu  aku sudah tau aku jatuh cinta. Cinta yang ini berbeda, bukan jatuh cinta sama sahabat lagi, bukan jatuh cinta sama yg udah lama dikenal lagi. Jatuh cinta kali ini benar-benar sama orang yang baru aku liat, yang sejak pertama aku bertemu aku yakin dia istimewa, mungkin ini yang disebut “feeling”.
            Tapi sayang jatuh cinta yang ini juga hampir gak ada akses untuk membuat dia tau aku ada disini, atau minimal sadar ada orang yang bernama aku disini. Benar2 tidak ada akses, aku gag tau bagaimana caranya untuk bisa kepoin dia, aku gag tau bagaimana caranya minim tau sedikit tentang masa lalu dia, dia kerja dimana, bahkan aku gag tau dia masih single atau gag, yah pokoknya jatuh cinta aja, ini aneh, sangat aneh untuk org yg biasa berlogika seperti aku, ini sungguh aneh. Ini benar2 jatuh cinta tanpa alasan!
            Sampai pada suatu masa, aku dapatkan kesempatan itu, kesempatan untuk menghubungi dia, untuk memulai percakapan yg terlihat penting demi suatu hal yg memang penting dengan dia. Mulai hari itu kami terbiasa berbagi, berbagi segalanya, cerita, pemikiran dan segala hal yang memang perlu dibagi. Sampai pada suatu waktu aku merasa terlalu tau banyak tentang dia, sampai aku dan dia tak tau lagi apa yang harus dibagi.
            Segala yang aku lakukan hari itu sampai sekarang, menurutku adalah kode kode keras untuk dia yang begitu aku kagumi bahwa ‘Im your secret admirer’. Beberapa teman terdekatku tau dan terkejut saat aku jujur tentang apa yg telah terjadi, tentang apa yg sudah aku lakukan untuk dia. Iya karena kita memang seperti tak saling kenal saat bertemu, bahkan saling tatap pun tidak.
            Sampai salah satu dari mereka bicara seperti ini,
            “sebenernya ada dua kemungkinan ti, antara dia emg ADA HATI sama lo atau dia Cuma MANFAATIN elw ajah”
            “mungkin emang dia Cuma manfaatin gw” sambil senyum gw jawab pertanyaannya
            “terus lw rela aja gtu kalo tau Cuma dimanfaatin?”
            Dan baru kali ini gw jawab pertanyaan dengan sangat tidak logis!
            “bisa bermanfaat buat dia aja gw udah seneng, sampai saatnya dia gag butuh gw lagi, nanti juga gw lama2 lupa sama dia, kalo udah gag pernah ketemu lagi, dan gag bisa ketemu lagi lebih tepatnya”
            Heiii… gimana bisa seorang titi  rela hanya sekedar dimanfaatin, ini jatuh cinta yang macam apa coba. Bahkan untuk jatuh cinta sama yang lalu pun gw harus menghitung apa saja yg udh dia kasih buat gw, tapi untuk yang ini gag ada satupun yang gw hitung. Gw gag peduli rugi atau untung, gw hanya menikmati perasaan ini.
            Dulu gw jatuh cinta karena orang itu selalu ada buat gw, selalu siap sedia saat gw butuh dia, tapi sekarang, dia itu Cuma datang saat dia butuh gw mungkin. Gw udah sangat siap dengan segala perasaan yang sepertinya akan hambar ini. Walaupun sejujurnya gw akan selalu mengingatkan diri gue bahwa ada dua kemungkinan. ADA DUA KEMUNGKINAN.
               

hushh...
Rasanya blog ini mulai berdebu, aku mulai kangen nulis disini, kangen berbagi disini :)

Tanggal 17 Januari 2015 kemarin aku bersama teman-teman sealiran perjalan memang sudah diniatkan pengen jalan ke Hutan Mangrove tempat yang sudah mulai populer.

Pagi di hari itu ternyata langit mendung, hujan adalah alasan paling masuk akal untuk membatalkan perjalanan. Sampe kampus pun niat kita ber4 masih maju mundur, sampe akhirnya kita putuskan untuk cuss... :)
Dan hari yang melelahkan pun dimulai....

