Kita kan cuma teman :)

Juli 06, 2014



Pertama jumpa adalah saat tangan berjabat, senyum mengembang dan mata saling tatap. Terasa amat biasa, perkenalan yang singkat, tatapan yang singkat dan senyum yang sederhana. Hari itu kita tak ada jejak rasa sedikit pun, kamu tampak begitu biasa aku benar tak menyangka akan berakhir seperti ini.
            Disaat teman-teman ku mengelukan nama mu, aku masih berfikir apa yang membuat mereka menggilai kamu. Disaat mata mereka berbinar memandangmu aku masih bertanya apa yang membuatmu begitu menarik untuk mereka. Saat wajah mereka memerah saat berjabat tangan sama kamu aku bahkan masih tidak bisa mengerti kenapa kamu begitu banyak mencuri perhatian mereka.
            Hari itu aku mulai berbincang denganmu, dengan alasan mencari seribu alasan mengapa mereka begitu memuji mu. Dan satu yang aku tahu hari itu, kamu begitu dingin, hambar dan tak menarik. Sungguh aku semakin tak mengerti kenapa.
            Sampai suatu hari saat kamu mulai menjadi bagian dari kami, saat dalam diam aku sering memergoki mata coklatmu sedang memandang ke arahku. Aku semakin penasaran ada apa dengan kamu, kenapa kamu begitu dingin, dan mengapa kamu begitu tertutup. Kamu itu seperti bingkisan kado yang indah, tak terlihat, tak menarik bagiku hanya membuat aku penasaran ingin membukanya.
            Suatu sore akhirnya aku berkesempatan berjalan berdua denganmu, dan berteduh di deras hujan kota Bogor. Yang disana hanya ada kita, aku dan kamu. Akhirnya aku mencba untuk berbagi denganmu, karena menurutku dalam diam mu tak mungkin rahasia ku akan menyebar. Aku mulai berani jujur tentang aku, teori ku saat kita ingin tahu tentang seseorang adalah dengan membuat orang tersebut merasa kita amat percaya padanya.
            Benar saja, hari itu adalah hari pertama aku mendengar kamu berbicara lebih banyak dari biasanya. Hari itu kamu membagi semuanya tentang kamu pada ku, hari itu aku tau apa yang membuatmu begitu dingin. Hari itu aku tau semua tentang kamu, semua yang aku tahu tak ada satu orang pun yang tau.
            Saat aku dan kamu mulai menjadi kita, aku mulai merasa kamu begitu menarik. Kisahmu begitu pahit, tapi senyumanmu menyembunyikan semuanya. Saat kamu selalu ada untuk aku, saat aku tau kemana aku harus menangis, saat itu aku yakin aku mulai jatuh ke tatapan, senyuman dan tawamu.
            Kamu yang begitu hambar, dingin dan tak menarik tiba-tiba jadi seseorang yang begitu menyenangkan untuk ku. Iyah, hanya untuk aku. Kamu masih terlihat hambar saat dengan yang lain. Tapi saat kamu di hadapanku kamu begitu berubah, senyum mu lebih sering mengembang tawamu lebih sering pecah. Semua orang heran, semua yang selalu menggilai kamu mulai merasa kamu berubah. Kamu menjadi orang yang sangat menyenangkan untuk aku, kamu berbicara banyak, kamu tertawa lepas kamu sangat menarik.
            Sampai suatu saat teman-temanku menjauh, kata mereka aku merebutmu dari mereka. Tatapan mereka sinis untuk kita, mereka membenci ku, tapi entah aku tak peduli untuk semua itu. Aku bahagia kamu selalu ada untuk aku, kamu selalu merubah tangisku menjadi senyuman. Aku tak pernah merasa bersalah, kamu bukan milik siapa-siapa, aku merasa tak bersalah membuat kamu selalu ada untuk aku. Tak pernah ada yang meminta, aku dan kamu menjadi kita.
            Saat aku merasa benar-benar sendirian kamu selalu membuat aku merasa tak pernah sendiri. Kamu hadir saat aku nyaris meneteskan air mata, kamu tau kemana harus membawa ku untuk melihat ku tersenyum. Kamu selalu ada untuk ku di saat-saat tersulitku, saat aku patah hati, saat teman-teman mengkhianatiku dan saat aku merasa tak sanggup. Bagaimana bisa aku tak jatuh hati padamu, bagaimana bisa aku tak mencintai kamu, perempuan mana yang bisa tak jatuh dan terhuyung-huyung dalam cinta saat mereka menjadi aku.
            Ya, kawan, teman, sahabat sebutan apapun untuk kita yang harus kamu tau aku menyayangi kamu untuk lebih dari semuanya. Mungkin kamu tak pernah tau, bahkan sampai hari ini, saat jarak dan waktu memisahkan, saat obrolan-obrolan di pesan singkat terasa asing, kamu masih belum tahu sebesar apa aku menyayangimu temanku. Yah.. hanya teman, kenyataan yang masih sulit untuk ku terima sampai hari ini.

  • Share:

You Might Also Like

2 komentar