Pagi2 sekali sekitar jam 11.00 WIB, lohh itu udah gag pagi yaa --'
Kita starting dari Jayabaya tercinta dengan 3 motor dan 4 orang melaju ke stasiun PoCin dan menitipkan motor di tempatku biasa nitip kalo berangkat kerja. Si Mas2 biasanya pun nanya ginih..
     "Pulang jam berapa??"
Dengan keyakinan penuh (Aseekkk...) kita jawab..
     "Sore kok mas, jam 5 juga sampe" :)

Setelah perdebatan panjang mau turun Gondangdia atau Juanda akhirnya kita mendarat dengan lancar selamat dan dapat duduk di kereta di Stasiun Juanda.. Sampai sini semua berjalan sesuai rencana

Kita berniat buat makan es krim Ragusa yang populer itu, tapi ternyata penuh cint... Akhirnya kita mengurungkan niat dan mbelok ke Gambir lah lewat Monas, ceritanya mahh motong jalan, tapi malahan jadi jauhh..

Itu yang diujung Si Om Har sama Mas Bambang


ceritanya mahh mau ngikutin patung, tapi malah fail gtu hasilnya

Personel geng jalan2 baru, Leni, Gue, Om Har,Mas Bambang (dari kiri-kanan)

 Tapi tetep yahh sempet foto2 disana sini .. hhe
Akhirnya kita kelaparan dan sampai di stasiun Gambir, rencana kan K*C pun di ganti ke S*LARIA dikarenakan rasanya bakal masih lapar klo cuma makan ayam sama caos sambel..hhi

Dan selesai makan pun petualangan sesungguhnya dimulai, menurut hasil menjelejah yang dilakukan Om Har dari gambir kita harus mencari Halte Busway Monas dari situ kita naik BKTB ke PIK dan sampaii...

Tapi pada kenyataanya tidah sesimple itu...

leni yang motoin nihh...

Kita masih perlu muter2 cuma buat sekedar nyari Halte Busway Monas, Kita keluar Stasiun dan di depan Monas ada Halte dan ternyta Gambir 1, kata mbak2 busway kita harus jalan kebelakang stasiun buat ketemu Halte Monas, dan setelah jalan lumayan jauh ternyata itu Halte Gambir2 dan mas2 disana nunjukin rute ke Halte Monas malah sampenya di Gambir 1, setelah cukup kelelahan dan putus asa dan mulai laperlagi akhirnya kita menemukan rute yang tepat,
 Dan ternyata hujan, dan basah, dan jauh banget itu foto di atas adalah saksi betapa muter2nya kaki kita melangkah di hari itu, dan sampai lah kita di Halte Monas sekitar jam 3sore, ternyata Halte Monas ituh di depan Museum Nasional harusnya nama Haltenya MuNas..

Ini cuma gambar iseng doank sih, pas lagi nunggu bis,, baru tau ada doubledecker di JKT

Ternyata nunggu bis ke PIK itu lamaa abiss, 1 jam lebih donk. Kita udah hampir putus asa banget, udah hampir mau ke kota aja mau pulang.. dan saat2 kita sudah mulai ingin menyerah datanglas bis itu jam setengah 5.. Dan ada tambahan 2500 ternyata untuk bisa sampe PIK..

Ini tiket tambahan, ditariknya di dalam BKTB pas OTW PIK
Dan taraaa.........
Kita sampe juga di PIK, kita turun di depan gedung Yayasan apa gtu yahh, yang ada di DAAI TV itu lohh lupa namnya apa, Si Hutan Mangrove itu ada di belakang gedung ini, kita sampe sini jam 5.45

Ini di depan DAAI

Dan sampe di tempat tujuan, dengan peluh luar biasa ..... Dan ternyata udah tutup donk dari setengah 6, akhirnya kita cuma foto2 di mesjidnya aja. Tapi asli lahh hasilnya OK jugaa...





Masih penasaran pengen masuk kawasan wisatanya, harus balik lagi kesini